
Sambil memegang dadanya, Kaisar Wang berjalan menuju ke kamar Mei Yin dengan membawa sebuah guci kecil yang berisikan obat penawar. "Istriku, minumlah obat ini." Lelaki itu menyerahkan guci kecil itu pada Mei Yin yang sementara memegang lengannya yang terasa sakit.
"Ibu, minumlah." Guan Yin membuka penutup guci itu dan meminta ibunya untuk meminumnya.
Mei Yin menatapnya dan juga menatap Kaisar Wang yang tersenyum padanya. "Minumlah, kamu harus tetap hidup."
Mei Yin kemudian miminum obat penawar itu dan membuat Kaisar Wang tersenyum dan berlega hati. Hingga tiba-tiba, Kaisar Wang terduduk dengan wajahnya yang memucat dengan tangan yang memegang dadanya.
"Ayah, ada apa dengan Ayah? Aku akan memanggil tabib." Guan Yin tampak panik.
Kaisar Wang meraih tangan anak gadisnya itu. "Tidak perlu, Ayah baik-baik saja." Kaisar Wang berusaha untuk bangkit dan memandang ke arah Mei Yin yang hanya memandanginya tanpa ekspresi.
"Istriku, kamu akan baik-baik saja. Aku akan pastikan kamu akan baik-baik saja." Tiba-tiba saja Kaisar Wang memuntahkan darah hitam yang membuat Guan Yin terkejut.
"Ayah!!" Guan Yin mendekati ayahnya yang berusaha untuk tetap berdiri di depan Mei Yin.
"Ayah tidak apa-apa. Bantu Ayah untuk kembali ke kamar Ayah." Kaisar Wang terlihat lemah saat meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu." Guan Yin menatap ibunya yang perlahan mendekati mereka.
"Bawa ayahmu ke tempat tidur Ibu." Perintah Mei Yin sambil membantu memapah tubuh Kaisar Wang yang mulai melemah.
"Guan Yin, pergilah ke Dayang Ling dan minta dia membuat ramuan obat ini." Mei Yin menyerahkan selembar kertas pada anaknya itu.
"Baik, Ibu."
Mei Yin mengambil selembar kain dan membersihkan sisa darah di mulut Kaisar Wang. "Kenapa kamu memberikan obat penawar itu untukku? Kamu bisa saja memakainya untuk dirimu sendiri, tapi kenapa kamu memberikannya untukku?"
Kaisar Wang tersenyum dan meraih tangan Mei Yin dan menggenggamnya erat. "Aku tidak ingin melihatmu menderita. Lebih baik aku yang menderita daripada aku tersiksa karena melihatmu menderita."
"Apa aku seberharga itu bagimu? Kenapa kamu membalas kebencianku dengan perasaanmu itu? Tidakkah kamu berpikir kalau aku tidak akan pernah memaafkanmu?"
Ucapan Mei Yin sontak membuat Kaisar Wang terkejut. Walau begitu, dia tidak bisa memaksa Mei Yin untuk memaafkannya. "Aku tahu. Karena itu, aku menghukum diriku sendiri dengan menanggung penderitaan ini. Penderitaan ini sama seperti penderitaan yang dialami Zhao Li, tapi dia sangat beruntung karena di akhir hidupnya ada wanita yang mencintainya tulus dan selalu berada di sampingnya hingga nafas terakhirnya. Sementara aku hanya akan mengalami penderitaan ini tanpa seseorang yang tulus mencintaiku." Kaisar Wang menitikkan air mata saat mengucapkan itu semua.
Tanpa sadar, Guan Yin menitikkan air mata di balik pintu. "Ayah, Ibu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" batin Guan Yin yang masih berdiri di tempat itu.
"Aku akan merawatmu karena aku tidak ingin terlihat kejam di mata putriku. Aku sudah tidak ingin membalasmu karena Dewa sudah menghukummu. Jalanilah hukumanmu itu dan jangan mengharapkan lebih dariku." Mei Yin kemudian bangkit dan bermaksud untuk meninggalkannya.
"Aku akan mengembalikan kerajaan ini padamu dan juga Chen Li. Aku tahu dia ada di kerajaan ini." Mei Yin terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu?" Wajah Mei Yin terlihat berubah.
