The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 70



Sebelum matahari terbit, Liang Yi, Yuwen dan pasukan dari kerajaan sudah merapatkan barisan dan bergabung bersama pasukan Chen Li. "Paman, apa di kerajaan baik-baik saja?"


"Jangan khawatir, situasi di kerajaan sudah aman. Pengawal Yue yang kini menjaga ibu dan adikmu. Kaisar Wang telah tewas di tangan Putri Yuri, wanita itu dan penasehatnya juga telah tewas. Sekarang, kita fokus saja pada peperangan ini."


Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Di depannya kini, berdiri Putri Xia yang memandanginya. "Aku, Putri Xia, akan menanggung hukuman atas semua kejadian ini. Pangeran Chen Li, berilah hukuman padaku dan bebaskan rakyatku." Di depannya, gadis itu berlutut dan menunduk dengan air matanya yang jatuh.


Chen Li kemudian turun dari atas kudanya dan berjalan mendekatinya. "Mana Huanran? Bawa dia keluar dan aku akan melupakan kejadian ini karena kalian tidak akan bisa melawan lagi. Ibumu dan penasehatnya telah tewas." Putri Yuri terkejut hingga membuatnya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Chen Li. Terlihat dia menitikan air mata. "Aku tahu dosa ayah dan ibuku terlampau besar pada keluargamu hingga membuatmu ingin membalaskan dendam itu padaku. Chen Li, aku rela jika kamu ingin membunuhku, asalkan kamu tidak mempermainkan perasaanku. Aku mencintaimu tulus, tapi aku tahu kamu mencintai Huanran." Putri Xia tak mampu melanjutkan ucapannya dan kembali gadis itu menangis.


"Chen Li, maafkan aku karena Huanran telah pergi. Karena dirinya, peperangan ini tidak akan terjadi karena dia akan menjadi pengantin Raja Wu Lai."  Chen Li terkejut dan mendekatinya. "Apa maksud ucapanmu itu?"


"Raja Wu Lai mencintainya dan Huanran menerimanya karena dia mulai mencintai raja itu. Dia ingin menghentikan peperangan ini untuk selamanya karena itu dia menggantikanku dan pergi dengan tandu pengantin ke perbatasan di mana Raja Wu Lai sudah menunggunya."


Chen Li terlihat marah. Diraihnya tubuh Putri Xia dan menaikannya di atas punggung kudanya. "Suruh mereka buka pintu gerbang itu dan antarkan aku ke perbatasan." Perintah Chen Li yang sudah duduk di belakangnya.


Putri Xia kemudian memerintahkan untuk membuka pintu gerbang. Dengan memacu kudanya, mereka merangsek maju menerobos orang-orang itu dan menuju perbatasan. Putri Xia hanya terdiam tanpa kata. Yang didengarnya hanya helaan nafas Chen Li yang memburu di belakang telinganya. "Aku tahu kamu mencintainya, tapi dia tidak akan kembali padamu. Chen Li, Huanran mencintai Raja Wu Lai dan kamu tidak bisa merubah itu."


"Diamlah, aku tidak ingin menyakitimu, jadi diamlah!!" Chen Li terus memacu kudanya, dan di depannya tampak perbatasan. Sebuah kereta terlihat di depannya hingga membuat Chen Li semakin memacu kudanya.


"Nyonya, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap seorang wanita dari Kerajaan Wu yang diutus untuk menjemput pengantin wanita. Wanita itu sesekali melihat ke belakang hingga tiba-tiba kereta mereka berhenti karena dihadang paksa.


Chen Li bergegas turun dan berjalan mendekati kereta itu. "Huanran, keluarlah aku ingin bicara denganmu."


Huanran terkejut saat mendengar suara yang sangat dikenalinya itu. "Chen Li, kembalilah. Kita tidak akan mungkin bisa bersama karena ini adalah keputusanku. Aku mencintainya, karena itu biarkan aku menemuinya karena dia sedang menungguku."


Chen Li kemudian membuka pintu kereta itu dan melihat Huanran yang sudah mengenakan gaun pengantin. "Lalu, cincin ini tidak ada artinya bagimu?" Chen Li melepaskan cincin giok berwarna merah dari jarinya dan menunjukannya pada Huanran.


Seketika Huanran menitikan air mata. "Itu hanya sebuah cincin, aku memberikannya padamu sebagai tanda persahabatan."


