Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Tujuan Baru



Perjamuan telah berakhir, namun seseorang yang mereka tunggu tidak hadir dalam perjamuan. Ketiga pria ini keluar dari aula dengan raut wajah kesal. "pelayan! dimana wanita di ruangan ini!" ucap Pangeran Yan dengan wajah serius. Para pelayan dan penjaga ketakutan hingga gemetaran, "a…ampun pangeran, ham…ba tidak tahu… hamba baru saja keluar untuk mengambil makanan." ucapnya yang ketakutan. "dan kalian?!" bentak Yalan kepada para penjaga. "tu…tuan, tidak ada yang keluar dari tadi." ucap salah seorang penjaga di depan pintu.


Jilixu keluar dari kamar itu dengan membawa selembar kertas di tangannya, "jangan bertengkar, lihat ini." ucapnya sembari menunjukkan kertas itu kepada mereka. Yalan langsung mengambilnya dengan cekatan, "kalian tenang aja, kita hanya keluar untuk jalan-jalan. Jangan khawatir!" membaca isi surat yang ditulis oleh Wanda.


Sementara itu, di sisi lain ketiga gadis memasuki sebuah paviliun dengan mengenakan pakaian pria kesana. "selamat datang, tuan-tuan." ucap seorang wanita menghampiri mereka. Aqira tersenyum seraya berkata, "apa Qingqing ada?" ucapnya dengan nada pelan. Wanita itu mendekatkan wajahnya kearah Aqira seraya menarik kera baju Aqira, "tapi dia sudah dipesan." ucapnya dengan nada menggoda. Jeni yang melihat itu sontak menarik pundak Aqira dari belakang seraya maju ke hadapannya, "bagaimana kalau sekarang?" ucapnya sambil menggoyangkan sekantung koin emas di tangannya. Wanita itu merubah ekspresinya dari rubah menjadi anak anjing, "oh, bisa dibicarakan." ucapnya sembari membuka kipas tangannya.


Wanda menepuk pundak Aqira seraya berkata, "banyak berlatih dengannya." ucapnya dengan menatap gerak-gerik Jeni. Aqira memutar bahunya, "bukan keahlianku." ucapnya dengan wajah datar.


Ketiganya di arahkan ke sebuah kamar yang dijaga ketat, "silahkan bersenang-senang tuan." ucapnya sembari menutup pintu kamar dari luar.


Aqira mendekati wanita yang di rantai di dalam sana dengan hati-hati, "nona" ucapnya sembari menepuk pundak wanita itu. Saat wanita itu mendongak, ia hendak menyerang Aqira, "jangan sentuh aku!" ucapnya sembari menodongkan pisau di tangannya. Aqira spontan memegang tangannya sambil menjatuhkan pisau itu ke bawah, "huff untung tidak kena." ucapnya yang menghela nafas lega. "kak Qian." ucap Wanita itu menatap wajah Aqira. "tenanglah, aku tidak apa-apa." ucap Aqira sembari mengelus rambut wanita itu dengan lembut.


"bagaimana kakak bisa kemari?" ucap gadis itu yang bertanya-tanya. "nanti saja kujelasan, Wanda bantu aku." ucap Aqira sembari menoleh kearahnya. Aqira mencari cara untuk membuka rantai dengan bantuan Wanda, sedangkan Jeni mengawasi luar kamar dari lubang yang ia buat di pintu, "berhenti membuat suara." ucap Jeni menoleh ke belakang.


tok…tok…tok… "hei, kenapa berisik sekali." ucap seorang wanita dari luar pintu kamar. Jeni melirik kearah Wanda, namun dia memalingkan wajahnya dengan cepat. Aqira mendapat ide dengan mengorbankan gadis kecil itu, "uhm ah uhm" tiba-tiba gadis kecil itu mengeluarkan suara aneh yang membuat ketiga gadis besar ini merasa merinding. "maafkan kami sudah mengganggu." ucapnya yang segera pergi dari sana.


Setelah mereka bubar, nampak Jeni yang menempelkan keningnya di dekat pintu, Wanda menatap langit-langit kamar dengan memegang punuk lehernya, sedangkan Aqira menahan nafasnya sejenak. Suasana canggung dan hening menyelimuti mereka. "kalian tidak berubah." ucap Aqira sembari menghembuskan nafas lega. Wanda menurunkan pandangannya seraya berkata, "memangnya kau sendiri berubah?" ucapnya sembari melirik kearah Jeni. Jeni tak melontarkan sepatah katapun dan langsung mengawasi luar pintu kembali.


