The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 29



Liang Yi mulai memerintahkan kepada Qiang untuk segera melakukan penyelidkan terhadap para perusuh-perusuh itu.


Qiang mulai mengarahkan pasukannya dan menyebar di pasar. Mereka menyamar sebagai pedagang, namun setelah beberapa hari melakukan penyelidikan, perusuh-perusuh itu belum juga menampakkan diri.


Walau begitu, mereka masih tetap bertahan. Hingga suatu hari, beberapa orang lelaki dengan mengenakan penutup wajah datang dan mulai meminta uang kepada setiap pedagang yang di


temuinya.


"Cepat, serahkan uang-uang kalian!!?" bentak seorang lelaki pada salah satu pedagang yang tidak lain adalah anak buah Qiang.


"Maaf, Tuan. Dagangan saya belum laku dan saya tidak mempunyai uang," ucap lelaki itu.


Sontak saja perusuh itu naik darah dan melayangkan pukulan kepadanya. Walau dipukul, lelaki itu tidak melawan dan membiarkan tubuhnya menjadi bukan-bulanan perusuh itu. "Tuan, ampunkan saya. Saya punya uang, tapi uang saya ada di rumah. Kalau Tuan tidak keberatan, Tuan silakan ikut saya ke rumah dan mengambil uang saya," ucap lelaki itu mengiba.


Mendengar tawaran yang cukup menggiurkan membuat perusun-perusuh itu tersenyum sinis. "Ketua, bagaimana kalau kita ikuti saja pedagang ini. Lumayankan lalau dia memberikan kita uang. Setidaknya, uang itu bisa kita pakai untuk bersenang-senang," ucap perusuh itu pada salah seorang lelaki yang merupakan pemimpin mereka.


"Tidak perlu, lebih baik kita selesaikan saja tugas kita dan kita pergi dari sini," jawab lelaki yang dipanggil ketua itu.


Rupanya, mereka ditugaskan untuk membuat keresahan di tengah masyarakat. Mereka sengaja membuat keonaran untuk membuat penduduk merasa tidak nyaman dan penduduk akan mendesak pihak kerajaan untuk mencari mereka dan di saat itulah mereka akan menghilang.


Rencana mereka hanya ingin membuat kinerja kerajaan terlihat buruk di mata rakyatnya. Belum lagi dengan isu tentang penyakit raja yang katanya semakin parah hingga membuat rakyat semakin meragukan kepemimpinan raja mereka itu.


Rencana licik mereka rupanya berjalan dengan mulus. Karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran para perusuh membuat penduduk mulai menyangsikan kepemimpinan Raja Zhao Li yang menurut mereka tidak lagi membela rakyat kecil.


Mereka menganggap kerajaan sengaja membiarkan perusuh-perusuh itu berkeliaran karena sama sekali tidak ada upaya untuk menangkap perusuh-perusuh itu dan kalaupun para prajurit turun mencari mereka, maka yang mereka dapatkan hanyalah nol besar.


Perusuh-perusuh itu ternyata tak hanya di pasar. Mereka juga sering terlihat menghalau atau merampok para pedagang yang ingin masuk ke negeri itu. Para pedagang besar yang selalu aman datang ke negeri itu akhirnya memilih untuk tidak lagi berdagang ke sana dan itu menyebabkan perekonomian rakyatnya mulai melemah.


Hal inilah yang mendorong semua pejabat istana untuk meminta Raja Zhao Li diturunkan dari takhtanya karena dirasa tidak becus mengurusi masalah negeri dan ditambah lagi dengan penyakitnya yang semakin parah.


Perusuh-perusuh itu rupanya tidak tertarik dengan jebakan yang dilancarkan anak buah Qiang karena tugas mereka hanya untuk membuat rakyat menjadi resah. Setelah dirasa berhasil, mereka kemudian pergi.


Qiang dan beberapa anak buahnya mulai memperhatikan gerak-gerik mereka. Dengan diam-diam, mereka mengikuti perusuh-perusuh itu yang mulai meninggalkan area pasar dan menuju salah satu jalan utama yang biasa dilalui pedagang besar untuk masuk ke negeri itu.


Di jalan yang terlihat sepi itu, rupanya sudah ada puluhan orang yang memakai penutup wajah. Perusuh-perusuh itu kemudian bergabung dengan mereka dan terlihat menunggu para pedagang yang akan melintas.