"Apa selama ini kamu hanya menganggapku sebagai sahabat? Huanran, apakah tak sedikitpun kamu mencintaiku?" Matanya memerah dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


"Chen Li, maafkan aku. Aku menyayangimu, karena itu aku melakukan semua ini. Aku tidak ingin menyakiti sahabatku dan aku tidak ingin terjadi peperangan lagi. Aku ingin dua kerajaan ini hidup aman dan damai karena aku tidak ingin lagi melihat keluarga yang hancur dan terpisah karena peperangan. Chen Li, aku yakin ibumu akan melakukan hal yang sama jika dia berada di posisiku saat ini. Chen Li, relakanlah aku pergi."


"Huanran, aku mencintaimu."


"Aku tahu, tapi maaf, aku mencintai Raja Wu Lai. Chen Li, maafkan aku, tapi sebagai sahabatmu, aku mohon jangan sakiti Putri Xia. Dia sangat mencintaimu, karena itu aku mohon cobalah untuk menerima cintanya." Huanran kemudian turun dari kereta dan berjalan mendekati Putri Xia yang berdiri tidak jauh darinya.


"Putri Xia, aku mohon, tetaplah mencintai Chen Li dan berusahalah agar dia mencintaimu. Aku yakin, dengan kesungguhan cintamu, Chen Li pasti akan mencintaimu." Huanran kemudian memeluknya.


Dari arah Kerajaan Wu, terlihat seseorang yang menunggangi kuda dan berlari ke arah mereka. Setibanya di depan mereka, orang itu yang tidak lain adalah Raja Wu Lai turun dari atas kudanya. Melihat kedatangannya, Huanran membuka penutup wajahnya dan terlihat senyuman mengembang di bibir pemuda itu. "Aku tahu kamu pasti akan kembali padaku." Raja Wu Lai kemudian mendekati Huanran dan memeluknya.


Raja Wu Lai tampak bahagia karena wanita yang sangat dicintainya itu kini telah kembali padanya. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Raja Wu Lai yang belum juga melepaskan pelukannya. Huanran tersenyum dan membalas pelukannya. "Aku pasti akan kembali padamu, bukankah itu adalah janjiku padamu?" Raja Wu Lai mengangguk dan mengecup mesra dahi kekasihnya itu dan menggenggam tangannya erat. Chen Li yang merasa cemburu, perlahan memalingkan wajahnya.


Melihat dua orang di depannya membuat Raja Wu Lai memandangi mereka. Huanran yang paham lantas memperkenalkan kedua sahabatnya itu padanya. "Mereka adalah sahabatku. Dia adalah Putri Xia dan ini adalah Pangeran Chen Li." Raja Wu Lai tersenyum dan memberi hormat pada mereka.


"Aku, Wu Lai, salam kenal."


Chen Li mengangguk dan membalas memberi hormat. Sejenak, dia bisa melihat rasa cinta yang ditunjukan Raja Wu Lai pada Huanran, karena pemuda itu tak melepaskan genggaman tangannya dari Huanran. "Apa kamu mencintai Huanran?"


Raja Wu Lai mengangguk dan tersenyum. "Aku sangat mencintainya. Andai saat ini dia tidak kembali padaku, maka aku akan mati dalam peperangan ini karena aku tidak bisa hidup tanpa Huanran di sampingku." Pemuda itu memandangi Huanran dan mengeratkan genggaman tangannya.


"Berjanjilah padaku untuk membahagiakan Huanran, jika aku mendengar dia menderita karenamu, maka aku akan menyerang kerajaanmu dan menghancurkannya. Apa kamu mengerti?"


Raja Wu Lai tersenyum dan mengangguk. "Aku mengerti. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti Huanran karena aku sangat mencintainya."


Chen Li kemudian mendekati Huanran dan memberikan cincin giok berwarna merah itu padanya. "Aku kembalikan cincin ini padamu karena aku sudah menemukan tujuanku. Aku turut bahagia karena dirimu telah menemukan seseorang yang mencintaimu. Aku, Chen Li, dengan senang hati akan menerima kedatangan kalian karena mulai saat ini tidak ada lagi peperangan di antara kerajaan kita. Mulai sekarang, kita hentikan permusuhan dan kita jalin persahabatan." Huanran menerima cincin itu dan tersenyum. Raja Wu Lai pun memeluk Chen Li sebagai tanda persahabatan. "Aku akan mengingat hari ini. Mulai saat ini, kerajaan kita akan menjadi saudara."


Huanran kemudian mendekati Putri Xia dan meraih tangannya. "Aku titipkan cincin ini padamu." Huanran memakaikan cincin itu di jari manis Putri Xia dan tersenyum padanya. "Dia pasti akan mencintaimu, aku yakin itu. Xia, aku titipkan Chen Li padamu, tolong jaga dia dan tetaplah berikan cintamu padanya." Kedua gadis itu saling memeluk dan menangis.


