
Sudah dua hari sejak Jiao Yi melahirkan dan dia masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya seakan terlepas dari tulang-tulangnya hingga membuatnya tidak mampu untuk bangkit.
"Nona," ucap seorang wanita yang selalu datang merawat Yuwen. Wanita itu yang setiap hari datang untuk memandikan Yuwen dan merawat Jiao Yi.
"Bibi Cu, mana kakakku?" tanya Jiao Yi pada wanita yang sudah berumur itu.
"Tuan sedang mengajar anak-anak di lapangan. Ada apa? Apa perlu aku panggilkan tuan?" tanya wanita itu setelah selesai memandikan Yuwen.
Jiao Yi menggeleng. "Bibi, aku ingin minta tolong pada Bibi. Selepas kepergianku nanti, Bibi tolong bantu kakakku untuk menjaga Yuwen, aku ... " Jiao Yi terdiam dan menahan tangis.
"Nona, Nona jangan berkata seperti itu. Nona akan merawat Yuwen hingga dia dewasa nanti," ucap Bibi Cu yang mulai panik.
Jioa Yi tersenyum dengan bibir yang mulai memucat. "Bibi, aku tidak punya waktu lagi. Tolong panggilkan kakakku," ucap Jiao Yi memohon.
Wanita itu kemudian berlari dan memanggil Liang Yi yang sementara berlatih dengan anak-anak. "Tuan, cepatlah, Nona Jiao Yi membutuhkanmu!!" panggil wanita itu dengan air mata yang perlahan jatuh.
Melihat tingkah wanita itu, Liang Yi kemudian berlari dan mendapati Jiao Yi yang tersenyum saat melihatnya datang dengan nafas yang turun naik.
"Kakak, aku ingin jalan-jalan," ucap Jiao Yi sambil tersenyum.
Liang Yi mengangguk dan menggendong Jiao Yi di punggungnya. Liang Yi kemudian membawa Jiao Yi ke taman bunga yang sering dikunjungi adiknya itu. Bunga-bunga di taman itu mulai bermekaran dengan aroma wangi yang semerbak.
"Kakak, maafkan aku," ucap Jiao Yi sambil melingkarkan kedua tangannya di leher kakaknya itu dengan kepala yang di sandarkan di punggungnya.
"Untuk apa minta maaf, kamu tidak punya salah sama Kakak," ucap Liang Yi sambil berjalan pelan.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa lagi menemani Kakak." Langkah Liang Yi terhenti. Perlahan, air matanya jatuh.
"Jioa Yi, kita akan sama-sama merawat Yuwen. Kita akan ... "
"Kakak, ayah dan ibu sudah menungguku. Lihat, mereka ada di sana, mereka sedang tersenyum padaku," ucap Jiao Yi sambil menujuk ke arah salah satu sudut di taman bunga itu.
Liang Yi tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Begitupun dengan Jiao Yi yang merasa berat untuk meninggalkan Liang Yi dan juga anaknya. "Kakak, hiduplah lebih lama. Jangan cepat-cepat menemui kami, kasihan Yuwen. Aku ingin, Kakak merawatnya dan mendidiknya menjadi anak yang baik. Jadikan dia lelaki yang penyayang dan sabar, tidak seperti ayahnya. Jauhkan dia dari keluarga ayahnya, aku mohon." Jiao Yi menghentikan kalimatnya dan memeluk Liang Yi dengan erat.
Mendengar permintaan adiknya itu, Liang Yi hanya mengangguk dengan tangis yang tak mampu lagi dia tahan.
"Aku akan sangat merindukan desa ini. Aku sangat merindukan Kak Mei Yin. Jika Kakak bertemu dengannya nanti, sampaikan salamku dan ucapan maafku." Jiao Yi terdiam dan menatap ke arah sudut taman bunga dan tersenyum.
"Aku akan sangat merindukan Kakak. Bahagialah dan jangan terlalu bersedih dengan kepergianku. Aku sangat bahagia karena akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu. Kakak, aku menyayangimu." Jiao Yi terdiam, kali ini dia terdiam untuk selamanya. Pelukan tangannya perlahan terlepas dari leher Liang Yi. Tubuhnya seketika melemas dengan sisa air mata yang membasahi wajahnya.
Liang Yi terus berjalan dengan air mata yang tak kuasa untuk jatuh. Suara isakan tangisnya membuat semua warga desa ikut menangis. Mereka terharu melihat kasih sayang kakak beradik itu. Melihat Liang Yi yang masih menggendong Jiao Yi, membuat Zu Min dan beberapa orang lainnya datang dan mendekatinya. "Tuan, masuklah. Biar kami yang akan mengurus jenazahnya," ucap Zu Min yang membuat langkah Liang Yi terhenti.
Liang Yi berdiri terpaku dengan tubuh Jiao Yi yang telah kaku di atas punggungnya. "Biarkan aku yang akan membawanya ke dalam rumah. Kalian uruslah pemakamannya." Liang Yi berusaha tegar walau sulit untuk dia menutupi rasa sedihnya itu.
