Three Mafia Girls

Three Mafia Girls
Tamu tak di Undang



TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu dari luar kamar Jeni pada tengah malam. Jeni dan Aqira yang berada didalam terbangun mendengar bunyi riuh tersebut. Keduanya membawa senjata tajam dibalik pakaian mereka untuk berjaga-jaga.


Aqira berjalan menuju pintu untuk memeriksa sementara Jeni berjaga didekat jendela. Begitu pintu kayu itu terbuka, wajah Aqira nampak linglung menatap seseorang dengan pakaian sederhana namun begitu banyak salju menempel di bajunya.


"bagaimana kau bisa sampai kemari?" tanya Jeni memberikan segelas air hangat kepada orang tadi.


"hachu… tentu saja kabur hachu…" sahutnya yang tak lain adalah Wanda.


"sebenarnya apa yang terjadi di perjalananmu?" tanya Aqira yang duduk bersebelahan dengannya.


Wanda menggenggam erat gelas itu sambil melihat wajahnya didalam pantulan air itu, "sebenarnya…"


Sepuluh jam yang lalu…


Ketika sampai di perbatasan kerajaan Qing dan dataran tengah, mereka melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum melalui perbatasan itu, tidak peduli rakyat biasa ataupun bangsawan, mereka harus melewati pemeriksaan tersebut.


Setelah pemeriksaan selesai mereka melanjutkan perjalanan. Sepuluh meter dari perbatasan Mo Chen memutuskan untuk beristirahat sejenak di penginapan karena melihat istrinya yang kelelahan sebab tidak pernah melakukan perjalanan jauh seperti ini.


Setelah makan serta istirahat selama setengah jam, mereka baru melanjutkan perjalanan lagi. Dan dalam kesempatan inilah Wanda mengganti posisinya dengan pelayan pribadinya untuk meninggalkan kereta.


Dalam kurun waktu setengah jam Wanda sampai kembali di perbatasan dengan identitas baru menjadi seorang gadis desa yang hendak ke ibukota bersama gerombolan pemain opera yang sedang berkelana.


"dataran tengah sedang hujan, dan sampai di sini malah disambut oleh badai salju." ucap Wanda menjelaskan.


"kasihan sekali adik kecilku ini." ucap Aqira memeluk Wanda dari samping dengan hangat.


"ouch… manis sekali, aku juga ikut." timpal Jeni yang turun dari tempat tidur sembari memeluk keduanya dari belakang.


"hahh… kalian tidak berubah." ucap Wanda yang memegang lengan mereka yang berada di pundaknya.


Di kehangatan dari ketiga gadis yang melepas penat sejenak, terdapat sisi lain tepatnya di istana Mo Chen sedang dalam keadaan hening dengan iringan suara hujan yang deras.


"bagaimana kalian berjaga?!" ucap Mo Chen dengan tatapan tajam serta nada yang dingin.


"tidak ada gunanya marah, jika dia sudah memutuskan, tidak ada yang bisa mengubahnya." ucap Mo Qing yang datang setelah mengantar Mo Chi ke kamarnya.


"tapi kak, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya diluar sana?" ucap Mo Chen memberikan alasannya itu.


Mo Qing dengan santai menghampiri Tian ai sembari menyuruhnya duduk di kursi dekat sana serta membantunya mengganti mantel basah Tian ai.


"apa kau tau lima belas tahun yang dia lalui tanpa kita? atau jangan-jangan kau meremehkannya?" ucap Mo Qing memberikan jaket bulu berwarna putih kepada Tian ai.


"terimakasih." ucap Tian ai sembari mengenakan jaket itu.


"sama-sama." sahut Mo Qing dengan ramah.


"hachu… hahh… kapan ini akan berakhir." ucap Wanda yang merengek tidak bisa tidur karena terus bersin dari tadi.


"sabar, kau bahkan belum mengeringkan rambutmu." ucap Jeni yang menggosokkan kain kering ke rambut Wanda yang basah.


"tambah lagi selimutnya." timpal Aqira yang menyelimuti Wanda dua kain tebal lagi.


"aku hanya… hachu… flu ringan, bukan membeku!" ucap Wanda.


"diam!" bentak Jeni dan Aqira memarahinya secara bersamaan.


