Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Kamar Tian Ai



Dahulu kala, ada sebuah pasukan Phoniex yang terdiri atas prajurit wanita perkasa. Dalam buku menyatakan bahwa jenderal pasukan itu bernama Bixi, siapa yang tau dia menyamar di istana menjadi seorang pelayan dari ratu terdahulu. Karena ada suatu perang besar, membuatnya terpaksa mengungkap identitasnya untuk memimpin pasukan Phoneix melawan pemberontakan musuh yang di bawah komando pasukan Sun dari wilayah barat. Karena penghianatan dari orang sendiri, jenderal Bixi gugur di perang itu. Karena keserakahan penghianat ini membuat pasukan Phoniex hancur, sebagian prajurit wanita yang tertangkap memilih bunuh diri daripada menjadi budak di pasukan Sun, dan sebagian yang selamat memilih untuk bersembunyi dan menjadi rakyat biasa.


Tian ai berdiri sembari melihat seisi ruangan, "memang orang yang tangguh." ucapnya sambil memeriksa setiap senjata yang berada disana. "kurasa disini tidak cocok untuk kalian. Bibi hua, apa masih ada kamar yang tersisa?" sambungnya sembari menoleh kearahnya. Dengan menaikkan pandangannya, ia menjawab, "hanya tersisa kamar di dekat gudang nona."


Mendengar itu, Ye Tian ai membayangkan sesuatu yang aneh, "disana kan banyak tikus dan benda-benda kotor." batinnya yang bergidik ngeri. "apa tidak ada yang lain?" ucap Tian ai mengerutkan keningnya. Ibu kepala Hua berpikir sejenak dan menjawab, "tidak ada nona." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "kalau begitu, kalian tinggal bersamaku saja. Lagipula, besok kita akan kembali ke kediaman." ucap Tian ai sembari berjalan mendekati pintu. Ibu kepala Hua maju selangkah dan berkata, "tapi nona, apa mereka akan membiarkan pelayan istana pulang bersama nona?" ucapnya yang khawatir. Tian ai menghentikan langkahnya sembari menoleh ke belakang, "serahkan saja padaku." ucapnya sambil mengedipkan matanya.


Batin ketiga gadis, "trik yang sama." memasang muka datar secara serempak.


Setelah itu, Aqira menggantikan Jeni untuk melayani Tian ai. Dan Wanda mengerjakan tugasnya dengan dibantu oleh koki kerajaan. Tapi dia tiba-tiba pingsan saat hendak menyajikan makanan, orang-orang mengira karena luka di kepalanya yang membuatnya jatuh pingsan. Tapi yang sebenarnya adalah Wanda terlalu memaksakan tubuhnya yang lemah, hingga mencapai batas puncak yang tidak dapat tubuhnya terima.


Malam hari


Kamar Ye Tian ai


"kenapa kau disini!" ucap seorang wanita yang menatap Yalan. "kalian minggir sendiri atau…" ucap Yalan yang melangkah mendekat.


"atau apa?" ucap Wanda yang terbangun karena keributan mereka.


"Alan!" ucap Yalan yang bergegas menghampirinya. "kalian urus mereka!" ucap Yalan kepada pria yang membawa Wanda tempo hari. Belum menyetabilkan dirinya yang hendak duduk, Yalan langsung menerjangnya, "kau…kau tidak apa-apa kan?" ucapnya yang gemetaran sambil memeluk Wanda.


Wanda menghela nafas panjang sembari menepuk punggung Yalan, "aku tidak apa-apa." ucapnya dengan nada lembut. "tunggu, ini kamar nona Ye?" sambungnya yang melirik sekitarnya.


"iya." bisik Yalan dengan pelan.


Beberapa saat kemudian, "kak, mau berapa lama lagi kau akan memelukku?" ucap Wanda yang mengepalkan tangannya.


"apa semua sudah siap?" terdengar suara Tian ai yang berjarak sepuluh meter dari pintu depan.


Wanda mendekatkan wajahnya kearah telinga Yalan, "buat keputusan, kau yang pergi, atau aku." bisiknya dengan nada dingin.


Yalan melepaskan pelukannya seraya berkata, "maafkan aku, aku tidak bermaksud…" sembari menundukkan kepalanya.


"bawa sesuatu yang penting saja." ucap Tian ai yang memegang pintu kamar. kriekk… "sekarang kita temui dia." sambungnya sembari melangkah masuk.


