Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Hari Pertukaran



"baiklah, sudah selesai nona." ucap Jeni yang selesai memperbaiki riasan Lian ai.


Tian ai bersandar di kursi seraya berkata, "biasanya kau menggunakan pakaian sederhana, kenapa sekarang ingin tampil formal?" tanya dia sambil memejamkan matanya.


Lian ai berdiri dari duduknya sembari menghampiri Tian ai, "kakak, namanya juga kencan resmi. Dan ya, kapan kakak akan berkencan juga?" ucapnya yang balik melempar pertanyaan.


Tian ai membuka matanya sembari berdiri, "aku sedang menunggunya… dia akan segera datang." ucapnya dengan penuh percaya diri.


Bruk… disisi lain, disebuah ruangan terbuka didalam mansion yang penuh dengan senjata disekelilingnya.


"tuan, persiapannya sudah selesai." ucap seorang pengawal yang berlutut didepan tuannya.


"segera atur perjalanannya." sahut seorang pria yang sedang berlatih pedang.


Klang…Klang…Klang…pyar… "adik, bisakah kau berhenti saat aku kemari." ucap seorang wanita yang berdiri tepat dibelakangnya.


Pria itu menurunkan pedangnya dan menjawab, "apa boleh buat, kau selalu mengganggu latihan ku."


"aku tidak akan mengganggumu jika kau segera membawakanku saudari ipar." ucap wanita itu.


Pria itu memutar badannya kearah wanita tadi seraya menjawab, "aku akan membawanya, tapi sebagai gantinya… kau urus pembuat onar itu." ucapnya yang pergi meninggalkan wanita itu melalui dinding istana.


Wanita itu menghela nafas panjang, "bagaimana reaksi publik saat tahu Kaisar Mo Chen memiliki sikap kekanakan." ucapnya yang menyentuh keningnya.


"Kaisar! Kaisar! aku ingin bertemu dengan Kaisar!" terdengar suara wanita yang berteriak dari luar tempat latihan.


"akhirnya muncul juga pembuat onar ini." ucap wanita itu yang berjalan menuju pintu luar.


"aku tidak bisa membawa permaisuriku sebelum menyelesaikan misi ini." ucap pria itu menuju hutan.


Beberapa bulan kemudian, Pertengahan musim gugur. Acara pertukaran sedang dilakukan, para pangeran dan utusan datang untuk melakukan pertukaran.


Sementara itu, Jeni mulai sibuk mendandani Tian ai agar terlihat secantik mungkin untuk menghadiri acara itu. Tak hanya itu, bahkan banyak wanita bangsawan yang berdandan cantik untuk menarik perhatian Kaisar Mo Chen yang sedang mencari permaisuri. Sedangkan para rakyat bersiap untuk menyambut acara itu dengan meriah.


"hei, dengar-dengar selain pertukaran, Kaisar dataran tengah mereka kemari untuk menjemput calon istrinya." gumam para rakyat yang berada di kerumunan untuk menyambut kehadirannya. "benarkah? berarti kita akan diberkahi oleh persatuan dua kerajaan?" tambah satunya yang saling bertukar pikiran satu sama lain.


Saat mendengar mereka akan tiba, para wanita bangsawan berebut untuk menyambut di depan. Setelah mendandani Tian ai ketiga gadis dibebaskan dari tugas itu dan kembali ke istana. Selain pertukaran itu, Kaisar Mo Chen juga mengajukan acara berburu di hutan kepada tuan rumah acara pertukaran ini, dan Kaisar Xiao mengumumkan acara perburuan itu sekaligus untuk memilih calon Kaisar sesungguhnya secara diam-diam.


Malam hari, pinggiran kota.


"ini sudah terlewat dua musim tapi Aqira belum kembali, kita bahkan tidak mendapat informasi yang kita inginkan." ucap Jeni yang bersandar di bawah pohon.


Wanda memberikan ikan yang selesai dipanggangnya kepada Jeni, "jangan khawatir, dia pasti sudah mendapat apa yang dia inginkan." ucapnya yang sedang memanggang ikannya.


"sesuai perjanjian, aku tidak berhutang lagi padamu." ucap Aqira yang mengemasi barang-barangnya sembari hendak meninggalkan ruangan.


