
Liang Yi terlihat panik ketika Jiao Yi jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Tubuh adiknya itu kemudian dibopongnya dan dibawanya ke dalam kamar. "Cepat, panggilkan tabib!!??" teriak Liang Yi.
Tak lama kemudian, seorang pria yang sudah berumur datang dan segera memeriksa nadi Jiao Yi. Sambil meletakkan jarinya di pergelangan tangan Jiao Yi, lelaki tua itu mulai memeriksa penyakit Jiao Yi dari detakkan nadi gadis itu.
"Tabib, apa yang terjadi pada adikku?" tanya Liang Yi panik.
Lelaki tua itu menarik tangannya dari pergelangan tangan Jiao Yi. "Nona tidak sakit, tapi Nona sekarang sedang mengandung," jelas lelaki tua itu.
Liang Yi terkejut. "Mengandung? Adikku sekarang sedang mengandung?" tanya Liang Yi seakan tidak percaya.
"Tuan, sebaiknya Nona menjaga kesehatannya dan jangan sampai Nona terlalu lelah. Kandungan Nona masih sangat muda dan kondisi tubuh Nona juga kurang terlalu bagus. Karena itu, biarkan Nona istirahat. Nanti, aku akan membuat ramuan obat untuk kesehatannya juga kesehatan bayinya," jelas tabib itu yang kemudian pergi untuk mempersiapkan obat untuk Jiao Yi.
Liang Yi kemudian duduk di samping Jiao Yi yang masih tidak sadarkan diri. Tangannya menggenggam erat tangan adiknya itu. "Jiao Yi, kamu akan segera menjadi ibu dan aku akan menjadi paman," ucap Liang Yi dengan segurat senyum di bibirnya.
Di antara penderitaan yang di alami Jiao Yi, ternyata masih ada setitik kebahagiaan melalui kehadiran seorang bayi yang kini hadir di rahim gadis itu. Tampak, wajah Liang Yi tersenyum saat membayangkan kalau dirinya akan menjadi seorang paman. Dia begitu bahagia hingga tidak ingin meninggalkan Jiao Yi, hingga Jiao Yi perlahan tersadar dari pingsannya. "Kakak," panggil Jiao Yi lemah.
Liang Yi tersenyum dan membelai lembut kepala adiknya itu. "Kamu sudah sadar? Ah, syukurlah. Jangan khawatirkan lelaki itu lagi, Kakak sudah mengusirnya dan dia tidak akan pernah lagi datang ke sini," jelas Liang Yi.
"Syukurlah. Aku pasti sudah membuat Kakak khawatir, tapi aku baik-baik saja karena mungkin aku terlalu bersemangat bekerja hingga kelelahan. Sebaiknya, aku menyelesaikan pekerjaanku," ucapnya sambil memaksa untuk bangkit.
"Jangan beranjak dari tempat ini dulu, kamu harus banyak beristirahat. Mulai sekarang, Kakak tidak akan mengizinkanmu untuk bekerja lagi."
"Tapi, Kak ... "
"Jiao Yi, Kakak mohon sekali ini tolong dengarkan Kakakmu. Sekarang, kamu hidup bukan untuk dirimu sendiri karena kini kamu harus hidup untukmu dan juga bayimu," ucap Liang Yi yang membuat ekspresi gadis itu berubah.
"Bayi? Maksud Kakak apa? Jangan bilang kalau aku sekarang mengandung bayi dari lelaki itu? Itu tidak benar, kan?" tanya Jiao Yi seakan tidak percaya.
"Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya? Apa kamu tidak bahagia?"
"Bahagia? Gara-gara menginginkan anak ini, hidupku hancur karena mereka. Apa aku harus bahagia? Aku tidak menginginkan anak ini. Aku benci anak ini!!??" teriak Jiao Yi sambil memukul-mukul perutnya sendiri.
Melihat Jiao Yi yang berteriak histeris membuat Liang Yi segera memeluknya. Dia sangat paham dengan kondisi adiknya yang belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang dia sedang mengandung. "Jiao Yi, jangan lakukan itu," ucap Liang Yi yang berusaha menenangkan adiknya.
"Kakak, aku tidak menginginkan anak ini. Aku benci dengan anak ini," ucap Jiao Yi dengan sesenggukkan.
Liang Yi berusaha menenangkan adiknya itu. "Jiao Yi, tenangkan dirimu. Kakak tahu kamu marah, tapi anak itu tidak bersalah. Jangan karena mereka, kamu melampiaskan amarahmu pada anak itu. Bagaimanapun juga, dia itu anakmu dan kita akan bersama-sama merawatnya. Anggap saja dia adalah hadiah atas kesabaranmu selama ini." Liang Yi memeluk adiknya itu dan menitikkan air mata.
Mendengar ucapan Liang Yi membuat Jiao Yi terdiam. Amarah yang sedari tadi merasuki hatinya, perlahan mulai reda. "Kakak, aku harus bagaimana?"
