The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 61



Melihat ibunya pergi bersama Kaisar Wang membuat Chen Li menjadi khawatir. Dia takut jika terjadi sesuatu pada ibunya itu. "Kakak, ada apa?" tanya Yuwen saat melihat kekhawatiran di wajah kakaknya itu.


"Aku khawatir pada ibu. Lelaki itu mengajaknya pergi dan aku tidak diizinkan untuk ikut. Sebaiknya, aku ikuti mereka sebelum mereka semakin jauh." Chen Li kemudian menaiki kudanya dan bergegas pergi. Karena khawatir pada kakaknya itu, Yuwen akhirnya memutuskan untuk ikut dengannya. "Kakak, tunggu aku."


Kedua pemuda itu kemudian pergi. Walau sempat kehilangan jejak, tapi mereka akhirnya bisa mengikuti, walau di tengah jalan mereka sempat melihat beberapa orang berpakaian hitam yang terlihat mencurigakan. "Kakak, mereka terlihat sangat mencurigakan. Apa tidak sebaiknya kita mengikuti mereka secara diam-diam?"


"Tapi, bagaimana dengan ibu?"


"Jangan khawatir. Ibu akan baik-baik saja. Tidak mungkin lelaki itu akan menyakiti ibu."


"Baiklah."


Dengan diam-diam, kedua pemuda itu mulai mengikuti mereka. Hingga mereka tiba di sebuah pesisir pantai. Samar-samar, mereka bisa mendengar suara deburan ombak. "Mereka akan pergi kemana?" tanya Yuwen yang kian penasaran.


"Kita ikuti saja."


Mereka masih terus mengikuti hingga mereka terkejut saat melihat kepulan asap di atas sebuah bukit kecil. Karena penasaran, mereka berusaha untuk mendekat dan benar saja mereka bisa melihat sebuah rumah yang sudah terbakar dan orang-orang bercadar yang sudah menglilingi rumah itu. "Sepertinya, mereka akan membunuh pemilik rumah itu. Kakak, apa yang harus kita lakukan?"


"Kita tunggu saja. Lagipula, kita tidak tahu siapa yang sedang mereka incar." Kedua pemuda itu masih menunggu, hingga tiba-tiba mereka melihat dua orang yang berlari keluar dari dalam rumah yang sudah terbakar itu. Karena kedua orang itu keluar sambil menutupi wajah mereka, jadi kedua pemuda itu tidak mengetahui kalau kedua orang itu adalah Kaisar Wang dan ibu mereka.


"Kakak, apa tidak sebaiknya kita membantu kedua orang itu? Sepertinya, mereka sudah terdesak."


"Baiklah, persiapkan busurmu. Ingat, apapun yang terjadi, jangan sampai kamu terbunuh."


"Tenanglah, Kak. Adikmu ini tidak semudah itu untuk mati."


Melihat salah seorang yang sudah terdesak membuat kedua pemuda itu merangsek maju dengan busur di tangannya. Orang-orang bercadar itu terlihat panik saat melihat pemimpin mereka jatuh terkapar dengan anak panah yang sudah tertancap di punggungnya.


Saat kedua pemuda itu semakin mendekat, mereka sangat terkejut ketika mereka tahu kalau yang mereka tolong adalah Kaisar Wang yang sudah terluka. "Yang Mulia, ada apa? Di mana Nyonya?" tanya Chen Li yang terlihat panik.


"Bantu aku mencari istriku. Aku menyuruhnya untuk lari dan dia lari ke arah timur." Tanpa menunggu lama, Chen Li memacu kudanya ke arah timur dan mulai mencari ibunya.


"Yuwen, pinjamkan kudamu. Aku akan mencari istriku."


"Tapi, Yang Mulia. Saat ini Yang Mulia sedang terluka. Biarkan aku dan Lian yang akan mencari Nyonya. Yang Mulia tunggu saja di sini."


"Tidak!! Saat ini istriku sedang terluka. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padanya." Yuwen kemudian turun dari atas kudanya. Walau lukanya terasa sakit dan terus mengeluarkan darah, tapi Kaisar Wang tidak peduli. Dengan sisa kekuatannya, dia mulai memacu kudanya dan berlari ke arah timur. "Istriku, maafkan aku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukaimu lagi. Tunggu aku, aku akan datang menjemputmu," Kaisar Wang menitikkan air mata. Dia tidak bisa membayangkan kalau saat ini istrinya sedang menahan sakit karena luka di lengannya itu. Walau dirinya sendiri mengalami luka panah yang cukup serius, tapi dia tidak peduli karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah istrinya.