"Tuan, rupanya mereka sangat terorganisir. Aku rasa mereka sengaja membuat para pedagang merasa ketakutan hingga tidak ingin lagi berdagang di wilayah kita," ucap salah seorang anak buah Qiang.


"Sebaiknya kita tunggu saja dan lihat apa yang terjadi. Kalau ada yang mencurigakan, aku akan memberi aba-aba dan kita akan menyerang mereka," ucap Qiang.


"Baik, Tuan."


Dari balik semak, mereka terus memperhatikan gerak-gerik perusuh itu. Perusuh-perusuh itu terlihat tertawa sambil melihat hasil rampokan mereka. Tiba-tiba, terlihat rombongan pedagang yang melintas. Perusuh-perusuh itu lantas menghentikan mereka. "Serahkan barang-barang kalian kalau kalian masih ingin hidup!!" ucap salah seorang dari mereka dengan sebuah pedang yang diletakkan di leher salah satu pedagang.


Mereka kemudian mulai mengambil semua barang-barang dagangan itu. Suara tawa kepuasan terdengar dari mulut mereka.


Qiang dan ketujuh rekannya masih memperhatikan dari balik semak dan mencoba memperhitungkan langkah mereka. "Jumlah mereka lumayan banyak, hampir tiga puluhan orang. Kita hanya bertujuh jadi pastikan kalian menghabisi mereka dengan cepat dan sisakan satu untuk kita interogasi," jelas Qiang.


"Baik, Tuan," jawab mereka serempak.


Ketujuh orang itu mulai mengangkat busur mereka dan secara serempak melesatkan anak panah ke arah perusuh-perusuh itu hingga menimbulkan kepanikan di antara mereka.


Tujuh orang perusuh tergeletak tak bernyawa setelah dihantam anak panah yang bertengger di tubuh mereka.


Dengan memakai penutup wajah, ketujuh orang itu keluar dari balik semak sambil menggenggam pedang di tangan mereka. Para pedagang yang melihat mereka kemudian mundur dan berusaha untuk menghindar dari pertarungan.


"Siapa kalian? Beraninya kalian menghalangi urusan kami. Lebih baik kalian pergi sebelum kalian meregang nyawa di tangan kami!!" ucap salah seorang dari perusuh itu dengan congkaknya. Tanpa peduli dengan ucapan lelaki itu, ketujuh orang itu lantas merangsek maju dan menyerang mereka.


Suara dentingan pedang terdengar saling beradu. Suara sayatan dan erangan terdengar dari pihak perusuh. Satu persatu dari mereka tumbang dengan tebasan pedang di tubuh mereka. Ketujuh orang itu terlihat beringas dan menghantam mereka tanpa ampun.


Ketujuh orang itu bukanlah orang sembarangan. Kehebatan mereka dalam bertarung tidak bisa dianggap remeh. Satu orang dari mereka mampu menghadapi sepuluh orang sekaligus.


Melihat ketangguhan ketujuh orang itu membuat nyali mereka menjadi ciut. Bahkan, beberapa orang di antara mereka berencana untuk melarikan diri.


"Jangan biarkan mereka lolos. Habisi mereka dan sisakan satu untukku!!" perintah Qiang yang baru saja menghantam leher salah satu perusuh hingga kepalanya hampir terlepas dari badannya.


Mendengar perintah dari Qiang, mereka lantas mengeluarkan busur dan melesatkan anak panah itu ke arah perusuh yang berusaha untuk kabur. Sontak saja tubuh mereka terjerembab ke tanah dengan anak panah yang sudah menancap di punggung mereka.


Para pedagang hanya memperhatikan pertarungan itu tanpa berkedip. Mereka tampak kagum dengan kehebatan ketujuh orang  itu.


Keseluruhan perusuh itu telah terkapar dengan luka yang menganga. Yang tersisa hanya satu orang, itupun sudah terlihat kepayahan karena sebuah anak panah tertancap di kakinya.


Lelaki yang sudah terlihat kepayahan itu hanya pasrah saat dirinya dikelilingi ketujuh orang yang manatapnya tajam. "Ampuni aku, aku mohon tolong ampuni aku," ucap lelaki itu mengiba meminta pengampunan.


"Kami akan mengampunimu asalkan kamu beritahu kami, siapa yang telah menyuruh kalian untuk membuat onar di pasar dan merampok para pedagang. Kalau kamu ingin selamat, cepat katakan yang sebenarnya kepada kami!!" bentak Qiang sambil mengancamnya dengan pedang yang mengarah ke lehernya.


Lelaki itu terlihat pucat. Matanya menatap liar seakan takut jika ada orang yang melihatnya. "Aku tidak tahu, kami hanya diperintahkan untuk membuat rusuh dan menakut-nakuti penduduk, tapi aku sempat melihat kalau ada orang istana yang aarrgghhh..." Tiba-tiba saja lelaki itu mengerang kesakitan dengan anak panah yang sudah tertancap di punggungnya.


"Cepat, ikuti orang itu!!" perintah Qiang saat melihat seseorang keluar dari balik pepohonan. Orang itu kemudian berlari dan menaiki seekor kuda yang berada tidak jauh darinya.


Keenam anak buah Qiang berusaha untuk mengejarnya, tapi gagal dan mereka kehilangan jejaknya karena orang itu ternyata sangat menguasai lika-liku daerah tersebut.


Lelaki itu tidak berkata apapun hanya sebuah senyuman sinis dengan mulut yang penuh darah. Lelaki itu kemudian tewas dengan mata yang terbuka.


"Sial!!" umpat Qiang dengan kesal saat melihat lelaki itu telah mati.


Qiang memandangi sekelilingnya dan melihat mayat-mayat yang sudah terkapar. "Mereka hanya perampok amatiran yang dibayar agar membuat rusuh. Sepertinya, ada orang dari kerajaan yang membayar mereka," batin Qiang.


"Kalian boleh pergi. Mulai sekarang, kalian jangan takut untuk datang berdagang ke wilayah kami karena kami tidak akan membiarkan para berandalan seperti mereka mengganggu kalian lagi," ucap Qiang pada para pedagang itu.


"Terima kasih, Tuan." Para pedagang itu kemudian pergi.


"Sebaiknya kita kembali dan melaporkan hal ini pada ketua," ucap Qiang pada keenam temannya.


"Baik, Tuan."


Mereka kemudian pergi dan kembali ke desa. Informasi yang sudah mereka dapatkan segera mereka laporkan pada Liang Yi.


"Jadi, ada orang dari kerajaan yang memerintah mereka untuk membuat onar, begitu?" tanya Liang Yi saat Qiang melaporkan apa yang sudah berhasil diketahuinya.


"Benar, Ketua. Sebaiknya, Ketua harus memberitahukan Raja Zhao Li agar lebih waspada dan hati-hati. Rupanya, orang itu tidak main-main dan ingin menjatuhkan Raja Zhao Li," ucap Qiang mengingatkan.


Liang Yi menganggukan kepala. Dia sadar, ada suatu konspirasi besar yang akan dilakukan orang itu, tapi mereka sendiri tidak tahu siapa dalang di balik semua kejadian itu.


Saat itu juga, Liang Yi mengutus salah satu anak buahnya untuk menemui Pengawal Yue dan memberikan suratnya untuk Raja Zhao Li.


"Jadi benar, ada yang berusaha menjatuhkanku. Aku rasa itu adalah ulahnya. Aku harus segera menyingkirkan dia," batin Raja Zhao Li setelah membaca surat dari Liang Yi.


Di dalam kamarnya, Raja Zhao Li mulai berpikir untuk mencari cara agar Jenderal Wang Li bisa meninggalkan kerajaan tanpa dia merasa curiga.


Di saat dia sedang berpikir, tiba-tiba Mei Yin datang dan mengatakan kalau Jenderal Wang Li ingin menjenguknya.


"Istriku, jangan katakan apapun. Biarkan saja Kakak Wang masuk dan tinggalkan kami berdua," ucap Raja Zhao Li pada istrinya itu.


Mei Yin mengangguk dan mempersilakan Jenderal Wang Li untuk masuk. "Kakak Wang, masuklah," ucap Mei Yin.


Jenderal Wang Li memasuki kamar itu dan mendapati Raja Zhao Li yang terbaring dengan kedua mata yang terpejam.


"Adik Mei, kamu mau kemana?" tanya lelaki itu ketika Mei Yin ingin keluar dari kamar itu.


"Aku akan menyiapkan obat untuknya, jadi tolong temani dia sebentar," jawab Mei Yin yang kemudian melangkah pergi.


Melihat Mei Yin yang telah pergi membuat Jenderal Wang Li menatap ke arah Raja Zhao Li yang sementara pura-pura tertidur. Tatapan matanya begitu tajam dan penuh dengan rasa benci dan cemburu. "Kamu sangat beruntung karena bisa memilikinya, tapi itu takkan lama. Aku akan merebutnya dari tanganmu. Lihat saja, semua yang menjadi milikmu akan segera menjadi milikku," ucap Jenderal Wang Li dengan penuh keyakinan.


