The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 44



Sejak kematian Jiao Yi, Liang Yi mulai belajar ilmu pengobatan. Selama bertahun-tahun belajar, akhirnya dia mulai menguasai ilmu pengobatan, walau kemampuannya itu hanya dikenal di kalangan orang yang tidak mampu karena memang Liang Yi hanya mengobati khusus untuk mereka karena ketidakmampuan mereka untuk membayar jasa tabib yang dinilai cukup mahal.


Hari itu, Liang Yi mendatangi salah satu keluarga karena anak dari keluarga itu menderita sakit yang cukup parah. Sudah sedari pagi Liang Yi berada di desa itu, dan setelah kondisi anak itu mulai stabil, Liang Yi memutuskan untuk kembali ke desa, tapi karena hari mulai malam, Liang Yi terpaksa harus menginap dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.


Dan kini, tanpa sengaja dia telah berada dalam satu ruangan bersama wanita yang selama ini dicintainya. Wanita itu tampak pucat dengan keringat yang memenuhi wajahnya. Rasanya, dia ingin membelai wajah itu, tapi dia tak mampu dan hanya bisa memandanginya karena wanita itu tak sendiri melainkan bersama suaminya yang menatapnya penuh kekhawtiran. "Tuan, istriku kenapa bisa seperti ini?" tanya Kaisar Wang sambil menggenggam tangan Mei Yin yang sedari tadi tidak dilepasnya.


Liang Yi memandang ke arah lelaki itu. Ada rasa benci yang tiba-tiba muncul di hatinya. Lelaki yang sudah menghancurkan kebahagiaan sahabatnya dan wanita yang dicintainya. Namun, dia harus bisa menahan rasa marahnya karena tidak ingin merusak pengorbanan dari wanita yang dicintainya itu.


"Apa Tuan sangat mencintai istri Tuan?" tanya Liang Yi yang membuat Kaisar Wang menatapnya dengan heran.


"Apa maksud Tuan? Tentu saja aku sangat mencintainya," jawab Kaisar Wang dengan kesungguhan hatinya.


"Kalau begitu, rawatlah dia dan berikan apapun yang diinginkannya. Istri Tuan saat ini sedang mengandung, karena itu jagalah dia dan jangan pernah menyakitinya karena wanita yang sedang mengandung akan mudah terluka perasaannya bila mereka disakiti," jelas Liang Yi yang membuat Kaisar Wang tersenyum bahagia. Sungguh, berita itu sangat membuatt dia bahagia.


"Apa itu benar? Apa istriku kini sedang mengandung?" tanya Kaisar Wang seakan tidak percaya.


"Aku akan menyiapkan ramuan obat untuknya. Sebaiknya, Tuan jangan biarkan istri Tuan terlalu lelah karena itu akan mempengaruhi kesehatannya dan juga janinnya," jelas Liang Yi yang kemudian keluar dari ruangan itu.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Liang Yi sempat memandangi Mei Yin yang masih terbaring. Ada rasa bahagia karena dia bisa bertemu dengan wanita itu lagi, walau dia harus merasakan sakit karena melihat Mei Yin yang sudah  mengorbankan diri hingga harus menanggung penderitaan sekejam ini.


Liang Yi menitikkan air mata saat meninggalkan ruangan itu. Sungguh, rasanya dia tidak ingin meninggalkannya dan duduk di sampingnya, namun ia tak sanggup menatap wajah itu yang terlihat pucat karena harus menanggung beban yang selama ini dipukulnya seorang diri. "Mei Yin, apakah kamu akan menerima anak itu setelah apa yang sudah ayahnya lakukan kepadamu dan juga keluargamu?" batin Liang Yi yang tanpa sadar sudah membuatnya menitikkan air mata.


Liang Yi lantas mengambil ramuan obat yang ada di dalam kamarnya. Sejurus, dia melihat ramuan obat yang bisa menyebabkan keguguran, tapi dia tidak mampu melakukannya. Liang Yi kemudian mengambil ramuan obat untuk memperkuat janin dan menghilangkan demam. Ramuan itu kemudian diolahnya.


Di dalam kamar, Kaisar Wang tampak tersenyum sambil menggenggam tangan Mei Yin yang masih belum sadarkan diri. Tangannya perlahan mengelus lembut pipi Mei Yin yang tampak memerah dan menghapus peluh yang ada di wajahnya itu. "Istriku, aku sangat bahagia karena aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih karena sudah memberikan hadiah yang sangat berharga bagiku," ucap Kaisar Wang sambil mengecup keningnya.


