Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Berpamitan



"dimana etikamu…!" ujar wanita yang disebut 'kakak' olehnya dengan kasar menjewer telinganya.


"aduh aduh kakak! sakit…" ujar 'pimpinan pasukan berkuda' merintih kesakitan namun tak berani mencoba melawannya.


Hingga turunnya gerimis yang membasahi pipi orang ini dibuatnya.


"apakah sakit?" tanya wanita ini melepaskan jeweran telinga sembari melihat kondisi telinga adiknya yang tampak memerah.


Tangan yang tampak lembut ini ternyata bisa sampai melukai bagian tubuh seorang perkasa hanya dengan satu gerakan saja.


Seperti pada saat menjewer adiknya, wanita ini memukul dengan keras tangan yang melukainya.


"jangan kakak!" ujar 'pimpinan pasukan berkuda' yang mencoba untuk menghentikannya.


Perkataannya hanya sia-sia saja dan tak dihiraukan oleh wanita ini hingga pemuda yang berdiri dibelakangnya berbicara.


"Nona Tianyi…" satu kalimat lembut ini berhasil menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh diri sendiri.


Dia yang semula hanya diam dan berdiri dibelakangnya sambil menikmati indahnya dua saudara yang bertemu setelah setahun berpisah, kini berdiri diantara keduanya untuk menenangkan mereka.


"berapa kali aku harus mengingatkan mu…hmm?" kalimat kedua yang terucap begitu lembut bisa melunakkan wanita kasar yang ada didepannya itu.


Ujung kedua alis bertemu menghadap kearah kening dengan wajah bersalah menatap pria disamping itu.


"Tu,tuan Qian…" rintih gadis itu seperti putri yang merengek pada ayahnya karena tak dituruti kemauannya.


Ternyata pria berpenampilan lembut dengan rambut panjang yang terurai basah adalah Aqira yang sudah setahun ini menetap di kediaman Shen.


Dia meraih tangan Tianyi sembari menoleh kearah 'pimpinan pasukan berkuda', "dan kau… Shen Tian, apa harus ku ingatkan juga…?" lanjutnya memberikan sinyal kepadanya.


Dengan sigap Shen Tian memberi hormat kepada kakak serta Aqira yang berdiri didepannya.


"Shen Tian bertemu dengan guru dan kakak…" ujar pemuda ini dengan membungkukkan badannya dengan sopan.


Aqira dan Shen Tianyi melakukan hal yang sama padanya.


"Qian/Tianyi bertemu dengan Jenderal Shen…" ujar keduanya bersamaan sambil memberi hormat.


PROK PROK


Tepukan tangan muncul dari sisi kanan Tianyi berdiri dimana itu di sisi Kiri Shen Tian dan di arah seberang Aqira.


Seorang pria berpakaian sederhana dengan tubuh gagahnya berjalan menghampiri mereka.


Ketiganya berdiri berdampingan sembari membungkuk memberi hormat.


"Qian/Tianyi/Tian bertemu Tuan Shen/kakek besar…" ujar ketiganya bersamaan.


Pria ini menyatukan kedua tangannya dengan menunduk sedikit, "selamat datang kembali semuanya…"


Mengapa kakek tua berkata seperti itu? yah itu karena pertemuan pertama mereka setelah berpencar untuk menuju tujuan mereka.


Shen Tian baru kembali dari perbatasan untuk menjaga para migrasi dari negara tetangga yang terimbas oleh perang Kerajaan milik Jilixu dengan negara Selatan.


Shen Tianyi baru kembali dari perang terhadap kerajaan barat milik Mo Chen dan kembali dengan damai untuk mengakhirinya.


Sementara Aqira baru saja kembali setelah menetap di pegunungan setengah tahun yang lalu untuk mengajar para murid sekte yang ia dirikan setengah tahun lalu.


"aku Shen Zu, menyambut kalian bertiga…" ujar pria itu membentangkan tangannya dan disambut oleh ketiganya dengan pelukan hangat.


"ugh… aku tidak bisa bernapas…" ujar Kakek Shen yang terjepit mereka karena pelukan yang terlalu erat.


Mereka melepaskan pelukan itu sembari langsung memastikan kondisi kakek Shen.


"apa asma kakek kambuh lagi?" ujar Shen Tian mengingat sebelum ia berangkat ke perbatasan Kakek Shen baru sembuh dari asma yang menyerangnya mendadak karena pergantian cuaca yang ekstrim.