Chen Li masih mencari ibunya yang belum juga ditemukannya. "Nyonya, keluarlah. Ini aku, Lian," teriak Chen Li yang masih berusaha untuk mencari ibunya itu.


Sementara Kaisar Wang berpencar dan mencari di pesisir pantai. "Istriku, ini aku. Keluarlah, kita sudah aman. Keluarlah, ayo kita pulang," teriak Kaisar Wang sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


Di balik batu besar di tepian pantai, Mei Yin bersembunyi. Wajahnya terlihat pucat karena darah yang masih mengalir dari lengannya. Tak hanya itu, rasa takut dan trauma tiba-tiba saja menghantuinya. Melihat kejadian itu, Mei Yin teringat akan Lian dan Raja Zhao Li. Dia pernah mengalami hal yang sama dengan dua lelaki itu. Dua lelaki yang begitu mencintainya dan rela mati untuknya. Namun, saat ini situasinya berbeda karena lelaki yang rela mati untuknya saat ini sama sekali tak dicintainya.


Samar-samar, dia mendengar suara Kaisar Wang memanggilnya. Mei Yin menutup telinganya dan tak ingin keberadaannya diketahui oleh lelaki itu. Rasanya, dia tidak ingin kembali lagi bersamanya. Namun, wajah putrinya tiba-tiba terbayang di ingatannya. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa seegois itu untuk pergi dan meninggalkan putrinya begitu saja "Apa yang harus aku lakukan?" batinnya.


"Istriku, aku mohon kembalilah. Aku akan lakukan apapun untukmu asalkan kamu kembali padaku. Aku mohon," ucap Kaisar Wang yang mulai terlihat melemah. Tiba-tiba, tubuhnya jatuh dari atas kuda dan tergeletak di atas pasir putih.


Mei Yin terkejut dan melihat ke arah suara itu. Dilihatnya tubuh Kaisar Wang tergeletak tak berdaya. Mei Yin hanya berdiri dan menatapnya tanpa melakukan apapun. "Istriku," ucap Kaisar Wang sambil mengulurkan tangannya saat melihat Mei Yin telah berdiri di dekatnya. Untuk sesaat, Mei Yin terdiam. Rasanya, dia ingin membiarkan lelaki itu mati, namun dia tidak tega untuk melakukan hal sekejam itu. Bagaimanapun juga, dirinya bisa selamat karena sudah di tolong oleh lelaki itu.


Mei Yin berjalan mendekati Kaisar Wang dan duduk di dekatnya. Dilihatnya luka panah yang terus mengeluarkan darah. Melihat luka itu, Mei Yin menitikkan air mata karena membuatnya teringat pada Lian. "Tunggu aku, aku akan mengobati lukamu." Mei Yin bangkit dan bermaksud untuk mencari tanaman obat di sekitar tempat itu, tapi tangannya segera diraih oleh Kaisar Wang. "Jangan pedulikan aku, obati dulu lukamu itu," ucap Kaisar Wang yang sudah terlihat melemah.


"Aku akan mengobati lukaku setelah aku selesai mengobati lukamu. Bertahanlah, aku akan segera kembali." Mei Yin kemudian berlari menuju ke hutan kecil yang berada tidak jauh dari pesisir pantai itu. Kaisar Wang menatap kepergiannya dengan hati yang bahagia dan juga perasaan bersalah. "Aku tahu kamu adalah wanita yang baik hati. Maafkan aku atas perbuatanku di masa lalu. Aku terlalu mencintaimu hingga membuatku tega berbuat sekejam itu padamu. Aku akan menebus kesalahanku padamu dan Zhao Li. Ah, inikah yang dirasakan Zhao Li saat itu? Ternyata, melihat orang yang kita cinta terluka rasanya lebih sakit dari luka yang kita alami."


