
Ketiga pria dan gadis kecil itu bertanya-tanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Aqira menyanggah dagunya sembari berpikir, "apa sama dengan kita?" ucapnya sambil menatap yang lain. Wanda menggelengkan kepalanya, "aku tidak yakin." ucapnya dengan nada pelan. "kita periksa?" ucap Jeni dengan wajah serius. Aqira dan Wanda mengangguk perlahan. Yalan sontak menekan pundak Wanda dari belakang, "kau mau kemana lagi?" ucapnya sembari membalikkan badan Wanda. Wanda menepis tangan Yalan yang berada di pundaknya, "kenapa? apa terjadi masalah?" ucapnya dengan acuh tak acuh. "tidak, tapi bisakah kau mengajakku bersamamu?" ucap Yalan meraih tangan Wanda. "aku juga ingin ikut." ucap Pangeran Yan menatap wajah Jeni. "aku…aku juga." ucap Jilixu maju selangkah ke depan. Ketiga gadis saling menatap satu sama lain sembari memberi kode, "boleh, asal turuti perkataan kami." ucap Wanda mengubah ekspresinya.
"ke…kenapa jadi begini?" ucap Yalan menurunkan pandangannya. Wanda melintas didepannya seraya berkata, "jika menyesal sudah terlambat." ucapnya menarik tangan Yalan sembari berjalan menuju restoran makanan.
Ketiga gadis memesan meja masing-masing. Saat Wanda hendak duduk, seorang pria menghampirinya, "permisi, apakah anda tuan Aolan?" ucapnya dengan nada lembut. Wanda menoleh kearahnya seraya menjawab, "iya, saya Aolan." ucapnya dengan nada santai. "meja anda anda ada di lantai atas." sahut pria itu memberi petunjuk. Wanda mengerutkan keningnya, "seingat saya, disini mejanya." ucapnya sembari menunjuk meja di sampingnya. "ini permintaan dari tuan Hao." sahut pria itu. "arahkan jalannya." ucap Wanda membalikkan badannya. Pria itu mengarahkan Wanda ke lantai dua, lebih tepatnya ruangan VIP di restoran tersebut.
Saat melangkah ke ruangan itu, terlihat para pelayan sedang berbaris untuk memberikan pelayanan kepadanya. "selamat datang, tuan Aolan." ucap mereka bersamaan sembari memberi hormat. Seorang pria muncul dari balik tirai seraya berjalan mendekatinya, "hallo." ucapnya sembari mengulurkan tangannya. Wanda tersenyum dan berkata, "hallo." sahutnya sembari menjabat tangannya. "ku harap kau tidak terganggu dengan ini." ucap pria itu sembari menarik kan kursi untuknya. "anda terlalu sopan." sahut Wanda sembari duduk di kursinya.
Pria itu duduk di seberang tempat Wanda duduk, "loh, siapa ini?" ucapnya sembari menoleh kearah Yalan. Wanda menarik tangan Yalan perlahan ke sampingnya, "dia kakakku, Aolin." ucapnya sembari menyuruhnya duduk. "oh, kakak anda." sahut pria itu sambil mengangguk. Wanda menaruh kedua tangannya di meja seraya berkata, "jadi, bagaimana dengan kesepakatannya?" ucap sembari menyanggah dagunya. Pria itu tersenyum seraya menjawab, "seperti sebelumnya, kau bisa kemari kapan saja." ucapnya sambil menatap wajah Wanda dengan cermat.
Wanda berdiri mendorong kursinya ke belakang sembari berjalan kearahnya. Nampak wajah orang di ruangan itu menjadi tegang. Dengan tenang Wanda berdiri di sampingnya sambil mengulurkan tangannya, "empat puluh banding enam puluh?" ucapnya sambil memiringkan kepalanya. Pria itu berdiri seraya menjabat tangannya, "setuju." ucapnya sambil tersenyum tipis. Keduanya mencapai kesepakatan bersama, namun tidak ada yang mengerti dengan cara mereka bekerja sama.
Disisi lain, Jeni sedang menikmati makanan bersama Jilixu di mejanya. "kau sangat menyukainya?" ucap Jilixu mengelap sisa makanan yang berada didekat mulut Jeni. "tidak terlalu berminyak, jadi aku suka." sahut Jeni menepis tangan Jilixu dengan pelan.
Sedangkan Aqira menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan yang indah di dekat jendela tempat ia duduk. "kau suka berada disini?" ucap Pangeran Yan yang tak memalingkan pandangannya dari wajah Aqira. "sedikit, asal ada ketenangan, aku nyaman." sahut Aqira sembari mengulurkan tangannya keluar dari jendela.
