
Xiao Yan yang hendak pergi meninggalkan istana dihentikan oleh seorang wanita yang mengenakan jubah emas seperti milik Kaisar.
"apa ini? kau akan pergi tanpa menemuiku?" tanya wanita itu yang berdiri satu meter berhadapan dengan Xiao Yan.
"jangan katakan itu, nenek." sahut Xiao Yan yang menghampirinya.
"bagaimana kabar nenek?" lanjutnya sambil memeluk hangat wanita itu.
"asal kau baik, aku juga baik." jawab wanita itu menepuk pelan punggung Xiao Yan.
"maaf menganggu waktu ibu suri, tabib Lin sedang menunggu." ucap seorang pelayan wanita yang memberi kabar dengan membungkukkan badannya.
Xiao Yan sontak melepas pelukan itu dan menatap wajah wanita yang ia peluk tadi, "nenek berbohong, katakan yang sebenarnya." ucapnya dengan penuh kekhawatiran.
Wanita itu tak menjawab melainkan menariknya ikut bersamanya menemui tabib Lin di kamar ibu suri.
"salam ibu suri dan pangeran keempat." ucap tabib Lin yang memberi hormat dengan menatap keduanya yang berjalan berdampingan.
"bagaimana kabarmu dan tabib malaikat itu?" tanya ibu suri kepada tabib Lin seraya duduk di ranjang tidurnya.
Tabib Lin tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu sambil menyiapkan jarum-jarum untuk akupuntur, "saya dan dia baik." jawabnya.
Tabib malaikat yang dimaksud adalah Aqira. Dia pernah menyelamatkan nyawa ibu suri saat asmanya kambuh di festival bunga empat tahun lalu. Setelah itu Aqira ditawari untuk bekerja di istana namun dia menolak, dia lebih memilih membuka pengobatan sendiri untuk mengobati rakyat yang membutuhkan bantuan medis. Tapi ibu suri yang merasa berhutang budi dengannya pun hanya bisa memberinya sebuah token keluar masuk istana untuk memudahkannya mencari bahan obat diluar istana.
"apa pasien di klinik banyak?" tanya ibu suri lagi.
"sesuai perkataan ibu suri." jawab tabib Lin yang memulai akupuntur pengobatan.
Xiao Yan duduk di kursi sebelah ranjang ibu suri sambil menunggu akupuntur itu selesai. Setengah jam telah berlalu dan tabib Lin selesai melakukan akupunturnya kepada ibu suri.
"bagaimana keadaan nenek?" tanya Xiao Yan kepada tabib Lin.
Tabib Lin menutup kotak yang berisi rempah obat dan alat medis lainnya seraya menjawab, "kesehatan ibu suri semakin membaik."
"kalau begitu, saya permisi dulu." lanjutnya yang memberi hormat kepada ibu suri seraya langsung meninggalkan ruangan itu.
"antarkan tabib Lin, dan berikan ini kepada tabib malaikat." perintah ibu suri kepada Xiao Yan.
"baik, nek." sahut Xiao Yan yang menerima kantung berisi wewangian seraya bergegas mengikuti tabib Lin.
"tidak perlu bersikap formal." ucap Xiao Yan kepada tabib Lin saat hendak melintasi kerumunan wanita yang menunggu kedatangannya.
"tapi pangeran…"
"panggil A Yan." sela Xiao Yan untuk menghentikan tabib Lin salah berucap saat melintasi kerumunan itu.
"baiklah, A Yan."
Keduanya berjalan keluar istana menuju klinik ChuLin. Tiba disana, klinik sudah sepi karena semua pasien sudah ditangani. Akhirnya tabib Lin menjamu Xiao Yan di kliniknya itu.
"maaf hanya ada air saja." ucap tabib Lin yang menyajikan air dalam bambu.
"seharusnya aku yang minta maaf karena merepotkanmu." sahut Xiao Yan menerimanya dengan senang hati.
Xiao Yan menaruh kantung yang diberikan oleh neneknya, "oh iya, ini ada titipan di nenek untuk…" bibirnya berhenti sejenak memikirkan sesuatu, "tabib malaikat." lanjutnya yang bingung dengan perkataannya sendiri.
