The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 56



Dari tempatnya berdiri, Chen Li dapat melihat seorang wanita yang dirangkul mesra oleh Kaisar Wang. Walau dia melihat dari jauh, tapi dia bisa merasakan kalau wanita itu adalah ibunya.


Pandangan matanya dia alihkan dengan kepala yang kemudian menunduk. Rasanya, dia tidak mampu menatap wajah ibunya, hingga membuatnya menunduk dengan menahan air mata yang berusaha untuk mencari jalan keluar. "Ibu, sungguh aku sangat merindukanmu. Apakah, Ibu masih mengenaliku?" batin Chen Li yang berusaha untuk tegar.


"Hormat kami, Yang Mulia," ucap Chen Li dan Yuwen hampir bersamaan. Kedua pemuda itu menundukan kepala sembari memberi hormat.


"Istriku, mereka berdua adalah anak muda yang sudah aku angkat menjadi pengawal pribadimu dan juga Guan Yin," jelas Kaisar Wang pada istri dan putrinya itu.


"Anak muda, angkat kepala kalian dan lihatlah istri dan putriku karena mulai saat ini nyawa mereka berdua akan menjadi tanggung jawab kalian. Jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, maka aku sendiri yang akan membunuh kalian," ucap Kaisar Wang yang terlihat tegas.


"Suamiku, sudahlah jangan menakuti mereka. Lagipula, mereka pasti akan menjagaku dan juga Guan Yin, benarkan?" tanya Mei Yin yang membuat kedua pemuda itu mengangguk dengan wajah yang belum diangkat. "Benar, Nyonya. Kami akan menjaga dan melindungi Nyonya dengan nyawa kami."


Mendengar ibunya memanggil Kaisar Wang dengan panggilan mesra membuat Chen Li tak tahan. Panggilan itu biasa dia dengar saat ibunya memanggil ayahnya dan kini panggilan itu dia dengar kembali, tapi untuk pembunuh ayahnya.


"Angkat wajah kalian. Bagaimana kami bisa mengenali kalian jika kalian hanya menunduk seperti itu?" ucap Guan Yin yang membuat Yuwen segera mengangkat kepalanya dan diikuti oleh Chen Li yang perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajah ibunya yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.


Sontak, dia terkejut karena wajah itu masih sama seperti yang terekam di dalam ingatannya. Tatapan mata ibunya yang penuh kasih, masih tetap sama. Senyum ibunya yang begitu dia rindukan, masih tetap sama. Walau terlihat sedikit rambut yang mulai memutih, tapi semuanya masih tetap sama. Tatapan hangat seorang ibu bisa dia rasakan. "Ibu, ini aku, Chen Li. Apakah, ibu tidak mengenaliku?" batin Chen Li yang berusaha menahan tangis.


"Bukankah, kamu yang telah menolong putriku dari amukan kuda waktu itu?" tanya Mei Yin saat melihat Yuwen.


"Maaf, Nyonya. Apa Nona yang waktu itu ... " Yuwen tidak melanjutkan kalimatnya dan mengalihkan pandangannya pada Guan Yin yang kini menatapnya.


"Iya, itu aku dan maaf, karena waktu itu aku belum sempat mengucapkan terima kasih padamu. Tuan, terima kasih karena sudah menolongku waktu itu," ucap Guan Yin sembari menunduk padanya dan membuat pemuda itu merasa tidak enak.


"Sudahlah, Nona. Aku mohon jangan menunduk padaku."


"Biarkan saja karena sepantasnya dia harus berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan hidupnya," ucap Mei Yin sambil mengalihkan pandangannya pada Chen Li karena sedari tadi pemuda itu hanya diam tanpa berkata apapun. "Anak muda, siapa namamu?" tanya Mei Yin yang membuat Chen Li terkejut.


"Maaf, Nyonya. Namaku Lian, Nyonya." Mendengar nama itu, Mei Yin tersenyum. Ingatannya kembali terusik saat mendengar nama itu. Nama seorang pemuda yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kali.


Mei Yin menatap wajah Chen Li seakan sedang mencari sesuatu di wajah itu. "Apa kalian berdua bersaudara?"


"Benar, Nyonya. Kami bersaudara, tapi tidak seayah," jawab Yuwen asal.


