
Di aula istana, tampak suasana mulai ramai dengan kehadiran para perdana menteri dan pejabat istana. Hari ini, akan dilaksanakan pengangkatan Jenderal Wang Li menjadi raja.
Di kediaman pribadinya, Jenderal Wang Li tampak terlihat berwibawa dengan jubah raja yang kini dipakainya. Dia terlihat tampan dan gagah. Sedangkan Putri Yuri yang mengenakan jubah Permaisuri juga terlihat anggun dan cantik.
Mereka berdua kemudian menuju ke aula istana. Di sana, semua pejabat istana sudah menunggu mereka. Di depan mereka, semua orang menunduk memberi hormat. Putri Yuri tampak tersenyum saat orang-orang itu menunduk memberi hormat padanya.
Seorang kasim, datang dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sebuah mahkota. Mahkota yang berhias berlian dan batu zamrud berwarna ungu yang terlihat mewah.
Kasim itu kemudian maju di depan Jenderal Wang Li dan memakaikan mahkota itu di atas kepalanya. Sontak, semua orang di tempat itu langsung memberi hormat dan berlutut di depannya. "Hormat kami, Yang Mulia," ucap mereka serempak.
Jenderal Wang Li tampak tersenyum dan dipersilakan untuk duduk di atas tahta dengan Putri Yuri yang duduk di sampingnya. Kini, gelar kaisar di sematkan untuk Jenderal Wang Li dan Permaisuri untuk Putri Yuri.
"Yang Mulia, kami siap melayani, Yang Mulia," ucap semua pejabat istana bersamaan dengan kepala menunduk.
Karena keberhasilannya menyatukan Wilayah Dataran Timur dengan Kerajaan Xia membuat Jenderal Wang Li mendapat gelar kaisar. Terlebih lagi dengan dijadikannya Putri Yuri sebagai permaisurinya yang membuat semua penduduk Wilayah Dataran Timur akhirnya bersumpah setia di bawah Kerajaan Xia.
Penduduk Wilayah Dataran Timur tampak bersuka cita menyambut kabar gembira tentang ketua mereka yang kini telah menjadi Permaisuri Kerajaan Xia. Penduduk wilayah itu begitu bersuka ria hingga mengadakan pesta yang cukup besar.
Tak hanya itu, rupanya Putri Yuri telah mempersiapkan beberapa orang yang dianggapnya mempunyai andil dalam menjaga keutuhan Wilayah Dataran Timur untuk diangkatnya menjadi pejabat istana dan salah satunya adalah Yuan.
Di saat Putri Yuri tersenyum puas karena telah berhasil menjadi Permaisuri, Mei Yin di dalam kamarnya terlihat murung dan bersedih. Kerajaan yang beberapa tahun ini dijaga oleh mendiang suaminya kini jatuh ke tangan orang-orang yang egois. "Suamiku, apa yang harus aku lakukan? Aku takut jika kerajaan yang selama ini kita jaga akan hancur di tangan mereka. Apa yang seharusnya aku lakukan?" batin Mei Yin sedih.
Sementara Liang Yi juga merasakan hal yang sama. Mendengar lelaki yang sudah membuat sahabatnya mati dan menderita kini telah menjadi raja membuat dia naik darah. Dan ingatannya pada Mei Yin kini kembali hadir karena dia tahu kalau lelaki itu mencintai Mei Yin. "Mei Yin, apa yang akan terjadi padamu? Apakah di sana kamu baik-baik saja?"
Setelah upacara pengangkatan dirinya menjadi raja telah selesai, Kaisar Wang akhirnya memutuskan untuk mengumumkan tentang status Mei Yin kepada semua pejabat istana saat acara minum-minum bersama. "Ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua," ucap Kaisar Wang yang membuat semua pejabat memandang ke arahnya.
"Apa yang ingin Yang Mulia katakan, kami akan mendengarkan," jawab salah satu pejabat istana.
Kaisar Wang mengambil gelas yang berisikan arak kemudian diteguknya. "Aku akan menjadikan janda mendiang Raja Zhao Li sebagai istriku," ucapnya yang tiba-tiba membuat semua pejabat menatap heran ke arahnya. Permaisuri yang juga berada di tempat itu langsung menatap ke Kaisar Wang yang terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
"Maaf, Yang Mulia. Tolong tarik kembali keputusan Yang Mulia," ucap semua pejabat istana sambil berlutut di depannya.