He Zi tiba-tiba memeluknya dari belakang, "apa kau bisa sedikit lama lagi tinggal di sisiku?" tanya dia yang mencoba menghentikannya. Aqira melepas pelukan itu sembari memutar badannya kearah He Zi, "maaf, aku sudah memiliki janji dengan seseorang." ucapnya sambil menatap wajah He Zi. "kalau begitu, aku pamit dulu." sambungnya sembari mengambil bungkusannya dan meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Qian, He Zi mengunci diri di kamarnya.


"baik, tuan." sahut Moxi yang segera pergi dari sana.


Sementara itu Aqira sedang menuju tepi danau cinta dan menaiki perahu yang ia naiki dulu, "dua bulan yang lalu aku sudah membuat kompas, menurut arah kompas dan peta yang kutemukan di dunia modern dulu, rute ini yang paling cepat kembali ke sana." gumamnya yang terus mendayung perahunya menuju arah timur.


Setelah menempuh satu jam Aqira bertemu dengan pinggiran danau yang pas untuk mendarat, tapi karena kelelahan dia terjatuh kedalam air sebelum ia berhasil mendarat. Wanda yang sedang berada diatas pohon terusik karena melihat seseorang yang tenggelam itu dan berusahalah menyelamatkannya, "Aqira bangun, Aqira!" ucapnya sambil menekan dada Aqira. Sedangkan Jeni menggosok tangan dan kaki Aqira secara bergantian.


"uhuk-uhuk." Aqira memuntahkan air dari mulutnya sembari bangun. Keduanya langsung terduduk sembari menghela nafas lega. "terimakasih." ucap Aqira sembari menatap keduanya.


"kau tidak apa kan?" tanya Jeni yang memeriksa keadaannya.


"aku tidak apa-apa." sahut Aqira dengan santai. Wanda berdiri sembari mengibaskan rambutnya yang basah, "sebaiknya kita kembali dulu atau kita akan sakit." ucapnya yang menarik keduanya pergi dari sana.


Penginapan pinggir kota…


"bagaimana kabarmu?" tanya Jeni yang memberikan teh hangat kepada Aqira. Aqira meniup tehnya sembari meminumnya sedikit, "benar-benar buruk." ucapnya sembari menghela nafas panjang.


Wanda menaikkan selimutnya hingga menutupi rambutnya, "apa kau berminat mendongeng?" "kenapa tidak?" sahut Aqira dengan santai.


"apa!? se posesif itukah pria itu?" ucap Jeni yang telah mendengar cerita Aqira selama beberapa bulan kemarin.


Aqira menghela nafas panjang sembari meregangkan tubuhnya di kursi, "bukan posesif, lebih ke merasa bersalah saja. Kau tahu, dia adalah seseorang yang terlahir kembali."


"terlahir kembali? yang benar saja." ucap Jeni yang sontak tak percaya.


Wanda turun dari tempat tidurnya sembari melepas selimutnya, "percaya atau tidak, kita bisa jadi contohnya." ucapnya sembari menatap dirinya didepan cermin.


"oh iya, satu hal lagi. Ternyata He Zi hanya pemimpin pasukan berlambang matahari, sedangkan bos besar dalam permainan ini adalah salah satu pangeran kerajaan ini." ucap Aqira menjelaskan. Kemudian ia menoleh kearah Wanda yang tersenyum sendiri, "apa yang lucu?"


"kau!" jawab Wanda yang tak bisa menahan tawanya.


"kenapa aku?"


"kau bilang, kau pingsan karena kelelahan?"


"diamlah, jangan mengejekku." ucap Aqira yang memukul Wanda.


Jeni melerai keduanya seraya berkata, "hei, apa kau ingin bernasib seperti para pejabat korup itu?" sembari mengulurkan tangannya.


"ahaha, kau benar." ucap Wanda yang menjabat tangan Jeni.


Memory… Berita terbaru, telah terjadi pembunuhan berantai didekat gudang terbengkalai, para korban diduga adalah para pejabat yang korup. Polisi menyelidiki bahwa ini adalah pembunuhan antar anggota sendiri. Dan para korban juga membawa senjata masing-masing ditangan mereka.


"siapa yang tau, bahwa ada rahasia dibalik berita itu." batin Wanda sambil menatap wajah Aqira.