
Keesokan harinya, mereka sudah bersiap-siap untuk kembali. "Apa kamu sudah siap?"
Huanran mengangguk. Raja Wu Lai kemudian menaikannya di atas kuda dan diikuti dirinya yang duduk di belakangnya. Seakan enggan untuk melepaskannya, Raja Wu Lai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Huanran dan memeluknya. "Biarkan aku memelukmu karena aku takut kamu tidak ingin kembali lagi padaku."
Gadis itu hanya diam dan membiarkan tangan Raja Wu Lai melingkar di pinggangnya.
Selama perjalanan, Huanran hanya diam. Yang di dengarnya hanya embusan nafas pemuda itu yang memburu di belakang telinganya. "Tuan, turunkan aku di perbatasan." Pemuda itu mengangguk.
Tak lama kemudian, di depan perbatasan kota, Raja Wu Lai menghentikan kudanya. Pemuda itu kemudian turun dan menurunkan Huanran. Pemuda itu menatap Huanran yang kini sudah berdiri di depannya. "Pergilah."
Huanran mengangguk dan berjalan perlahan meninggalkannya. Tak terasa, air matanya jatuh, entah apa sebabnya. Huanran terus berjalan, dia enggan berbalik sekadar untuk melihat pemuda itu karena dia takut kalau hatinya akan goyah. Tiba-tiba, langkahnya terhenti. "Huanran, aku mencintaimu. Aku mohon, kembalilah padaku." Pemuda itu sudah memeluk Huanran dari belakang dan menangis di punggungnya.
Huanran benar-benar tak percaya dengan apa yang dirasakannya saat ini. Hatinya benar-benar goyah dengan kesungguhan pemuda itu hingga membuatnya berbalik dan memeluk pemuda itu.
Melihat Huanran yang membalas memeluknya membuat pemuda itu meraih tubuh Huanran dan dipeluknya dengan erat. "Aku akan menunggumu. Apapun yang terjadi aku yakin kamu akan kembali padaku, benar, kan?"
Huanran mengangguk dengan air mata yang jatuh. Perlahan, pemuda itu menghapus air mata di pipi Huanran dan mengecup mesra dahinya. "Pergilah, jika sampai tengah hari besok kamu tidak kembali, maka aku akan mati ... "
"Jangan katakan itu. Tunggu aku, aku pasti akan kembali padamu. Aku tidak ingin kamu mati dan aku tidak ingin sahabatku mati. Putri Xia adalah sahabatku dan Pangeran Chen Li juga adalah sahabatku. Aku akan membujuk mereka untuk menghentikan semua ini, setelah itu aku akan kembali padamu." Huanran lantas memeluknya, setelah itu gadis itupun pergi.
Raja Wu Lai memandangi kepergiannya dengan senyum dan air mata. "Aku akan menunggumu, Huanran."
Huanran kemudian bergegas menuju gerbang Kerajaan Xia, namun dia tidak diizinkan untuk masuk.
"Tuan, tolong izinkan aku bertemu dengan Pengawal Lian, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya." Huanran memohon di depan para penjaga, tapi dia ditolak. "Pergilah!!" Huanran termundur ke belakang karena didorong penjaga itu.
Huanran menjadi bingung. Sudah setengah hari dia berada di tempat itu, tapi dia belum juga diizinkan bertemu dengan Chen Li. "Apa yang sebaiknya aku lakukan?" Huanran terlihat mondar-mandir di depan pintu gerbang itu, hingga tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka.
"Huanran? Apa yang kamu lakukan di sini?" Yuwen terlihat berjalan mendekatinya.
"Yuwen, mana Chen Li?"
"Kakak belum kembali. Sejak kemarin, kakak mencari Putri Xia, tapi gadis itu sudah tidak ada di kerajaan ini lagi. Sepertinya, ada yang ingin kakak bicarakan dengannya, tapi gadis itu malah sudah tidak ada."
"Lalu, apakah ibunya juga sudah tidak ada?"
Yuwen menatapnya heran. "Kenapa kamu bisa tahu? Saat ini, wanita itu dan penasehatnya juga sudah menghilang. Huanran, apa kamu tahu sesuatu?"
"Bawa aku menemui Permaisuri dan Kaisar, ada yang ingin aku sampaikan pada mereka."