Kaisar Wang berusaha untuk duduk dan bersandar di sebuah batu besar. Rasanya, dadanya begitu sakit hingga membuatnya mengepalkan tangannya. Namun, bayangan wajah Mei Yin mulai terlintas di pikirannya hingga membuatnya tersenyum di antara sakit yang menderanya.


Mei Yin berlari dan mendekati Kaisar Wang yang sudah bersandar di batu. Di tangannya, ada ramuan obat yang sudah ditumbuknya. "Bertahanlah, aku akan mencabut anak panah ini." Mei Yin merobek hanfunya hingga menjadi beberapa potongan. "Gigitlah ini jika terasa sakit."


"Jangan khawatirkan tanganku. Khawatirkan saja dirimu, aku baik-baik saja."


"Mei Yin, jawab aku!! Kenapa dengan tanganmu?" Wajah Kaisar Wang memerah menahan tangis saat melihat tangan istrinya itu yang berdarah. "Aku tidak sengaja terkena daun yang berduri saat mencabut tanaman obat ini, makanya tanganku berdarah. Sudahlah, biarkan aku mengobati lukamu dulu."


Mendengar penjelasan Mei Yin, hatinya begitu sedih. Demi mengobatinya, Mei Yin rela terluka. Bisa saja Mei Yin pergi meninggalkannya begitu saja, tapi nyatanya hatinya terlalu baik hingga rela menolongnya, lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya.


Mei Yin mulai mencabut patahan anak panah yang tertancap di dada Kaisar Wang. Lelaki itu terlihat menahan sakit walau pandangannya tak lepas dari wajah istrinya itu, seakan wajah istrinya itu bagaikan sebuah candu baginya. Sontak saja darah kembali keluar dari luka yang menganga. Dengan potongan hanfunya, Mei Yin mencoba menutupi luka agar tidak terlalu mengeluarkan darah. Setelah itu, tumbukan tanaman obat itu diletakkan di atas luka dan di tutupinya dengan potongan hanfu yang masih baru.


Setelah ditutupi dengan tanaman obat, darah mulai berhenti. Dengan telaten, Mei Yin mulai mengikat potongan hanfu mengitari punggung Kaisar Wang untuk menutupi lukanya itu. Embusan nafas Mei Yin terdengar memburu di telinga lelaki itu dan membuatnya tersenyum. Dengan lembutnya, Kaisar Wang menyentuh wajah istrinya itu. "Terima kasih," ucapnya tulus. Mei Yin hanya tersenyum dan terduduk lemas di sampingnya.


Melihat wajah Mei Yin yang terlihat lemah dan pucat membuat Kaisar Wang menjadi panik. "Istriku, istirahatlah. Sebentar lagi, Lian dan Yuwen pasti menemukan kita." Mei Yin mengangguk sambil tersenyum, namun pandangan matanya mulai terasa kabur hingga membuatnya menyandarkan kepala di bahu Kaisar Wang. Lelaki itu kemudian mendekap tubuh istrinya itu dengan tangan kirinya dan menitikkan air mata saat melihat lengan istrinya yang berdarah.


Chen Li yang melihat mereka kemudian berlari mendekat. Dilihatnya sang ibu yang kini sudah tidak sadarkan diri. "Nyonya." Tanpa sadar, Chen Li menitikkan air mata. Tangannya gemetar saat menyentuh luka di lengan ibunya itu.


"Lian, bantu aku obati luka di lengan istriku. Cepatlah!!"


Luka di lengan Mei Yin ternyata cukup dalam. Sisa tanaman obat kemudian diletakkan di atas lukanya itu dan ditutupi dengan sisa hanfu yang tadi dirobeknya. Tak lama kemudian, Yuwen datang dengan beberapa orang prajurit dan sebuah kereta kuda. "Yang Mulia, maaf, kami datang terlambat."


"Tak apa, cepat angkat Permaisuri. Aku akan menemaninya di dalam kereta."


Chen Li kemudian mengangkat ibunya dan membawanya ke dalam kereta. "Ibu, bertahanlah. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," ucap Chen Li pelan saat meletakkan tubuh ibunya itu.


Kaisar Wang kemudian masuk ke dalam kereta dan duduk di samping istrinya sambil menggenggam erat tangannya.


"Yuwen, antar mereka kembali ke kerajaan. Ada hal yang harus aku lakukan." Chen Li lalu menunggangi kudanya. Pemuda itu kemudian pergi menuju ke tempat mayat-mayat penyerang bercadar itu.