Huanran kemudian mendekati Raja Wu Lai dan menggenggam tangannya. "Ayo, kita pergi." Pemuda itu mengangguk. Huanran lantas dinaikannya di atas punggung kuda dan disusul olehnya. Huanran memandangi kedua sahabatnya itu. "Aku harap kalian selalu bahagia. Aku menyayangi kalian." Huanran menitikan air mata dan Raja Wu Lai menyadari itu. Dengan lembutnya, pemuda itu memeluk Huanran dan mengecup pipinya.


Walau masih terasa berat kehilangan Huanran, tapi jauh di lubuk hatinya Chen Li turut bahagia karena Huanran telah menemukan pemuda yang sangat mencintainya. "Aku selalu berharap agar kamu bahagia, Huanran." Air bening perlahan jatuh membasahi pipinya.


Sementara Huanran, mencoba untuk tidak menangis, namun air bening itu selalu mencari celah agar bisa keluar. "Menangislah, aku tahu kamu sedih. Jangan simpan tangismu itu, karena setibanya di kerajaan, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi." Raja Wu Lai memeluknya erat dan Huanran pun menangis dalam pelukannya.


Chen Li kemudian naik ke atas punggung kudanya dan mendekati Putri Xia yang sudah berjalan menjauh darinya. "Apa kamu ingin berjalan dan tidak ingin pulang bersamaku?" Chen Li berjalan di samping Putri Xia yang masih terus berjalan.


"Maafkan aku, aku terlalu hina jika harus duduk di atas kuda bersamamu. Pergilah, aku akan berjalan saja karena hukuman ini masih kurang buatku. Aku akan menerima hukuman apapun darimu, asalkan jangan hukum rakyatku, aku mohon." Putri Xia terus berjalan sementara Chen Li hanya memandanginya. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan." Chen Li kemudian memacu kudanya dan meninggalkan Putri Xia berjalan seorang diri. Melihat Chen Li meninggalkannya begitu saja, gadis itu tersenyum. "Pergilah, karena sakit yang aku rasakan saat ini tak sebanding dengan sakit yang kamu alami selama bertahun-tahun. Chen Li, maafkan aku karena orang tuaku, hidupmu menderita." Putri Xia menangis dan terus berjalan walau kakinya sudah mulai merasa sakit, namun gadis itu tetap melangkah.


Chen Li yang merasa tidak tega, berusaha untuk terlihat tidak peduli. Walau dia sadar, Putri Xia tidaklah bersalah atas dosa orang tuanya, tapi rasa marah dan benci pada orang tua gadis itu sudah membuat Chen Li ikut membencinya.


Chen Li memasuki Wilayah Dataran Timur. Sepanjang perjalanan, orang-orang menunduk memberi hormat padanya. Pasukan yang awalnya akan memberontak, juga memberi hormat padanya.


"Paman, apa yang terjadi?"


"Sepertinya, Putri Xia memerintahkan mereka untuk menghentikan aksi pemberontakan ini. Chen Li, di mana gadis itu?"


"Aku meninggalkannya di perbatasan."


"Chen Li, Paman tidak mengajarkanmu untuk bersikap kejam pada wanita, apalagi dia sangat mencintaimu. Pergilah dan jemput dia kembali."


"Tapi, Paman ..."


"Cepatlah, apa kamu tidak kasihan padanya?"


Dengan berat hati Chen Li menuruti perintah pamannya itu. Dengan segera dia kembali ke perbatasan dan setibanya di sana dia melihat Putri Xia sedang duduk di bawah pohon sambil memegang kakinya yang lecet dan berdarah. Tak hanya itu, Putri Xia ternyata sedang menangis sesenggukan karena meratapi dirinya yang kini sendirian.


"Apa dengan menangis kamu bisa mengobati lukamu itu?" Chen Li turun dari kuda dan berjalan mendekatinya.


Putri Xia menghapus air matanya dan menundukan wajahnya. Melihat Chen Li yang berjalan mendekatinya membuat gadis itu segera bangkit dan ingin melanjutkan perjalanannya, namun langkahnya terhenti karena Chen Li segera menarik tangannya. "Apa kamu marah padaku karena pergi meninggalkanmu?"


