The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 19



Mei Yin dan Raja Zhao Li saling menggenggam tangan dengan erat. Tatapan mereka masih menjurus ke arah perampok-perampok itu. Andai Mei Yin tak bersamanya, perampok-perampok itu dengan mudahnya akan dia kalahkan, tapi dia tidak bisa bergerak dengan bebas karena dia takut perampok-perampok itu akan melukai Mei Yin.


"Mei Yin, tetaplah di belakangku. Aku akan melindungimu," ucap Raja Zhao Li sambil menunduk dan mengambil dua buah pedang yang teronggok di atas tanah. Di masing-masing tangannya kini tergenggam pedang dengan eratnya.


Tiba-tiba, tiga orang perampok mulai mendekati mereka dan menyerang Raja Zhao Li. Dengan lincahnya, Raja Zhao Li menangkis serangan tiga orang perampok itu yang mengarah pada tubuhnya. Pedang yang saling beradu menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Sementara pedang yang satunya menebas ke arah perut salah satu perampok hingga membuatnya tersungkur bersimbah darah.


Raja Zhao Li kemudian melakukan gerakan berputar dan menumpu pada  tubuh salah satu perampok dan menendang ke arah perut salah satu perampok lainnya hingga terpental ke belakang. Sementara perampok yang menjadi tumpuannya kini terkapar dengan leher yang sudah patah.


Melihat ke tiga teman mereka dengan mudah dikalahkan oleh Raja Zhao Li membuat mereka semakin geram. Perampok yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang itu mulai merangsek maju bersamaan.


Melihat mereka maju secara bersamaan membuat Raja Zhao Li begitu mengkhawatirkan Mei Yin. Bagaiman bisa dia melawan mereka kalau Mei Yin ketakutan di belakangnya.


Mei Yin yang melihat Raja Zhao Li mulai terdesak segera mengambil sebuah pedang yang ada di atas tanah. Walau tangannya gemetar, tapi dia harus bisa bertahan. "Pergi kalian!!?? Apa kalian tidak tahu siapa kami? Aku adalah Permaisuri Mei Yin dan dia adalah Raja Zhao Li. Kalau kalian melepaskan kami, aku berjanji akan memberikan apapun yang kalian inginkan," ucap Mei Yin sambil membuka penutup wajahnya dan pedang yang dia arahkan pada perampok-perampok itu. Bukannya mereka takut, tapi mereka malah menertawakannya.


"Apa kalian pikir kami akan percaya ucapanmu itu? Mana ada raja dan permaisuri yang keluar dari kerajaan tanpa ada pengawalan? Kalian hanya membuat alasan agar kami takut. Iya, kan?" Perampok itu tersenyum sinis karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mei Yin.


"Sudahlah, Ketua. Kita habisi saja mereka. Rasanya, tanganku sudah gatal ingin membunuh mereka. Lihat saja teman-teman kita yang tewas di tangan lelaki itu. Rupanya dia cukup hebat, tapi aku ingin lihat apakah dia mampu melawan jika kita menyerangnya bersama-sama. Teman-teman, jangan bunuh lelaki itu, cukup lumpuhkan dia karena aku ingin dia melihat bagaimana wanita yang dia cintai itu kita perkosa di depannya. Aku ingin lihat apa dia masih bisa menjaga wanita itu dengan tangannya sendiri. Aku yang akan lebih dulu menikmati tubuh wanita itu dan arghhh ... " Darah kental terpancar dari mulutnya. Tampak sebuah anak panah melesat dari balik semak dan menghujam tepat di dalam mulutnya hingga tembus di belakang kepalanya. Lelaki itu kemudian tersungkur dengan darah yang mengucur deras dari mulut dan belakang kepalanya itu.