"Baiklah, ayo ikut denganku."
Yuwen kemudian membawa Huanran masuk ke dalam kerajaan dan menemui Mei Yin dan Kaisar Wang.
"Ibu, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Ibu dan juga Yang Mulia." Yuwen mengetuk pintu kamar dan tak lama pintu itu terbuka.
"Masuklah, Nak. Siapa yang ingin menemui kami?"
Huanran menunduk memberi hormat di depan Mei Yin dan Kaisar Wang. "Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba adalah Huanran, ada hal yang ingin Hamba sampaikan pada Yang Mulia."
Mei Yin menatap gadis itu. "Angkatlah wajahmu dan katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan itu."
Huanran mengangkat wajahnya dan di depannya berdiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. "Apakah wanita ini adalah ibunya Chen Li?"
"Katakanlah, apa yang ingin kamu sampaikan."
Huanran menatap mereka dan perlahan dia mulai memberitahukan tentang apa yang sedang direncanakan oleh Permaisuri Yuri.
"Jadi, dia ingin menjadikan Putri Xia sebagai permaisuri Kerajaan Wu dan bersekutu dengan mereka untuk menghancurkan kerajaan ini?" tanya Kaisar Wang yang terlihat marah.
"Benar, Yang Mulia."
"Huanran, apa kamu yakin dengan apa yang kamu sampaikan itu?"
Gadis itu mengangguk. "Apa yang aku sampaikan ini adalah benar. Yang Mulia, sebaiknya peperangan ini dihentikan dan aku tahu cara menghentikannya."
Mereka memandanginya. "Yuwen, bawa aku ke Wilyah Dataran Timur. Aku tahu Putri Xia pasti ada di sana."
"Tapi, wilayah itu kini dijaga ketat dan siapapun dilarang untuk memasuki wilayah itu."
"Tidak mengapa, aku yakin Putri Xia pasti akan menerimaku." Huanran tampak yakin dengan ucapannya itu.
"Baiklah jika itu maumu, sebaiknya kita cepat pergi."
Mereka kemudian pamit undur diri. Sementara Kaisar Wang sudah memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap menuju Wilayah Dataran Timur. Apapun yang terjadi, mereka akan menjaga kerajaan dari aksi pemberontakan dari wilayah itu.
Yuwen dan Huanran bergegas menuju Wilayah Dataran Timur. Setibanya mereka di sana, mereka dihadang oleh para penjaga yang rupanya sudah bersiap dengan baju perang dan juga senjata mereka. "Untuk apa kalian di sini? Pergilah, jika tidak kami akan membunuh kalian!!" Seorang penjaga mengusir dan mendorong mereka untuk pergi dari tempat itu.
"Huanran, untuk apa kita ke sini? Lebih baik kita menemui Chen Li."
"Yuwen, hanya aku yang mampu menghentikan peperangan ini."
Yuwen menatapnya heran. "Apa maksudmu?"
"Semua ini karena keegoisan Permaisuri Yuri dan penasehatnya. Mereka ingin mengorbankan Putri Xia dan Wilayah Dataran Timur untuk kepentingan mereka. Mereka ingin melihat Kerajaan Xia hancur. Dan aku tidak ingin Kerajaan yang akan dipimpin Chen Li hancur begitu saja. Dan aku juga tidak ingin Putri Xia termakan hasutan ibunya. Yuwen, berjanjilah padaku, jangan katakan apapun pada Chen Li karena setelah ini aku tidak akan bisa bertemu dengnn kalian lagi." Perlahan, air matanya jatuh.
"Huanran, katakan apa yang terjadi dan aku tidak mengerti dengan ucapanmu itu."
"Huanran, apa kamu pernah bertemu dengan Raja Wu Lai sebelumnya?"
Gadis itu mengangguk. "Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat dia sedang menyamar dan memperhatikan keadaan kota. Sejak saat itu, dia sering berkunjung di wisma tari untuk menemuiku."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku akan meyakinkan Putri Xia untuk menghentikan peperangan ini. Aku tidak tahu apa yang sudah membuatnya mengikuti permintaan ibunya itu."
"Baiklah, aku akan membantumu." Yuwen kemudian menemui para penjaga dan memohon untuk menemui Putri Xia. "Kembalilah, Putri Xia tidak ada di sini," ucap seorang penjaga.
