
"Yo… apa aku ketinggalan sesuatu?" ucap Aqira yang baru masuk ke halaman sembari menghampiri yang lain.
"awal sekali?" timpal Jeni menoleh kearahnya.
Aqira mengambil satu kantung belanjaan milik Jeni dan berkata, "hari ini hanya satu pasien yang datang." ucapnya sembari menatap Wanda dan Jeni.
"baiklah, dengan begitu kita bisa bersenang-senang disini." ucap Jeni tersenyum kepada yang lain.
Malam hari, sekitar pukul tujuh malam. Ketiga gadis ini baru selesai dengan eksperimen yang mereka buat sampai pakaiannya kotor serta wajah yang belepotan.
"bersihkan diri kalian, sisanya biar aku saja." ucap Tian ai kepada mereka bertiga.
"tapi…" ketiganya merasa enggan untuk meninggalkan Tian ai sendirian disana.
"jangan khawatir, ada kami disini." ucap putra Tian ai yang datang bersama Jing Nan sehabis belajar sastra.
"baiklah, kami permisi dulu." ucap Jeni segera meninggalkan dapur yang kemudian di susul oleh Aqira dan Wanda.
Wanda membawa kedua temannya ini ke pemandian air panas yang terkenal di ibukota. Sampai disana mereka masuk melalui pintu samping dengan kartu VIP milik Wanda untuk menghindari kerumunan keluar masuk pelanggan.
"semuanya lancar?" tanya Jeni yang sudah berendam didalam kolam dengan pakaian tipis yang disediakan oleh tempat itu.
"sangat lancar, bisnis ini lumayan menguntungkan." sahut Wanda yang baru keluar dari ruang ganti sembari masuk kedalam kolam.
Blub…blub…blub… air yang hangat ini tiba-tiba muncul letupan-letupan yang semakin besar didalamnya. Ketika mereka hendak memeriksanya, seseorang muncul dari sana dengan rambut panjang yang terurai menutupi wajahnya. Keduanya menjadi tegang untuk sesaat melihat sesosok itu didepannya.
"hufff…" orang itu mengibaskan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang.
"Aqira!" ucap Jeni dan Wanda secara bersamaan.
"hemm…? apa?" sahut Aqira yang bertanya balik kepada mereka.
Wanda memalingkan wajahnya dengan memijat keningnya yang pusing, "tidak apa, duduklah, atau kau akan mengejutkan orang lain."
"oh baiklah." sahut Aqira yang duduk disebelah mereka sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Setengah jam kemudian Jeni dan Aqira kembali ke kediaman milik Jeni. Di jalanan nampak sepi tidak seperti biasanya, tapi saat sampai di dalam rumah sedikit ramai dengan kehadiran Xiao Yan, Jilixu, dan Mo Chen.
"kau sudah punya suami?" bisik Jing Nan kepada Jeni.
"apa maksudmu?" sahut Jeni dengan wajah yang sedikit heran akan pertanyaan itu.
"bukankah pria berbaju biru itu suamimu?" lanjut Jing Nan sambil menatap Jilixu.
"apa!?" pekik Jeni yang menoleh kearahnya dengan cepat.
"berhenti bercanda, atau kalian tidak kebagian." timpal Aqira.
"oh iya, dimana nona Qingyin?" bisik Jing Nan yang bertanya pada Aqira.
"dia ada urusan, sedikit terlambat." jawab Aqira singkat.
"hei, berhenti bicara, cepat makan." ucap Jeni yang menegur keduanya.
"iya-iya baiklah." sahut Aqira.
Mereka pun menikmati makan malam bersama sambil mengakrabkan diri satu sama lain. Setelah selesai dengan itu semua, Tian ai segera kembali untuk menidurkan putranya, Mo Chen harus kembali ke istana, dan Jing Nan juga harus segera tidur agar tak melewatkan kelas esok hari. Sementara sisanya sedang menikmati api unggun yang mereka buat di halaman depan.
"sudah setengah bulan, kau tidak kembali ke perbatasan?" tanya Aqira yang memulai pembicaraan antara dia dan Xiao Yan.
"mungkin dia bosan dengan strategi perang." sahut Jilixu yang menjawab padahal tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
"kau sendiri? apa kau juga bosan dengan negaramu?" timpal Jeni dengan tampang datar menatapnya.
