Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Guru



Satu Tahun Kemudian…


Musim dingin berakhir dan musim semi telah datang dengan sambutan dedaunan yang mulai tumbuh serta kicauan burung-burung yang meramaikan suasana.


"guru…! lihat apa yang kubawa…" teriak gadis cantik yang berlari ke halaman kediaman Jenderal Qin dengan begitu bahagia.


Saat sampai di depan pintu gadis itu berhenti karena melihat seorang pria tampan didalam sana sedang berbincang dengan wanita cantik.


"kakak!" teriak gadis itu yang berlari kearah pria tampan tadi.


"kak, aku sangat merindukanmu…" ucap gadis itu memeluk hangat pemuda tampan itu.


"kalian sangat menggemaskan." ucap wanita cantik yang berdiri disamping kakaknya.


Gadis itu segera melepas pelukannya sembari menoleh kearah wanita cantik itu, "kak, dia siapa?" ucapnya yang bertanya pada kakaknya.


"dia istriku…" jawab pria itu.


Gadis itu maju menghampiri wanita cantik itu, "benarkah? kau tidak berbohong?"


"cantik sekali…" lanjutnya.


"berhenti menggoda, katakan kenapa kemari?" tanya kakaknya.


Gadis itu memukul ringan dahinya dan berkata, "hampir saja lupa… dimana guru?" sembari menoleh kearah kakaknya.


"ada apa mencariku?"


Terdengar suara lembut nan anggun keluar dari bibir seorang wanita yang baru memasuki ruangan. Setelan baju pria berwarna putih dan tudung di wajahnya membuat penasaran orang-orang. Namun saat rubah putih yang berada di tangan pria tampan tadi melompat kearah wanita ini, terbukalah penutup wajahnya ini.


Kulit putih rambut hitam lensa mata coklat dengan alis sedikit tebal tanpa riasan membuat takjub orang yang melihatnya.


"cantik sekali…" batin wanita cantik yang terpaku.


"guru kau darimana saja?" tanya gadis itu.


Wanita ini menegadahkan wajahnya dengan tangannya yang menggendong rubah putih tadi, "hanya jalan-jalan saja." ucapnya dengan lembut.


Dia tak lain adalah Jeni yang saat ini menjadi guru dari putri Jenderal Qin, Qin Yan an. Serta menjadi rekan Tao putra Jenderal Qin, Qin Li.


"dan kenapa mencariku?" lanjutnya.


"hampir saja lupa, aku kemari karena membawa ini." sahut Yan an memberikan ginseng kepadanya.


Tangan kanan Jeni turun menerima ginseng itu sementara tangan kirinya masih menggendong rubah putih yang tertidur.


"apa guru menyukainya?" lanjut gadis itu bertanya dengan ragu.


"kenapa tidak? aku sangat menyukainya." jawab Jeni sambil tersenyum.


"terimakasih ya…" lanjutnya.


Yan an mengangguk dengan gembira, "sama-sama."


Wanita cantik menghampiri Jeni dengan berani, "apa, apa kau adalah nona Jian?" tanyanya.


Jeni menoleh kearahnya sembari tersenyum, "iya, ada yang bisa ku bantu?"


Baru saja wanita itu hendak menjawab namun terhentikan oleh kedatangan seseorang.


"maaf mengganggu, Tuan Muda dan Nona Besar dipanggil Jenderal ke ruangannya." ucap seorang pelayan yang datang.


"baiklah, kami akan kesana." sahut Qin Li.


"Jian, aku titipkan putih padamu sebentar." lanjutnya yang menoleh kearah Jeni.


"tidak masalah." sahut Jeni.


Mereka bertiga pun meninggalkan kamar Jeni menuju ruangan jenderal Qin yang berada di halaman barat.


Melihat ruangannya yang sudah sepi, Jeni melempar rubah putih ditangannya ke udara dan tiba-tiba hewan itu berubah menjadi anak kecil tampan berjubah biru.


"oh pemain… kau kasar sekali…" ucap anak kecil itu.


Jeni berjalan ke jendela sembari melihat pemandangan dari sana, "waktunya tinggal empat hari, apakah potongan petunjuk itu sudah cukup?" ucapnya.


Si jubah biru menghampiri Jeni dan berkata, "sebenarnya cukup tapi…"


"masih ada satu tugas lagi." lanjutnya.


