The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 51



Lepaskan tanganku!" pekik pemuda itu, tapi Chen Li tak menggubrisnya.


"Minta maaflah padanya, setelah itu, baru aku akan melepaskan tanganmu," ucap Chen Li yang membuat pemuda itu memandanginya.


"Tidak!! Aku tidak akan ... aarrgghhh ... " Pemuda itu kemudian menjerit karena tangannya ditekuk dengan kuat hingga membuat matanya memerah karena menahan rasa sakit.


"Baiklah, baiklah, aku akan meminta maaf. Nona, maafkan aku," ucap pemuda itu meminta maaf. Chen Li kemudian melepaskan tangannya. Pemuda itu memegang telapak tangannya yang rasanya telah remuk sambil berjalan meninggalkan mereka.


"Nona tidak apa-apa, kan?" tanya Chen Li pada gadis itu.


Gadis itu mengangguk. Wajahnya yang tadinya angkuh, kini berubah menjadi gadis manis di depan Chen Li.


"Nona, sebaiknya kita kembali. Hari sudah mau gelap, nanti Nona bisa dimarahi," ucap salah satu wanita yang sedari tadi mengekorinya.


Gadis itu tidak peduli pada ucapan wanita itu dan masih memandang ke arah Chen Li. "Tuan, terima kasih atas bantuan, Tuan," ucap gadis itu sambil tersenyum.


Chen Li membalas senyumnya dan mengangguk. "Kembalilah, ini sudah menjelang malam. Orang tuamu pasti sangat mengkhawatirkanmu."


Gadis itu tersenyum kecut mendengar ucapan Chen Li. "Tenanglah, kalau aku mati pun, tidak ada yang akan peduli padaku," ucap gadis itu dengan wajahnya yang terlihat sedih.


"Nona, ayo kita kembali," ajak wanita itu sambil meraih tangannya. Walau enggan untuk pergi, tapi gadis itu tetap menurut dan berjalan meninggalkan Chen Li.


"Tuan, siapa namamu?" tanya gadis itu yang sudah berjalan sedikit menjauh, tapi karena terlalu banyaknya orang di tempat itu membuat Chen Li tidak mendengar teriakan gadis itu.


"Sudahlah, Putri Xia. Sebaiknya kita cepat kembali, kalau tidak, Permaisuri pasti akan sangat marah," ucap wanita itu yang berjalan dengan tergesa-gesa. Di depan sebuah tandu, mereka berhenti. "Putri Xia, masuklah. Kita harus cepat!" seru wanita itu.


"Baiklah, Dayang Yu. Aku akan ikuti perintahmu," ucap gadis itu yang kemudian masuk ke dalam tandu dan membawanya kembali ke kerajaan.


Sementara Chen Li, kembali duduk di bawah pohon sakura dan sesekali menatap ke arah para penari. Penari-penari itu rupanya tidak terlalu menarik perhatiannya, karena baginya, tarian sang bunda adalah tarian yang terbaik baginya.


"Kakak, sedang apa Kakak di sini?" tanya Yuwen yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.


Chen Li tidak menjawab dan hanya memandang ke arah seorang penari, hingga membuat Yuwen mengikuti arah pandangan pemuda itu dan mendapati seorang gadis yang sedang menari sendirian dengan diiringi alunan kecapi yang lembut.


"Bukankah gadis itu ... ?" tanya Yuwen sambil menunjuk ke arah gadis penari itu.


Karena tidak ditanggapi oleh Chen Li, membuat pemuda itu memandang ke arahnya. "Aku tahu dia cantik dan tariannya memang sangat indah, tapi aku tidak menyangka kalau Kakak begitu tertarik padanya hingga terus memandanginya," ucap Yuwen yang terkejut dengan tingkah Chen Li.


"Tarian itu sepertinya aku kenal. Tarian yang sama, seperti tarian yang sering dibawakan ibu saat aku kecil dulu," ucap Chen Li yang membuat Yuwen menatap kembali ke arah gadis penari itu.