Saat mendengar suara Wanda yang sedang berbincang, keduanya sontak keluar dari zona nyaman mereka dan mulai ke tugas masing-masing. "baiklah, terserah kamu saja. Oh iya, lain kali ajaklah teman-temanmu kemari." ucap pria itu yang berjalan disampingnya. Wanda menghentikan langkahnya sembari menoleh ke belakang, "oh tentu, kakak kenapa kau lamban sekali." ucapnya seraya menarik tangan Yalan. "kalau begitu, aku pergi dulu, sampai jumpa." sambungnya sembari berjalan keluar dari restoran itu.
Tak lama kemudian, kedua couple juga ikut meninggalkan tempat itu dan menyusul Wanda. Ditengah perjalanan, tiba-tiba sebuah kereta kuda hampir menabrak mereka. Salah seorang pengawal menghampiri mereka, "cepat minggir, jangan halangi kereta tuan putri." gertaknya dengan wajah serius. Aqira sontak menjawab, "maafkan kami." ucapnya sembari melangkah maju. Tirai kereta dibuka perlahan dan seorang wanita memakai gaun sederhana terlihat dari sana. Wanita itu tertegun menatap wajah Aqira, dan spontan turun dari keretanya. "kak Qian!" ucapnya yang melihat Aqira hendak menjauh. Aqira menghentikan langkahnya sembari menoleh ke belakang perlahan.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa menghampirinya, "kak Qian." ucapnya sembari memeluk Aqira erat-erat. Aqira terdiam sesaat karena ingatan buram tiba-tiba muncul dibenaknya, "shh" rintihan menahan kesakitan. "kak Qian kau kemana saja?" ucapnya sembari mendongak menatap wajah Aqira. Terlihat Aqira mengeryitkan keningnya sambil memegang kepalanya yang pusing. "kak, kau kenapa?" ucap wanita itu yang panik. Jeni memegang pundak Aqira dari belakang, "kau baik-baik saja?" bisiknya ditelinga Aqira. Aqira tersadar seraya berkata, "aku tidak apa-apa." sahutnya sambil menatap wajah Jeni.
"kak Qian, kau baik-baik saja?" tanya wanita itu tak henti-henti. Aqira tersenyum sambil mengusap rambut wanita itu, "aku tidak apa-apa." ucapnya dengan nada lembut. "oh iya, kakak mau kemana dan bersama siapa?" ucap wanita itu menarik lengan baju Aqira. "aku sedang jalan-jalan bersama mereka." sahut Aqira sembari menunjuk kearah mereka bertiga. "ternyata begitu." ucap wanita itu.
"lain kali, aku akan datang menemuimu." ucap Aqira yang menenangkannya.
"benarkah? janji?"
"iya"
"Putri, kita harus segera kembali."
"kalau begitu, aku pamit dulu, kak." ucapnya sembari memberi hormat. Wanita itu berjalan masuk kedalam kereta kembali, saat melaju ia membuka tirai jendelanya seraya berkata, "lain kali, ajak aku juga ya." ucapnya sembari melambaikan tangannya. Aqira menanggapinya dengan melambaikan tangannya dan tersenyum.
Melihat kereta yang sudah jauh, Pangeran Yan mendekatinya, "kau kenal dengannya?" bisiknya ditelinga Aqira. "iya." sahut Aqira sembari menoleh kearahnya. "tanyanya nanti saja." sambungnya sembari berjalan menyusul Wanda.
Paviliun Huan, Kamar Yalan
Wanda duduk santai menikmati tehnya sambil menatap Yalan yang mondar-mandir dari tadi. Yalan menghentikan langkahnya sontak mendekati Wanda secepat kilat, "Alan!" ucapnya yang tiba-tiba muncul. Wanda yang terkejut tak sengaja menumpahkan teh ke baju Yalan. "kakak!" ucap Wanda sontak berdiri dan memeriksa keadaannya.
"kau diam disini, aku akan mengambil obat." sambungnya sembari menggeledah laci dekat tempat tidurnya. "aku tidak apa-apa, kau tidak perlu sepanik itu." ucap Yalan menghampirinya. Wanda membalikkan badannya seraya menekan pundak Yalan hingga membuatnya terduduk di tempat tidur, "buka bajumu." ucapnya dengan wajah serius. "aa…apa yang mau kau lakukan?" ucap Yalan yang panik.
Tanpa basa-basi Wanda langsung menarik tali baju Yalan hingga membuat bajunya kendor dan turun ke bawah. Tepat saat Wanda hendak mengoleskan obatnya, Aqira bersama dengan yang lain masuk kedalam. Brak… Seketika suasana menjadi canggung. "tidak seperti yang kalian pikirkan!" teriak Yalan yang tersipu malu.