
"apa kau menemukannya?" tanya Jeni didalam sebuah kerumunan judi dari paviliun itu dengan pakaian seorang pria.
Wanda tak menjawab melainkan memberikan sapu tangan dengan bordiran merak di ujungnya kepada Jeni.
"ini milik Aqira, tapi dimana dia?" telepati Jeni melalui pandangan kepada Wanda.
"yang pasti dia tidak disini." jawab telepati Wanda dengan menggeleng perlahan.
Keduanya pun memutuskan pergi dari paviliun itu dengan membawa sepotong sapu tangan milik Aqira.
Beberapa langkah menjauhi tempat itu, mereka tiba disebuah desa pinggiran kota.
"bagaimana kalau kita istirahat sejenak?" tanya Jeni yang berhenti didepan kedai teh.
"baiklah." sahut Wanda yang melangkah lebih dulu kedalam tempat itu.
Diluar nampak sepi akan tetapi sampai didalam banyak sekali orang-orang dengan pakaian berbeda berada didalam sana. Ada diantaranya yang mengenakan pakaian berbulu seperti milik Mo Chen, ada yang mengenakan pakaian putih-putih seperti orang Yunani dan masih banyak lagi.
Wanda dan Jeni berjalan berdampingan menuju sebuah meja kosong dekat jendela. Baru saja duduk seorang anak laki-laki menghampiri mereka sambil membawa kertas kecil.
"tuan-tuan ingin memesan apa?" tanya bocah kecil itu dengan ramah.
Jeni menjawab, "kami pesan…"
Sementara itu Wanda duduk santai sambil memperhatikan sekelilingnya tanpa menunjukkan gerak-gerik aneh.
"kalian bersantai dan tidak mengajakku?" tanya Aqira yang datang menghampiri meja mereka.
"oh, akhirnya kau ingat dengan kita." sahut Wanda dengan santai seraya menegadah kearahnya.
Aqira duduk di seberang Wanda seraya menaikkan lengan bajunya, "ayolah, ini hanya sebentar saja."
Tak lama mereka berbincang, makanan serta minuman yang dipesan oleh Jeni datang diantar oleh bocah kecil tadi.
"wah, kalian juga memesan untukku?" ucap Aqira yang tersenyum tipis.
Jeni menghela nafas sambil mengaduk mie dengan sumpit, "kau pikir, kita lupa kebiasaanmu?" ucapnya dengan wajah datar khasnya.
"haha… kalian ini." tawa kecil Aqira.
Ketiganya menyantap makanan serta minuman ditempat sederhana itu dengan canda tawa mereka sambil melepas lelah.
"oh iya, setelah tiba disini, kita baru duduk santai seperti ini." awal Jeni memulai pembicaraan.
"kau benar, terakhir kali kita seperti ini saat memasuki misi ketiga kita." sahut Aqira.
"kesampingkan itu, aku ingin tau bagaimana kondisi kalian saat pertama datang kesini?" tanya Wanda.
Aqira menaruh sumpitnya dan menjawab, "sangat buruk, aku hampir dilempar ke tebing oleh sekumpulan pecundang."
"sama, aku benci sekali mengingatnya." sahut Jeni dengan kesal.
"memangnya ada apa?" tanya Aqira yang penasaran.
"aku hampir ditiduri pria di paviliun Zehua." jawab Jeni dengan lugas.
Perkataan itu membuat orang-orang yang berada didekat meja mereka pun merasa terkejut. Mereka berpikir bagaimana tampang pria yang hendak meniduri pria kecil yang duduk di bangku itu.
"dia masih hidup?" tanya Wanda dengan santainya sambil mengaduk mie di mangkuknya.
"iya." jawab Jeni dengan tegas.
"pasti keadaannya buruk." gumam Aqira seraya menghela nafas panjang.
"dan bagaimana denganmu?" lanjut Aqira yang menoleh kearah Wanda untuk melempar pertanyaan.
"aku baik-baik saja, tapi tidak dengan pemilik asli." jawab Wanda dengan santainya.
Yang dimaksud pemilik asli disini adalah pemilik tubuh yang mereka tempati saat ini.
"begitu banyak penindasan, kebencian hingga balas dendam." lanjut Wanda yang sedikit geram.