Chen Li menatap gadis itu dengan tatapan penuh takjub. Hanya tarian gadis itu yang berhasil mencuri perhatiannya. Selama ini, dia tidak pernah mengagumi tarian manapun selain tarian ibunya, tapi kini, gadis itu telah berhasil membuatnya mengingat kembali sang bunda yang membuatnya menitikkan air mata.


Gadis itu adalah Huanran. Gadis cantik yang pernah bertemu dengannya sehari yang lalu. Dengan tersenyum, gadis cantik itu berjalan mendekati mereka. "Aku pikir, Tuan berdua tidak akan datang. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan kantong uangku. Sebenarnya, hanya ini yang aku butuhkan karena ini adalah barang sangat berharga bagiku," ucap gadis itu sambil memandang ke jari manisnya yang telah melingkar sebuah cincin giok berwarna merah.


"Nona, apakah Nona salah satu penari dari tempat ini?" tanya Yuwen.


Gadis itu mengangguk. "Aku salah satu murid dari Nyonya Hua Feng, pemilik wisma tari ini. Apa kalian sebelumnya pernah ke sini?" tanya gadis itu.


"Maaf, dari mana kamu tahu tarian itu?" tanya Chen Li tiba-tiba yang membuat gadis itu memandang ke arahnya.


"Aku diajari oleh Nyonya Hua Feng. Katanya, tarian ini sangat sulit dan hanya ada seorang penari yang mampu melakukannya dengan sangat indah, dan aku sangat mengaguminya. Menurut cerita Nyonya Hua Feng, penari itu sangat cantik. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Karena dirinya, aku bisa menjadi penari yang bisa diandalkan oleh Nyonya Hua Feng," jelas gadis itu yang membuat Chen Li menatapnya.


"Apa kamu tahu, siapa nama penari itu?" tanya Chen Li kembali.


Gadis itu menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi kalau aku diberi kesempatan, aku ingin bertemu dengannya dan belajar menari darinya. Rasanya, pasti akan sangat menyenangkan," ucap gadis itu dengan wajah yang tersenyum dengan sumringah.


Chen Li menatap gadis itu. Dia tersenyum saat mendengar gadis itu memuji ibunya.


"Maaf, kalau boleh aku tahu, siapa nama kalian?" tanya gadis itu.


"Namaku Yuwen, dan ini Kakakku, Chen Li," ucap Yuwen yang membuat gadis itu tersenyum.


"Namaku Huanran. Aku senang karena kalian sudah berkunjung ke wisma tari ini. Ayo, aku antar kalian mengelilingi tempat ini," ajak gadis itu.


"Maaf, sebaiknya kamu pergi saja dengan Kakakku. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Maaf, ya," ucap Yuwen yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Chen Li tidak menolak. Dia bahkan membiarkan gadis itu berjalan di depannya sambil menerangkan tentang wisma tari itu. Melihat keceriaan di wajahnya, membuat Chen Li tersenyum. Untuk sesaat, dia begitu kagum pada gadis itu.


Tak hanya memiliki wajah yang cantik, gadis itu ternyata memiliki hati yang lembut. Buktinya, dia berhasil mengambil perhatian Chen Li dengan membantu seorang anak kecil yang terpisah dari ibunya. Dengan sabarnya, gadis itu membujuk dan menggendong anak itu hingga anak itu terdiam dan bermain bersamanya.


"Kamu suka bermain dengan anak-anak?" tanya Chen Li yang membuat gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Mereka itu seperti malaikat, tapi kadang mereka dicampakkan dan tidak diperhatikan orang tuanya," ucapnya dengan raut muka yang terlihat sedih.


Tak lama kemudian, anak itu diambil orang tuanya yang terlihat bingung karena kehilangan sang buah hati. Sambil melambaikan tangannya, anak itu pergi bersama orang tuanya dengan senyum bahagia.


"Anak itu pasti bahagia karena mempunyai ayah dan ibu di sampingnya. Aku iri padanya karena orang tuanya begitu menyayanginya," ucap gadis itu dengan air bening yang sudah menggantung di pelupuk matanya.