"Aku tidak akan menarik keputusanku ini. Aku akan menjadikan Permaisuri Mei Yin sabagai istriku. Aku akan segera menikahinya dan kalian tidak bisa menghalangiku," ucap Kaisar Wang tegas. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat mereka terdiam.
Sementara Permaisuri yang duduk di sampingnya mulai gelisah. Dia tidak menyangka kalau suaminya itu akan nekat memperistri janda dari mendiang raja sebelumnya.
"Yang Mulia, tolong tarik keputusan itu. Apa yang akan dikatakan oleh seluruh rakyat negeri ini kalau mereka tahu janda mendiang raja telah diperistri oleh Yang Mulia. Negeri kita akan ditimpa musibah jika kita melakukan hal yang terlarang dan tercela ini," ucap Perdana Menteri Qing Ruo yang begitu terkejut mendengar penuturan Kaisar Wang.
Perdana menteri senior itu sangat mengenali Mei Yin dan dia tahu tidak mungkin wanita itu akan menerima Kaisar Wang menjadi suaminya. Dia tahu Mei Yin sangat mencintai mendiang Raja Zhao Li dan tidak mungkin Mei Yin akan menikah lagi walaupun kini dia telah menjanda.
"Tutup mulutmu itu!! Apa kamu menganggapku manusia tercela?" Kaisar Wang tampak marah saat Perdana Menteri Qing Ruo mengatakan kalau pernikahannya dengan Mei Yin adalah perbuatan yang tercela.
Wajahnya memerah dengan tatapan mata yang terlihat kejam. Kaisar Wang tidak pernah main-main dengan ucapannya dan keputusannya untuk menikahi Mei Yin tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
"Prajurit!! Seret orang tua ini masuk ke dalam penjara. Aku tidak akan membiarkan mulut besarnya itu menghinaku dan Permaisuri Mei Yin!!" Perintah Kaisar Wang.
Beberapa orang prajurit kemudian datang menghampiri perdana menteri senior itu dan menangkapnya. "Yang Mulia, hamba mohon. Urungkan niat Yang Mulia," ucap Perdana Menteri Qing Ruo saat dibawa paksa oleh prajurit-prajurit itu.
"Yang Mulia, hamba mohon, pikirkan kembali keputusan Yang Mulia," ucap lelaki tua itu yang mulai menjauh, tapi Kaisar Wang tidak bergeming dengan keputusannya itu.
Melihat Perdana Menteri Qing Ruo yang ditangkap karena menolak menerima keputusan Kaisar Wang membuat perdana menteri dan pejabat istana lainnya memilih untuk bungkam. Mereka diam dan tidak lagi berani bersuara.
"Siapa lagi yang ingin menentang keputusanku ini? Aku tidak meminta apapun, aku hanya ingin menjadikan Permaisuri Mei Yin sabagai istriku. Jika ada yang keberatan, lebih baik katakan sekarang juga padaku!!" ucap Kaisar Wang sambil menatap mereka dengan sorot matanya yang tajam.
Ruangan itu hening, diam tak bersuara. "Aku akan menganggap keputusanku ini telah final dan aku tidak ingin mendengar pembicaran tentang keputusanku ini di belakangku. Jika aku menemukan orang-orang yang mencela keputusanku ini, maka aku sendiri yang akan menghukumnya dengan hukuman mati karena telah menghina Kaisar," ucapnya membuat semua orang yang ada di tempat itu saling memandang.
Permaisuri Yuri mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Kaisar Wang. Walaupun dia ingin membantah, tapi dia sendiri takut dengan lelaki itu hingga membuatnya diam.
Kaisar Wang akhirnya bangkit dan meninggalkan tempat itu. Permaisuri Yuri berjalan di belakangnya. "Suamiku, kenapa kamu ingin menikahinya? Biarkan saja dia menjadi selirmu, tapi kenapa kamu harus menikahinya?" tanya Permaisuri Yuri yang membuat langkah Kaisar Wang terhenti.
"Itu adalah urusanku. Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bukankah menjadi permaisuri negeri ini adalah keinginanmu? Dan kamu tahu apa yang aku inginkan, yaitu untuk menjadikannya sebagai istriku. Kenapa sekarang kamu mempertanyakan keputusanku ini?"