Mei Yin terperanjat kaget saat melihat lelaki itu tumbang dengan anak panah yang menancap di mulutnya. Seketika, Raja Zhao Li meraih tubuh Mei Yin dan menyembunyikan wajah istrinya itu di belakang punggungnya. "Menunduklah, jangan angkat kepalamu. Aku pikir saat ini kita sudah aman. Ada orang baik yang ingin menolong kita," ucap Raja Zhao Li yang berusaha menenangkan istrinya itu.


Melihat teman mereka tewas dengan mengenaskan membuat mereka mundur ke belakang. Pandangan mata mereka mencari-cari sumber anak panah itu. "Keluarlah dan hadapi kami. Kalau tidak, mereka berdua akan segera mati di tangan kami," teriak ketua perampok itu yang menyadari kalau pemilik anak panah itu hanyalah satu orang dan itu berarti mereka masih sanggup membunuh Raja Zhao Li dan Mei Yin.


Karena tidak ada jawaban, perampok-perampok itu kembali maju dan mendekati Raja Zhao Li dan Mei Yin, tapi langkah mereka kembali terhenti saat sebuah anak panah melesat di depan mereka dan tertancap di tanah seakan itu sebagai isyarat kalau dia tidak akan membiarkan mereka mendekati Raja Zhao Li dan Mei Yin.


"Dasar brengsek!!? Tunjukkan wujudmu, kalau ingin melihat mereka selamat, tunjukkan dirimu!!??" teriak ketua perampok itu yang mulai geram.


Karena tidak mendapat respon, perampok-perampok itu akhirnya maju secara bersamaan dan berlari mendekati Raja Zhao Li dan Mei Yin sambil mengayunkan pedang mereka. Sosok di balik semak-semak itu terlihat panik dan ingin keluar dari tempat persembunyiannya, tapi langkahnya terhenti saat melihat tiga orang berkuda yang tiba-tiba datang. Melihat Raja Zhao Li dan Mei Yin akan diserang membuat ketiga orang itu segera melompat dari atas kudanya dan menghadang perampok-perampok itu.


"Yang Mulia, cepat pergi dari sini. Biar kami yang akan mengurus mereka," ucap seorang lelaki yang ternyata adalah pengawal pribadinya.


"Pergilah Adik Zhao, bawa Adik Mei Yin kembali ke istana." Suara itu membuat Raja Zhao Li tersenyum dan mengangguk.


"Ayo, kita pergi dari sini," ucap Raja Zhao Li sambil mengangkat tubuh Mei Yin dan mendudukannya di atas kuda. Mereka kemudian pergi dan meninggalkan ketiga orang itu yang masih bertarung dengan para perampok itu.


"Kalian berdua pergilah dan lindungi Yang Mulia dan Permaisuri. Biar aku yang akan menghadapi mereka," ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Jenderal Wang Li.


"Tapi, Jenderal ... "


"Pergilah!!? Biar aku yang akan mengurus mereka!!?" ucapnya dengan suaranya yang tegas.


"Baiklah, Jenderal." Kedua orang itu kemudian pergi dan mengejar Raja Zhao Li dan Mei Yin, sementara Jenderal Wang Li masih bertarung dengan perampok yang hanya tersisa lima orang.


Melihat keganasan lawan di depan mereka membuat kelima perampok itu menjadi gentar. Mereka termundur ke belakang dan memohon pengampunan agar nyawa mereka diampuni, tapi rasanya itu hanya sia-sia.


"Apa kalian memohon ampun padaku? Aku akan mengampuni kalian jika orang lain yang kalian ganggu, tapi aku tidak akan membiarkan kalian hidup karena kalian telah mengganggu orang yang aku cintai. Apa kalian puas karena membuat wanita yang aku cintai ketakutan???!!" Suara Jenderal Wang Li yang berteriak membuat ke lima perampok itu bergidik ketakutan. Namun, sosok yang ada di balik semak lebih terkejut lagi dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa aku tidak salah dengar? Apa wanita yang dia cintai itu adalah Mei Yin? Ah, tidak mungkin. Pendengaranku pasti salah, itu tidak mungkin!!" Batin orang itu yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Jenderal Wang Li dengan mudahnya mengayunkan kedua pedang yang ada di tangannya hingga menebas perut dua orang perampok secara bersamaan. Darah segar terpancar ke wajahnya hingga membuat dia menyeringai. "Kenapa? Apa kalian sekarang merasa takut? Aku akan membalas karena kalian sudah membuat dia ketakutan dan aku akan membuat kalian merasa ketakutan hingga kalian akan membunuh diri kalian sendiri," ucap Jenderal Wang Li pada tiga orang perampok yang tersisa.