"pufftt…" Xiao Yan tertawa kecil mendengarnya.
Jeni dan Jilixu menatap satu sama lain selama beberapa detik, "pfftt… ahaha…" keduanya pun tertawa karena hal itu.
"kelihatannya seru, apa aku boleh bergabung?" ucap Wanda yang datang dengan memanjat dinding.
Aqira dan Jeni mengubah wajah bahagianya menjadi serius setelah kedatangan Wanda.
"bagaimana? siapa yang akan tinggal?" tanya Wanda kepada kedua rekan wanitanya itu.
"kita semua punya urusan dengannya, dan harus terlibat didalamnya." sahut Aqira dengan mempertimbangkan semuanya.
"jika aku membawa Abao kemari, takutnya mereka akan mencurigai identitas mereka." ucap Wanda meneruskan.
Saat ini yang sedang mereka bicarakan adalah tiga orang yang ada didalam kediaman Jeni itu. Karena mereka masing-masing memiliki urusan penting, maka mereka mencoba untuk mencari jalan tengah yang tidak menimbulkan masalah.
"jangan khawatir, aku punya solusinya." timpal Jeni dengan begitu percaya diri.
Setelah mengatakannya, ia mengeluarkan suara siulan untuk memanggil sesuatu. Benar saja, tak lama setelah itu dua serigala putih, bermata biru dan bermata merah datang menghampirinya dari halaman belakang.
"bagaimana dengan ini?" lanjutnya.
Aqira menatap serigala yang memiliki mata biru dan Wanda menatap serigala mata merah dengan sorot mata tajam miliknya namun tak ada reaksi sedikitpun dari serigala itu.
"bagus." gumam Aqira mengangkat sudut bibirnya.
"lumayan." gumam Wanda yang mengakui kegigihan dari serigala itu.
"biarkan mereka yang menjaga." ucap Wanda dan Aqira secara bersamaan.
"sesuai keinginan kalian." sahut Jeni tersenyum tipis.
Setelah pembicaraan itu selesai, mereka meninggalkan kediaman milik Jeni bersama menuju sebuah tempat yang tak diketahui orang lain.
Keesokan harinya…
Istana kerajaan Qing sedang melakukan kerjasama terhadap enam kerajaan yang melibatkan Jilixu, Mo Chen, Wanda dan Yalan didalamnya. Disana juga terdapat menteri-menteri generasi baru yang melakukan kerjasama. Tapi diantara semua putra Kaisar, hanya Xiao Yan yang tidak hadir disana dan tidak ada yang mempermasalahkannya.
Disisi lain tempat Xiao Yan berada saat ini.
"ugh… kenapa kepalaku pusing sekali?" gumamnya yang bangun dari tidurnya dan menemukan dirinya sedang berendam didalam bak berisi air dingin.
"kau sudah bangun?" ucap Aqira yang datang dari luar dengan membawakan obat herbal ditangannya.
Xiao Yan keluar dari bak itu sembari berjalan mendekati Aqira dengan air yang mengalir membasahi lantai.
"minum ini, dan segera ganti bajumu." ucap Aqira yang meletakkan obat herbal itu di meja sembari mengambil kain untuk mengeringkan lantai yang basah.
"setelah ini kita selesaikan masalah yang tertunda." lanjutnya.
"selain kerjasama ini, kita juga ada kabar bahagia lainnya." ucap Kaisar Xiao yang berdiri dari duduknya sembari turun dari singgasananya.
Semua yang hadir pun ikut berdiri.
"mengingat usiaku yang semakin tua, saatnya telah tiba."lanjutnya yang berjalan ke tengah ruangan.
"Dengan hadirnya kalian sebagai saksi, aku Kaisar Xiao Bai, akan mengangkat Kaisar yang baru." imbuhnya dengan lantang.
Mendengar itu para pejabat negara serta para bangsawan pun menantikan hal itu dengan bersemangat. Xiao Zhennai juga turun dari singgasana putra mahkota menuju tengah ruangan.
Kaisar Xiao memutar badannya kearah Xiao Zhennai yang baru turun, "hari ini aku umumkan putra mahkota Xiao Zhennai sebagai…"
"tunggu!"
Kalimat terpotong oleh suara lantang seorang wanita yang baru memasuki ruangan.