Beberapa saat kemudian, Aqira berhasil membuka rantai tanpa melukai gadis itu. "kalian pergi saja, meskipun rantai ini lepas, kalian tidak akan bisa membawa ku keluar diam-diam." ucap gadis itu yang cemas. Aqira membuka bajunya seraya berkata, "siapa yang bilang pergi diam-diam." ucapnya sembari mengedipkan matanya.


Ketiga gadis membuat ulah lagi, ketiganya mengganti pakaian menjadi pegawai disana. Baju terbuka dengan dandanan tipis di wajah, ketiganya memikat seluruh pandangan orang-orang disekitarnya. Baik pria maupun wanita, semuanya terhipnotis oleh penampilan mereka. Hingga seorang pria mendekati Wanda, "nona cantik, apa kau senggang?" ucapnya sembari menyentuh pundak Wanda. Jeni dan Aqira seketika tercengang mendengar hal itu sembari melirik kearah Wanda. Wanda menatap wajah pria itu seraya berkata, "apa tuan ada waktu?" ucapnya dengan tersenyum paksa. "tentu-tentu, ayo ikut denganku." sahut pria itu sembari menggangukkan kepalanya dengan cepat. "tunggu aku di restoran Tanyang." ucap Wanda melintas di sebelahnya. Jeni menghela nafas panjang, "semoga selamat." ucapnya sembari berjalan keluar dari tempat itu. Tepat di depan pintu, mama paviliun menghentikan mereka, "mau kau bawa kemana dia?!" ucapnya sembari menunjuk kearah gadis itu. Aqira yang hendak maju ditahan oleh Jeni dari belakang, "serahkan padaku." ucapnya sembari tersenyum pahit.


"aku tantang bagaimana kau membawanya pergi." ucap mama pemilik paviliun dengan lantang.


brak… Dalam hitungan detik seluruh aula paviliun dibuat berantakan oleh Jeni, "bagaimana dengan ini." ucapnya sembari tersenyum kearah wanita itu. Wanita itu tak mampu berdiri akibat reruntuhan barang-barang yang menimpanya, "kau…kau siapa?" ucapnya sembari merangkak kearahnya. Jeni berbalik seraya berkata, "tidak penting." ucapnya sembari berjalan keluar dari tempat itu.


Mereka berjalan menuju pinggiran kota bersama gadis itu, "kakak, bagaimana dengan kakak yang tadi?" ucap gadis itu sembari menarik lengan baju Aqira. Aqira mengelus rambutnya dengan lembut seraya berkata, "kau tenang saja, dia baik-baik saja." ucapnya sembari tersenyum tipis.


Gang buntu di pinggiran pasar, tempat Wanda berada.


"gadis cantik, apa kau sudah siap?" ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai. Wanda menarik lengan bajunya keatas seraya menjawab, "seharusnya aku yang bertanya." ucapnya sembari melangkah mendekatinya. Wanda mengambil sebuah tongkat kayu didekatnya sembari mengangkatnya keatas.


Brakk…


"ck, mengecewakan." ucap Wanda sembari berjalan keluar dari gang itu.


Beberapa saat kemudian, Wanda menyusul yang lain ke restoran Tanyang, bahkan ketiga pria juga berada disana sedang menunggunya. "maaf terlambat." ucapnya sembari berjalan mendekat kearah meja mereka. Yalan spontan berdiri dan menghampirinya, "kau dari mana saja? dan… noda merah apa ini?" ucapnya sembari memeriksa keadaannya. Aqira menatap Wanda sembari memberi kode, "apa kau membunuhnya?" berbicara melalui isyarat mata. Wanda menjawab, "tidak." sembari melirik ke kanan.


"katakan, noda merah apa ini?" ucap Yalan memegang pundak Wanda. Wanda mengambil noda merah di bajunya seraya menjawab, "ini saus tomat." ucapnya seraya memasukkan jarinya yang terkena saus. Jeni menarik tangan Wanda kearahnya, "kenapa ada saus tomat disini?" bisiknya perlahan. Wanda merangkul leher Jeni dan Aqira seraya menjawab, "tadi waktu dijalan…" ucapnya dengan nada pelan. "apa!?" pekik keduanya bersamaan.