Setelah memberikan itu, Xiao Yan berpamitan meninggalkan klinik. Saat dia ditengah perjalanan, ia berhenti melihat gadis dengan wajahnya yang tertutup lumpur sedang membersihkan selokan yang tersumbat lumpur sambil dibantu warga setempat.
"yeahh… airnya sudah tidak tersumbat." ucap salah seorang anak kecil yang bersorak.
"terimakasih tabib Chu." timpal remaja perempuan dengan menggenggam tangan Aqira.
"jangan berkata seperti itu, semua ini berkat kerjasama kalian." sahut Aqira dengan nada lembut.
"baiklah, kalian harus segera berganti pakaian, atau nanti akan sakit." lanjutnya yang berpesan kepada yang lain.
Para warga pun membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing-masing, begitu juga dengan Aqira, dia bergegas kembali ke rumahnya.
Sampai didepan pintu rumah, dia melihat sekeliling sebelum melangkah masuk kedalam.
Kriekk… Dia menutup pintu dengan hati-hati seraya berlari menuju kamarnya. Begitu tiba di kamar ia langsung melepas bajunya seraya membersihkan lumpur yang menempel di badannya.
Setelah itu ia berendam air hangat di bak dengan rambutnya yang terurai. Sangking nyamannya berendam hingga dia tak merasakan air sudah menjadi dingin sejak tadi.
"kenapa kotor sekali?" gumam tabib Lin yang baru kembali dari klinik melihat jejak terompah yang berlumuran lumpur.
Ia berjalan mengikuti jejak itu sampai berakhir di kamar Aqira. Dua kali ia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban dari dalam.
"jika dia belum kembali, lalu jejak siapa ini?"
Tabib Lin pun memutuskan untuk masuk kedalam untuk memastikan tidak ada orang asing yang masuk. Sampai didalam jejak terompah berubah menjadi jejak kaki seorang wanita.
"sebenarnya ini jejak siapa?"
Tabib Lin sampai didepan perbatasan tempat kamar mandi berada. Tangannya masih enggan untuk membuka perbatasan itu karena dia tidak ingin sesuatu tak terduga terjadi karena dia membuka perbatasan itu.
Pria ini diambang kebingungan antara masuk kedalam ataupun tidak. Saat tekadnya sudah penuh untuk membuka perbatasan itu, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam sana.
"apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Aqira dengan rambut basahnya terurai serta mengenakan pakaian tipis berwarna putih.
Tabib Lin sontak memutar badannya membelakangi Aqira, "kupikir ada orang asing yang masuk." ucapnya.
"kalau begitu aku akan pergi." lanjutnya yang berjalan mendekati pintu, "dan ya, bersihin semua noda itu." imbuhnya sebelum melangkah melewati pintu.
"baiklah." sahut Aqira berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Sementara itu disisi lain Xiao Yan tiba di restoran Tanyang menemui seseorang disana.
"bagaimana keadaan di kamp?" tanya Xiao Yan kepada seorang pria yang duduk satu meja dengannya.
"kemarin ada penyusup yang menerobos kamp, tapi para prajurit berhasil menangkapnya." jawab pria itu.
"bagaimana tuan? apakah kita akan kembali ke kamp?" lanjutnya.
"aku akan menetap di istana untuk sementara, tiga hari lagi adalah ulang tahun nenek, aku tidak ingin mengecewakannya." sahut Xiao Yan sambil meminum tehnya.
"kau tahan dia dulu sebelum aku kembali, Weiqi." imbuhnya.
"baik, Weiqi akan melakukan yang terbaik." sahut pria itu seraya meninggalkan meja.
Weiqi, prajurit sekaligus tangan kanan Xiao Yan. Dia adalah wakil jenderal sekaligus yang memegang melatih para prajurit bayangan milik Xiao Yan
"entah mengapa… aku merasa ada yang menarik dari hari ulang nenek." batin Xiao Yan sambil melihat Weiqi berjalan meninggalkan restoran.