"Aku tahu dia ada di dalam. Katakan padanya kalau Huanran ingin bertemu."
Tak lama kemudian, seorang lelaki keluar dan meminta Huanran untuk masuk.
"Yuwen, temuilah Chen Li dan persiapkanlah pasukan kalian. Jika sampai besok pagi aku tidak keluar dari tempat ini, maka seranglah tempat ini agar para pemberontak itu tidak bisa bergabung dengan pasukan Kerajaan Wu," bisik Huanran yang kemudian masuk bersama lelaki itu. Sementara Yuwen, sudah memacu kudanya dan menemui Chen Li di desa mereka.
Huanran berjalan mengikuti lelaki itu menuju suatu ruangan di mana Putri Xia sudah menunggunya.
"Putri Xia." Huanran berjalan mendekatinya dan ingin memeluknya, namun gadis itu menolak.
"Putri Xia, aku tahu kamu ada di sini. Sejak kemarin, Chen Li mencarimu dan dia ... "
"Cukup!!" Wajah Putri Xia tampak marah.
Huanran terkejut saat gadis itu membentaknya.
"Apa kalian puas mempermainkan perasaanku? Apa kalian puas bercinta di belakangku?" Putri Xia terlihat menitikkan air mata.
"Putri Xia, maafkan aku." Huanran berusaha untuk mendekatinya, tapi lagi-lagi gadis itu menghindar darinya.
"Baguslah kalau kamu datang ke sini. Aku akan mengurungmu agar Lian kebingungan mencarimu."
"Aku pikir kamu itu gadis yang baik, tapi nyatanya sikapmu itu tak jauh berbeda dengan ibumu." Huanran menatap Putri Xia dengan matanya yang memerah.
Merasa tidak terima, Putri Xia kemudian menampar Huanran. "Jaga bicaramu!! Aku bukan lagi gadis lugu yang bisa kalian tipu. Aku kecewa pada kalian berdua. Huanran, apa selama ini aku pernah menyakitimu?" Putri Xia menitikan air mata saat mengucapkan itu.
"Maafkan aku, karena diriku kamu harus terluka, tapi aku mohon jangan membencinya karena dia ... "
"Karena dia apa? Karena kamu juga mencintainya, kan?"
Huanran terdiam. Hatinya begitu terluka saat melihat sahabatnya yang juga terluka karena dirinya. "Aku mencintainya, tapi aku tahu kamu lebih mencintainya dan aku akan membayar kesalahanku itu padamu. Putri Xia, aku mohon jangan membencinya, karena dia sudah terlalu menderita. Dia adalah Chen Li, putra dari Permaisuri Mei Yin dan Raja Zhao Li. Dia adalah Pangeran Kerajaan Xia yang terpaksa keluar dari kerajaan karena ayah dan ibumu telah membunuh ayahnya."
Sontak, Putri Xia terkejut, tapi dia berusaha untuk mengingakari apa yang baru saja diucapkan Huanran padanya. "Dasar pembohong!! Apa kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu itu?"
"Apa kamu tidak berpikir kenapa ibumu diacuhkan oleh ayahmu? Itu karena pernikahan mereka hanyalah sebuah perjanjian karena ibumu ingin menjadi permaisuri sedangkan ayahmu melakukannya karena ingin memiliki Permaisuri Mei Yin. Karena keegoisan orang tuamu, Chen Li kehilangan ayahnya dan berpisah dengan ibunya selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya dia mendekatimu untuk menyakitimu dan dia telah mencintaiku sebelum dia melakukan hal ini padamu."
Kembali Putri Xia terkejut, namun dia masih tidak ingin mempercayai ucapan sahabatnya itu. "Apa kamu pikir aku akan percaya dengan semua perkataanmu itu?"
"Putri Xia, aku mohon percaya padaku. Ibumu ingin menjadikanmu permaisuri Kerajaan Wu dan ingin memberontak pada Kerajaan Xia. Dia ingin bersekutu dengan Kerajaan Wu untuk menghancurkan Kerajaan Xia. Putri Xia, apa kamu ingin menghancurkan harapan Chen Li?"
Mendengar ucapan Huanran membuat Putri Xia tercekat. Walaupun saat ini dia sangat kecewa pada sahabat dan juga kekasihnya, namun di dalam hatinya dia merasa tidak tega jika melihat orang yang dicintainya terluka.
