
Malam itu, Jenderal Wang Li menumpahkan rasa marah dan cemburunya dengan membabat habis hutan itu. Melihat hutan yang hampir rata, membuat Jenderal Wang Li tersenyum puas. Sebelum matahari terbit, Jenderal Wang Li kemudian meninggalkan hutan itu.
Di dalam kamarnya, dia menatap wajahnya di depan cermin. Sebuah senyuman penuh rasa benci tersirat dari sudut bibirnya. "Aku akan membuatmu lepas darinya dan hanya padaku kamu akan menyandarkan tubuhmu itu hingga kamu tidak bisa lepas lagi dari genggamanku," ucap Jenderal Wang Li penuh rasa yakin.
Dengan gagahnya, Jenderal Wang Li pergi ke villa bunga. Walaupun semalam dia tidak tidur, tapi wajahnya tidak menunjukan kelelahan sedikitpun. Wajahnya terlihat tampan dan penuh kharisma.
Di depan villa bunga, Jenderal Wang Li bertemu dengan Putri Yuri yang juga ingin menjenguk Mei Yin dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya. "Apa kamu masih ingin menjadi selir dari Raja Zhao Li?" tanya Jenderal Wang Li tiba-tiba.
Putri Yuri menatap lelaki itu heran. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Apa maksud Jenderal Wang? Apa aku masih punya kesempatan untuk itu?"
Jenderal Wang Li menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Putri Yuri. "Aku bisa membantumu mendapatkan posisi itu, tapi apa yang bisa kamu berikan padaku sebagai imbalannya?"
Putri Yuri tersenyum kecut saat mendengar ucapan Jenderal Wang Li. Dia tidak menyangka, lelaki yang selama ini di anggap setia kepada Raja Zhao Li ternyata ingin membantunya. "Kalau aku boleh tahu, kenapa Jenderal Wang ingin membantuku? Apa ada alasan yang begitu berarti hingga Jenderal Wang mau membantuku?"
"Apa aku perlu menjelaskan alasanku padamu? Aku tidak menanyakan alasan yang membuatmu begitu bersikukuh untuk menjadi selir Raja Zhao Li, lantas untuk apa kamu menanyakan alasanku?"
Putri Yuri tersenyum. "Aku tahu alasan Jenderal Wang membantuku. Aku bisa melihatnya dari caramu memandangnya. Aku tahu kamu mencintainya, apa yang aku katakan itu salah?" tanya Putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li menghentikan langkahnya.
"Ternyata wanita itu sangat hebat hingga bisa membuat dua orang lelaki tidak bisa berkutik. Apa Jenderal Wang tidak merasa curiga kenapa kita diajak berburu ke hutan? Ah, itu karena mereka ingin menjodohkan kita berdua. Mereka ingin membuat kita dekat dan setelah itu mereka akan melamarku untuk menjadi istrimu. Apa kamu tidak tahu itu?"
"Kalau kamu sudah tahu itu, lalu kenapa kamu masih ada di tempat ini? Kamu bisa saja pergi dan menolak lamaran mereka. Apa ada hal yang masih ingin kamu lakukan?"
"Sebaiknya, kita bertemu di tempat lain saja dan membicarakan hal ini. Aku takut jika pembicaraan kita ini di ketahui orang lain. Dan satu hal lagi, bersikaplah biasa di depan wanita itu. Jangan perlihatkan tatapan cintamu itu di depannya kalau kamu masih ingin berada di sampingnya," ucap Putri Yuri yang kemudian mengalihkan pandangannya karena Dayang Ling tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Jenderal Wang dan Putri Yuri, silakan ikuti saya. Raja Zhao Li dan Permaisuri Mei Yin sudah menunggu kalian di dalam," ucap Dayang Ling dan mempersilakan mereka berdua mengikutinya.
"Masuklah," ucap Raja Zhao Li saat Dayang Ling memberitahukan kalau Jenderal Wang Li dan Putri Yuri sudah datang.
Mereka kemudian masuk dan mendapati Raja Zhao Li dan Permaisuri Mei Yin tengah duduk bersama.
