Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Pukulan Keras



Jeni melirik Aqira, Aqira menatap Wanda, Wanda menekan telapak tangan kanannya sembari mengambil nafas panjang, "hufff…" menghembuskan setelah beberapa detik. Lalu ia melirik kearah kedua temannya, dan keduanya melakukan hal yang sama, kemudian ia berjalan mendekati Tian ai, "nona…" menghentikan kalimatnya sembari menatapnya.


"jangan panggil begitu, panggil namaku." ucap Tian ai dengan serius.


Wanda menghela nafas, "tian ai" wajah Tian ai langsung berubah menjadi berseri. "maukah kau membantuku?" tanya Wanda sembari menyodorkan kendi yang dibawa Aqira kemarin. Tian ai mendekat sembari mengambil kendi itu, "tentu" ucapnya dengan serius.


Wanda membisikkan sesuatu kepadanya, dan keduanya tersenyum satu sama lain. "kalian sudah siap?" tanya Wanda sembari menoleh kearah kedua temannya.


Jeni dan Aqira berdiri sembari memasang cadar mereka, Wanda mengeluarkan cadar dari sakunya sembari memakainya, "sampai jumpa." ucap ketiganya yang pergi meninggalkan hutan.


"jadi, bisa jelaskan apa yang terjadi?" ucap Louyang dan Fengyan kebingungan.


"apa yang kalian rencanakan?" tanya Mo Chen yang menghampiri Tian ai.


Tian ai memegang erat kendi itu dan menjawab, "nanti juga tahu, sekarang bantu aku mempersiapkan pesta pernikahan." ucapnya sembari memapah Lian ai.


Kamar Mian ai.


"terimakasih, putra mahkota." ucap Mian ai yang memeluk putra mahkota dari belakang. Putra Mahkota menarik Mian ai ke samping sembari menoleh kearahnya, "jaga dirimu baik-baik." ucapnya sambil memberi kecupan manis di kening Mian ai.


Sementara itu, para bangsawan yang berburu kembali ke tenda perburuan. Sesampainya disana, mereka dikejutkan dengan kehadiran ketiga gadis itu dengan identitas asli di tenda mereka masing-masing.


"kau…!" pekik Pangeran Yan yang bergegas masuk kedalam.


"kakak, aku merindukanmu." ucap Wanda yang langsung melompat memeluk Yalan.


"sedang apa kau disini?" tanya Jilixu pada Jeni. "membuat kesepakatan." jawab Aqira yang menatap Pangeran Yan.


"kau kelihatan semakin gendut." ucap Yalan yang memeluk Wanda.


"padahal aku makan sedikit." ucap Jeni dengan serius sambil menatap Jilixu.


Ketiga pria menatap gadis mereka, "apa kau yakin?" "ya" jawab ketiga gadis dengan kompak.


Ketiga pria ini keluar dari tenda mereka secara bersamaan dan tak sengaja bertemu satu sama lain, "itulah yang terjadi." ucap Pangeran Yan yang mengeluh.


"adikku juga." ucap Yalan yang menambahkan.


"Jian juga." ucap Jilixu yang ikut-ikutan.


"sebenarnya apa yang terjadi disini?" ucap ketiganya yang bertanya-tanya.


Tap…tap…tap… terdengar suara langkah kaki mendekat, "akan ku jelaskan." ucap Fangze. "sebenarnya…" Louyang menurunkan nada suaranya saat berbicara dengan He Zi di suatu tempat.


"apa!? kenapa kau tidak bilang dari tadi!" pekik ketiga pria ini yang terkejut.


"apa jangan-jangan…" gumam He Zi yang berpikir.


Selang beberapa saat, ketiga gadis ini menyelinap meninggalkan tenda mereka. Ketiganya menuju sungai didekat sana.


blup…blup…blup… "hahhh… segar sekali." Jeni menghirup udara setelah menyelam.


"ughh…" Aqira dan Wanda mulai merasa mual lagi dan segera keluar dari sana.


Saat keduanya terpisah mencari tempat membuang muntahannya, mereka dibawa pergi oleh seseorang. Jeni yang merasa aneh segera keluar dan hendak menyusul mereka, "kenapa mereka belum kembali?" ucapnya sembari memakai pakaiannya.


"hai Nona." tiba-tiba terdengar suara pria dibelakangnya dan menepuk pundaknya.


Jeni memutar badannya sembari mundur dua meter dari tempat ia berdiri, "kau? huff… bikin kaget saja." ucapnya yang menghela nafas lega.


