
Jeni mengikutinya dari belakang, sedangkan Wanda keluar sambil menarik bocah itu bersamanya.
Halaman belakang istana barat.
Aqira menaruh lilin menyala diatas tumpukan kain itu, "tahan dia!" ucapnya sembari menoleh kearah Wanda. "jangan khawatir." sahut Wanda memegang erat tangan anak itu. "kalian mau apa?!" bentak anak itu sambil memberontak. Aqira melempar giok itu kedalam kobaran api. Anak itu panik dan mencoba untuk menyelamatkannya, namun ditahan oleh Wanda.
Lantai dua istana timur, tempat ketiga pria itu berkumpul. Yalan sedang menikmati pemandangan dari balkon, "ada apa disana?" ucapnya sembari mengerutkan keningnya. "hei, kalian berdua lihat ini." sambungnya sembari menoleh ke belakang. "ada apa?" ucap Jilixu yang menghentikan bidak caturnya. "jika ingin tahu ikut denganku!" ucap Yalan yang terbang menuju istana barat. Keduanya sontak berdiri sembari berjalan menuju balkon, "apa itu?" ucap Jilixu yang menyipitkan matanya. "sial, itu api!" ucap Pangeran Yan yang bergegas membuntuti Yalan.
Saat ini, di istana barat.
"lepaskan aku!" bentak anak itu yang terus memberontak. Wanda melepaskan genggamannya dan membiarkannya menyelamatkan benda itu. Anak itu menggali pasir didekat sana dan menuangkan pasir itu diatas kobaran api untuk memadamkannya. Setelah beberapa saat, api itu berhasil dipadamkan, namun giok itu sudah menjadi debu. Anak itu terduduk lemas, "kenapa tidak ada? pasti disini." gumamnya yang mencari giok itu di sisa bara api. "disini tidak ada, mungkin disini." ucapnya yang terus mencarinya.
"ada apa ini?" ucap Yalan yang menghampiri mereka. Wanda menghela nafas seraya berkata, "dia kehilangan bendanya." ucapnya sembari memutar bola matanya. "ada apa dengan tanganmu?" tanya Yalan sembari menarik perlahan tangan Wanda. Wanda menarik tangannya perlahan dan menjawab, "terbentur benda." sahutnya sembari menyembunyikan tangannya. Jilixu dan Pangeran Yan yang baru sampai langsung menghampiri Jeni dan Aqira. "ada apa dengan tanganmu?" ucap Pangeran Yan yang meraih tangan Aqira. "terkena tetesan lilin." sahut Aqira. "apa!? bagaimana itu bisa terjadi!?" ucap Pangeran Yan yang panik sembari menariknya dengan cepat. Aqira menghempaskan tangannya dan berkata, "jangan sentuh." ucapnya sembari meniup perlahan lukanya. Jilixu menatap wajah Jeni, "jangan menatapku!" ucap Jeni yang memalingkan wajahnya.
"tinggalkan dia disini, kita pergi saja." ucap Jeni sembari berjalan menuju halaman depan bersama kedua temannya. Ketiga pria itu kebingungan dengan sikap mereka, dan ikut meninggalkan bocah itu sendirian. Jilixu menarik tangan Jeni perlahan, "sebenarnya ada apa ini?" ucapnya sembari membalikkan badan Jeni. Jeni mendongak kearahnya dan menjawab, "mereka menghancurkan benda milik anak itu." ucapnya sembari menunjuk kearah Aqira dan Wanda. Kedua gadis itu sontak masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan hal lain. "kalian kembali saja, aku akan mengurus ini." ucap Jeni sembari melangkah masuk kedalam kamarnya. "dan… jangan temui anak itu untuk saat ini." sambungnya sembari menutup pintu.