"Duduklah."
Mereka kemudian duduk dan saling berhadapan. "Adik Mei, bagaimana keadaanmu? Apa Adik Mei masih merasakan sakit?" tanya Jenderal Wang Li yang begitu cemas dengan keadaan Mei Yin.
"Berkat Kakak Wang, aku bisa selamat. Terima kasih karena Kakak Wang sudah menyelamatkanku. Aku berhutang budi pada Kakak Wang dan aku akan mengabulkan permintaan Kakak Wang. Katakanlah, aku dan juga suamiku akan berusaha untuk memenuhi permintaan Kakak Wang," ucap Mei Yin yang diiyakan oleh Raja Zhao Li.
Jenderal Wang Li tersenyum walau di hatinya ada satu permintaan yang ingin diungkapkannya. "Apa kamu akan mengabulkan permintaanku kalau aku memintamu untuk meninggalkan Zhao Li dan datang padaku?" batin Jenderal Wang Li. Namun, permintaan itu hanya bisa disimpannya di dasar hatinya dan berpura-pura tersenyum di depan mereka. "Adik Mei, aku tidak memerlukan apapun. Itu semua aku lakukan karena itu sudah merupakan kewajibanku."
Mei Yin tersenyum dan menatap ke Raja Zhao Li yang juga tersenyum. "Maksud kami mengundang kalian berdua karena ada suatu hal yang ingin kami berdua sampaikan. Putri Yuri, aku ingin melamarmu untuk menjadi istri Kakak Wang, apa Putri Yuri keberatan?" tanya Raja Zhao Li yang membuat wanita itu terkejut. Dia tahu, cepat atau lambat Raja Zhao Li pasti akan melamarnya untuk Jenderal Wang, tapi dia tidak menyangka kalau Raja Zhao Li akan mengatakannya secepat itu.
"Maafkan hamba, Yang Mulia. Itu suatu kehormatan buat hamba, tapi apakah Jenderal Wang Li akan menerima hamba sebagai istrinya?" tanya Putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li menoleh ke arahnya.
"Kakak Wang, maafkan aku karena aku telah memilih Putri Yuri untuk menjadi calon istri Kakak. Aku lakukan ini karena tidak satupun wanita yang aku undang bisa menarik perhatianmu. Karena itu, tanpa minta persetujuanmu terlebih dulu, aku telah mengundang Putri Yuri. Aku minta maaf, jika apa yang aku lakukan ini telah membuat Kakak Wang tersinggung," ucap Mei Yin sambil menundukan wajahnya.
Melihat Mei Yin menunduk dengan rasa bersalah membuat hati lelaki itu luluh. Sungguh, dia tidak mampu melihat raut kesedihan di wajah cantik itu. Hatinya bagai tersihir hingga dia rela melakukan apapun hanya untuk melihat sebuah senyuman di wajah cantik itu. "Adik Mei, lakukan saja apa maumu, aku akan menerimanya. Aku tidak keberatan jika Putri Yuri juga tidak keberatan. Aku akan menerima apapun yang Adik Mei lakukan untukku, aku akan menerimanya," ucap Jenderal Wang Li yang membuat Putri Yuri menatapnya.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah gila?" batin Putri Yuri yang merasa heran dengan sikap lelaki itu.
Mei Yin tersenyum saat mendengar ucapan Jenderal Wang Li. Senyumnya terlihat begitu menawan di depan mata lelaki itu. Jenderal Wang Li menatap senyuman indah yang membuat hatinya luluh dan menerima semua yang dikatakan Mei Yin untuknya.
"Putri Yuri, apakah Putri Yuri juga setuju?" tanya Raja Zhao Li yang membuat dirinya menjadi bimbang. Bagaimana mungkin dia bisa menerima lamaran itu jika yang dia harapkan adalah menjadi selir dari Raja Zhao Li. Apa gunanya dia menjadi istri dari seorang jenderal jika dia tidak mempunyai kekuasaan?
"Baiklah, aku dan Permaisuri akan menunggu, tapi sebaiknya jangan terlalu lama."
"Baik, Yang Mulia."