Dengan perlahan, tubuh Jiao Yi diletakkan di atas tempat tidur. "Bibi, tolong urus jenazahnya. Jadikan dia pengantin yang paling cantik karena dia akan bertemu dengan ayah dan ibu." Liang Yi kemudian mengambil Yuwen yang masih tertidur dan memeluknya dengan isakkan yang tak mampu dia tahan.
"Aku yang akan merawatmu. Hanya kamu satu-satunya keluargaku. Mulai sekarang, belajarlah untuk bisa hidup dengan kondisi apapun. Aku akan menjadikanmu lelaki penerus keluarga Yi. Angkatlah kembali nama kakekmu. Karena itu, kamu harus kuat, jangan lemah." Liang Yi menatap sorot mata Yuwen yang perlahan melihat ke arahnya. Dengan tersenyum, Liang Yi mengelus lembut pipi keponakannya itu dan membawanya keluar.
Jenazah Jiao Yi diletakkan di atas sebuah dipan. Wajah pucatnya tampak cantik saat mengenakan gaun pengantin berwarna merah. Bibir pucatnya, telah dipakaikan gencu merah. Rambutnya dihiasi tusuk konde yang menjuntai indah. Wajah cantiknya telah ditutupi sebuah kain tipis yang juga berwarna merah.
Liang Yi mendekati jenazah adiknya dan duduk di sampingnya. Dengan tangan yang gemetar, Liang Yi membuka penutup wajah dan melihat wajah adiknya yang tampak cantik bak seorang pengantin. "Kamu sangat cantik," ucap Liang Yi menahan tangis.
Liang Yi berusaha untuk tegar dan kembali menatap wajah adiknya itu. "Jiao Yi, sampaikan salamku untuk ayah dan ibu. Berbahagialah di sana, jangan khawatirkan Yuwen, aku dan semua warga desa akan menjaga dan merawatnya. Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucap Liang Yi yang tidak mampu lagi menahan air mata. Liang Yi terduduk dengan isakan tangis yang begitu memilukan. Hingga tangisannya berhenti saat di sudut mata Jiao Yi, air bening itu keluar.
"Tuan, jangan menangis lagi. Kasihan Nona, dia juga ikut menangis," ucap Bibi Cu yang membuat Liang Yi menghapus air mata di sudut mata adiknya itu.
Di dalam peti kayu, tubuh Jiao Yi diletakkan. Dengan tangannya sendiri dan dibantu sahabat-sahabatnya, peti kayu itu diangkat dan dibawa ke suatu tanah lapang yang dikhusukan untuk tempat pemakaman. Terlihat sebuah liang yang sudah menganga.
Peti kayu itu kemudian diturunkan perlahan. Suara isak tangis dari warga desa mengiringi peti kayu yang sudah diletakkan di atas liang lahat. Tanpa sepatah katapun, Liang Yi menatap peti kayu itu yang mulai ditutupi dengan tanah. "Istirahatlah dengan tenang. Tunggu Kakak, jika tiba waktunya kita pasti akan bertemu lagi," batin Liang Yi yang menatap peti kayu yang perlahan sudah tertutup dengan tanah. Sebuah kayu ditancapkan di atas gundukan tanah itu dengan sebuah tulisan yang indah. Dengan tangannya sendiri, Liang Yi membuat kaligrafi dengan tulisan nama adiknya itu.
Orang-orang mulai meninggalkan area pemakaman dan meninggalkan Liang Yi yang masih berdiri terpaku menatap gundukan tanah itu. Perlahan, air matanya kembali jatuh mengenang masa-masa kecil mereka. Dia mengingat kembali ayah dan ibunya yang selalu ada untuk mereka.
Dan kini, dia telah ditinggal sendirian bersama Yuwen. Walau sulit, tapi dia berusaha untuk bisa melewati ujian ini. Bersama Yuwen, dia akan hidup lebih lama hingga melihat keponakannya itu menjadi seseorang yang berguna untuk keluarga dan juga untuk negerinya.
*****
Mei Yin tampak menitikkan air mata saat dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. "Istriku, kamu kenapa menangis?" tanya Raja Zhao Li yang berbaring di samping istrinya itu.
Mei Yin menatap sang suami yang perlahan menghapus air matanya. "Suamiku, aku bermimpi melihat Jiao Yi dan orang tua angkatku. Mereka melambaikan tangan dan tersenyum padaku. Mereka bertiga kemudian pergi dan Liang Yi ... " Mei Yin tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Hanya isakkan tangis yang perlahan terdengar.
Dengan lembut, Raja Zhao Li memeluknya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya itu. "Jangan menangis lagi, itu hanya sebuah mimpi. Jiao Yi pasti baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, sekarang kembali tidur." Dengan mesra, Raja Zhao Li memeluk erat tubuh istrinya itu.
Walau hanya mimpi, tapi mimpi itu seperti nyata. Selama ini, dia tidak pernah memimpikan orang tua angkatnya, tapi kali ini mimpinya itu begitu mengganggunya.