"Jiao Yi, Kakak akan selalu ada untukmu. Kakak hanya ingin kamu menjaga kesehatanmu agar anakmu juga sehat. Walaupun anakmu akan lahir tanpa seorang ayah, itu tidak mengapa karena Kakak yang akan menjaga dan merawatnya kelak. Kita berdua akan mendidiknya hingga dia dewasa. Dan dia adalah penerus keluarga kita, ayah dan ibu pasti bangga padamu," ucap Liang Yi yang membuat Jiao Yi menangis karena mengingat kembali orang tua mereka hingga membuat kedua kakak beradik itu menangis bersama.
Jiao Yi mengelus lembut perutnya. "Ibu akan menjagamu. Maafkan ibu yang sempat menolakmu, tapi percayalah ibu akan menjaga dan merawatmu," ucap Jiao Yi yang mulai terlihat tenang.
Mendengar nona mereka sedang mengandung, membuat semua warga desa bersuka ria. Setiap apapun yang diinginkan Jiao Yi selama masa kehamilannya, mereka selalu memenuhinya. Kalaupun tidak ada, mereka akan berusaha mencari di desa tetangga.
"Kakak, aku ingin makan buah kesemek," pinta Jiao Yi pada Liang Yi.
"Buah kesemek?" tanya Liang Yi bingung karena saat itu buah kesemek belum bisa dipanen karena masih mentah. Walau begitu, Liang Yi mengangguk dan berjanji untuk membawakannya buah kesemek.
Karena di desa mereka buah kesemek masih mentah, akhirnya Liang Yi memutuskan untuk mencari di luar desa mereka. "Kalau begitu, Kakak akan mencari di luar desa kita, siapa tahu saja ada buah kesemek yang sudah matang. Tenang saja, Kakak akan berusaha mendapatkan buah kesemek untukmu," ucap Liang Yi sambil mengelus lembut perut sang adik yang mulai membuncit.
Liang Yi kemudian pergi dengan memacu kudanya. Di desa tetangga, Liang Yi mencoba mencari buah kesemek, tapi buah-buah itu masih mentah dan belum bisa dimakan. Saat itu, buah kesemek memang belum waktunya untuk panen dan masih harus menunggu dua bulan ke depan baru buah itu bisa dipanen.
"Tuan, apa Tuan sedang mencari buah kesemek?" tanya seorang pedagang yang sedari tadi memperhatikan Liang Yi yang terlihat bingung.
"Benar, apa Anda tahu di mana saya bisa menemukan buah kesemek segar yang sudah matang? Saya sudah mencari-cari dari tadi, tapi yang ada hanya buah kesemek yang masih mentah," ucap Liang Yi menjelaskan.
"Sebaiknya, Tuan pergi ke kota karena yang aku dengar buah kesemek dari Wilayah Tian Jian sudah dipanen dan dijual di kota," jelas pedagang itu.
"Terima kasih, sekarang juga saya akan pergi ke kota," ucap Liang Yi yang langsung memacu kudanya dan pergi menuju ke kota.
Jarak dari desa itu ke kota ditempuh Liang Yi hanya dalam waktu beberapa jam saja. Dia harus buru-buru karena jika tidak, maka dia akan tiba kembali di desanya saat matahari sudah terbenam.
Liang Yi kemudian menuju salah satu pasar yang lumayan ramai, dan memang benar buah kesemek yang masih segar banyak dijual di pasar itu.
Suasana yang ramai di pasar itu mengingatkan dia pada masa lalunya. Pasar itu bukanlah tempat yang asing baginya, karena di pasar itu keluarganya sering membagikan makanan pada orang-orang yang tidak mampu.
Liang Yi terus berjalan hingga tiba di salah satu tempat yang membuat langkahnya terhenti. Di sebuah lorong, Liang berhenti dan menatap lurus ke arah lorong itu. Sontak, kenangan masa lalunya muncul dan mengingat seorang gadis yang nekat membantu dua anak kecil yang dibawa paksa preman di pasar itu. Sekilas, Liang Yi tersenyum saat mengingat wajah gadis itu yang tidak bergeming saat diancam preman-preman itu.
"Tempat ini masih sama seperti dulu," batin Liang Yi sambil tersenyum. Dia kemudian melanjutkan langkahnya hingga tiba di jalan utama.
Jalan utama itu terlihat ramai. Orang-orang berlalu lalang sambil menjajakan dagangannya. Belum lagi para pembeli yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Pasar itu adalah salah satu pasar favorit bagi wanita-wanita kalangan atas karena kualitas barang yang terbaik dan tentu saja karena barang-barang itu berasal dari luar wilayah mereka.
Liang Yi masih berjalan sambil membawa beberapa kantong buah kesemek yang sudah dibelinya. Hingga tiba-tiba, beberapa orang prajurit datang untuk mengosongkan jalan utama karena iring-iringan kereta kerajaan akan melewati jalan itu.
Liang Yi termundur ke belakang karena terdorong orang-orang yang mulai berdesakkan. Mereka begitu antusias saat tahu kalau kereta dari kerajaan akan lewat. Hingga sebuah kereta yang terlihat mewah melintas di depan mereka. Tampak, seorang wanita cantik yang sedang memangku seorang anak dan di temani seorang lelaki tampan yang duduk di sampingnya. Itulah Permaisuri Mei Yin dan Raja Zhao Li dengan putra mereka.