Setibanya di sana, Chen Li mulai membuka penutup wajah mayat-mayat itu dan mencoba mencari tahu tentang mereka, namun tidak ada hasil. Baru saja dia ingin melangkah pergi, pandangannya tiba-tiba tertuju pada salah satu penyerang yang rupanya masih bergerak. Chen Li segera berlari ke arahnya. "Siapa kalian? Kenapa kalian ingin membunuh Nyonya Wang?" Chen Li mencengkeram kerah jubah lelaki itu hingga setengah tubuhnya terangkat.


"Dia pantas untuk mati dan kerajaan kalian akan segera hancur. Lihat saja, kerajaan kalian akan hancur!!" Tiba-tiba saja, sebuah anak panah melesat dan menancap di punggungnya. Sontak, lelaki itu seketika saja mati dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.


Chen Li menghempaskan tubuh yang sudah kaku itu dan mencari asal anak panah dan dia melihat seseorang yang berlari di balik pepohonan. Chen Li menaiki kudanya dan mengikuti orang itu, tapi terlambat karena orang itu sudah pergi menjauh. "Sial!!" seru Chen Li kesal.


Pemuda itu kemudian kembali ke kerajaan. Rasa khawatir pada sang bunda membuatnya gelisah. Di depan pintu kamar ibunya, Chen Li berdiri dengan harap-harap cemas.


Guan Yin yang juga berdiri di depan pintu terus memperhatikan tingkah Chen Li yang baginya sudah terlalu berlebihan. "Apa mungkin, seorang pengawal bisa sekhawatir itu pada majikannya? Dia terlihat seperti seorang anak yang sedang mengkhawatirkan ibunya."


Pintu kamar terbuka. Seorang tabib terlihat keluar. "Tabib, bagaimana keadaan ayah dan ibuku?" Guan Yin terlihat cemas.


"Yang Mulia dan Permaisuri baik-baik saja. Untung saja Permaisuri cepat menghentikan pendarahan dengan tanaman herbal, jika tidak mereka pasti sudah tewas karena kehabisan darah."


Mendengar penjelasan tabib membuat mereka lebih tenang, terutama Chen Li. Pemuda itu mengembuskan nafas lega hingga membuatnya menitikkan air mata. Chen Li kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya. Di sana, dia menangis saat mengingat kejadian itu. Kejadian di mana membuat dia takut kehilangan lagi. Dia takut kehilangan ibunya di saat dia belum sempat membalaskan dendamnya.


"Kakak, aku mengerti perasaanmu, tapi sikapmu itu sudah membuat Guan Yin semakin curiga." Yuwen tiba-tiba datang dan berdiri di depannya.


"Aku tidak peduli karena saat ini, ibuku menjadi sasaran pembunuhan. Orang-orang itu ingin membunuh ibuku dan menghancurkan kerajaan ini!!" Chen Li geram dan memukul meja hingga retak.


"Apa maksudmu?"


"Ada orang yang tidak menyukai ibu dan menginginkan kerajaan ini hancur. Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan itu. Aku akan mencari tahu siapa dalang dari percobaan pembunuhan terhadap ibuku!!" Wajah Chen Li merah padam, tak hanya dirinya saja yang marah dengan percobaan pembunuhan atas ibunya, tapi Kaisar Wang pun merasakan hal yang sama hingga membuatnya memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang orang-orang itu.


Tak hanya itu saja, lelaki yang masih terlihat gagah dan tampan itu terlihat mendatangi kediaman Permaisuri Yuri. Wajahnya tampak marah. Melihat kedatangannya, seorang dayang segera berlari menemui Permaisuri Yuri. "Permaisuri, Yang Mulia sedang menuju kemari. Sepertinya, Yang Mulia sedang marah."


Belum sempat dayang itu keluar kamar, mereka dikejutkan dengan suara pintu yang didobrak dengan kerasnya. Permaisuri terkejut, tapi dia berusaha terlihat tenang. "Yang Mulia, ada apa ... " Permaisuri tercekat karena tiba-tiba saja Kaisar Wang mendekatinya dan mencekik lehernya hingga tersandar di dinding kamarnya.