
Keesokan harinya…
"gawat! tuan putri tidak ada di kamarnya!" teriak salah seorang pelayan Wanda yang memberitahu semua pelayan yang berjaga diluar.
"ada apa ini?" tanya Mo Chen yang datang untuk mengunjungi Wanda.
Pelayan itu berlutut dengan cepat dan berkata, "salam kaisar."
"katakan!" ucapnya dengan tegas.
"putri, putri tidak ada di kamarnya." jawab pelayan itu dengan ketakutan.
Mo Chen melirik kearah Kui yang berdiri di belakang kanannya dan Kui mengangguk serta bergegas pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian…
"tuan, mata-mata mengatakan tuan putri dibawa pergi oleh seseorang pagi tadi." lapor Kui kepada Mo Chen yang berdiri di halaman belakang.
Tepat disaat itu Yalan juga diberi tahu oleh Cheng Nan tentang yang terjadi pada Wanda. Dia langsung turun tangan sendiri untuk mencarinya diluar istana.
Sementara itu, di desa terpencil diluar ibu kota. Aqira dibantu Jeni sedang melakukan transfer darah Wanda kepada seorang anak lelaki yang berumur sekitar empat tahun.
Transfer darah itu berlangsung selama satu jam penuh. Setelah itu Jeni keluar kamar tempat operasi berlangsung dan menemui wanita yang sedang menunggu didepan pintu.
"bagaimana keadaannya?" tanya wanita itu yang adalah ibu dari anak lelaki tadi.
Aqira membukakan pintu untuk wanita itu agar masuk dan melihat keadaan dari putranya sendiri.
"jangan khawatir, dalam satu jam efek obat bius akan hilang dan dia akan siuman." ucap Aqira menjelaskan.
"aku… aku tidak tau harus bagaimana berterimakasih pada kalian bertiga." ucap wanita yang berlutut di lantai.
Wanda menghampiri wanita itu seraya memapahnya berdiri, "jangan katakan itu, bukankah kau pernah bilang kalau kita keluarga."
Air mata dari wanita itu tiba-tiba membasahi pipinya seraya memeluk hangat Wanda.
"hei, ajak aku juga." ucap Aqira seraya mendekatkan diri kepada keduanya.
"aku juga." timpal Jeni yang langsung memeluk mereka.
Walau tak lama berpelukan, tapi mereka bisa merasakan kehangatan keluarga untuk satu sama lain.
"Qian, bisakah kau menuliskan surat untukku." ucap Wanda kepada Aqira.
"katakan saja." sahut Aqira yang sudah siap dengan selembar kertas serta kuas yang berlumuran tinta hitam di tangannya.
"tulis…" setelah surat itu selesai ditulis, Wanda menggores jarinya dan menempelkan sidik jempol kanannya di bawah tulisan tadi sebagai keaslian dari surat tersebut.
"Jian, aku membutuhkanmu untuk mengantar surat." ucap Wanda yang memberikan surat yang siap dikirim.
"serahkan padaku." sahut Jeni yang menerima surat itu seraya bergegas pergi menuju istana.
Setelah Jeni pergi, dia menggendong anak lelaki tadi dalam pelukannya, "kalian ikut denganku." ucapnya kepada Aqira dan ibu dari anak lelaki tadi.
Dalam hitungan menit Jeni telah sampai di ibukota. Kebetulan saat itu dia bertemu dengan Yalan di tengah jalan dan diantar olehnya menemui Mo Chen.
"apa maksudnya? kenapa dia meminta bertemu di hutan?" ucap Mo Chen yang bertanya pada Jeni.
Jeni dengan tampang lima tahun lalu saat mereka pertama kali bertemu menjawab, "kau akan tahu saat menemuinya." setelah memberikan itu, dia langsung pergi dari sana.
Sampai di depan pintu ia melihat Yalan yang menunggu disana, "lihat, jangan mengacau!" pesannya kepada Yalan tanpa melihatnya.
Di hutan tempat yang menjadi perjanjian dalam surat tadi.
Wanda sedang berdiri seorang diri disana dengan tangan yang diperban bekas dari donor darah, tapi tetap membiarkan goresan di jarinya tetap terbuka.
SREKK…
Suara langkah kaki yang mendarat membuat Wanda mencengkeram erat pedang yang ada di tangannya.
"aku sudah datang." ucap Mo Chen yang datang seorang diri, tapi sebenarnya Yalan, Xiao Yan dan Jilixu juga datang namun menyembunyikan diri mereka.
Dia yang hendak melangkah mendekati Wanda dihentikan oleh pedang tajam yang dilempar Wanda padanya.
"ambil!" perintah tegas dari Wanda seraya memutar badannya kearah Mo Chen yang ada di belakangnya.