"Oh, begitu rupanya. Pantas saja, karena wajah kalian berdua tidaklah mirip." Mei Yin tersenyum dan mempersilakan kedua pemuda itu untuk duduk.


"Aku tidak ingin kalian merasa tertekan selama menjagaku dan juga putriku, karena kami tidak ingin menyusahkan kalian. Suamiku hanya terlalu menyayangi kami hingga meminta kalian untuk menjaga kami," ucap Mei Yin yang membuat Chen Li mengepalkan kedua tangannya karena melihat Kaisar Wang yang menggenggam tangan ibunya. Rasanya, dia ingin menghunuskan pedangnya dan memotong tangan lelaki itu karena sudah berani menyentuh ibunya.


"Istriku, maafkan aku. Aku harus pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para perdana menteri," ucap Kaisar Wang sambil memeluk tubuh Mei Yin seakan tidak peduli dengan tatapan kedua pemuda itu.


"Baik, pergilah."


"Kalian berdua tetaplah di sini. Mulai saat ini, kalian harus berada di tempat ini."


"Baik, Yang Mulia."


Kaisar Wang kemudian pergi. Sementara Guan Yin, duduk di dekat ibunya sambil melingkarkan tangannya di lengan ibunya itu. Gadis cantik itu terlihat begitu manja pada ibunya hingga membuat Chen Li merasa cemburu. "Ibu, aku juga menginginkan kasih sayangmu. Apa mungkin, tak sedikitpun Ibu mengenaliku?"


Mei Yin menatap wajah Chen Li yang sudah mengusiknya sedari tadi. Dari tatapan mata pemuda itu, dia seakan melihat tatapan dari Zhao Li hingga membuatnya menunduk dan menahan air mata agar tidak jatuh. "Ibu, ada apa?" tanya Guan Yin yang membuat Mei Yin terkejut.


Sambil tersenyum, Mei Yin menggeleng dan kembali menatap ke arah Chen Li. "Ah, tatapan matanya mengingatkanku padamu, suamiku. Wajah mereka berdua mengingatkanku padamu dan juga Liang Yi, apa mungkin mereka itu ... " batin Mei Yin dengan tatapan yang masih mengarah pada kedua lelaki itu.


"Nyonya, beristirahatlah. Aku sudah menyiapkan ubi rebus di dalam buat Nyonya," ucap Dayang Ling yang tiba-tiba datang.


"Dayang Ling, bawakan saja ke sini. Aku ingin makan bersama tamuku."


"Baik, Nyonya." Wanita itu kemudian pergi, tapi pandangannya terusik saat melihat Chen Li hingga membuatnya kembali menatap pemuda itu. "Wajahnya tidak asing bagiku. Wajahnya seperti ... ah, tidak mungkin. Tidak mungkin dia adalah Chen Li," ucap wanita itu yang kemudian pergi mengambil ubi rebus. Tak lama kemudian, wanita itu sudah kembali dengan semangkuk ubi rebus di tangannya. Diletakkannya ubi rebus di atas meja dan masih berdiri di tempat itu.


Mei Yin kemudian mengambil salah satu ubi rebus dan diberikannya pada Chen Li. "Makanlah," ucapnya yang membuat tangan Chen Li bergetar. Di depannya, ibunya menawarkan salah satu makanan yang sangat di gemarinya sejak kecil. Dia ingat, saat kecil dulu, ibunya sering memberikannya ubi rebus. Kenangan itu, tidak akan mudah terhapus dari ingatannya.


"Dayang Ling, ambilkan kue buatanku. Mereka pasti akan suka dengan kue buatanku," ucap Mei Yin yang masih menatap ke arah Chen Li. Entah mengapa, Mei Yin bisa merasakan sesuatu yang lain pada pemuda yang kini duduk di depannya. Tiba-tiba saja, dia merasa bahagia saat melihat pemuda itu.


Chen Li melahap ubi rebus yang diberikan Mei Yin padanya dan rasanya begitu berbeda karena ubi rebus itu adalah pemberian dari ibunya. Melihat pemuda itu yang sangat menikmati ubi rebus membuat Mei Yin kembali tersenyum.