Melihat Raja dan Permaisuri, membuat penduduk serempak menunduk dan memberi hormat dengan ucapan yang menyanjung dan begitu mengelu-elukan mereka. Sementara Liang Yi yang sempat terdorong, harus menunduk karena beberapa buah kesemek terjatuh dari dalam kantong yang dipegangnya. Liang Yi yang tampak tidak peduli dengan iring-iringan itu terlihat acuh karena tidak menyadari kalau iring-iringan itu adalah iring-iringan keluarga kerajaan. Hingga saat dia mengangkat kepalanya, pandangannya langsung tertuju pada tatapan mata sebiru lautan. Tatapan mata itu tidak membuat Liang Yi bergeming dan terus menatapnya hingga dia tersadar dan memalingkan wajahnya. Liang Yi kemudian berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang hingga membuat pemilik mata biru itu mencari-cari keberadaannya.
"Istriku, kamu kenapa?" tanya Raja Zhao Li yang bingung dengan tingkah istrinya itu.
"Liang Yi, tadi aku melihat Liang Yi," ucap Mei Yin yang masih mencari-cari keberadaan pemuda itu. Mendengar penuturan istrinya membuat Raja Zhao Li memerintahkan untuk menghentikan laju kereta.
"Yang Mulia, ada apa?" tanya seorang pengawal saat menghampiri rajanya itu.
"Sebentar, aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Raja Zhao Li sambil melihat ke sekeliling tempat itu, tapi sosok Liang Yi tidak ditemukannya.
"Liang Yi, aku tahu kamu sedang melihatku. Aku bahagia karena ternyata kamu masih hidup. Walau kamu tidak ingin bertemu denganku dan Mei Yin, tapi aku selalu berharap suatu saat nanti kami bisa bertemu denganmu lagi," teriak Raja Zhao Li sambil berdiri di depan kereta. Liang Yi yang belum benar-benar pergi, tampak menitikkan air mata saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Maafkan aku." Liang Yi kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Raja Zhao Li masih berharap Liang Yi datang menemuinya, tapi harapannya itu sia-sia karena Liang Yi tidak kunjung datang menghampirinya. Raja Zhao Li kemudian memerintahkan untuk menjalankan kembali keretanya dan meninggalkan Liang Yi yang masih memandangi mereka dari jauh.
Pertemuan lewat pandangan mata itu tertancap di ingatan Liang Yi. Dia begitu takjub dengan pesona mata biru itu yang belum bisa hilang dari ingatannya. Dia masih membayangkan saat matanya bertatapan langsung dengan mata biru itu hingga membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Hatinya kini gelisah. Perasaan yang ingin dibuangnya jauh-jauh kembali mengusiknya. "Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku masih memikirkannya? Apakah aku berdosa jika aku masih mencintainya?" Liang Yi begitu gelisah hingga membuatnya tidak bisa tidur.
"Kakak, ada apa? Kenapa Kakak gelisah seperti itu? Apa ada sesuatu yang Kakak pikirkan?" tanya Jiao Yi saat melihat Liang Yi yang sedari tadi terlihat gelisah.
"Tidak ada apa-apa, Kakak hanya tidak bisa tidur. Kamu tidurlah, Kakak ingin mencari udara segar di luar," ucap Liang Yi yang kemudian keluar dan meninggalkan Jiao Yi yang heran dengan sikap kakaknya itu.
Sementara di istana, Mei Yin dan Raja Zhao Li pun memikirkan hal yang sama. Mei Yin masih ingat betul dengan wajah sahabatnya itu dan dia sangat yakin sosok yang tadi dilihatnya itu adalah Liang Yi, sahabat sekaligus seseorang yang pernah hadir di hatinya. "Suamiku, aku sangat yakin kalau orang yang aku lihat itu adalah Liang Yi," ucap Mei Yin dengan yakinnya.
"Aku tahu, tapi dia lebih memilih untuk melihat kita dari jauh. Andai saja dia ada bersama kita, aku pasti akan bahagia. Dia adalah sahabat dan kakak yang bisa aku andalkan. Istriku, aku berharap kita bisa bertemu lagi dengannya dan jika saat itu tiba, aku tidak akan membiarkan dia meninggalkan kita lagi," ucap Raja Zhao Li yang tanpa sadar menitikkan air mata. Mei Yin kemudian memeluk suaminya dan mengingat kembali kebersamaan mereka di masa lalu.
Liang Yi, sahabat yang selalu menemaninya sedari kecil dalam situasi apapun, kini lebih memilih melihatnya dari jauh. Sahabat yang rela terluka, asalkan sahabatnya bahagia. Sahabat yang kini tengah menahan air mata karena mengenang kisah persahabatan dan kisah cintanya yang harus dia tinggalkan agar tidak ada hati yang terluka. Sahabat yang akan selalu ada walau mereka tak lagi bersama.