Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Retakan dua dimensi



"tolong!!!!!!"


Semakin mereka ke dalam hutan, semakin keras suara jeritan meminta pertolongan itu. Dan ketiga gadis ini terus masuk ke dalam tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.


"tidak ada apapun?" batin Jeni yang bertanya-tanya.


Aqira memegang dagunya sambil berpikir, "aneh, kenapa…"


"bukankah menarik, hanya kita yang mendengarnya." potong Wanda yang tersenyum tipis dengan menatap langit yang masih gelap.


"tolong!!!!!!"


Baru saja dibicarakan, teriakan itu kembali muncul bergema di telinga mereka masing-masing. Tapi kali ini mereka memilih diam dan tidak mengejarnya.


"tolong!!!!!"


Benar saja, teriakan itu semakin kencang seperti sedang mendekati mereka. Ketiga gadis ini masih dengan sikap acuh mereka dan memilih untuk duduk santai di bawah pohon besar sambil mengobrol.


"aku masih tidak percaya, kita bisa sampai disini." ucap Jeni dengan nada berat yang bersikap elegan seperti seorang bangsawan.


"percaya atau tidak, memang ini kenyataannya." sahut Aqira menambahkan.


"tapi kalian tidak berubah." sambung Wanda menatap keduanya.


Mereka sangat asik mengobrol seperti ibu-ibu kompleks hingga tak menyadari ada sebuah bayangan hitam yang muncul di belakang Wanda dan itu lebih tinggi darinya.


"aa…apa kalian ti…tidak mendengar teriakan kami." protes bayangan hitam yang muncul tiba-tiba dengan wajah yang menakutkan.


Aqira mendongak kearah bayangan hitam itu dengan matanya yang menyipit.


"apa yang kalian lakukan?" tanya Aqira dengan polos.


"mungkinkah mereka bermain pemburu mangsa?" tambah Jeni dengan tatapan layaknya anak kecil yang lugu.


Wanda berdiri dari duduknya seraya menarik salah seorang dari tiga orang yang bergelantungan seperti kelelawar.


"apa itu seru?" tanya Wanda menyokong orang yang ia bantu untuk berdiri.


"ka…kalian bercanda?" ucap orang itu yang bertanya balik dengan wajah yang kebingungan.


Wanda yang enggan untuk bermain dengan mereka langsung mengeluarkan niatnya.


"katakan! apa mau kalian!" ancam Wanda dengan mencekik orang itu sampai terpojok di batang pohon.


"hei…!!!!" kedua rekan dari orang itu pun turun dengan sendirinya seraya hendak menyerang Wanda.


Meskipun berada dalam tubuh orang asing, tetapi jiwa Wanda tetaplah tiran sadis yang amat ditakuti seluruh dunia bawah.


"mundur atau hancur." pesan Wanda dengan senyum serta tatapan dingin melihat orang yang dicekiknya.


Dengan terpaksa mereka berdua pun mengurungkan niatnya untuk menyerang Wanda. Keduanya saling bernegosiasi satu sama lain sebelum melanjutkan hal lain.


"kita disini untuk membuat kesepakatan dengan kalian." ucap si jubah merah yang selangkah kearah Wanda.


"itu benar, kita tidak ada niat jahat terhadap kalian." tambah si jubah biru yang menambahkan.


Ketiga gadis ini tak menoleh satu sama lain melainkan terus menatap si jubah merah dan biru berbicara didepannya.


Wanda mengangkat alis kirinya dengan tatapan tak percaya tapi tidak ingin mengatakannya.


"kami tidak berbohong." tegas si jubah merah dengan tekad penuh.


Melihat ekspresi seriusnya itu pun Wanda melepaskan si jubah hijau tanpa ragu.


Bruk…


"uhuk-uhuk!" si jubah hijau terduduk di tanah dengan lemas sambil terbatuk-batuk.


"kami akan jelaskan." ucap si jubah biru seraya menopang di jubah hijau untuk berdiri.


Saat ketiga orang itu berdiri berdampingan, mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam saku masing-masing.


"kita adalah sistem." awal si jubah merah membuka topik.