Sementara di luar, Liang Yi masih berdiri di depan pintu dan mendengar ucapan Kaisar Wang pada Mei Yin. Perlahan, hatinya bagaikan teriris. Lelaki kejam yang rela memisahkan wanita yang dia cintai dari keluarganya, kini mengatakan kalau dia bahagia bersama wanita itu. "Apa pantas kamu bahagia sementara kamu telah mengambil kebahagiaannya?" batin Liang Yi dengan kedua tangannya yang mengepal.


Liang Yi kemudian masuk dan duduk di samping Mei Yin. "Tuan, izinkan saya untuk memberikannya obat."


"Silakan, aku sangat berterima kasih karena kebaikan Tuan," jawab Kaisar Wang sambil mengangkat kepala Mei Yin dan diletakannya di atas pangkuannya.


Liang Yi hanya bisa melihat lelaki itu yang memperlakukan Mei Yin dengan lembutnya. Untuk sesaat, dia bisa merasa lega karena ternyata lelaki itu memperlakukanya dengan baik. Liang Yi kemudian mulai meminumkan ramuan itu kepada Mei Yin yang terkadang membuatnya terbatuk.


"Istriku, bertahanlah. Habiskan obat itu karena itu untuk kebaikanmu dan juga bayi kita," ucap Kaisar Wang sambil membelai lembut rambut istrinya itu.


Setelah menghabiskan hampir setengah gelas ramuan obat, Mei Yin terlihat lebih tenang. Demamnya mulai turun dengan keringat yang sudah mengering. Perlahan, Mei Yin membuka matanya.


"Istriku, kamu sudah sadar?"


Mei Yin menatap Kaisar Wang yang menatapnya dengan rasa cemas. Perlahan, pandangan matanya kini tertuju pada seseorang yang kini duduk di depannya. "Sebaiknya, Nyonya beristirahat. Mulai sekarang, Nyonya harus menjaga kondisi agar tidak mudah lelah. Nyonya harus tetap kuat agar bisa melahirkan nanti dengan selamat," ucap Liang Yi yang kemudian bangkit.


"Tunggu." Mei Yin menatap Liang Yi yang kini sudah berbalik dan menatapnya.


"Apa maksudmu? Jelaskan padaku?" tanya Mei Yin dengan air mata yang perlahan jatuh.


"Sebaiknya Nyonya menjaga kesehatan agar bisa bertemu dengan buah hati Nyonya. Anak itu pasti merindukan Nyonya, karena itu jagalah diri Nyonya, tak lama lagi Nyonya akan bertemu dengannya," ucap Liang Yi yang membuat Mei Yin tak sanggup menahan air mata.


"Istriku, terima kasih karena telah mengandung anakku," ucap Kaisar Wang sambil memeluk Mei Yin yang masih menangis. Mei Yin memandangi Liang Yi yang juga menatapnya. Air mata Mei Yin yang jatuh membuat Liang Yi tak kuasa menahan tangis. "Jagalah dirimu, putramu baik-baik saja," ucap Liang Yi pelan dan kemudian pergi dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


Sementara Mei Yin masih tidak percaya, kalau saat ini dia tengah mengandung seorang bayi dari lelaki yang sudah menghancurkan keluarganya. Ada rasa benci yang tiba-tiba muncul dan membuatnya ingin menggugurkan bayi itu, tapi Mei Yin tak sanggup karena bagaimanapun juga, bayi itu tidak bersalah. Dia hanya korban dari keegoisan orang tuanya.


Di saat Kiasar Wang begitu bahagia dengan kehamilan Mei Yin, Liang Yi di dalam kamarnya tampak kecewa bahkan terluka karena melihat Mei Yin yang harus mengorbankan tubuh dan perasaanya hingga membuatnya menanggung penderitaan sendirian. Dia sadar, saat ini Mei Yin pasti merasa tersiksa dengan kabar kehamilannya. Bagaimana bisa dia menerima bayi itu, bayi dari seorang lelaki yang sudah menghancurkan kehidupannya. Dia takut, Mei Yin akan melakukan hal yang akan berakibat buruk baginya.


Dengan perasaan cemas, Liang Yi mengambil ramuan obat dan membawanya ke kamar di mana Mei Yin dan Kaisar Wnag menginap. Dia tidak ingin Mei Yin menyakiti dirinya sendiri. "Tuan, apa boleh saya berbicara dengan Nyonya sebentar?" tanya Liang Yi sambil mengetuk pintu.


Perlahan, pintu itu terbuka. Pandangan matanya langsung tertuju pada Mei Yin yang sementara duduk bersandar.


"Silakan, masuklah," ucap Kaisar Wang mempersilakan Liang Yi untuk masuk.