Pertemuan itu berakhir dengan makan siang bersama. Mereka tampak akrab dengan suasana kekeluargaan. Putri Yuri memberikan bingkisan berupa makanan kecil yang dibuatnya sendiri dan Mei Yin sangat menyukainya.
"Sepertinya, kami harus undur diri. Secepatnya, aku akan memberikan jawabanku," ucap Putri Yuri sambil berdiri dan menunduk memberi hormat. Begitupun dengan Jenderal Wang Li yang melakukan hal serupa dan berjalan mengikuti gadis itu dari belakang.
Di luar villa bunga, Putri Yuri tampak kesal. Wajah cantiknya menatap heran ke arah Jenderal Wang Li. "Jangan katakan apapun, sebaiknya kita bicarakan hal ini di kamarku saja, lagipula tidak ada yang akan curiga," ucap Jenderal Wang Li sambil berjalan menuju kamarnya.
"Masuklah." Jenderal Wang Li mempersilakan wanita itu untuk masuk. Dengan sedikit ragu, Putri Yuri melangkahkan kaki dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan itu ada beberapa sekat yang memisahkan antara ruangan untuk duduk dan kamar.
"Duduklah," ucap Jenderal Wang Li sambil meletakkan sebuah teko yang berisikan teh melati yang dipanaskan di sebuah api kecil. Di atas sebuah meja kecil, Jenderal Wang Li meletakkan dua buah cangkir dan menuang teh melati yang sudah dipanaskan itu. "Minumlah," ucap Jenderal Wang Li sambil mengambil salah satu cangkir dari atas meja dan mulai menyeruput teh melati yang masih panas itu.
"Apa Tuan bisa setenang ini setelah apa yang Tuan ucapkan tadi?" tanya Putri Yuri yang masih tidak percaya dengan pengakuan lelaki itu di depan Raja Zhao Li dan Mei Yin.
"Tenanglah, aku hanya tidak bisa mengatakan tidak di depannya."
Mendengar jawaban lelaki itu membuat Putri Yuri mengernyitkan keningnya dan tersenyum sinis. "Oh, jadi karena dia kamu mengiyakan semua ucapannya tanpa bertanya dulu padaku?"
"Memangnya, apa aku perlu meminta persetujuanmu? Ingatlah, saat ini kita sama-sama membutuhkan. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan dia dan kamu bisa melakukan apapun sesuka hatimu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, bukankah itu cukup adil?"
"Adil katamu? Tuan Wang, andai aku menerima tawaran mereka untuk menjadi istrimu, lantas apa kesepakatan kita masih berlaku? Aku tidak menginginkan menikah dengan seorang jenderal yang tidak mempunyai kekuasaan. Aku butuh kekuasaan agar aku bisa menjaga Wilayah Dataran Timur tetap aman dan kekuasaan itu bisa aku dapatkan jika aku bisa menyingkirkan wanitamu itu dari sisi Raja Zhao Li," jelas Putri Yuri.
"Apa benar hanya itu alasanmu? Apa kamu lupa siapa yang sudah melukai Raja Wu Zia hingga dia bisa mati dengan cara mengenaskan? Apa kamu pikir, aku tidak mempunyai kekuasaan?" tanya Jenderal Wang Li yang tidak terima diremehkan dan dibandingkan dengan Raja Zhao Li.
Putri Yuri terdiam. Dia akui kebenaran dari ucapan lelaki itu dan dia tidak bisa pungkiri itu. "Lalu menurutmu, apa yang harus kita lakukan? Apa kamu ingin aku menerima lamaran itu dan menikah denganmu?"
"Cobalah untuk mengulur waktu. Aku akan memikirkan cara yang tepat. Aku juga tidak ingin terus menerus melihat dia bersama lelaki itu. Rasanya, aku ingin membawa dia pergi dan memisahkan mereka. Aku sangat membenci lelaki itu hingga membuatku ingin membunuhnya," ucap Jenderal Wang Li sambil mengepal cangkir di tangannya hingga membuat cangkir itu pecah di dalam genggaman tangannya.
