
"aku cuman ingin tabib memeriksa orangku, apa masalahnya?" terdengar suara Tian ai yang bertengkar dengan putra mahkota.
"tidak ada." ucap putra mahkota yang acuh tak acuh.
Tap…tap…tap… terdengar suara langkah kaki yang hendak keluar dari sana. Brakk… "aku pergi dulu." ucap Tian ai yang meninggalkan ruangan dengan muka kesal.
Tepat saat mereka melangkah masuk ke istana selatan, seorang ninja hitam datang menghampiri Tian ai. Tian ai menyuruh Jeni dan Aqira meninggalkannya. Keduanya sontak meninggalkannya bersama ninja hitam itu. Melihat Tian ai yang pergi bersama ninja itu membuat kedua gadis ini penasaran dan mengikutinya diam-diam.
Restoran Tanyang lantai dua.
Terlihat selir putra mahkota yang menyamar menjadi rakyat biasa berbincang dengan seorang pria di meja yang sama. "apa keputusan anda?" ucap pria itu menatap wajah selir putra mahkota dengan ekspresi datar. Selir putra mahkota menaruh cangkir tehnya di meja seraya menjawab, "sepakat." ucapnya dengan sikap tenang. Setelah kesepakatan itu keduanya meninggalkan Restoran Tanyang.
"ternyata begitu." ucap Tian ai yang menurunkan kertas menu di tangannya.
"jadi nona, kapan kita bergerak?" ucap ninja hitam itu menatap Tian ai.
"jangan gegabah, kesabaran akan berbuah manis." ucap Tian ai yang berdiri meninggalkan mejanya sembari berjalan keluar dari sana.
"menarik." ucap Jeni yang melirik kearah Aqira sembari menaruh cangkir tehnya di meja.
Tian ai sama sekali tidak menyadari kehadiran kedua gadis itu yang berada tepat didepannya. Setelah itu, Tian ai kembali namun tidak menemukan kedua pelayannya itu, hingga saat ia yang hendak marah keduanya tiba-tiba muncul dengan pakaian basah kuyup.
"kalian darimana saja!?" tanya Tian ai sembari mengerutkan keningnya. Aqira maju selangkah dan menjawab, "nona, tadi ada yang memberi tahu bahwa nona tenggelam di kolam, seseorang menyuruh kita berdua untuk menyelamatkan anda, tapi saat tiba disana…"
"kita tidak menemukan siapapun, dan tiba-tiba kami didorong dengan kuat dari belakang." sambung Jeni yang mencengkram erat bajunya.
Mendengar hal itu membuat Tian ai sangat geram dan kesal.
"tenggelam di kolam? kalian bercanda?" ucap Wanda yang menatap wajah kedua temannya dengan menahan tawa. Aqira menekan pelipisnya sambil memijatnya, "ide konyol Jeni." ucapnya sembari menghela nafas panjang.
"hachu" keduanya bersin secara bersamaan.
Wanda menuangkan teh hangat dan memberikan kepada keduanya, "jadi, apa yang mereka bahas?" ucapnya sembari membalut tubuhnya dengan selimut dan duduk di tempat tidur. Jeni menaruh cangkir tehnya di meja seraya berkata, "mereka membahas tentang kesepakatan dengan Kaisar barat, Mo Chen." ucapnya dengan datar.
"Mo Chen?" ucap Wanda menyangga dagunya dengan lututnya.
Aqira dan Wanda saling menoleh dan menatap satu sama lain, "menarik." ucap keduanya sembari tersenyum.
"apanya yang menarik?" ucap Jeni yang kebingungan.
"kali ini mereka masuk kedalam kerusuhan besar." ucap Yalan dengan wajah serius. Pangeran Yan menggerakkan bidaknya, "mereka tidak suka kita ikut campur. Jadi, kita awasi dari jauh saja. Kau kalah." sembari mengambil bidak Jilixu.
Kembali ke kamar para gadis, saat mereka bergurau untuk melepas penat, tiba-tiba…
Srekk… "awas!" Wanda yang sontak menarik tangan kedua temannya ke sisinya. Jrep… sebuah anak panah menancap di dinding kamar. Jeni mengeluarkan sapu tangan buatannya dari saku sembari menarik anak panah itu dan mengambil gulungan surat yang berada di ujungnya.