"kita membantu para tuan yang melintas untuk kembali ke dunia asli mereka." lanjut si jubah biru yang merubah raut wajah menjadi serius.


"jika kalian setuju, tekan token ini." tambah si jubah hijau dengan menyodorkan lempengan berwarna perak kearah Wanda.


"apa syaratnya?" tanya Aqira tanpa basa-basi.


"hanya dua, yang pertama kau tidak boleh memiliki hubungan dengan dunia tersebut." jawab si jubah merah.


Jeni menatap datar si jubah biru seraya berkata, "yang kedua?"


"kita akan memberitahumu jika tidak memenuhi syarat pertama." jawab si jubah biru dengan lugas.


"kalau begitu kita kembali saja." sahut Wanda dengan langkahnya yang memutar kembali kearah mereka datang.


"apa yang kau lakukan!?" bentak si jubah hijau karena terkejut.


Wanda melirik kearah si jubah hijau dengan dingin seperti siap untuk memanggangnya kapan saja. Si jubah hijau pun mengeluarkan keringat dingin melihat tatapan itu sambil menelan ludahnya sendiri.


"aku akan memberitahumu syarat kedua." lanjut si jubah hijau dengan menurunkan nada bicaranya.


Wanda mengalihkan perhatiannya kearah dia hendak melangkah seperti enggan untuk mendengarkannya.


"jika terlanjur memiliki hubungan, maka kalian harus menyelesaikan tugas hingga tuntas." ucap si jubah hijau dengan cepat karena takut Wanda akan meneruskan langkahnya.


"bagaimana? kalian sudah ditahap mana?" tanya si jubah biru yang menatap Jeni.


Ketiga gadis ini terdiam sejenak untuk memikirkan dua persyaratan itu. Sementara ketiga orang yang berjubah ini tengah menunggu jawaban tuan mereka dengan tenang.


Saat ketiganya masih tengah berpikir akan tawaran itu, tiba-tiba muncul suara-suara yang sedang menarik mereka untuk kembali.


"Qian!" "Alan!" "Jian!"


Suara teriakan itu semakin kencang sampai merusak konsentrasi ketiga gadis ini.


"dari awal kita memang tidak memiliki hubungan dengan dunia ini." ucap Jeni.


"tapi karena tubuh inilah kita terikat dengan dunia ini." lanjut Aqira.


"jadi…" tambah Wanda.


"biarkan kita memilih syarat kedua." ucap ketiga gadis ini dengan serempak.


Si jubah merah, biru dan hijau saling menatap satu sama lain menukar pendapat mereka.


"kalau begitu, ambillah ini." ucap si jubah merah yang menyodorkan kembali lempengan tadi kepada Aqira.


"kalian bisa menghubungi kami jika membutuhkan bantuan melalui ini." lanjut si jubah biru yang memberikan lempengan miliknya kepada Jeni.


"setelah misi selesai, kami langsung mengirim kalian kembali secara otomatis." tambah si jubah hijau sambil memberikan lempengan miliknya kepada Wanda.


"lewatlah pintu disana." tunjuk di jubah biru kepada sebuah pintu besar yang berdiri kokoh di inti hutan.


"disana akan sampai ke tempat yang menjadi misi kalian." lanjut si jubah merah.


"kalian siap?" tanya si jubah hijau yang membuka pintu itu.


Perlahan-lahan muncul sebuah cahaya yang amat terang dari dalam sana.


Ketiga gadis ini berjalan berdampingan mendekati pintu itu dengan membawa lempengan yang diberikan oleh orang berjubah tadi.


"selamat menjalankan misi." pesan para orang berjubah itu.


"terimakasih." sahut Aqira.


"sampai jumpa lagi." ucap Jeni kepada si jubah biru.


"maafkan aku." ucap Wanda kepada si jubah hijau.


Mereka melangkah melewati pintu tadi secara bersamaan dan pintu langsung tertutup secara otomatis.


Ceklek…


"hahhh…" Jeni mengambil nafas dalam-dalam bersamaan dengan matanya yang terbuka menatap langit-langit ruangan.


"kenapa panas sekali." batinnya yang menopang dirinya untuk duduk.


"dimana ini?" gumamnya yang melihat seisi ruangan yang tampak asing baginya.