Tiba-tiba saja seorang lelaki muncul dengan membawa beberapa orang pengawal yang berjalan mendekati Huanran. "Cepat, ikat dia dan masukan dia dalam penjara bawah tanah!!" Perintah lelaki itu. Pengawal-pengawal itu kemudian mendekati Huanran dan mengikat tangannya. "Lepaskan aku!!" Huanran berusaha berontak dan memandangi Putri Xia, namun gadis itu memalingkan wajahnya.
"Putri Xia, jangan lakukan itu. Aku mohon," isak Huanran yang masih sempat memohon hingga akhirnya dirinya dibawa ke dalam penjara.
"Di mana ibuku dan Paman Yuan?" Putri Xia bertanya pada lelaki itu yang merupakan anak buah pamannya.
"Tenanglah, mereka saat ini masih bersembunyi di kerajaan karena masih ada yang harus mereka kerjakan. Jika pekerjaan itu sudah selesai, secepatnya mereka akan kembali," jelas lelaki itu.
Huanran dihempaskan di dalam penjara hingga membuatnya jatuh terjerembab di atas lantai di penjara itu. "Lepaskan aku, aku mohon." Huanran memohon, namun mereka tak peduli dan pergi meninggalkannya.
Huanran terduduk dan memegang terali kayu sambil menangis. "Apa yang harus aku lakukan? Raja Wu Lai, apakah kita tidak akan bisa bertemu lagi?" Huanran menangis saat mengingat pemuda itu. Waktu yang diberikan untuknya terus berjalan, dan dia takut dia tidak akan bisa kembali pada pemuda itu.
Dari balik jendela, Raja Wu Lai memandangi ke arah Wilayah Dataran Timur. Tampak cahaya yang berkerlap-kerlip tak seperti hari biasanya. Bayangan wajah Huanran perlahan melintas dalam pikirannya. "Huanran, aku akan menunggumu. Namun, jika besok kamu tidak datang padaku, apakah aku harus mengulangi lagi peristiwa kelam sama seperti kakek dan ayahku dan mati seperti mereka? Aku hanya ingin bahagia bersamamu. Aku ingin membangun keluarga kecil bersamamu dan menjalani sisa hidupku denganmu, apakah permintaanku ini terlalu berlebihan?" Tampak air matanya jatuh saat mengingat wanita yang sudah membuat hatinya luluh.
Sementara di desa, Yuwen sudah bertemu dengan Chen Li yang rupanya menemui Liang Yi. "Kakak, ada yang ingin aku sampaikan."
"Yuwen, ada apa kamu kemari?"
"Kakak, aku tahu di mana Putri Xia sekarang. Dia sekarang ada di Wilayah Dataran Timur. Saat ini Huanran sedang bertemu dengannya."
Sontak saja Chen Li terkejut. "Apa maksudmu Huanran ada di sana?"
"Tadi, Huanran datang menemui ibumu dan Kaisar Wang dan menyampaikan berita ini. Permaisuri akan menikahkan Putri Xia dengan Raja Wu Lai dan bersekutu dengannya untuk menghancurkan Kerajaan Xia. Saat ini, pasukan Wilayah Dataran Timur sedang bersiap untuk memberontak karena mereka akan melepas diri dari Kerajaan Xia."
Penjelasan Yuwen membuat mereka terkejut. "Paman, aku akan membawa pasukan kita ke Wilayah Dataran Timur. Aku akan membawa Huanran kembali dan membuat wilayah itu membayar atas pemberontakan ini."
"Kakak, Huanran memberikan waktu hingga esok pagi. Jika dia tidak keluar dari tempat itu esok pagi, dia memerintahkan kita untuk menyerang tempat itu agar pasukan mereka tidak bisa bergabung dengan pasukan Kerajaan Wu." Penjelasan Yuwen kembali membuat Chen Li semakin khawatir. "Huanran, apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?"
"Yuwen, kembalilah ke kerajaan dan jaga ibu dan adikku." Yuwen mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan mereka. "Kakak, maafkan aku karena tidak berterus terang tentang Huanran padamu," batin Yuwen yang perlahan meninggalkan mereka.
Sementara Chen Li bersama pasukannya sudah berangkat menuju Wilayan Dataran Timur.