Putri Yuri terperanjat. Dia terkejut melihat kekuatan lelaki yang duduk di depannya itu. "Apa maksudmu dengan membunuhnya? Tuan, berhati-hatilah dalam berucap karena dindingpun punya telinga. Apa Tuan ingin dipenggal jika ada yang mendengar ucapan Tuan barusan?"
"Kenapa, apa kamu takut? Asal kamu tahu, selama ini aku hanya berpura-pura baik di depannya agar aku bisa lebih dekat dengan wanitanya. Aku ingin leluasa bertemu dengan wanita itu agar aku bisa menikmati kecantikan wajahnya dan menarik perhatiannya. Apa aku salah jika aku ingin memiliki apa yang sepantasnya aku miliki?" Wajah Jenderal Wang Li memerah karena menahan amarah.
"Seharusnya aku yang harus menjadi raja. Seharusnya aku yang kini memilikinya. Semua yang ada di kerajaan ini seharusnya adalah milikku, tapi mereka sengaja membuangku agar aku jauh dari kerajaan ini. Mereka sengaja menjadikanku jenderal dan menempatkanku di perbatasan agar aku mati terbunuh, tapi mereka salah karena nyatanya aku masih bisa bertahan hingga sekarang dan sudah waktunya aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Jenderal Wang Li meluapkan segala unek-unek yang selama ini disimpannya.
Kesempatan baginya untuk meraih kembali mahkota raja kini ada di depan matanya. Itulah niatnya selama ini yang berusaha terlihat baik dan penurut tanpa ada yang mencurigainya. Namun, sejak bertemu dengan Mei Yin, niatnya yang selama ini dipendamnya seakan menggebu dan berontak. Dia ingin secepatnya menggulingkan Raja Zhao Li dan merebut permaisuri untuk dijadikan sebagai miliknya. Hanya miliknya.
"Apa maksud ucapan Tuan barusan? Apa maksud Tuan dengan mengatakan kalau semua yang ada di kerajaan ini seharusnya milik Tuan? Apa ada yang aku tidak ketahui?" tanya Putri Yuri penasaran.
"Kenapa? Apa sekarang kamu tertarik setelah aku mengatakan semuanya?" Jenderal Wang Li kemudian menceritakan tentang masa lalunya yang harus kehilangan takhta karena ayahnya yang memutuskan untuk meninggalkan takhtanya dan diganti oleh adiknya, yaitu raja terdahulu yang merupakan ayah Raja Zhao Li.
Putri Yuri mendengar penjelasan itu dengan seksama. Dia tidak menyangka, lelaki yang kini duduk di depannya itu adalah seseorang yang nyatanya bisa membawanya menuju tampuk kekuasaan. Dia bisa mendapatkan kekuasaan dari lelaki itu dengan sedikit rencana yang matang.
"Aku akan mewujudkan keinginanmu itu, tapi aku minta imbalannya. Aku akan menjadikanmu raja selanjutnya dan menghancurkan Raja Zhao Li dan kamu bisa memiliki wanita itu dan juga putranya, asalkan kamu bersedia menikahiku dan menjadikanku sebagai permaisurimu dan membebaskanku untuk mengelola separuh kerajaan ini. Kamu tidak perlu khawatir, walau aku berstatus sebagai permaisuri, tapi aku akan membiarkanmu bersenang-senang dengannya atau wanita manapun. Bagiku, itu tidak penting asalkan aku bisa memiliki kekuasaan atas separuh kerajaan ini. Apa kamu setuju?"
Jenderal Wang Li menatap wajah Putri Yuri dengan senyum kecut. Dia tidak menyangka, di balik wajah cantiknya itu tersembunyi ambisi yang luar biasa. Ambisi akan kekuasaan dan kedudukan hingga membuatnya rela melakukan apa saja.
Dan kini, cobaan akan kembali menguji cinta Mei Yin dan juga Raja Zhao Li. Mereka akan kembali merasakan penderitaan karena cinta dan cemburu dari seseorang, sama seperti yang pernah mereka rasakan di masa lalu. Akankah, mereka sanggup bertahan atau mereka akan kembali terpisahkan?