"Aku tahu putramu ada di kerajaan ini. Aku tidak salah, kan?"
Ucapan Kaisar Wang sontak membuat Guan Yin terkejut. "Putra? Ibuku mempunyai seorang putra?" Guan Yin terlihat menitikkan air mata.
"Aku tidak mengerti ucapanmu itu." Mei Yin berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan Kaisar Wang karena dia takut dia akan kembali goyah.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitinya karena bagaimanapun juga dia adalah keponakanku. Istriku, tidak bisakah kamu duduk di sini menemaniku?" Kaisar Wang tampak memohon.
Tiba-tiba Guan Yin masuk hingga membuat keduanya terdiam. "Ibu, aku membawa ramuan obat yang Ibu minta." Guan Yin memberikan obat itu pada ibunya.
"Ayah, tenanglah. Ibu pasti akan merawat Ayah, benarkan Ibu?" Guan Yin memandangi Mei Yin yang tersenyum padanya.
"Benar, Ibu akan merawat Ayahmu." Mei Yin berjalan mendekati Kaisar Wang dan meminumkan ramuan obat itu padanya.
"Ibu, Ayah sangat mencintai Ibu dan aku sangat menyayangi kalian. Aku tidak ingin kehilangan kalian." Guan Yin tampak tersenyum di balik kesedihan yang kini di alaminya. Di depan mereka, dia tersenyum walau sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia menangis.
Gadis itu kemudian pergi. Di depan mereka, dia menahan air mata agar tidak jatuh. Hingga tangisannya pecah saat dirinya sudah kembali ke kamarnya.
"Nona, ada apa? Kenapa Nona menangis?" tanya Yuwen yang berdiri di depan pintu.
"Pergilah, aku ingin sendiri."
Yuwen terdiam, namun dia tidak beranjak dari tempat itu. Yuwen masih berdiri dan mendengar isak tangis dari Guan Yin yang masih menangis, hingga perlahan pintu itu terbuka.
"Nona, ada apa?"
"Bawa aku pergi dari sini, aku mohon." Guan Yin lantas memeluk Yuwen sambil menangis. Pemuda itu terdiam saat Guan Yin menangis dalam pelukannya.
"Baiklah, ayo kita pergi." Yuwen meraih tangannya dan meninggalkan tempat itu. Di atas kuda putih, mereka meninggalkan kerajaan dan menuju ke suatu tempat.
Di atas sebuah bukit, kuda putih itu berhenti. Di atas bukit itu, mereka bisa melihat keindahan alam yang sungguh indah. Air terjun yang tidak terlalu tinggi dengan gemericik air yang jernih terlihat di depan mereka. Sebuah kolam yang tidak terlalu dalam berada di bawah air terjun itu. Di sekeliling air terjun, tumbuh bunga anggrek dengan aneka warna. Tak hanya itu, di dekat air terjun itu ada sebuah goa kecil. Sementara di depan mulut goa itu, terlihat aneka tanaman bunga yang sengaja ditanam.
"Menangislah kalau kamu ingin menangis. Di tempat ini, tidak ada yang akan mendengar tangisanmu." Yuwen duduk di atas batu dan memandangi air terjun.
Guan Yin ikut duduk di sampingnya dan memandangi air terjun itu. "Apa kamu sering ke sini?" Guan Yin mengalihkan pandangannya pada pemuda itu.
Yuwen mengangguk. "Aku sering ke sini bersama kakakku. Tempat ini adalah tempat favorit kami di saat kami sedang sedih."
"Sedih?" Guan Yin menatapnya heran.
"Kenapa? Apa lelaki tidak bisa bersedih?"
"Bukan begitu, maksudku ... " Guan Yin menundukkan wajahnya.
Yuwen tersenyum dan mengucek lembut rambut gadis itu. "Kalau kamu sedih, bagilah kesedihanmu itu. Dengan begitu, kesedihanmu akan berkurang."
"Kalau kamu tidak ingin menceritakannya, itu tidak masalah. Guan Yin, apapun masalahmu, yakinlah kalau itu hanya sebagai ujian hidupmu."
Guan Yin menghapus air matanya yang perlahan jatuh. "Aku bukanlah satu-satunya anak dari ibuku. Sebelumnya dia telah memiliki seorang putra dan aku sama sekali tidak mengetahui itu. Mereka menyembunyikan sesuatu dariku."