"aku sedang berendam, dan aku tidak sendirian." jawab Jeni dengan cepat. "Oh iya, kenapa kamu disini? Ck, kenapa susah sekali." sambungnya yang kesulitan mengikat tali bajunya.


Pria itu menggapai tali baju Jeni sembari membantu mengikatnya, "aku sedang jalan-jalan, dan ya… terimakasih untuk malam itu." ucapnya yang mengikatnya dengan kencang.


Jeni mendongak kearahnya dan berkata, "sama-sama."


Saat ini diatas pohon, "apa dia orangnya?" gumam Jilixu yang bertanya-tanya.


Tenda He Zi, dekat Tenda perburuan.


"kenapa kau membawaku kemari?" tanya Aqira yang menatapnya. He Zi meraih tangan Aqira sembari memeriksa denyut nadinya, "apa benar itu milikku?" ucapnya sambil menatap wajah Aqira.


Aqira menarik tangannya dengan paksa dan berkata, "apanya milikmu?" ucapnya dengan wajah serius.


"jangan berbohong, itu pasti milikku." He Zi menatap wajah Aqira dengan serius.


"berhenti bertindak konyol." Aqira memutar badannya sembari hendak meninggalkannya.


He Zi sontak memeluknya dari belakang dengan erat, "aku tahu aku salah, tapi jangan menghukumku begini." ucapnya dengan nada berat.


Aqira mendorongnya dengan sekuat tenaga, "aku tidak mengerti apa yang kau maksud!" sembari berjalan menuju pintu. Lalu ia menghentikan langkahnya sejenak, "dan ya… aku tidak suka hubungan yang dibangun dengan rasa bersalah, aku permisi." bergegas meninggalkan tempat itu dengan cepat.


Brukk… "Qian…" He Zi berlutut lemas.


"jadi dia." gumam Pangeran Yan yang menguping diluar tempat itu.


Gubuk dekat sungai.


"katakan!" ucap Mo Chen dengan tatapan serius. Wanda membalas tatapan itu, "apa?" ucapnya dengan nada dingin.


"sejak kapan itu?" tanya Mo Chen sambil memegang erat pergelangan tangan Wanda.


Wanda mendekatkan wajahnya kearah Mo Chen, "apa? apa ada hubungannya denganmu?" ucapnya dengan mengeryitkan keningnya. "tidak ada kan?" sambungnya yang mengibaskan tangannya sembari memutar badannya dan berjalan menuju pintu.


"ada, ada hubungannya denganku." ucap Mo Chen yang mendekati Wanda. "aku memiliki hubungan darah, apa itu cukup?" sambungnya yang memutar badan Wanda.


Duarr… "ja…jadi dia?" gumam Yalan yang terbengong bak habis disambar petir.


"walau begitu, kita baru bertemu beberapa minggu yang lalu, jadi kau tidak berhak mengatur hidupku." ucap Wanda menepis tangan Mo Chen yang berada di pundaknya sembari memutar badannya. "aku permisi dulu." sambungnya yang keluar dari gubuk itu.


"aku tidak akan membiarkanmu mengambil langkah yang salah." ucap Mo Chen dengan wajah serius.


Diluar tenda Tian ai.


"aku sangat merindukanmu." ucap Putra Mahkota yang memegang erat kedua tangan Tian ai.


"ii…ini diluar, jika…jika terlihat orang bagaimana?" ucap Tian ai yang terbata-bata dengan memalingkan wajahnya.


Ketiga gadis sedang mengintai diatas pohon, disaat yang bersamaan, Pangeran Yan datang dari arah Utara, Jilixu datang dari timur laut, sedangkan Yalan dan Mo Chen datang dari arah timur menuju tenda Tian ai. Ketiga gadis ini pun bergegas untuk menghentikan mereka, whussh… mereka bergerak seperti angin dan ketiganya berhasil menghentikan para pria itu.


Aqira membungkam Pangeran Yan sebelum ia melontarkan sepatah katapun, Jeni menarik Jilixu untuk bersembunyi, sementara Wanda menekan pundak Yalan dan Mo Chen hingga terduduk. Para pria menatap gadis didepannya yang sedang serius menatap sesuatu.


Srek… Pangeran Yan tak sengaja membuat suara. "siapa!?" ucap Putra Mahkota yang waspada.


Auuu… terdengar suara lolongan serigala berasal dari arah Wanda berada.


Putra Mahkota seketika merinding. "su…suara apa itu?" Tian ai bersembunyi dibelakang Putra Mahkota dengan gemetaran.