"sudah lama kita tidak latihan." ucap Wanda yang mulai memutar-mutar pedangnya seraya perlahan mendekati Mo Chen.
Klang… Dia mulai menyerang Mo Chen namun berhasil dihadang oleh ketangkasan milik Mo Chen.
"tidak, katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Mo Chen yang menahan serangan itu.
Wanda menyerang bagian lain dan berhasil melukai tangan kiri Mo Chen, "bangun! dan lawan aku!" perintahkan dengan tegas.
"tidak! aku tidak akan melakukannya." tolak Mo Chen yang bahkan tak ingin mengambil pedang yang telah jatuh dari tangannya itu.
"meskipun aku membunuhmu, apa kau tidak akan melawan?" tanya Wanda yang mundur selangkah dengan menurunkan pedangnya.
"tidak akan!" jawab Mo Chen tanpa ragu.
"baik, jika itu maumu." ucap Wanda yang berbalik membelakangi Mo Chen.
Tapi dalam hitungan detik saat Mo Chen lengah, Wanda kembali berbalik kearahnya dengan pedang yang siap memenggal kepalanya.
"shh…" rintihan seorang wanita yang berdiri didepan Mo Chen sedang menghadang serangan Wanda dengan tangannya.
Melihat wajah dari wanita itu membuat Xiao Yan harus keluar dari persembunyiannya.
"kakak!" ucap Xiao Yan yang berdiri satu meter di samping kanan wanita tadi berdiri.
Wanda menarik pedangnya sampai menggores telapak tangan wanita itu yang membuat darah mengalir dari tangannya.
Saat Xiao Yan hendak melangkah untuk mendekat, tangan Wanda mengisyaratkannya untuk berhenti disana. Kemudian Wanda memutar badan wanita itu kearah Mo Chen yang ada dibelakangnya tadi.
"apa kau ingat dengannya?" ucap Wanda yang memperlihatkan wajah wanita itu kepada Mo Chen.
Mata Mo Chen terbuka lebar menatap wajah dari wanita itu, "Tian… Tian ai…" ucapnya dengan terbata-bata.
Setelah nama itu terucap, Tian ai baru berani mengangkat pandangannya kearah Mo Chen.
"kau, kau masih hidup…" lanjutnya yang sontak tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"bawa dia kemari." ucap Wanda yang melirik kearah pohon besar yang ada di sampingnya.
Aqira muncul dari balik pohon bersama anak lelaki tadi yang sudah sadar dari pengaruh obat bius.
"sekarang giliranmu." lanjutnya yang menepuk ringan pundak Tian ai seraya mundur satu meter menjauhi keduanya.
Beberapa saat kemudian…
Suasana menjadi hening setelah Tian menceritakan tentang apa yang dia alami selama lima tahun ini kepada semuanya. Semula hanya wajah Wanda saja yang serius, kini wajah Xiao Yan dan Mo Chen juga berubah menjadi serius.
"bibi, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya anak lelaki itu kepada Aqira yang menggandengnya.
Tapi ketika mendengar suara lembut dari anak lelaki ini mengubah raut wajah ketiganya kembali normal. Mo Chen yang ingin menghampiri anak lelaki itu dihentikan oleh Wanda.
"jika kau ingin menyentuhnya, maka selesaikan tugasmu." pesannya kepada Mo Chen tanpa menatapnya.
Berbalik dari sana, dia menatap Xiao Yan serta Mo Chen yang berdiri berdampingan dan berkata, "jangan biarkan bajingan itu mendapat yang dia impikan atau…" memutar pedangnya sekali seraya menancapkannya ke tanah, "aku sendiri yang akan datang membakar semua impiannya." lanjutnya.
Mo Chen tanpa ragu menggores telapak tangan kanannya seraya meneteskan darahnya di rambut Tian Ai, "aku Mo Chen berjanji akan membalaskan semua hal buruk yang mau alami lima tahun terakhir, dan jika aku gagal, aku tidak akan menampakkan wajahku di manapun."
"aku akan membantumu." sahut Xiao Yan dengan tekad penuh.
"aku juga." timpal Yalan.
"begitu juga denganku." ucap Jilixu yang keluar dari persembunyiannya bersama Jeni.
"bagus!" ucap Wanda yang mulai kehilangan kesadarannya dan pingsan.
"Qingyin!" teriak Mo Chen dan kedua teman Wanda.
Untungnya Yalan berhasil menangkapnya sebelum Wanda jatuh ke tanah.
"bawa dia ke rumahku saja." ucap Tian ai yang menawarkan.
"tunjukkan jalannya." sahut Yalan yang menggendong Wanda.