Yuwen terkejut dan memandang Guan Yin yang kini menangis. "Nona, apa maksudmu?"
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Aku tidak tahu siapa itu Chen Li dan Zhao Li. Aku tidak tahu hubungan ibu dengan kedua orang itu. Sejak kepulangan ibu waktu itu, sikap ibu mulai berubah pada ayah. Ibu tidak lagi mencintai ayah, bahkan ibu terlihat membenci ayah." Guan Yin kembali menitikkan air mata hingga tanpa sadar, Yuwen memeluknya.
"Maafkan aku. Jika tiba saatnya nanti, kamu pasti akan tahu semuanya," batin Yuwen sambil mengelus lembut punggung gadis itu.
Guan Yin menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya. Selama hidupnya, tak sekalipun dia merasakan kesedihan. Dia selalu bahagia dengan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya, tapi kini hatinya begitu terluka karena kebohongan kedua orang tuanya itu.
Di atas sebuah batu, Guan Yin berdiri dan memandangi air terjun yang mengalir. Yuwen yang merasa cemas, berusaha mendekatinya, namun langkahnya terhenti saat melihat gadis itu menari dengan gerakan yang lembut.
Guan Yin menari dengan air mata yang jatuh. Dia begitu sedih memikirkan tentang kedua orang tuanya yang ternyata tak saling mencintai. "Ayah, ibu, apa yang harus aku lakukan?"
Guan Yin terus menari hingga membuatnya terduduk di atas batu. Gadis itu menangis sesenggukan hingga membuat Yuwen kembali memeluknya. "Aku mohon, jangan menangis lagi."
Guan Yin membalas pelukan pemuda itu. Dieratkan kedua tangannya di leher Yuwen dan menangis di pelukannya. "Tenanglah, aku janji semuanya akan baik-baik saja."
Yuwen sangat mengerti perasaan gadis itu hingga membuatnya ikut menitikkan air mata. Apa jadinya andai dia tahu kalau ayahnya telah membunuh suami dari ibunya. Apa jadinya andai dia tahu kalau dirinya hanyalah anak dari hasil sebuah kepura-puraan cinta.
"Guan Yin, tabahkan hatimu. Aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu," batin Yuwen sambil mengeratkan pelukannya.
*****
Raja Wu Lai terlihat keluar dari perbatasan antara Kerajaan Wu dan Wilayah Dataran Timur. Dengan penampilan yang biasa saja, raja muda itu bergegas dengan kudanya dan mengelilingi jalanan kota yang tampak ramai. "Rupanya, kerajaan ini sangat makmur. Jika aku bisa memiliki kerajaan ini, maka kekuasaanku akan semakin bertambah," batinnya sambil memperhatikan setiap sudut tempat itu.
Raja Wu Lai terus berjalan, hingga pandangannya tertuju pada keramaian orang-orang yang sedang memperhatikan pertengkaran seorang gadis dan seorang lelaki yang terlihat bersitegang.
"Dasar perempuan murahan!! Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu yang telah mengambil kantong uangku?" Lelaki yang berpenampilan seperti orang terpelajar itu terlihat marah pada gadis yang hanya menatapnya.
"Kembalilah pada istrimu dan katakan padanya kalau kantong uangmu telah tertinggal di rumah bordil." Gadis itu kemudian membalikan tubuhnya dan bermaksud meninggalkan lelaki itu.
Orang-orang terus memandangi mereka terutama lelaki itu. "Apa kalian tidak percaya padaku? Dia adalah ******* yang sudah mengambil uangku." Lelaki itu masih membela diri walau orang-orang sudah tidak peduli lagi dengannya.
Karena merasa diacuhkan, lelaki itu kemudian berlari ke arah gadis itu dan menarik hanfunya hingga robek. "Lihat ******* ini. Apa kalian masih percaya dia wanita baik-baik?"
Gadis itu terlihat bingung karena hanfu yang di kenakannya telah robek hingga memperlihatkan punggungnya.
"Hah, dasar lelaki sialan!! Apa ini sambutan yang aku terima di negeri yang katanya makmur?" batin Raja Wu Lai sambil turun dari atas kudanya. Lelaki itu mengambil sebuah hanfu yang dipajang di salah satu toko dan menutupi tubuh gadis itu.