Ketiga pria itu menuruti nasihat dari Jeni, sedangkan kedua gadis sedang mengawasi anak itu dari jendela. Terlihat dua bayangan menghampiri anak itu. "hahaha, pada akhirnya kau tidak akan bisa kembali." ucap seorang bocah laki-laki seusianya mendekatinya. Dibelakangnya itu ada seorang gadis kecil yang mengikutinya, "ckck, kasihan sekali." ucapnya sembari menunjukkan dirinya. Anak itu diam tak menghiraukannya sama sekali. Bocah laki-laki itu berdiri tepat di tempat benda itu dibakar, "tidak ada gunanya bersedih." ucapnya sembari menghempas pasir itu hingga mengotori baju anak itu. Namun hal itu tidak membuat perubahan para sikap anak itu, dia tetap diam seperti patung. "sudahlah kak, mungkin dia menjadi tuli karena hal ini." ucap gadis kecil itu menatap wajah anak itu. "baiklah, aku tidak akan membuat perhitungan kepada orang cacat." ucap bocah laki-laki itu melangkah mundur. "selamat tinggal adikku yang manis." sambungnya sembari meninggalkannya. Keduanya pergi meninggal anak kecil itu sendirian.
Melihat mereka yang sudah menjauh, anak itu menoleh kearah jendela kamar Aqira sembari memberikan senyumannya. Wanda menghela nafas panjang sembari melambaikan tangannya, dan anak itu kembali menerobos melalui jendela. Bruakk… "sebenarnya mereka tidur sambil mimpi apa ya?" ucap para penjaga yang saling bergumam.
"bersihkan diri dan ganti pakaianmu." ucap Wanda sembari mengambilkan pakaian baru. Anak itu mengambilnya perlahan dan menjawab, "terimakasih." ucapnya dengan nada lembut.
Beberapa saat kemudian… Anak itu keluar setelah selesai mandi dan mengganti bajunya. Jeni menghampirinya sambil membawakan teh jahe yang ia buat, "minum dan pakailah ini." ucapnya sembari memberikan jubah bulu untuknya. "oh iya, bagaimana kau tau rencana kami?" ucap Wanda sambil menatap wajah anak itu. Dengan santai dia menjawab, "aku sudah tau kalau mereka mengikutiku sejak awal." ucap sembari menyeduh teh jahe itu. "dan aku tau, giok itu palsu, karena giok yang asli tidak akan lebur walau terkena api." sambungnya sembari menaruh gelasnya di meja. Jeni duduk di tempat tidur seraya menyilangkan kakinya, "encer juga, bagaimana menurutmu Qi?" ucapnya sembari menoleh kearah Aqira.
"nanti kita sama-sama menyelidikinya." ucap Jeni. "oh iya, apa nama yang cocok untuknya?" sambungnya sembari berpikir. Wanda menyanggah dagunya dan berkata, "hemm apa ya?"
Aqira memejamkan matanya perlahan, "Xitian?" ucapnya sembari menyandarkan kepalanya di dinding.
"nama anak itu?" gumam Wanda mengeryitkan alisnya.
"nama yang indah." ucap anak itu memotong pembicaraan.
"apa kau menyukainya?" tanya Jeni sambil menatap wajahnya. Anak itu sontak menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"baiklah, cukup sampai disini saja." ucap Aqira sembari merangkak ke tempat tidur.
"selamat malam." sambungnya sembari menarik selimutnya.
"baiklah, kau kembalilah ke kamarmu." ucap Jeni mengantarnya keluar dari jendela. "iya." sahut bocah itu meninggalkan ruangan.
Jeni membalikkan badannya seraya menoleh kearah Wanda yang bersandar di dinding, "aku tau apa yang kau pikirkan, tapi untuk saat ini jangan…" "iya, kau benar, anggap saja ini kesempatan kedua untuknya." ucap Wanda memotong kalimat Jeni.
Xitian adalah adik angkat yang dibawa pulang oleh Aqira setelah menyelesaikan misi di benua barat. Dia salah satu tahanan di tempat yang menjadi targetnya. Melihat kondisinya yang memprihatinkan, Aqira akhirnya membawanya kembali ke markasnya. Semenjak itu dia menjadi adik angkat mereka bertiga dan merawatnya dengan baik. Suatu hari saat menjalankan misi di luar kota mereka meninggalkan Xitian sendiri di rumah Aqira. Siapa yang tau, saat mereka kembali hanya tersisa bekas darah yang mengotori ruangan dan mayat yang tergeletak di lantai, yang tak lain adalah Xitian. Setelah kejadian itu, Aqira terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematiannya.