
"tunggu! kenapa tatto di tanganku berganti gambar?!" batin Jeni yang melihat tangan kirinya tergambar samar sebuah bulan sabit.
"dan… kenapa bajuku berantakan?!"
Jeni yang bingung pun turun dari ranjang yang hampir runtuh ini dan belum mengetahui dimana dia berada sekarang. Kakinya yang baru menyentuh lantai langsung tersetrum sampai ke tulangnya.
"dingin sekali."
Perlahan ia berjalan menuju sebuah pintu usang yang berlubang. Saat didorong, muncul cahaya yang amat terang dari luar pintu.
"tempat apa ini?" batinnya yang menatap halaman depan yang terdapat hewan-hewan ternak yang berkeliaran.
Seorang wanita paruh baya datang dari samping kanan rumah dengan membawa semangkuk beras ditangannya.
"nona, kau sudah bangun?" ucapnya yang menaiki anak tangga perlahan-lahan.
Jeni melangkahkan kakinya mendekati wanita itu sambil membantunya untuk menaiki anak tangga. Setelah sampai, Jeni memapah wanita itu masuk ke dalam rumah.
"terimakasih, nona." ucap wanita itu yang duduk di kursi.
"bibi, kalau boleh tahu, apa yang terjadi denganku?" tanya Jeni yang duduk di lantai.
"nona, duduklah diatas, di lantai dingin." ucap wanita itu yang menarik perlahan Jeni untuk duduk disebelahnya.
Setelah Jeni duduk disebelahnya, wanita itu menjawab pertanyaannya dari Jeni.
"sebenarnya nona, dua hari lalu aku temukan kau di hutan dengan tubuh penuh luka saat aku sedang mencari kayu bakar." ucap wanita itu sambil mengingat kejadian dia menemukan Jeni.
"aku memeriksa denyut nadimu masih ada, jadi aku membawamu kemari." lanjutnya.
"ternyata begitu, terimakasih bibi sudah menolongku." sahut Jeni setelah mengetahui hal yang terjadi padanya.
"dua hari lalu? tubuh penuh luka, tapi hanya seorang diri… lalu dimana mereka berdua?" batin Jeni yang tengah berpikir.
Saat ini, di rumah sederhana dengan bau-bau aromaterapi menyelimuti seluruh ruangan. Aqira dengan mengenakan pakaian seorang wanita sedang bermeditasi.
KRIEKK…
Suara pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat membangunkan Aqira dari meditasinya itu.
"kau sudah bangun?" terdengar nada berat seorang lelaki yang bertanya padanya.
Mata Aqira terbuka perlahan seraya menoleh kearah suara tadi, "oh tabib Lin, kau sudah kembali?"
"coba lihat apa yang ku bawa." lanjut Lin Chen yang membuka tudung yang menutupi wajahnya.
Lin Chen, seorang tabib yang baru turun gunung.
Wajahnya yang tampan serta rambut perak yang mengkilap seperti bohlam lampu menyinari seisi ruangan.
"hemm… rempah-rempah herbal." gumam Aqira sambil mencium beberapa diantaranya.
"apa kau akan ke kota?" tanyanya kepada Tabib Lin.
"kenapa? kau mau ikut?" ucap tabib Lin yang bertanya balik kepada Aqira sambil menata rempah-rempah tadi kepada kotak kayu.
Aqira keluar dari ruang ganti mengenakan pakaian laki-laki dengan rambutnya yang di kuncir satu.
"kenapa tidak? sudah bosan dua hari didalam rumah." sahutnya yang siap dengan mengenakan tudung untuk menutupi wajahnya.
Saat ini, di kediaman menteri Wang sedang berduka. Banyak sekali warga sekitar yang melayat sampai sang kaisar sendiri juga ikut didalamnya.
"huhuhu… nona… kenapa kau pergi meninggalkanku." terdengar isak tangis dari chui-chui disamping peti mayat.
Di kerumunan orang yang sedang melayat ini terlihat seorang wanita yang berpakaian seperti pria sedang memantau dari kejauhan.
"maafkan aku chui-chui, aku tidak bisa membawamu dalam kekacauan yang akan kubuat." batinnya dengan berat hati.
Setelah melihat chui-chui sekilas, ia langsung beranjak pergi dari sana menuju kereta di pinggiran kota.
"bagaimana? apa sudah selesai?" tanya Mo Chen yang menunggunya di dalam kereta.
Kereta yang di duduki oleh Wanda menuju ke kerajaan Mo Chen berada. Di tengah perjalanan mereka berhenti di kuil Buddha untuk beristirahat sejenak.
Wanda menaiki anak tangga kuil menuju patung Buddha. Saat ia sedang berdoa, samar-samar terdengar suara dari sisi lain patung ini.
"pangeran Ziyu, kita tidak punya banyak waktu, kau harus kembali dan mengambil singgasana." seorang pria dengan baju zirah berdoa disamping seorang pemuda sederhana yang sedang berdoa juga.
"siapkan semuanya." sahut pemuda itu yang masih berdoa dengan matanya yang terpejam.
"dia… dia adalah…" mata Wanda terbelalak melihat wajah pemuda itu dan bergegas pergi dari kuil menuju keretanya kembali.
"kenapa aku bisa lupa? kalau dia adalah…" batin Wanda yang berpikir sampai melamun tanpa sadar.
"apa yang kau pikirkan? apa kau belum siap meninggalkan negara ini?" tanya Mo Chen yang menatap wajah Wanda.
"mau mengantarku?" tanya balik Wanda dengan menatap Mo Chen.
"tidak." tolak Mo Chen dengan memalingkan wajahnya kearah jendela kereta.
Wanda mengubah ekspresinya menjadi datar seraya menundukkan tudung kepalanya hingga menutupi seluruh wajahnya.
Lima tahun kemudian…
Musim dingin telah berlalu dan musim semi telah datang. Para prajurit kerajaan turun ke pinggiran kota untuk membersihkan jalan yang masih terdapat salju.
Jeni menggunakan pakaian tebal dan berdandan seperti wanita pada umumnya sedang berjalan menuju tempat mewah yang ramai dikunjungi.
"bagaimana hari ini?" dengan nada berat ia bertanya pada salah seorang karyawati di tempat itu.
"ah nona Mou, hari ini lebih banyak pengunjung yang datang." jawab karyawati itu dengan ramah.
"baiklah, aku harus kembali, atau bibi akan memarahiku." ucap Jeni dengan tersenyum tipis kearah karyawati tadi seraya berbalik meninggalkan tempat itu
Karyawati itu mengangguk perlahan dan membalas senyuman Jeni dengan tersenyum, "hati-hati di jalan nona." ucapnya sambil melambaikan tangannya.
"bagaimana bisa ada wanita semanis dia." gumam karyawati itu yang terpesona dengan Jeni.
Jeni berhenti di depan pintu rumah yang lumayan tinggi, ia mendorong pintu itu perlahan seraya melangkahkan kakinya ke dalam. Tepat setelah pintu tadi di tutup oleh Jeni, Aqira datang dari gang kecil di sebelah kediaman tadi dan melintas di depan pintu rumah Jeni.
"lewat sini, tabib Chu." ucap seorang remaja lelaki yang berjalan bersama Aqira dengan langkah yang tergesa-gesa.
Aqira dengan langkah lebar mengikuti remaja tadi hingga sampai di gubuk sederhana di pinggiran kota. Ia melihat beberapa orang sedang berkerumun di luar gubuk itu.
"dia sudah kontraksi." batin Aqira yang melihat kondisi wanita hamil yang berbaring di ranjang.
"ambilkan sebaskom air hangat dan kain bersih." ucapnya yang memberi perintah kepada remaja tadi.
"baik tabib." sahut remaja itu yang bergegas mengambil apa yang diminta oleh Aqira.
Proses persalinan telah berlangsung selama setengah jam dan belum ada tanda-tanda apapun dari dalam gubuk. Orang-orang yang berada di luar gubuk ini sedang berdoa untuk keselamatan dari ibu dan si bayi.
Beberapa saat keheningan telah terpecah mendengar isak tangis dari sang bayi.
"oweekkkk… oweekkkk…"
Aqira dengan di bantu oleh dua orang warga sekitar membersihkan noda darah yang menempel pada ibu dan si bayi dengan hati-hati.
"selamat, dia tampan." ucap Aqira yang memberi berita kepada warga di luar serta pada remaja tadi dengan bajunya yang masih terkena noda darah.
Remaja tadi masuk kedalam dengan terburu-buru menemui wanita yang baru saja melahirkan.
"terimakasih tabib Chu." remaja lelaki itu tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Aqira karena telah membantu persalinan wanita tadi.
"itu tugasku, oh iya, aku harus segera kembali ke klinik, kalau ada apa-apa langsung kesana saja." ucap Aqira yang beranjak pergi dari tempat itu.
"baiklah, terimakasih tabib Chu." ucap remaja itu.
Aqira yang masih mengenakan pakaian bernoda darah itu berjalan menuju kota. Orang-orang yang berpapasan dengannya sama sekali tidak heran dengan noda darah yang menempel pada Aqira karena itu sering terjadi belakangan ini.