"Guan Yin, masuklah ke dalam. Ibu ingin berbicara dengan mereka." Perintah Mei Yin yang membuat Guan Yin menurut. Gadis itu kemudian bangkit dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Mei Yin menatap lurus ke arah kedua pemuda yang kini menatapnya. "Kalian berdua sangat mirip dengan dua pemuda yang aku kenal di masa mudaku dulu. Yuwen, wajahmu itu mengingatkanku pada kakak angkatku, Liang Yi." Sontak Yuwen terkejut dan menatap ke arah Mei Yin yang kini telah menitikkan air mata.


"Maafkan Ibu, karena kita harus bertemu dengan cara seperti ini. Ibu sangat merindukanmu," ucap Mei Yin tanpa ragu sambil menatap ke arah Chen Li dengan tangis yang tak mampu untuk dia tahan. Chen Li tertegun hingga membuatnya menitikkan air mata karena ibunya ternyata masih mengenalinya. Dua puluh tahun lebih mereka terpisah, tapi ibunya masih mengenalinya. Seketika, Chen Li bangkit dan berlutut di depan ibunya dan diikuti oleh Yuwen yang ikut menangis melihat pertemuan ibu dan anak itu.


"Putraku, Ibu tahu itu kamu. Wajahmu takkan pernah bisa Ibu lupakan. Hanya untuk menunggumu datang kembali menjemput Ibu, Ibu rela terkurung di tempat ini. Maaf, jika di depan mereka Ibu pura-pura tidak mengenalimu karena Ibu tidak ingin penantian Ibu selama ini sia-sia. Ibu mohon, tetaplah bersama Ibumu ini." Mei Yin menangis hingga membuat Chen Li tak kuasa menahan tangisnya. Dayang Ling yang baru saja datang, begitu terkejut melihat kedua pemuda itu yang sedang menunduk di depan Mei Yin.


"Nyonya, apakah dia itu ... " Mei Yin mengangguk dan membuat Dayang Ling ikut menangis. Bagaimana tidak, anak yang diasuhnya selama delapan tahun dan terpisah hampir dua puluh tahun lebih kini ada di depannya.


"Putraku, bangkitlah dan berusahalah untuk bersikap wajar karena tempat ini tidak aman. Ibu tidak ingin penyamaran kalian diketahui oleh orang-orang suruhan lelaki itu." Chen Li menurut dan segera bangkit.


"Ibu sangat ingin memelukmu, tapi Ibu tidak bisa. Putraku, Ibu sangat merindukanmu." Mei Yin menghapus air matanya karena teringat dengan Zhao Li.


"Aku juga sangat merindukan Ibu. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu menunggu terlalu lama. Aku janji, aku akan mengambil apa yang menjadi milik kita dan sekarang aku akan berada di samping Ibu dan menjaga Ibu dengan kedua tanganku sendiri. Ibu, bersabarlah karena aku akan membalas atas kematian ayah."


"Ibu akan bersabar karena itu yang Ibu inginkan. Ayahmu sangat menyayangimu walau kebersamaannya denganmu terlalu singkat, tapi ayahmu selalu menyayangimu. Dia meminta maaf, karena tidak bisa menemanimu lagi, tapi kamu selalu ada di hatinya. Putraku, aku dan juga ayahmu sangat menyayangimu," ucap Mei Yin yang menangis sesenggukan hingga membuat Dayang Ling merangkul tubuhnya. "Nyonya, jangan menangis lagi nanti Nyonya bisa sakit."


"Ibu, beristirahatlah dan jangan menangis lagi. Aku janji, mulai saat ini kita akan selalu bersama. Masuk dan beristirahatlah Ibu, aku akan menjaga Ibu di luar."


Mei Yin tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Ibu akan menuruti perintahmu. Yuwen, terima kasih karena sudah menjadi saudara bagi putraku. Ibu sangat bahagia karena tak hanya satu putraku yang datang menemuiku, tapi dua putraku. Kalian berdua adalah putraku."


Mendengar penuturan Mei Yin membuat Yuwen berlutut di depannya dengan air mata yang tak mampu dia tahan. Rasanya, dia begitu bahagia karena dianggap sebagai anak oleh Mei Yin.


