Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Bocah Kecil



"jangan ikut campur!" ucapnya yang hendak memukul Aqira. Pangeran Yan tiba-tiba teleportasi ke hadapan Aqira untuk menerima pukulan itu demi melindunginya. "shh" rintihan Pangeran Yan yang menahan sakit sambil memeluk Aqira. "kenapa kau…!" ucap Aqira dengan wajah serius sambil mengerutkan keningnya. "kau dapatkan pelac*r darimana?" ucap pria itu dengan nada mengejek. Aqira menarik tubuh Pangeran Yan ke belakangnya sembari mendekati anak kecil itu. "katakan padaku, seperti apa kejadiannya?" ucapnya sembari membungkukkan badannya dihadapannya. Anak kecil itu mendongak perlahan seraya menjawab, "kakak, aku bukan pencuri." ucapnya dengan wajahnya yang lusuh dan kotor. Aqira mengulurkan tangannya seraya mengusap wajah anak itu, "jangan takut, ada aku disini." ucapnya sambil memberikan senyuman.


Anak itu pun mulai memberanikan diri dan menceritakan kejadian dari awal hingga akhir dihadapan semua orang. "bohong! kau berbohong!" ucap pria itu yang menyangkal pernyataan dari anak itu. "dasar pembohong! matilah kau…!" sambungnya yang menghampiri anak kecil itu. Aqira sontak menahan kepalan tangan pria itu seraya berkata, "kau mau apa?" ucapnya sambil tersenyum pahit. "jika kau memukulnya, maka kau seorang pecundang!" sambungnya sembari mendorongnya dengan keras.


Aqira berdiri di tengah-tengah kerumunan seraya berkata, "kita akan tahu siapa yang berbohong?!" ucapnya sembari menoleh ke kanannya. Di luar kerumunan seorang anak kecil dan pria paruh baya digiring oleh Qingqing. "cepat jelaskan!" ucap Qingqing sembari mendorongnya masuk kedalam kerumunan. "hei, jangan mendorongku!" riuh orang-orang sekitar karena bertabrakan dengan kedua orang itu. Saat melihat wajahnya, anak kecil itu langsung berteriak, "dia! dia orangnya!" ucapnya sambil menunjuk kearah mereka berdua. Aqira menghampiri keduanya seraya menyeretnya ke tengah-tengah kerumunan, "maaf mengganggu." ucapnya sambil tersenyum pahit.


Dengan kedua tangannya, Aqira menarik tangan keduanya hingga berdiri, "jadi, bisakah kau jelaskan?" ucapnya sembari memegang tangan anak kecil yang dia bela. Bocah yang bersama pria itu berkata, "bukan dia, tapi aku yang melakukannya." ucapnya yang ketakutan. Aqira membungkukkan badannya seraya menyentuh rambutnya, "kenapa kau lakukan ini?" ucapnya dengan nada lembut. "aa…aku disuruh olehnya." sahut bocah itu sembari menunjuk kearah pria paruh baya itu. "oh ternyata dia." ucap Aqira sembari menegakkan badannya. "katakan, apa maksud semua ini!?" sambungnya dengan wajah serius. Sebelum menjawab, pria itu melirik kearah Qingqing yang mengawasinya dari dalam kerumunan. "ii…itu benar, semua ini… ulahku, dia… dia tidak bersalah." ucap pria itu yang ketakutan. "ini… ini adalah buktinya." sambungnya sembari menunjukkan kantung yang ia curi. Aqira mengambilnya seraya membuka isinya, "hmm." gumamnya sembari menarik talinya kembali.


Aqira menghela nafas panjang, "jadi, semuanya sudah jelas?" ucapnya sambil menoleh sekelilingnya. "ini milikmu!" sambungnya sembari melempar kantung itu kepada pemiliknya. Saat ia menarik keluar anak kecil itu, Aqira menghentikan langkahnya sejenak, "lain kali selidiki dulu." ucapnya sembari melirik kearah pria itu.


Wanda bersama yang lain masih menunggu Aqira dan Pangeran Yan di dalam kedai itu. Tap…tap…tap… "maaf menunggu lama." ucap Aqira berjalan menghampiri mereka. "dan… coba lihat siapa yang kubawa." sambungnya sembari menarik tangan anak kecil itu ke sampingnya. Wanda dan Jeni kompak menghampirinya, "siapa dia?" tanya Jeni menatap wajah anak kecil itu. "dia pemeran drama tadi." sahut Aqira sembari duduk di kursinya. Wanda menyentuh pipi anak itu sambil berkata, "apa sakit?" ucapnya sambil mengusapnya perlahan. Anak itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak." ucapnya dengan nada tegas.