"Nyonya, ini ada ramuan obat yang bagus untuk menjaga kesehatan Nyonya dan juga bayi Nyonya. Saya harap, Nyonya menjaga kesehatan Nyonya hingga bayi itu lahir kelak dan jangan terlalu banyak pikiran karena itu akan berimbas pada kesehatan Nyonya." Liang Yi meletakkan bungkusan ramuan obat dan segera bangkit.


"Terima kasih, aku hargai perhatian Tuan. Jangan khawatir, aku akan ikuti perintah Tuan. Aku dan juga bayiku, akan baik-baik saja," ucap Mei Yin yang seakan paham dengan kekhawatiran Liang Yi padanya.


Liang Yi tersenyum dan kemudian meninggalkan tempat itu. Melihat Mei Yin yang mulai menerima keadaan dirinya, membuat Liang Yi bisa bernafas lega.


"Liang Yi, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Selama balas dendamku ini belum terwujud, aku akan terus melakukan sandiwara ini. Tak peduli dengan perasaanku, aku akan tetap bertahan. Jagalah putraku, hanya dialah satu-satunya harapanku," batin Mei Yin yang tersenyum di antara kesedihannya.


Liang Yi keluar dari kamar itu dan mengemasi barang-barangnya. Malam itu juga, dia meninggalkan penginapan dan kembali ke desa. Selama perjalanan, Liang Yi terus memikirkan Mei Yin hingga membuat hatinya terluka. "Apakah ini yang kamu inginkan? Bagaimana kalau Chen Li tahu kalau dia akan mempunyai seorang adik dari lelaki yang telah membunuh ayahnya? Apa kamu sanggup menghadapi Chen Li nantinya?" Liang Yi terus berjalan tak peduli dengan suasana malam yang sesekali terdengar suara serigala melolong. Dia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu, karena hatinya sudah terlanjur sakit dan tidak tahan melihat Mei Yin yang tersiksa dengan kepura-puraannya.


"Istriku, apa yang sedang kamu pikirkan? Tidurlah, besok kita akan kembali ke kerajaan. Setelah itu, kamu harus menjaga kondisimu dengan baik karena itu untuk kebaikanmu dan juga bayi kita," ucap Kaisar Wang sambil mengelus lembut perut istrinya itu dan mengecup dahinya.


Mei Yin mengangguk dan memejamkan matanya. Walau bayi itu tidak diinginkannya, namun dia tidak bisa egois karena bagaimanapun juga dia adalah seorang ibu.


Keesokan harinya, Kaisar Wang ingin berpamitan pada lelaki yang sudah mengobati istrinya itu, namun pintu kamar yang sudah diketuknya sedari tadi belum juga terbuka.


"Nyonya, di mana Tuan tabib itu? Aku sudah mengetuk pintunya, tapi tidak ada jawaban," tanya Kaisar Wang pada wanita pemilik penginapan itu.


"Maaf, Tuan. Lelaki itu sudah pergi sejak semalam," jawabnya singkat.


"Apa Nyonya tahu siapa namanya?"


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu namanya, hanya saja orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Tuan Yang Baik Hati," jelas wanita itu.


Kaisar Wang tertegun. Di dalam hatinya, dia mengakui kebaikan lelaki itu. Andai semua tabib seperti itu, mungkin saja negerinya akan bebas dari orang-orang sakit.


"Istriku, ayo kita pulang," ucap Kaisar Wang sambil membopong tubuh Mei Yin dan mengangkatnya naik ke atas kuda. Sementara Kaisar Wang duduk di belakangnya sambil memeluk pinggang istrinya dengan erat.


"Mulai sekarang, kamu jangan lakukan apapun. Jagalah kandunganmu karena aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan juga bayi kita," bisik Kaisar Wang yang membuat Mei Yin mengangguk.


Mereka masih terus berjalan hingga Mei Yin meminta berhenti di depan penjual buah persik yang sedang menjajakan buah itu. "Aku ingin buah itu," tunjuk Mei Yin pada sekeranjang buah persik.


Kaisar Wang tersenyum dan membeli sekantong buah persik dan memberikannya pada istrinya itu. Mei Yin tersenyum dan segera memakan buah itu. Selama perjalanan kembali ke kerajaan, buah persik itu habis dilahap olehnya.


Setibanya di kerajaan, mereka sudah ditunggu oleh Dayang Ling yang sudah menunggu sejak subuh tadi. Dia begitu khawatir dengan keadaan Mei Yin hingga membuatnya tidak bisa tidur.


Melihat kedatangan mereka, Dayang Ling tersenyum dan berlari mendekati mereka. "Dayang Ling, mulai saat ini jangan memberikan makanan pada istriku tanpa kamu cicipi dulu. Aku tidak ingin ada orang yang mencelakai istri dan anakku," ucap Kaisar Wang sambil membawa Mei Yin dalam bopongannya menuju ke dalam kamar.