"dari Qingqing, Sun mencarimu, A Qi." ucap Jeni sembari menoleh kearah yang lain. Aqira mengerutkan keningnya seraya berkata, "kebetulan yang pas." ucapnya dengan tersenyum tipis. Wanda mengambil surat dari tangan Jeni sembari membakarnya diatas lilin, "bagaimana?" ucapnya dengan sikap tenang.
"aku akan datang." ucap Aqira sembari berdiri dengan sikap istirahat ditempat. Jeni menepuk pundak Aqira perlahan seraya berkata, "semoga berhasil!" ucapnya sambil menatapnya.
Aqira langsung keluar dari sana melalui jendela dan bergegas memenuhi panggilan surat itu. Tepat setelah itu Qingqing masuk kedalam untuk menggantikan Aqira. Qingqing memegang erat cermin dihadapannya seraya berkata, "apa…apakah ini diriku?" ucapnya yang terheran memandang wajahnya sendiri. Jeni mengambil cermin dari tangannya seraya berkata, "jangan sampai terkena air." ucapnya dengan wajah datarnya itu. Qingqing menanggapinya dengan mengangguk cepat.
Setelah itu Jeni membuka perbannya sembari menggerakkan telapak tangannya yang hampir kram dibungkus seharian, "lumayan."
Wanda juga ikut membuka perban di kepalanya sambil melihat bekas goresan yang tertinggal dari cermin, "apa ada hal yang bisa meningkatkan ketahanan fisik yang lemah?" ucapnya sembari menoleh kearah Qingqing.
"ada, kau bisa meminum pil obat atau berendam di kolam obat." sahut Qingqing sambil menatapnya. Jeni memutar tubuhnya kearah Qingqing dan berkata, "dimana kita dapatkan itu semua?" ucapnya dengan wajah serius.
Qingqing mengubah tatanan rambutnya sambil menjawab, "kalau pil obat hanya ditemukan di daerah barat, dan untuk kolam obat berada di samping paviliun Fenfen. Wanda mendengarkan semuanya dengan cermat, "berapa tingkat keberhasilannya?"
"jika menggunakan kolam obat sekitar empat puluh persen, sedangkan menggunakan pil obat sekitar enam puluh persen." ucap Qingqing sambil menghitung dengan jarinya. Wanda menyangga dagunya sambil berpikir, "berarti untuk saat ini aku hanya bisa menggunakan kolam obat dulu." batinnya.
"baiklah, pikirkan itu besok, sekarang kita harus istirahat atau besok akan terlambat." ucap Jeni yang menarik selimutnya sembari tidur. Wanda tidur disebelahnya seraya berkata, "baiklah-baiklah, tidur yang nyenyak, dan jangan lupa mimpiin kekasihmu itu." ucapnya dengan nada mengejek.
"tidak akan, lebih baik bermain pistol daripada memikirkannya." ucap Jeni dengan lugas. Wanda membalikkan badannya sembari menarik selimutnya, "terserah kamu saja."
Mendengar celotehan dari keduanya membuat Qingqing menjadi bingung, "apa yang sedang mereka bicarakan?" ucapnya yang memegang erat selimutnya sambil berpikir.
Beberapa saat kemudian…
khurrr…khurr… terdengar suara dengkuran dari arah Qingqing yang membuat Jeni dan Wanda terbangun, "hei, sejak kapan kau mulai mendengkur?" ucap Jeni yang mencoba menutup mulut Wanda.
"bukan aku." ucap Wanda sembari menarik tangan Jeni yang berada di mulutnya. Jeni mendekatkan wajahnya kearah Wanda dan berkata, "jika bukan kau, lalu siapa?" ucapnya sembari mengerutkan keningnya. Wanda memegang dagu Jeni sembari menolehkan wajahnya kearah Qingqing, "kau lihat sendiri."
"kau punya kapas?" ucap Jeni menoleh kearah Wanda. Wanda melepas kapas di telinganya sembari membaginya menjadi dua pasang, "ini, dan ayo tidur." ucapnya yang menarik selimutnya untuk menutupi badannya. Jeni memasang kapas itu di kedua telinganya, "baiklah, maaf mengganggumu." ucapnya sembari menarik selimutnya.