Chen Li menatapnya dan melihat air mata yang menggantung itu. Sesaat, ada rasa iba dan timbul rasa ingin tahu tentang gadis itu. "Aku tahu rasanya hidup tanpa orang tua, tapi setidaknya kita masih bisa hidup dengan kenangan mereka," ucap Chen Li yang membuat gadis itu menatapnya.


"Apa maksudmu, kamu juga tidak mempunyai orang tua?" tanya gadis itu sambil menatap ke arahnya.


Chen Li mengangguk dan tersenyum padanya. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya?"


"Bukan begitu maksudku, tapi setidaknya kamu masih bisa mempunyai kenangan tentang mereka. Sedangkan aku, tidak mengingat apapun, karena aku dibawa ke tempat ini saat aku masih bayi. Mungkin saja orang tuaku tidak menginginkanku dan terpaksa membuangku," ucap gadis itu sambil menundukkan wajahnya. Terlihat, dia menitikkan air mata sambil memutar-mutar cincin giok berwarna merah di sela jarinya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, tapi ... "


"Jangan khawatir, aku tidak secengeng itu. Terima kasih karena sudah menemaniku malam ini. Chen Li, apa bisa kita bersahabat?" tanya gadis itu dengan senyumnya yang terlihat menawan. Susunan giginya terlihat rapi dan putih. Hidungnya yang mancung begitu serasi dengan bibirnya yang merekah tipis.


Chen Li mengangguk hingga membuat gadis itu kembali tersenyum. "Baiklah, sekarang kita adalah sahabat. Kamu bisa datang kapan saja di tempat ini dan aku pasti akan menerimamu." Gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan perlahan guguran bunga sakura berterbangan dan jatuh di atas kepalanya.


Chen Li menatapnya dengan sebuah senyuman yang terpancar dari wajahnya. Gadis itu telah berhasil membuatnya merasa nyaman. Dan gadis itu, perlahan mulai menarik hatinya. Walau baru bertemu, tapi Chen Li sangat yakin, gadis itu adalah gadis yang baik.


"Rupanya, kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Hua Feng yang tiba-tiba datang bersama Liang Yi.


Melihat Hua Feng, gadis itu menunduk memberi hormat. "Maaf, Nyonya. Dia adalah Chen Li," ucap gadis itu dengan wajah menunduk.


"Aku tahu karena dia adalah keponakanku." Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Chen Li yang tersenyum padanya.


"Ibunya adalah adik angkatku dan juga muridku," jelas Hua Feng yang membuat gadis itu kembali menatap ke arah Chen Li.


"Maaf, Nyonya. Aku tidak tahu."


"Tidak mengapa. Sebaiknya, kita masuk ke dalam karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan keponakanku ini. Huanran, tolong sampaikan pada pelayan untuk menyiapkan makanan buat tamuku ini."


"Baik, Nyonya." Gadis itu kemudian pergi setelah melayangkan pandangannya pada Chen Li.


Di dalam ruangan itu, mereka berempat telah duduk. Liang Yi dan Hua Feng tampak memandang ke arah Chen Li, sekadar untuk memantapkam hati mereka untuk menyampaikan perihal ibu dan ayahnya.


"Chen Li, ada hal yang ingin Paman sampaikan padamu. Sebelumnya, Paman ingin meminta maaf, karena baru sekarang Paman menyampaikan hal ini padamu," ucap Liang Yi yang membuat Chen Li menatap ke arahnya.


"Katakankah, Paman. Aku akan mendengarkan."


Liang Yi memantapkan hatinya dan mulai menjelaskan tentang Raja Zhao Li, ayahnya. "Chen Li, Paman ingin mengatakan kalau sebenarnya ayahmu telah meninggal beberapa hari setelah kamu tinggal bersama Paman."


Ucapan Liang Yi sontak membuat Chen Li terkejut. Selama ini, dia berpikir kalau ayah dan ibunya hanya ditawan oleh Kaisar yang berusaha menggulingkan ayahnya, tapi nyatanya berita ini cukup membuat dia terpukul hingga mampu membuatnya menitikkan air mata.