Melihat seorang pemuda yang membantu gadis itu membuat lelaki itu tersenyum sinis. "Apa kamu juga salah satu pelanggannya?"
Tanpa berkata apa-apa, Raja Wu Lai mendekatinya dan mulai menghajarnya. Dengan sekali tamparan, lelaki itu terjerembab ke tanah dengan salah satu pipi yang memerah.
"Apa karena ditolak olehnya, kamu nekat membuat dia malu? Aku sudah sering melihat lelaki sepertimu dan kamu tahu apa yang aku lakukan pada mereka? Mereka aku bunuh," bisik Raja Wu Lai di dekat telinganya hingga membuat wajahnya memucat.
Lelaki itu kemudian berdiri dan lari meninggalkan tempat itu dengan perasaan takut.
"Nona tidak apa-apa, kan?"
Gadis itu mengangguk. Tampak sebuah senyuman yang terlihat menawan terukir di sudut bibirnya. "Terima kasih karena Tuan sudah menolongku." Gadis itu menunduk di depan Raja Wu Lai.
"Pakailah hanfu itu, aku sudah membelikannya untukmu."
Gadis itu kembali menunduk dan mengucapkan terima kasih. Sambil menutupi tubuhnya, gadis itu masuk ke dalam toko dan mengganti hanfu yang sudah robek itu dan menggantinya dengan hanfu pemberian Raja Wu Lai.
Hanfu berwarna merah itu terlihat serasi di tubuhnya. Gadis itu terlihat cantik saat memakai hanfu itu hingga membuat Raja Wu Lai menjadi kagum. "Hmm, ternyata dia cukup cantik."
"Tuan, terima kasih. Aku akan membayar gaun ini, tapi belum sekarang. Aku harap, Tuan bisa bersabar, setelah aku mendapatkan upah dari menari nanti, aku pasti langsung membayarnya pada Tuan." Gadis itu kembali menunduk.
"Aku ingin kamu membayarku sekarang." Gadis itu tercekat.
"Tapi, Tuan, untuk saat ini aku tidak punya uang."
"Aku tidak ingin uangmu, tapi bisakah kamu membayarnya dengan menari di depanku?"
Gadis itu tampak berpikir. "Baiklah, aku akan membayarnya dengan tarian karena aku tidak ingin berhutang pada Tuan."
"Kalau begitu, di mana aku bisa melihat tarianmu itu?"
"Ikut denganku."
Mereka kemudian pergi ke sebuah bangunan yang cukup mewah. Di tempat itu, terlihat gadis-gadis muda yang sedang menari.
"Kakak Huanran, Kakak dari mana saja? Kami sudah menunggu dari tadi." Seorang gadis yang baru berumur 13 tahun datang menghampirinya.
"Kakak minta maaf, karena Kakak terlambat. Pergilah pada teman-temanmu dan bersiaplah. Sebentar lagi Kakak akan ke sana." Gadis itu mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Tuan, ini adalah Wisma Tari Hua Feng. Aku tinggal di sini dan mengajari anak-anak untuk menari. Tak hanya itu, kami di sini biasa melayani undangan untuk menari, tapi sekali lagi kami bukan *******. Lelaki seperti tadi sudah biasa aku dapati, karena itu aku tidak terlalu peduli padanya." Gadis itu yang ternyata Huanran berusaha untuk menjelaskan tentang profesi mereka yang terkadang dianggap rendah oleh sebahagian orang.
"Ayo, Tuan. Tuan bisa menyaksikan tarian di dalam." Ajak Huanran menuju suatu ruangan yang cukup luas. Pemuda itu duduk di salah satu bangku dan melihat Huanran yang mulai menari bersama anak-anak itu.
Tarian Huanran sangat indah hingga membuat Raja Wu Lai terpikat. Gemulai tubuhnya sesuai dengan irama kecapi yang dimainkan oleh salah seorang gadis. Ditambah dengan penghayatan gerakannya yang membuat Raja Wu Lai memandangnya takjub. "Ternyata dia sangat lihai dalam menari. Tak hanya wajahnya yang cantik, rupanya dia juga memiliki hati yang lembut." Raja Wu Lai masih memandanginya tanpa kedip hingga tarian itu selesai.