Raja Zhao Li menahan rasa amarahnya saat mendengar ucapan Jenderal Wang Li. Dengan telinganya sendiri, dia mendengar ucapan yang baginya sangat menyakitkan dan itu membuat dia semakin percaya dengan apa yang sudah Liang Yi katakan padanya.


Walau marah, tapi dia berusaha untuk menahan diri. Dia tidak ingin semua usahanya gagal hanya karena emosinya.


"Adik Zhao, terima kasih karena selama ini sudah menganggapku sebagai saudara, tapi sayang itu sudah terlambat. Seharusnya dari dulu kalian memperlakukanku sebagai keluarga dan tidak membuangku, tapi jangan khawatir karena istri dan anakmu akan aku jaga. Ànakmu akan menjadi anakku dan istrimu akan menjadi ... " Tiba-tiba saja kalimatnya terhenti karena Mei Yin tiba-tiba datang dan masuk ke kamar itu.


"Kakak Wang, apa masih ada yang ingin dibicarakan? Maaf, suamiku masih sakit jadi dia tidak bisa mendengarmu," ucap Mei Yin sambil meletakkan mangkok yang berisikan ramuan obat.


Mei Yin lantas mendekati suaminya dan menggenggam tangannya. "Kakak Wang, maaf, karena kita tidak bisa sering bertemu seperti dulu lagi karena aku harus merawat suamiku."


"Apa dia sangat berarti bagimu?"


Mei Yin menatap lelaki itu dengan heran. "Kenapa Kakak Wang bertanya seperti itu? Bukankah, Kakak tahu kalau aku sangat mencintainya dan tentu saja dia sangat berarti bagiku."


"Kalau dia mati, apa kamu akan melupakannya?" tanya Jenderal Wang Li yang membuat Mei Yin bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah lelaki itu.


"Kakak Wang, apa maksud dari pertanyaan itu? Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" tanya Mei Yin yang mulai kesal dengan pertanyaan lelaki itu.


"Aku tanya sekali lagi, kalau dia mati apa kamu bisa melupakannya?" tanya Jenderal Wang Li dengan suara yang mulai membentak.


Tak hanya itu, Jenderal Wang Li bahkan tak segan-segan berjalan mendekati Mei Yin hingga membuat wanita itu mundur ke belakang. "Apa yang kamu lakukan? Kakak Wang, ada apa denganmu?" tanya Mei Yin yang mulai merasa takut karena melihat wajah Jenderal Wang Li yang mulai berubah.


Sementara itu, Raja Zhao Li sudah tidak mampu menahan amarahnya ketika melihat istrinya diperlakukan seperti itu. Di depan matanya, lelaki itu mencoba mendekati istrinya.


Tiba-tiba saja, Raja Zhao Li bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di belakang Jenderal Wang Li yang hampir saja memeluk tubuh Mei Yin.


"Akhirnya, kamu bangun juga. Aku pikir, kamu akan terus berpura-pura tidur walau di depan matamu istrimu akan aku ... " Tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat di wajah Jenderal Wang Li hingga membuat lelaki itu terdiam.


"Jangan pernah menyentuh istriku!! Aku tidak akan pernah rela istriku disentuh oleh manusia munafik sepertimu," ucap Raja Zhao Li yang membuat Jenderal Wang Li tersenyum.


"Bicaralah sesukamu karena istrimu yang cantik ini akan menjadi milikku," ucap Jenderal Wang Li yang berjalan perlahan mendekati Mei Yin. Sontak, Mei Yin berusaha untuk menghindar, tapi terlambat. Lelaki itu telah meraih tubuhnya dan memeluknya paksa dari belakang. Mei Yin berusaha untuk berontak, tapi kedua tangan lelaki itu begitu erat memeluknya.


Raja Zhao Li begitu marah. Dia kemudian maju dan mulai menyerang Jenderal Wang Li, namun baru beberapa kali serangan, tiba-tiba saja dia memuntahkan darah hitam hingga membuatnya lemah dan terduduk dengan kaki kanan yang berusaha menopang tubuhnya.


Mei Yin terperanjat. Matanya melebar saat melihat suaminya terduduk lemah dengan darah yang mengucur deras. "Suamiku, apa yang terjadi padamu? Apa yang akan terjadi pada kita?" batin Mei Yin dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.