"kau…! sedang apa kau…!" ucap Tian ai melangkah cepat kearah Wanda.


"sa…salam nona, hamba hanya melaksanakan perintah nona membereskan ruangan." ucap Wanda sembari berlutut.


Tian ai memapah Wanda untuk duduk di kursi, "siapa yang menyuruhmu!?" ucapnya sembari mengerutkan keningnya.


"wanita yang menjaga hamba tadi." sahut Wanda sembari menundukkan kepalanya.


Tian ai menggertakkan giginya dan berkata, "wanita yang mana? penjaga!!" bentaknya dengan nada tinggi.


Mendengar nada suaranya membuat kedua penjaga masuk kedalam dengan tergesa-gesa, "iya nona, ada apa?" ucap mereka serempak.


"katakan padaku, siapa wanita yang memasuki kamarku!" ucap Tian ai dengan wajah serius.


"bagus sekali, aku akan mengingat ini." ucap Tian ai dengan tatapan kebencian.


Tap…tap…tap… terlihat ibu kepala Hua sedang terburu-buru menghampiri mereka, "salam nona." ucapnya sembari membungkukkan badannya. "hamba sudah menemukan kamar untuk mereka tinggal satu malam." sambungnya dengan nada lugas.


Tian ai tersenyum seraya berkata, "baiklah, kamu bawa mereka." ucapnya sembari merangkak ke tempat tidurnya.


Mereka ikut membungkukkan badannya, "terimakasih, nona." ucapnya dengan serempak. "kami pamit undur diri." sambungnya sembari meninggalkan kamar itu. Lalu ibu kepala Hua membawa mereka ke tempat kamar pelayan yang kosong untuk mereka tempati.


"terimakasih, bibi." ucap mereka bersamaan. Ibu kepala Hua menghela nafas seraya berkata, "istirahatlah sekarang, besok jangan terlambat." ucapnya sembari meninggalkan mereka. "baik." sahut mereka.


Karena tidak ada seseorang yang mengawasi mereka, ketiganya sontak merubah sikap ke mode asli. Aqira membuka pintu kamar perlahan sembari melihat sekeliling ruangan, "masuklah." ucapnya sembari menoleh ke belakang.


Whoosh… angin bertiup kencang dari pintu.


"oh iya, bisakah kalian jelaskan yang terjadi?" ucap Wanda sembari duduk di ranjang miliknya. Jeni duduk disampingnya dan menjawab, "seperti biasa, waktu itu…"


Beberapa saat yang lalu, setelah Wanda diperiksa oleh tabib.


"nona, anda tenang saja, dia baik-baik saja." ucap tabib sambil memegang resep obat.


"Xu, antar tabib." ucap Tian ai sembari menoleh kearah Aqira.


Setelah bekerja di sisi Tian ai, nama mereka bertiga berubah. Aqira diberi nama Xu, Jeni diberi nama Xi dan Wanda diberi nama Xuer.


Tap…tap…tap… suara langkah kaki sedang mendekat, "salam nona." ucap seorang pelayan sembari berlutut.


Tian ai menoleh kearahnya dengan tatapan dingin.


"nona, putra mahkota memanggilmu." sambungnya sembari menundukkan kepalanya.


Tian ai menoleh kearah kedua pelayanannya seraya berkata, "kalian ikut denganku!" ucapnya sembari hendak meninggalkan ruangan. "oh iya, kalian jaga disini." sambungnya sembari menoleh kearah para penjaga. Jeni dan Aqira mengikuti Tian ai dan meninggalkan Wanda kepada para penjaga.


Mereka menuju istana barat, tempat dimana para pangeran dan bangsawan lainnya tinggal. Setelah memasuki halaman depan, seorang penjaga langsung mengarahkan Tian ai menuju kamar putra mahkota. Jeni dan Aqira menunggu Tian ai diluar kamar bersama para penjaga disana.


"dimana Alan?" ucap salah seorang penjaga tanpa menolehkan kepalanya.


Aqira melirik sekilas kearah itu dan berkata, "dia pingsan." ucapnya dengan sikap tenang.


"apa!?" pekik penjaga itu yang kaget.


Penjaga disebelahnya menahan lengan tangan penjaga itu, "kendalikan dirimu." ucapnya yang melirik kanan kirinya.


Tanpa berpikir panjang dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Kedua gadis menatap satu sama lain, "hemm…" gumam mereka sambil tersenyum.