Chen Li mendengarkan penjelasan Liang Yi tentang ayah dan ibunya yang harus terpisahkan karena keegoisan seorang lelaki yang ternyata mencintai ibunya. Lelaki itu bahkan tega membunuh ayahnya dan memisahkannya dari ibunya. Dan kini, ibunya telah menjadi milik lelaki itu.


Chen Li mengepalkan kedua tangannya saat mendengar semua penuturan Liang Yi. Dia begitu marah hingga membuatnya bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang tak mampu dia tahan. Yuwen yang ingin mengejarnya dihalang oleh Liang Yi. "Biarkan saja, saat ini dia pasti ingin sendiri," ucap Liang Yi yang perlahan menghapus air matanya yang jatuh.


Chen Li berlari keluar dari tempat itu. Huanran yang sempat melihatnya, berlari mengejarnya. "Chen Li, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya gadis itu, tapi Chen Li hanya diam dan bermaksud pergi meninggalkannya, tapi gadis itu segera berlari mengikutinya.


"Pergilah, biarkan aku sendiri," ucap Chen Li yang sudah naik di atas punggung kudanya. Melihat kondisi Chen Li yang terlihat terpukul membuat Huanran berdiri di depannya sambil memaksa untuk ikut.


"Biarkan aku ikut denganmu. Di saat seperti ini, kamu tidak boleh sendiri. Izinkan aku ikut denganmu," ucap gadis itu memohon. Chen Li kemudian meraih tabuhnya dan menaikkannya di atas punggung kudanya. Mereka kemudian pergi menyususri jalan di antara pepohonan yang terlihat gelap.


Chen Li menunggangi kudanya dengan kecepatan sedang hingga membuat Huanran memeluk punggungnya dengan erat. Walau begitu, Huanran tidak meminta untuk menghentikan laju kudanya, tapi Chen Li lah yang tiba-tiba menghentikan kudanya. "Maafkan aku. Aku pasti sudah membuatmu ketakutan," ucap Chen Li yang membuat Huanran menatapnya.


"Tidak mengapa, walau aku tidak tahu masalah yang sedang kamu hadapi, tapi sebagai sahabatmu aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di saat kamu sedang bersedih seperti sekarang ini." Chen Li turun dari atas punggung kuda dan juga menurunkan Huanran.


Di bawah pohon, Chen Li duduk sambil menyandarkan punggungnya dengan mata yang terpejam. Sementara Huanran, duduk di sampingnya. "Aku tahu kita baru saja saling mengenal, tapi apa kamu tahu kalau kamu satu-satu pria yang menjadi sahabatku?"


Chen Li membuka matanya dan menatap gadis itu. "Aku tahu tidak sopan jika aku memintamu untuk membagi kisah sedihmu itu, tapi itulah fungsi sahabat. Iya, kan?" Gadis itu mencoba untuk tersenyum.


Chen Li menundukan wajahnya. Tak pantas rasanya dia menangis di depan wanita, tapi rasa sedihnya tidak mampu dia tahan. "Apa kamu percaya jika aku mengatakan kalau aku adalah seorang pangeran?" tanya Chen Li yang membuat Huanran menatapnya.


"Jika memang itu benar, maka aku akan percaya karena aku yakin sahabatku tidak mungkin berbohong padaku. Ceritakanlah, aku akan mendengarkan," ucap Huanran dengan penuh kesungguhan.


Chen Li merasa bimbang. Ada sedikit keraguan di hatinya untuk mengungkapkan jati dirinya pada gadis itu. Pertemuan mereka yang berlangsung singkat adalah salah satu alasan yang membuat Chen Li harus berpikir dua kali untuk membagi kisah hidupnya pada gadis itu.


Namun, ada sedikit rasa percaya yang muncul di hatinya yang membuatnya yakin untuk menceritakan kegundahan hati yang kini tengah dia rasakan. Dan, dia mulai yakin kalau gadis itu adalah seseorang yang mampu membuatnya merasa nyaman dan percaya padanya karena jauh di dasar hatinya, ada perasaan lain yang perlahan mulai menggoyahkan hatinya. Perasaan yang tak pernah dia rasakan pada wanita manapun, yaitu perasaan cinta.