Mei Yin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. Setidaknya, untuk saat ini dia bisa berlega hati karena ada Raja Zhao Li di sampingnya. Kegundahan tentang mimpi itu membuatnya tidak bisa lagi memejamkan matanya.
"Istriku, kenapa kamu belum juga tidur?" tanya Raja Zhao Li sambil membelai lembut kepala istrinya itu.
"Entahlah, sejak mimpi tadi aku sudah tidak bisa lagi memejamkan mataku," jawab Mei Yin sambil memeluk erat tubuh suaminya itu.
Raja Zhao Li tidak pernah melihat sikap Mei Yin yang risau seperti sekarang ini. Seakan, mimpi itu telah menghantuinya hingga membuatnya tidak bisa tenang.
"Tidurlah, aku tahu kamu khawatir, tapi yakinlah kalau itu hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan karena aku tidak ingin kamu sakit gara-gara memikirkan mimpi itu," ucap Raja Zhao Li yang begitu khawatir dengan keadaan istrinya itu.
Mei Yin mengangguk. Walau matanya sulit untuk terpejam, tapi dia memaksa untuk menutup matanya agar suaminya tidak khawatir lagi padanya.
Sejak mimpi itu, Mei Yin terlihat murung. Dia tahu mimpi itu pertanda tidak baik. Dia takut kalau sekarang telah terjadi sesuatu pada Jiao Yi. Dia ingat kembali saat dulu dia memimpikian orang tua angkatnya hingga membuat dia terbangun, ternyata malam itu ada orang yang ingin membunuh mereka. Mimpi itu baginya seperti sebuah pertanda. Dan kini, diapun memimpikan mereka seakan orang tua angkatnya telah membawa Jiao Yi bersama mereka.
"Jiao Yi, maafkan aku karena aku tidak ada di sampingmu. Aku tahu kamu pasti sedang mengalami sesuatu yang buruk. Hatiku merasa tidak tenang jika mengingat kembali mimpi itu." Mei Yin menitikkan air mata jika mengingat kembali adik angkatnya itu.
Melihat Mei Yin yang selalu termenung membuat Raja Zhao Li mengutus pengawal pribadinya ke desa di mana Liang Yi tinggal sekadar untuk memastikan kebenaran mimpi istrinya itu.
"Yang Mulia, memang benar beberapa hari yang lalu adik Tuan Liang Yi telah meninggal setelah melahirkan seorang bayi," ucap pengawal pribadinya setelah kembali dari desa.
Mendengar penuturan pengawalnya itu membuat Raja Zhao Li terkejut. "Apa itu benar? Lalu, bagaimana keadaan Liang Yi?"
"Tuan Liang Yi meminta kepada Yang Mulia agar menutupi berita kematian Jiao Yi dari permaisuri, karena Tuan Liang Yi khawatir berita itu akan membuat permaisuri menjadi sedih," ucap pengawalnya itu.
Raja Zhao Li terlihat menunduk. Jiao Yi bukanlah orang lain baginya. Dia sudah menganggap Jiao Yi seperti adiknya sendiri dan dia tahu saat ini Liang Yi pasti sangat bersedih karena kehilangan adiknya itu.
Mei Yin tengah duduk di taman villa bunga dan terlihat termenung. Melihat istrinya seperti itu membuat Raja Zhao Li menjadi tidak tega. "Istriku, apa kamu masih memikirkan Jiao Yi?" tanya Raja Zhao Li sambil duduk di sampingnya. Dengan mesra, Raja Zhao Li merangkul tubuh istrinya itu.
Mei Yin terdiam. Entah apa yang harus dia katakan. Memang, saat ini dia masih memikirkan Jiao Yi yang tidak ada kabar berita. Dia begitu khawatir pada adik angkatnya itu, tapi dia juga sadar kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Aku khawatir padanya, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Keberadaannya saja aku tidak tahu, jadi aku hanya bisa berdoa semoga saja Jiao Yi dalam keadaan sehat dan tidak terjadi apa-apa padanya. Lagipula, ada Liang Yi bersamanya dan aku yakin Liang Yi pasti akan menjaganya," ucap Mei Yin yang berusaha untuk meyakinkan hatinya kalau jauh di luar sana adik dan kakak angkatnya itu sedang baik-baik saja.
Mei Yin menghapus air matanya dan menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya itu. Mendengar penuturan istrinya, Raja Zhao Li hanya bisa menahan perasaannya. Dia begitu terharu dengan ketabahan istrinya itu.
"Istriku, maafkan aku karena tidak bisa berterus terang padamu. Aku tidak ingin melihatmu sedih karena kepergian Jiao Yi. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan rasa kehilangan ini dan aku yakin dengan seiringĀ berjalannya waktu, kamu pasti bisa menerima kenyataan ini," batin Raja Zhao Li sambil mencium puncak kepala istrinya dan menggenggam tangannya dengan erat.