"kau lapar?" ucap Wanda sembari duduk di kursinya. "tidak." kruyuk… bunyi gemuruh datang dari perut anak itu. Ketiga gadis saling menatap satu sama lain, "pfff, jangan malu, ayo makan bersama kami." ucap Wanda menariknya perlahan duduk disebelahnya. Ketiga gadis sibuk memberi perhatian kepada anak itu. Wanda mengambilkan sumpit untuk sambil berkata, "oh iya, siapa namamu?" tanyanya sembari memiringkan kepalanya. Anak itu menaruh sumpitnya dan menjawab, "aku… aku tidak punya nama, tapi…tapi mereka memanggilku pembawa sial." ucapnya sambil memegang erat ujung bajunya. Wanda mengusap rambutnya untuk mengalihkan perhatiannya, "baiklah, itu tidak penting, nanti aku akan memberimu nama." ucapnya sembari menoleh kearah yang lain. "itu benar, tidak perlu khawatir." sahut Jeni mendukungnya.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke ibu dengan membawa anak itu dan Qingqing bersama. Karena acara jamuan masih berlanjut, mereka harus menginap semalam di istana. Semuanya kembali ke kamar masing-masing. Saat semua orang sudah terlelap tidur, ketiga gadis mulai merencanakan sesuatu tentang token yang mereka selidiki. "aku menemukan ini di baju anak itu." ucap Aqira sembari menunjukkan giok naga kepada keduanya. Wanda meraihnya seraya melihatnya dari dekat, "giok naga biru? bukankah ini milik anggota kerajaan?" ucapnya sembari membolak-balikkannya. "seperti dugaan." ucap Jeni sambil melihat kearah Jendela. Keduanya sontak mendekati jendela seraya mengitip diam-diam. "dimana benda itu?" ucap anak kecil itu di dekat semak-semak. "jika hilang, aku tidak bisa kembali." sambungnya sembari meraba-raba semak-semak.


Aqira berdiri tepat di jendela seraya berkata, "apa ini yang kau cari?" ucapnya sembari menatap wajah anak itu. Spontan anak itu berdiri dan hendak merampasnya dari tangan Aqira. "terlalu lamban." ucap Aqira yang memegang tangan anak itu sembari menariknya masuk kedalam. bruakk… "siapa?!" ucap penjaga yang tiba-tiba terbangun. Wanda sontak mendorong anak itu ke tempat tidur sembari menutupinya dengan tumpukan kain. Ketiganya kemudian mengambil bagian masing-masing. Penjaga masuk untuk memeriksa. Ia melihat Jeni yang tidur sambil berjalan, Wanda yang tidur sambil menggigau, sampai Aqira yang tidur sambil menendang benda-benda di sekitarnya. "huff, bikin kaget saja. Tapi, cara mereka tidur aneh sekali?" ucap salah seorang penjaga yang keluar dari kamar. "sudahlah, yang penting mereka masih ada." sahut penjaga yang lain sembari menutup pintu kamar kembali.


kriek… Jeni membuka matanya sebelah sembari melirik sisi kirinya, "aman." batinnya seraya membalikkan badannya. Wanda melepas pelukannya pada anak itu seraya menyingkirkan tumpukan kain itu, "jangan bersuara." ucapnya dengan wajah dingin. Karena posisi Aqira terbalik, akhirnya ia menggulingkan badannya ke lantai. "aduh, leherku sakit sekali." gumam Aqira sembari memegang punuk lehernya.


Wanda turun dari tempat tidur sembari menarik bocah itu ikut turun, "katakan, siapa kau sebenarnya?" ucapnya dengan nada pelan. Bocah itu tetap menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak melontarkan sepatah katapun. Aqira mengeluarkan giok itu, "jawab, atau ku hancurkan benda ini?!" ucapnya dengan wajah serius. Bocah itu tetap tidak mengeluarkan jawaban dari mulutnya. Aqira mengambil setumpuk kain diatas tempat tidur, "sesuai keinginanmu." ucapnya sembari keluar dari kamar melalui jendela.