"Bagaimana mungkin gadis hina ini bisa marah padamu. Aku tidak marah padamu, tapi aku marah pada diriku sendiri karena di takdirkan hidup seperti ini. Andai aku bisa memilih, aku ingin hidup menjadi gadis biasa, namun di kelilingi cinta tulus dari orang tua. Aku ingin marah dengan takdirku ini, tapi pada siapa? Rasanya aku ingin mati, tapi aku tidak bisa meninggalkan rakyatku begitu saja. Aku mohon, bunuh saja aku, dan jagalah rakyatku, aku mohon padamu." Putri Xia berlutut di depan Chen Li dengan tangisan yang kian menjadi. Wajahnya memerah dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Chen Li menatap iba ke arah gadis itu. Melihatnya menangis, timbul perasaan sedih yang mengganggu hatinya. "Aku tidak akan membiarkanmu mati tanpa seizinku. Nyawamu sekarang adalah milikku. Bangkitlah, rakyatmu sudah menunggumu dan aku tidak akan menghukummu dan juga rakyatmu. Ayo, kita kembali dan segeralah obati lukamu itu." Chen Li meraih tubuh Putri Xia dan menaikkannya di atas punggung kuda dan di susul olehnya. Putri Xia hanya terdiam tanpa bisa melakukan apapun karena apa yang diucapkan Chen Li tidak bisa dibantahnya.


"Ibu dan pamanmu telah tewas dan mereka mati sebagai pemberontak. Apa kamu tahu hukuman bagi pemberontak? Jasad mereka akan digantung di alun-alun kota dan dibiarkan hingga dimakan burung pemakan bangkai." Chen Li berkata tanpa ragu, karena itu memang adalah hukuman bagi pemberontak dan dia akan lakukan hukuman itu.


"Mereka pantas untuk mendapatkannya, aku takkan membela atau menangisi mereka. Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, aku akan menerima." Putra Xia berusaha tegar dan tidak peduli, walau jauh di lubuk hatinya dia menangisi ibunya yang harus mati dengan terhina.


"Kaisar Wang juga telah wafat karena dibunuh oleh ibumu sendiri. Apa kamu tahu kalau ibumu yang memerintahkan pembunuh untuk membunuh ibuku dan juga ayahmu?"


Mendengar ucapan Chen Li, Putri Xia menangis. Gadis itu menundukan wajahnya dengan kedua tangannya yang mengepal. "Apa yang harus aku lakukan agar dosa ibuku bisa terampuni? Aku ... aku harus berbuat apa untuk menebus kesalahan mereka padamu? Kamu memang pantas untuk membenciku, bahkan kamu pantas untuk membunuhku karena dosa mereka padamu. Chen Li, aku tidak ingin hidup lagi daripada harus dibenci olehmu. Aku pantas untuk mati di tanganmu." Gadis itu menangis sesenggukan karena dia harus mengubur rasa cintanya pada Chen Li. Dosa orang tuanya, kini harus ditanggung olehnya dan rasa cintanya harus di enyahkan dari hatinya karena dirinya kini bagaikan orang yang terhina.


Chen Li hanya terdiam mendengar apa yang diucapkan gadis itu. Rasa bersalah dan putus asa begitu terlihat di wajah cantiknya. "Baiklah, aku akan memaafkan dan melupakan semua yang telah dilakukan orang tuamu pada keluargaku, tapi ada syaratnya."


"Katakanlah, apapun itu akan aku lakukan." Putri Xia terlihat yakin tanpa ragu sedikitpun.


"Kamu harus melakukan apapun yang aku katakan tanpa membantah padaku, bahkan jika aku menyuruhmu untuk mati, kamu harus lakukan itu. Apa kamu sanggup?"


"Aku sanggup, aku takkan membantah apapun yang kamu perintahkan padaku walau mati sekalipun, aku akan lakukan asalkan kamu tidak lagi membenciku dan memaafkan kesalahan orang tuaku."


"Baiklah, saat ini juga kamu adalah pelayanku dan kamu tidak diizinkan untuk meninggalkan kerajaan tanpa izinku. Rakyatmu akan selalu di awasi dan orang kepercayaanku yang akan menggantikanmu menjadi pimpinan mereka. Dan jika sekali lagi mereka memberontak, tanpa ampun aku akan membunuh mereka."


Putri Xia mengangguk menyetujui apa yang sudah ditetapkan Chen Li untuknya dan juga rakyatnya. Dia akan menerima hukuman itu tanpa membantah sedikitpun.


Di depan rakyatnya, Putri Xia menjelaskan tentang hukuman yang akan dijalaninya. Mendengar itu, mereka menangis karena menyesal atas perbuatan mereka, namun itu semua sudah terjadi dan tak bisa diubah.


Sambil menangis, Putri Xia meninggalkan Wilayah Dataran Timur dan kembali ke kerajaan, tapi bukan lagi sebagai seorang putri, tapi sebagai seorang pelayan.