"mungkin karena aku memeluknya terlalu erat…" ujar Shen Tianyi yang menyalahkan dirinya sendiri.


Karena di negara terbalik ini, keluarga Shen yang paling dihormati setara dengan keluarga kerajaan. Dan Shen Tianyi adalah keturunan keluarga Shen yang memiliki kekuatan tempur paling besar dimana satu pukulan tangannya bisa mematahkan tombak besi sekalipun.


"uhuk-uhuk kau lihat tuan, apa kau yakin akan meninggalkanku pada mereka berdua…?" ujar Kakek Shen yang mengadu pada Aqira.


Ucapannya itu menyadarkan kekhawatiran Shen Tian dan Shen Tianyi. Makna tersirat dari perkataan singkat itu membuat kedua anak ini menatap serius Aqira.


"guru, kau mau pergi?" ujar Shen Tian bertanya pada Aqira dengan hati-hati.


Baik Aqira yang dulu maupun sekarang ia tetaplah sama dengan ucapan lugas serta nada santai miliknya saat menjawab pertanyaan itu.


"ada tugas yang menunggu… aku tidak mungkin menundanya." jawab Aqira sambil tersenyum tipis.


Shen Tian seperti anak kecil yang bergegas memeluk Aqira dengan erat seperti enggan untuk melepaskannya.


Tangan lembut satu tahun lalu yang bahkan tidak mampu memegang belati milik Aqira kini telah membekukannya dalam pelukan erat ini.


"guru, tidak bisakah lebih lama lagi?" ujar Shen Tian bertanya lagi untuk menahan Aqira agar tidak pergi.


Shen Tianyi menyentuh ringan lengan Aqira dengan tatapan enggan yang sama seperti Shen Tian.


Aqira menoleh kearah Shen Tianyi bersamaan dengan tangannya yang menepuk ringan punggung Shen Tian.


Perlahan dahi yang menempel di pundak Aqira terangkat sembari menjauhkan diri darinya seperti merajuk.


Refleks spontan Aqira langsung menarik tangan Shen Tian yang hendak pergi, "dengarkan aku…"


"jika kau pergi, kau takkan melihat ku lagi…" lanjutnya.


Setelah itu Shen Tian kembali diam ke tempatnya dan mengurungkan niatnya yang hendak pergi dengan menggenggam balik tangan Aqira.


"aku punya permintaan, apa kau akan memenuhinya…?" imbuhnya dengan menatap yakin kepada Shen Tian.


Pandangan Shen Tian yang semula hendak menangis langsung berganti ekspresi menjadi serius ketika mendengar kata tegas dari gurunya itu.


"katakan saja guru…" ujar Shen Tian berubah mode menjadi serius.


Aqira menariknya masuk kedalam kediaman dengan dibuntuti oleh Shen Tianyi dan Kakek Shen dibelakangnya.


Sebuah gulungan kertas tergeletak diatas meja didalam ruangan tersebut.


Genggaman Shen Tian dilepas sembari mengambil gulungan kertas itu, "ini ambillah…" memberikan gulungan itu kepada Shen Tian.


Setelah berpindah tangan kepada Shen Tian, Aqira mengambil bungkusan baju di sebelah gulungan kertas tadi.


Sementara itu mata Shen Tian membaca secara urut dari atas sampai bawah agar tidak melewatkan satu detail yang tercatat pada gulungan kertas itu.


"kuharap kau bisa menjalankan tugas terakhir dariku…" ujar Aqira yang sudah mengenakan tudung penutup wajah serta bungkusan baju yang dipikul di pundaknya.


Shen Tian menutup gulungan itu sembari membungkuk memberi hormat kepada Aqira untuk terakhir kali sebelum mereka berpisah.


"aku pastikan tidak akan mengecewakan guru…" ujarnya dengan tegas.


Pundak Shen Tian dipukul ringan oleh Aqira sembari ia berpamitan pada Kakek Shen dan Shen Tianyi.


"semoga kita bertemu lagi…" ujar Shen Tianyi dalam pelukan itu.


Saat Aqira berpamitan pada Kakek Shen sementara seorang prajurit datang membawa gulungan kertas untuk Shen Tianyi.


"pesta perjamuan perdamaian?" gumam Shen Tianyi membaca surat tersebut.


Kakinya yang hendak melangkah keluar dari kediaman Shen terhenti sejenak, "itu pasti…" batinnya yang menjawab perkataan dalam pelukan dengan Tianyi tadi.