Pandangan mata Jeni turun kebawah sejenak sembari menoleh kearahnya, nampak wajah kaku nan masam diperlihatkannya.


"apa lagi?" tanya Jeni dengan acuh tak acuh.


Malam Harinya


Walau bunga sudah tumbuh dengan subur tapi sisa dingin dari musim salju masih terasa di tubuh. Jeni atas perintah dari sistem sedang menjalankan tugas terakhirnya sebelum kembali.


Kakinya terus melangkah hingga sampai didepan pintu ruang baca Jenderal Qin. Ekspresi datar serta kedua tangannya yang di sembunyikan dalam lengan baju dan bersiap memasuki ruangan itu bak medan perang.


KRIEKK


Bunyi pintu kayu terdengar di telinga dan datanglah seseorang dari dalam ruangan itu seperti telah mengetahui kedatangannya. Mata Jeni terarah pada seorang wanita yang membukakan pintu itu dengan memudarkan sedikit rasa dingin dalam wajahnya.


"silahkan masuk nona guru…" ucap wanita itu membungkukkan sedikit badannya dengan tangan yang mempersiapkannya masuk kedalam.


Lengan baju Jeni terangkat dengan tangannya yang membantu wanita itu berdiri tegap kembali.


"terimakasih nona Guru…" imbuh wanita itu.


Jeni mengangguk perlahan sembari melangkah kedalam sisi lain ruangan yang dibatasi oleh pembatas.


"selamat datang Nona Guru…" ucap seorang pria yang tampak tidak muda namun masih dengan style anak muda di tubuhnya.


"apa yang membuatmu mengumpulkan kita disini?" tanyanya.


Pertama mata Jeni menoleh kearah sekelilingnya yang dimana ada Qin Li serta wanita cantik yang tak sempat berkenalan dengannya tadi.


Kemudian ia menyatukan tangannya ke depan dengan membungkuk hormat dihadapan pria itu, "aku ingin pamit pergi…"


KLONTANG…


Sebuah gelas terjatuh ke lantai dan pria yang bertanya tadi berdiri dengan cepat. Nampak wajah wanita yang menjatuhkan gelas tadi terbengong karena ucapan Jeni, dia tak lain Yan An yang ingin meminta penilaian Jeni atas ramuan hasil racikannya.


"Guru…" lirih Yan An yang bergegas menghampiri Jeni.


"kemana kau akan pergi?" tanyanya dengan raut wajah bingung.


Jeni yang terbiasa dengan tingkah ceria dari Yan An tak sanggup melihat ekspresi bingungnya sambil menahan sesuatu di matanya.


Dengan berat hati serta helaan nafas ringan keluar dari mulutnya, "tugasku sudah selesai dan kontrakku sudah habis." ucap Jeni menjelaskan.


Perlahan kepala Yan An mulai menunduk kebawah dengan diam.


Jeni mengambil kesempatan menghampiri Qin Li di belakang Yan An.


"ku dengar kau sudah menikah jadi…"


Jeni mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dan dalam lengan bajunya.


"selamat atas pernikahanmu." lanjutnya sembari memberikan bingkisan itu kepada Qin Li.


Qin Li mengangguk perlahan sembari mengambil bingkisan itu, "terimakasih."


Lalu Jeni bergerak cepat menyelesaikan part terakhirnya yaitu menghampiri pria yang bertanya padanya tadi.


"aku sudah menjawab pertanyaanmu, Jenderal Qin." ucap Jeni.


"jadi bisakah aku pergi?" tanyanya kepada pria itu dengan lugas.


"Guru, tidak bisakah kau tinggal disini saja?" Rengek Yan An yang menahan Jeni pergi.


Jeni menatapnya dengan iba sembari mengusak rambut Yan An dengan lembut, "aku tidak bisa menetap, karena masih ada tugas yang menungguku." ujarnya dengan tegas.


Jenderal Qin hanya bisa menghela nafas melihat kegigihan dari tatapan yang diberikan oleh Jeni kepadanya.


"Yan An… biarkan Nona Guru pergi." ujar Jenderal Qin sembari berdiri dari duduknya.


"tapi ayah…" lirih Yan An yang tetap memegang erat tangan Jeni.


Jenderal Qin baru membuka mulut untuk berbicara namun terlihat hendak membetaknya tetapi dihentikan oleh tangan Jeni yang tetap menatap Yan An.


"jika ada kesempatan kita akan bertemu lagi." ujar Jeni.