"Tuan, ampunkan kami. Kami hanya aarrgghh..." Kalimat perampok itu terhenti karena lehernya tiba-tiba mengeluarkan darah hingga membuat lehernya hampir terlepas dari tubuhnya.


Dua orang perampok yang masih berlutut di depan Jenderal Wang Li tampak bergidik hingga membuat mereka kencing di celana. Melihat mereka ketakutan, membuat Jenderal Wang Li semakin tertawa puas. "Baiklah, rasanya aku sudah bosan bermain-main dengan kalian. Pergilah, aku akan izinkan kalian untuk pergi," ucap Jenderal Wang Li sambil membalikkan tubuhnya. Kedua orang perampok itu saling memandang dan mengangguk. Mereka kemudian berdiri dan segera berlari, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti dengan tubuh yang sudah terjerembab ke tanah dengan pedang yang sudah tertancap di punggung mereka.


"Sebaiknya, dari awal kalian tidak bertemu denganku karena aku tidak akan main-main dengan orang yang sudah membuat aku marah," ucap Jenderal Wang Li sambil mencabut pedangnya dari punggung mereka hingga darah segar terpancar. Tak cukup sampai di situ, tubuh yang masih bergerak itu tak luput dari tebasan pedang Jenderal Wang Li hingga tubuh itu diam dan tak lagi bergerak.


"Aaarrrrggghhhh," teriak Jenderal Wang Li yang meluapkan amarahnya. Dia kemudian berlari menuju kudanya dan memacu kudanya itu dengan cepat.


Sosok yang sedari tadi menyaksikan kebengisan Jenderal Wang Li kemudian keluar dari balik semak dan berjalan menuju mayat-mayat yang sudah terkapar itu. Melihat kondisi mereka yang mengenaskan membuat sosok itu semakin yakin kalau lelaki yang tadi dilihatnya itu ternyata orang yang sangat kejam. "Apa aku harus bertanya pada Zhao Li tentang lelaki itu? Apa benar dia mencintai Mei Yin hingga membuat dia menjadi kejam seperti ini?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Liang Yi.


Untuk sesaat, dia menjadi bingung dengan kenyataan yang kini dihadapinya. Mana mungkin lelaki itu mencintai permaisurinya sendiri dan bisa bertahan di dekat raja dan permaisuri. Apa itu berarti, dia bisa saja melukai Raja Zhao Li agar bisa memiliki Mei Yin?


Liang Yi tidak ingin memikirkan hal buruk itu. Dia ingin membuang prasangka itu jauh-jauh, tapi ucapan lelaki itu membuatnya tidak nyaman.


"Tuan Liang Yi, Anda tidak apa-apa?" tanya Zu Min yang baru saja datang.


"Aku tidak apa-apa. Untunglah kamu cepat memberitahu mereka, kalau tidak, Raja Zhao Li dan Permaisuri Mei Yin pasti sudah terluka, terima kasih," ucap Liang Yi sambil menepuk pundak lelaki itu. "Ayo kita pergi."


Rupanya, Liang Yi dan Zu Min mengikuti Raja Zhao Li dan Mei Yin secara diam-diam. Setidaknya, dia ingin melindungi mereka hingga sampai di dekat gerbang kerajaan, tapi dia merasa terusik saat melihat mereka dihadang oleh sekelompok perampok di tengah jalan.