Mendengar perintah Kaisar Wang, Dayang Ling terkejut. "Apakah Nyonya tengah mengandung?" batinnya sambil berjalan mengikuti mereka dari belakang.


"Dayang Ling, cepat panggilkan tabib istana," perintah Kaisar Wang saat membaringkan Mei Yin di atas ranjang.


"Baik, Yang Mulia."


"Istriku, kamu harus diperiksa lagi oleh tabib istana. Aku ingin memastikan keadaanmu dan juga bayi kita dalam keadaan baik-baik saja," ucap Kaisar Wang sambil menggenggam tangan Mei Yin dengan erat.


"Baiklah, terserah padamu," jawab Mei Yin sambil mengangguk.


Tak lama kemudian, Dayang Ling datang bersama seorang tabib dan segera memeriksa Mei Yin. "Yang Mulia, sepertinya Nyonya sedang mengandung. Untuk saat ini, keadaan Nyonya kurang stabil karena kelelahan, jika Nyonya sudah beristirahat maka keadaan Nyonya akan baik-baik saja. Bayi di dalam kandungan Nyonya juga baik-baik saja. Selamat, Yang Mulia," jelas tabib itu sambil menunduk dan memberi hormat padanya.


Mendengar penjelasan tabib membuat Kaisar Wang kembali tersenyum bahagia. Rasanya, dia masih tidak percaya kalau dia akan menjadi seorang ayah. "Mulai saat ini, kamu yang harus mengurus semua obat untuk istriku. Jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, maka aku akan menghukum mati dirimu dan juga seluruh keluargamu!!" ucap Kaisar Wang yang membuat tabib itu menunduk dengan rasa takut.


"Baik, Yang Mulia." Tabib itu kemudian bangkit dan meninggalkan tempat itu.


"Dayang Ling, panggilkan beberapa dayang yang bisa kamu percaya untuk menjaga istriku. Dan perintahkan kepada dayang dapur untuk menyiapkan makanan khusus untuk wanita yang sedang mengandung. Mulai sekarang, aku percayakan istri dan juga anakku padamu," ucap Kaisar Wang pada Dayang Ling.


"Baik, Yang Mulia." Dayang Ling kemudian meninggalkan tempat itu dan pergi menjalankan tugas yang sudah diembankan padanya.


"Istriku, beristirahatlah. Aku akan menemanimu di sini. Setelah Dayang Ling kembali, aku akan pergi sebentar. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Tidak mengapa, kan?"


Mei Yin tersenyum dan mengangguk pelan. "Pergilah, aku tidak mengapa. Aku akan baik-baik saja."


Setelah kedatangan Dayang Ling dan beberapa dayang lainnya, Kaisar Wang akhirnya pergi. Di dalam ruang kerjanya, dia sudah ditunggu oleh seorang kepala tabib istana yang menunduk dan memberi hormat padanya.


"Apa kamu sudah tahu apa maksud aku memanggilmu?" tanya Kaisar Wang dengan tatapannya yang tajam.


"Maaf, Yang Mulia. Jika hamba melakukan kesalahan, tolong ampunkan hamba," ucap kepala tabib istana itu sambil berlutut.


"Apa kalian tidak tahu dengan kondisi di luar sana? Semalam, istriku sakit dan aku tidak bisa memanggil tabib karena mereka tidak akan melayani jika hari sudah malam. Apa kamu tahu, jika saja aku tidak menemukan orang baik yang mau memeriksa istriku, mungkin saja hari ini aku akan memenggal kepala semua tabib yang ada di negeri ini!!" Kaisar Wang tampak marah jika mengingat kejadian semalam.


"Perintahkan kepada semua tabib di negeri ini untuk mengobati siapapun tanpa memandang kekayaan mereka. Dan kapanpun mereka dibutuhkan mereka harus siap. Jika mereka berani melanggar, aku tidak akan segan-segan untuk menghukum mati mereka!!" ucap Kaisar Wang tegas.


Kepala Tabib menundukkan wajahnya. Ada rasa takut saat melihat Kaisar Wang yang terlihat sangat marah. "Baik, Yang Mulia."


Rupanya, Kaisar Wang sangat marah dengan penolakan tabib yang tidak ingin memeriksa jika hari sudah malam. Belum lagi dengan tabib-tabib yang mengharuskan membayar jasa mereka dengan harga yang cukup mahal.


"Kalau saja semalam keadaan istriku tidak baik-baik saja, maka kalian semua akan aku penggal," ucap Kaisar Wang dengan tatapan penuh amarah.