Mei Yin tersenyum pada kedua pemuda itu dan kemudian pergi walau sebenarnya hatinya begitu berat. "Nyonya, jangan khawatir karena mulai saat ini, Pangeran sudah datang dan kapanpun Nyonya bisa bertemu dengannya." Mei Yin mengangguk dan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat putranya itu.


Chen Li masih berdiri menatap kepergian ibunya hingga wanita itu masuk ke dalam kamarnya. "Ibu, terima kasih karena ibu masih mengenaliku," batin Chen Li dengan senyum bahagia.


"Kakak, mulai sekarang, ibumu adalah ibuku dan aku berjanji akan menjaga ibumu dengan nyawaku sendiri." Chen Li tersenyum dan menepuk pundak adiknya itu. "Aku tahu. Ayo, sekarang kita lakukan tugas kita. Pergilah berjaga di depan pintu kamar gadis itu dan aku akan berjaga di depan pintu kamar ibu."


"Gadis itu adalah adikmu, Kak. Tidakkah Kakak ... "


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang dia karena dia bukan siapa-siapa bagiku." Chen Li kemudian pergi menuju ke depan kamar ibunya dan berdiri di depan pintu kamar itu. Sementara, Yuwen berjalan menuju di depan pintu kamar Guan Yin.


Melihat putranya yang kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya membuat Mei Yin tersenyum bahagia. Rasanya, dia ingin berlari keluar dan memeluk putranya itu, tapi dia tidak bisa karena itu akan menimbulkan kecurigaan. "Ibu sangat menyayangimu dan terima kasih karena sudah datang menemui Ibu," batin Mei Yin sambil menatap bayangan Chen Li di balik pintu.


Pertemuan mereka terasa begitu singkat dan tak leluasa. Mereka masih ingin meluapkan rasa rindu yang begitu membuncah di hati keduanya. Melihat putranya baik-baik saja, membuat Mei Yin sangat bersyukur dan itu semua berkat Liang Yi. "Aku ingin bertemu denganmu dan ingin memelukmu. Aku ingin mengadu padamu tentang derita yang selama ini aku alami. Liang Yi, terima kasih karena sudah membesarkan anakku," batin Mei Yin dengan air mata yang perlahan jatuh.


Jauh di desa, Liang Yi tiba-tiba teringat pada Mei Yin hingga membuat air matanya jatuh tanpa sebab. Perasaan rindu tiba-tiba mencuat hingga membuat dirinya bingung dengan perasaan yang saat ini sedang dialaminya. Terlintas, wajah Mei Yin di depannya dengan seraut wajah yang begitu mengiba padanya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja bayangan wajahmu muncul di depanku? Apa yang terjadi padamu?"


"Ketua, ada apa?" tanya Qiang saat melihat Liang Yi yang terlihat gelisah.


"Qiang, apa sudah ada informasi dari orang kepercayaanmu di kerajaan? Apa sekarang Chen Li dan Yuwen sudah bertemu dengan Permaisuri Mei Yin?"


"Belum, Ketua, tapi aku bisa pastikan kalau saat ini Chen Li sudah bertemu dengan ibunya."


"Apa itu benar?"


"Benar, Ketua. Dari informasi terakhir yang aku dapat, kalau Chen Li dan Yuwen akan diangkat menjadi pengawal pribadi Permaisuri Mei Yin dan juga putrinya dan itu berarti Chen Li dan permaisuri pasti sudah bertemu," jelas Qiang yang membuat Liang Yi paham dengan perasaannya kini.


"Apakah saat ini kamu sedang bersedih karena melihat putramu? Mei Yin, bersabarlah karena aku akan segera menemuimu dan kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Sudah cukup aku menanggung perasaan ini dan aku tidak akan membiarkanmu menjalani kehidupan yang rumit ini sendirian. Apapun yang terjadi, kita pasti akan bertemu dan aku tidak akan melepaskanmu lagi." Liang Yi menitikkan air mata saat mengingat kembali wanita yang begitu dicintainya. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta dan menjalani kehidupan tanpa rasa cinta pada wanita lain.


Kini, perasaan cinta itu semakin kuat hingga membuatnya merasakan kerinduan pada wanita itu, wanita yang takkan pernah bisa hilang dari hati dan juga pikirannya. Mungkinkah, cintanya akan terbalas atau akan terluka dan kembali mengalah?