"Apa kamu lupa tujuan kita menikah? Kamu sudah mendapatkan gelar permaisuri dan aku hanya ingin memiliki Mei Yin menjadi istriku. Bagaimana mungkin wanita yang aku cintai akan aku jadikan sebagai selir? Dia tidak pantas untuk itu karena dia wanita yang sangat istimewa bagiku. Permaisuri, lakukan saja apa yang sudah menjadi tugasmu dan jangan membantah keputusanku. Kalau kamu keberatan, tanggalkan saja gelarmu dan kembalilah ke Wilayah Dataran Timur. Aku tidak butuh wanita cengeng menjadi permaisuriku. Kalau tidak suka, maka pergilah dan kamu tidak akan lagi pernah bisa ada di sisiku," ucap Kaisar Wang yang kemudian pergi meninggalkannya.
Permaisuri Yuri tercekat. Walau marah dan rasa cemburu menguasai hatinya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan Kaisar Wang yang akan menikahi wanita yang sangat dibencinya itu.
Dia tidak ingin kehilangan statusnya sebagai permaisuri dan dia juga tidak ingin kehilangan Kaisar Wang yang membuatnya harus menerima keputusan suaminya itu.
Sementara di halaman kediaman kamar pribadinya, Mei Yin tampak memandangi aneka bunga yang bermekaran. Bunga-bunga itu tampak indah dengan aneka warna dan semerbak harum serbuk sari yang terbawa angin.
Wajahnya terlihat sedih, tapi dia tidak ingin menampakkan kesedihannya itu. Dia tidak ingin terlihat rapuh karena dia harus mampu untuk bertahan.
"Adik Mei, apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Kaisar Wang yang sudah berdiri di sampingnya. Melihat lelaki itu yang kini telah memakai jubah raja membuat Mei Yin segera menunduk dan memberi hormat padanya.
"Maaf, Yang Mulia. Aku hanya sedang memandangi bunga-bunga cantik itu," jawab Mei Yin spontan.
Melihat Mei Yin yang menunduk memberi hormat padanya membuat Kaisar Wang tersenyum. "Jangan menunduk seperti itu di depanku, bukankah aku pernah mengatakan kalau aku tidak ingin melihat wajahmu menunduk di depanku?" Mei Yin perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Kaisar Wang yang spontan memeluknya.
"Aku akan menjadikanmu sebagai istriku. Kita akan menikah dan aku akan memberimu gelar Permaisuri," ucap Kaisar Wang yang membuat Mei Yin terkejut. Dia tidak menyangka kalau Kaisar Wang mampu melakukan hal yang baginya tidak mungkin dilakukan bahkan oleh seorang raja sekalipun karena itu telah menyalahi peraturan istana yang sudah dibuat sejak kerajaan itu berdiri.
"Yang Mulia, jangan lakukan itu. Aku tidak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Permaisuri Yuri. Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu ditentang. Aku tidak mengapa jika harus dijadikan selirmu karena aku tidak ingin lagi menghindar darimu," ucap Mei Yin sambil berlutut di depannya.
"Bangkitlah, jangan berlutut di depanku. Adik Mei, aku senang jika kamu akhirnya bisa menerimaku. Baiklah, aku akan ikuti kemauanmu. Kita akan segera menikah dan mulai saat ini kamu akan dipanggil Nyonya Wang. Aku rasa itu adalah panggilan yang terhormat untukmu karena kamu akan menjadi istriku," ucap Kaisar Wang dengan senyumnya yang terlihat sumringah sambil memeluk Mei Yin yang kini tengah menitikkan air mata karena dia telah bertekad untuk memulai permainannya.
Mei Yin akan melakukan apa saja untuk menjaga negerinya dari orang-orang yang rakus akan kekuasaan. Dia akan memanfaatkan rasa cinta Kaisar Wang padanya dan menjadi wanita yang paling dicintai oleh lelaki itu. Dia telah bertekad untuk membuat Kaisar Wang tidak berkutik dan akan mengikuti apapun permintaannya. Selama itu untuk kebaikan negerinya dan untuk membalaskan dendamnya, dia rela mengorbankan perasaan dan juga tubuhnya.
Dua hari setelah menjadi raja, Kaisar Wang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Mei Yin. Upacara pernikahan itu dilaksanakan di aula istana dan dihadiri oleh seluruh pejabat istana dan perdana menteri.