Tiga jam kemudian…


Ketiga gadis ini tidur di lantai dengan membelakangi diri masing-masing serta bersandar pada punggung satu sama lain. Meskipun hari sudah terang, tak satupun dari mereka yang bangun dari tidur sampai sebuah cahaya muncul dari pintu yang dibuka oleh seseorang.


"Yin, tutup pintunya…" gumam Aqira yang mengigau.


"itu bukan aku…" timpal Jeni yang ikut mengigau juga.


Tepat setelah tertuduh terakhir menyangkal, mereka membuka mata masing-masing dengan berdiri secara tiba-tiba. Tapi yang terjadi malah mereka berdiri sambil berpegangan pada sesuatu akibat tekanan darah rendah.


"hsstt… gelap sekali." gumam Jeni sambil menggelengkan kepalanya sambil mengumpulkan penglihatannya.


"kau…?!" ucap Aqira yang terkejut melihat Xiao Yan berdiri disampingnya dengan menopang dirinya yang berdiri secara tidak stabil.


"akhirnya tidak gelap lagi." gumam Jeni yang penglihatannya perlahan menjadi jelas.


"kenapa kau?" ucap Jeni menatap Jilixu yang sedang menopangnya berdiri.


"kenapa kepalaku berputar…?" batin Wanda yang perlahan kehilangan kesadarannya.


"Yin!" teriak Aqira mendorong Xiao Yan untuk menghampiri Wanda dan Jeni melepaskan diri dari Jilixu yang menopangnya.


"jangan berteriak!" bentak Wanda yang terbangun seketika mendengar suara nyaring dari kedua temannya itu.


Dia menyetabilkan dirinya untuk berdiri sendiri dari topangan Jeni dan Aqira di sampingnya. Tangan yang semula memegang keningnya ia turunkan perlahan dengan terbukanya mata.


"kau tidak apa-apa?" tanya menyentuh kening Wanda.


"tekanan darah rendah." ucap Aqira menjelaskan sambil memeriksa denyut nadi tangan Wanda.


"hebat! dengan teriakan bisa mengembalikan kesadaran." gumam Jilixu dan Xiao Yan seperti tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"darimana kalian dapatkan tenaga sebesar itu? telingaku seperti di tusuk jarum." ucap Wanda kepada Jeni dan Aqira.


"itu karena panik." sahut Jeni dengan menatap khawatir Wanda yang bermuka datar.


"baiklah-baiklah aku sudah tidak apa-apa." ucap Wanda yang menenangkan keduanya dengan berdiri tanpa bantuan mereka.


"oh iya, mereka pasti punya urusan dengan kalian, aku pergi dulu." lanjutnya yang beranjak pergi dari ruangan itu menuju ruangan sebelah.


"okeh… mari kita lihat apa yang bisa di masak." gumam Wanda memeriksa bahan-bahan makanan yang masih ada serta bahan lainnya.


TAK TAK TAK TAK SRENG


Tangan yang biasa digunakan untuk memegang senjata api sekarang telah berubah menjadi peralatan dapur. Wajah dingin dan datar yang selalu ia perlihatkan sedikit memudar digantikan oleh senyuman manis yang terpampang di bibirnya.


"baiklah, urusan kita sudah selesai." ucap Jeni kepada Jilixu setelah berbicara dengannya selama hampir setengah jam.


"kuharap kesepakatan ini berjalan lancar, dan ya… sampai jumpa di musim panas." ucap Aqira yang berpesan pada Xiao Yan.


Setelah pembicaraan itu, Xiao Yan dan Jilixu bersiap untuk pergi dari ruangan itu namun terhenti oleh kedatangan Wanda yang membawa hasil masakannya.


"tidak ada yang boleh pergi sebelum mencicipi masakanku." ucap Wanda yang bertingkah seperti gadis lugu pada umumnya.


Srupp…


"bagaimana rasanya? bagaimana?" tanya Wanda dengan tidak sabaran kepada para testernya ini.


"hemm…" keempatnya menyangga dagu masing-masing dengan alis yang mengeryit memikirkan sesuatu.


Wajah Wanda semakin menantikan jawaban mereka dengan mata lebar dan tatapan polos miliknya.


"enak!" ucap keempatnya bersamaan sambil mengacungkan salah satu jempol mereka.


"hem…? terimakasih." ucap Wanda yang sedikit syok dengan mengangkat perlahan sudut bibirnya itu.


"dia…dia tersenyum…" batin Jilixu menatap kaku Wanda dari tempat duduknya.