Awalnya, mereka ingin membantu, tapi melihat jumlah para perampok yang terlalu banyak membuat Liang Yi memerintahkan Zu Min untuk menghubungi pengawal pribadi Raja Zhao Li di kerajaan. Walau awalnya mereka tidak percaya, tapi saat Zu Min menyebutkan nama Liang Yi, pengawal pribadi itu langsung bergerak dan tanpa sengaja Jenderal Wang Li mendengar perihal berita tersebut hingga diapun memilih ikut bersama pengawal pribadi raja.


Jenderal Wang Li memacu kudanya dengan cepat. Ada rasa khawatir yang terlihat dari wajahnya. Dan itu bukan kepura-puraan karena dia benar-benar merasa cemas karena memikirkan wanita yang sudah membuatnya menjadi gila. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan membunuh siapapun yang mencoba menyakitimu," gumamnya dengan wajahnya yang memerah.


Setibanya di gerbang kerajaan, Jenderal Wang Li lantas melompat dari atas punggung kudanya dan segera berlari menuju ke villa bunga. Matanya memerah menahan air mata dengan kecemasan yang mengganggu hatinya. "Adik Zhao, Adik Mei Yin tidak apa-apa, kan?" tanya Jenderal Wang Li saat masuk ke dalam ruangan di mana Raja Zhao Li sedang duduk dengan seorang tabib.


"Kakak Wang, terima kasih karena sudah menolong kami. Saat ini, Mei Yin sedang beristirahat. Sepertinya, dia masih merasa ketakutan hingga membuatnya tidak tenang. Untung tabib sudah memberikan ramuan obat untuknya dan sekarang dia sudah bisa tidur," jelas Raja Zhao Li yang membuat Jenderal Wang Li mengepalkan kedua tangannya.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Jenderal Wang Li sambil duduk dan mengembuskan nafasnya.


"Kakak Wang, terima kasih."


"Sudahlah, aku adalah kakakmu dan aku akan selalu menolong adik-adikku. Bukankah, seorang kakak sepantasnya menjaga adik-adiknya?" Mendengar ucapan Jenderal Wang Li membuat Raja Zhao Li tersenyum.


"Kakak sebaiknya beristirahat dan membersihkan tubuh Kakak. Jangan buat Mei Yin kembali ketakutan karena melihat darah di wajah dan di baju Kakak," ucap Raja Zhao Li yang membuat Jenderal Wang Li melihat ke bajunya yang ternyata penuh dengan percikan darah.


"Sebaiknya, aku harus cepat-cepat pergi sebelum Adik Mei Yin melihatku dalam keadaan seperti ini." Jenderal Wang Li kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Jenderal Wang Li menatap dirinya di cermin. Noda darah tampak mulai mengering di wajahnya itu. Tampak senyum kepuasan saat melihat noda darah yang sudah mengering. "Kalian pantas untuk mati. Siapapun yang mengganggunya akan berakhir di tanganku," ucap Jenderal Wang Li sambil membuka bajunya yang penuh dengan darah.


Tubuh polosnya kemudian masuk kedalam bak mandi yang sudah terisi dengan air hangat. Lelaki itu kemudian mencelupkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Kekuatan nafasnya ternyata cukup hebat hingga membuatnya sanggup bertahan di dalam air selama hampir sepuluh menit.


Jenderal Wang Li kemudian mengangkat kepalanya. Terlihat wajah lelaki itu sangat tampan. Rambut panjangnya terurai basah dengan sebuah senyuman yang terlukis indah di sudut bibirnya. "Aku pasti akan memilikimu. Wajah cantikmu itu hanya akan tersenyum untukku. Tarianmu yang indah itu, hanya akan kamu persembahkan untukku dan tubuhmu akan selamanya ada dalam pelukanku," ucapnya dengan sebuah senyum yang penuh keyakinan. Keyakinan yang membuat dia tetap bertahan dalam kepura-puraan yang entah kapan kepura-puraannya itu akan menjadi sebuah kenyataan.