Wanda meletakkan gelasnya seraya menyeka mulutnya dengan ujung lengan bajunya, "singkirkan niatmu itu." ucapnya dengan santai.
"ada apa? apa kau menebak sesuatu?" tanya Jeni penasaran seraya berpindah posisi duduk disebelah Wanda.
Wanda memutar badannya kearah Jeni berada sambil menyangga wajahnya di meja. Keduanya saling bertatapan kurang lebih lima detik tanpa berbicara.
"kalian jangan mulai." ucap Aqira memecah keheningan kedua temannya itu.
Sontak empat mata yang bertatapan tadi berubah arah kepada Aqira.
"jangan menatapku seperti itu." lanjutnya seraya menurunkan lengan bajunya yang terlipat.
"oke-oke." ucap kedua temannya itu sambil mengangkat kedua tangannya setinggi daun telinga.
"aku punya sebuah pertanyaan untuk kalian." tanya Jeni yang tersenyum aneh menatap Wanda dan Aqira.
Aqira menyipitkan matanya sementara Wanda memasang raut wajah datar dengan tangannya yang bersendekap.
Jeni membungkukkan badannya pada meja "jika seseorang menyatakan cinta pada kalian, apa yang akan kalian lakukan?" ucapnya dengan salah satu alisnya terangkat serta tersenyum canggung.
"ada apa? apa kau mengalaminya saat ini?" ucap Aqira yang bertanya balik dengan cepat.
"tidak bukan begitu, aku hanya bertanya saja." sahut Jeni yang panik.
Wanda memijat keningnya dengan wajahnya yang tertunduk kebawah, "kalian tidak berubah." gumamnya yang pasrah.
"tolongggggg…!!!!!!"
Ditengah asiknya mereka bercanda, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari luar kedai ini. Tapi anehnya, semua orang tidak ada yang keluar untuk melihat.
Wanda yang merasa aneh pun memutuskan untuk keluar kemudian diikuti oleh Jeni, sementara Aqira membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan tadi.
"bukankah tadi ada suara teriakan?" batin Jeni seraya menoleh kearah Wanda yang berdiri di samping kanannya.
Wanda melihat sekeliling halaman dengan teliti serta mencoba mendengarkan suara-suara dengan indra pendengaran tajamnya.
"bagaimana?" tanya Aqira yang datang dari belakang.
"tidak ada." jawab Jeni tanpa menoleh kearahnya.
Baru berdiri diantara kedua temannya ini, mata Aqira langsung tertuju pada sebuah pohon besar yang berada diluar halaman tempat ini. Tanpa berkata, ia langsung berjalan menuju kesana dengan santai layaknya warga biasa.
Tiba di samping pohon, Aqira mengitari pohon itu sekali dan berhenti di sisi lain pohon yang tak terlihat oleh kedai tadi.
"aku tau kau disini." ucap Aqira dengan pelan sambil menatap pohon besar itu.
Mendengar perkataan dari Aqira membuat Wanda serta Jeni menurunkan kewaspadaannya dan bersikap layaknya rakyat biasa.
Whussh… sebuah bayangan hitam turun dari pohon itu dan berdiri dihadapan Aqira. Keduanya saling menatap satu sama lain tanpa berbicara untuk beberapa detik.
"katakan, apa maumu?" tanya Aqira dengan tenang.
"tidak ada, aku hanya iseng saja." jawab sesosok pria dihadapan Aqira yang tak lain adalah pria yang mengaku sebagai suami Aqira tempo hari.
"tolongggg!!!!!!!"
Untuk kedua kalinya mereka mendengar teriakan seorang wanita namun tak menemukan sosoknya. Ketiga gadis ini menggunakan bakat luar biasa milik mereka untuk memeriksa sekitar.
"apa yang kau cari?" tanya pria itu kepada Aqira.
Aqira menoleh kearah pria itu dengan tatapan serius, "kau tidak mendengarnya?"
"memangnya ada apa?" ucap pria itu yang bertanya balik kepada Aqira.
"tolongg!!!!!!!"
"sebelah sana!" tunjuk Aqira kearah hutan yang berada tidak jauh dari kedai ini.
Mereka bertiga bergegas kesana tanpa berpikir panjang karena penasaran. Pria tadi juga mengikuti mereka namun kehilangan jejak sebelum memasuki hutan karena terhalang sesuatu.