Kaisar Wang sengaja mengadakan upacara pernikahannya di depan semua pejabat istana untuk menguatkan keputusannya. Dia akan menjadikan Mei Yin sebagai istrinya yang sah bukan sebagai seorang selir yang hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu semata. Baginya, Mei Yin pantas untuk mendapatkan perlakuan istimewa karena dialah wanita pertama yang sudah menggoyahkan hatinya.
Di dalam kamarnya, Mei Yin terlihat cantik dengan balutan hanfu berwarna merah. Wajahnya terlihat cantik walau tanpa senyuman di bibirnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Nyonya, apakah Nyonya sudah yakin dengan keputusan Nyonya?" tanya Dayang Ling yang paham dengan perasaan Mei Yin saat ini.
"Dayang Ling, hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku hanya harus berpura-pura tersenyum di depannya. Aku hanya harus merelakan tubuhku menjadi miliknya agar balas dendamku bisa aku lakukan. Dayang Ling, apakah mendiang suamiku akan memaafkanku atas apa yang aku lakukan ini?" tanya Mei Yin yang tiba-tiba memeluk wanita itu dan menangis di pelukannya.
Dayang Ling ikut menitikkan air mata dan mengelus lembut punggungnya "Nyonya, aku yakin Yang Mulia pasti akan memaafkan Nyonya. Aku akan selalu bersama dengan Nyonya hingga hari di mana Pangeran akan datang menjemput Nyonya. Untuk saat ini, Nyonya hanya perlu bersabar dan aku yakin Dewa pasti akan membantu Nyonya," ucap Dayang Ling yang membuat Mei Yin memeluknya erat.
Saat ini, hanya Dayang Ling yang menjadi temannya. Sejak ditempatkan di kamar pribadi Kaisar Wang, Mei Yin terkurung tanpa bisa berinteraksi dengan dayang lainnya. Dia seakan diisolasi dari dunia luar hanya karena keegoisan Kaisar Wang.
Di aula istana, semua pejabat istana dan perdana menteri telah hadir. Tidak satupun dari mereka yang menolak untuk hadir karena itu bisa menjadi akhir dari hidup mereka.
Kaisar Wang terlihat tampan dan gagah dengan jubah pengantin berwarna merah terang yang dipakainya. Di depan dua orang pendeta, Kaisar Wang berdiri dan menantikan kehadiran Mei Yin.
Tak lama kemudian, Mei Yin datang bersama Dayang Ling yang berjalan di sampingnya. Mei Yin terlihat anggun saat berjalan mendekati Kaisar Wang yang tengah memandanginya.
Kedatangan Mei Yin membuat semua orang memandanginya. Mereka masih tidak percaya kalau permaisuri yang terkenal sangat mencintai suaminya, yaitu mendiang Raja Zhao Li kini telah dinikahi lelaki lain.
Sementara Permaisuri Yuri memilih untuk tidak hadir di pernikahan itu. Dia tidak ingin melihat wanita yang dibencinya itu bersanding dengan suaminya.
Kaisar Wang dan Mei Yin saling menunduk memberi hormat setelah upacara pernikahan selesai. Lelaki itu tampak tersenyum saat Mei Yin menunduk memberi hormat padanya. Tanda hormat dari seorang istri untuk suaminya.
Kaisar Wang terlihat bahagia dengan senyum yang selalu menghiasi sudut bibirnya. Keinginannya untuk memiliki Mei Yin secara utuh kini telah menjadi kenyataan. Penantiannya untuk hidup bersama dengan wanita yang dicintainya itu telah berakhir.
Baginya, Mei Yin adalah hidup dan cintanya. Dia akan menjaga wanita itu dengan segenap jiwa dan raganya. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, dan dia akan melakukan apa saja untuknya.
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Di dalam kamarnya, Mei Yin duduk menatap wajahnya di depan cermin. Ada sedikit rasa bersalah yang mengganggu hatinya hingga membuat air bening menggantung di pelupuk matanya. "Suamiku, maafkan aku. Izinkan aku untuk melakukan ini semua. Kebersamaan kita di dunia ternyata tak lama, tapi aku akan menebusnya nanti saat aku telah berhasil membalaskan dendammu. Aku akan menemuimu dan selamanya kita akan bersama dan tidak akan pernah berpisah." Mei Yin menghapus air matanya seiring dengan pintu kamarnya yang perlahan terbuka.
Kini, di depannya Kaisar Wang menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan dia membalas dengan sebuah senyuman kepura-puraan yang mengembang terpaksa di sudut bibirnya.