The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 59



Walau berat, tapi Kaisar Wang tetap mengizinkan Mei Yin untuk pergi ke padang bunga. Setelah sekian lama, kini Mei Yin akan kembali menginjakkan kakinya di padang bunga itu lagi.


Mei Yin dan Guan Yin tampak duduk di dalam kereta. Sementara Chen Li dan Yuwen menunggangi kuda dan berjalan di samping kereta. Pandangan Mei Yin tak lepas dari setiap sudut jalan yang mereka lewati. Jalan-jalan itu masih terlihat sama hingga membuatnya menitikkan air mata.


Guan Yin yang melihat sikap ibunya yang terlihat berbeda, hanya terdiam tanpa berkata apapun. Dia tahu, saat ini ibunya sedang bersedih walau dia tidak tahu apa yang sudah membuat ibunya itu bersedih.


Di depan padang bunga, kereta itu berhenti. Mei Yin perlahan turun dan menatap ke arah padang bunga yang terlihat semakin luas. Bunga-bunga putih itu masih berbunga dengan lebatnya. Begitupun dengan pohon sakura yang semakin kokoh menjulang dengan bunga-bunga yang rimbun. "Ibu, tempat ini sangat indah." Guan Yin tertegun sambil melihat keindahan tempat itu.


Mei Yin kemudian berjalan memasuki padang bunga yang terlihat semakin lebat hingga menutupi jalan yang pernah dibuatnya bersama Lian. Walau begitu, Mei Yin masih mampu mengenali jalan itu dan berhasil menuju gundukan tanah di mana Lian dimakamkan.


Mei Yin menatap gundukan tanah yang sudah terlihat rapi. Rumput liar yang biasa tumbuh di atas gundukan tanah itu rupanya sudah dibersihkan oleh seseorang dan Mei Yin tahu siapa orang itu. "Liang Yi, apa kamu sudah ada di sini?" batin Mei Yin sambil tersenyum dengan pandangan yang mengedar di tempat itu.


"Ibu, ini makam siapa?" Guan Yin terlihat penasaran.


"Makam seorang lelaki yang sangat mencintai Ibu. Dia adalah cinta pertama Ibu yang rela mati untuk menolong Ibu. Andai tidak ada dirinya, mungkin saja Ibu tidak akan memiliki kalian," ucap Mei Yin yang ditujukan untuk Guan Yin dan juga Chen Li yang berdiri di sampingnya.


Perlahan, angin mulai bertiup pelan. Ah, sambutan yang sudah lama tidak dirasakan olehnya. Semilir angin yang selalu menyambutnya hingga membuat bunga-bunga bertebaran di sekelilingnya.


Guan Yin begitu kagum dengan keindahan tempat itu. Dilihatnya tebaran bunga yang mengelilingi tempat itu dengan tiupan angin yang membelai lembut wajahnya.


Sementara Mei Yin sudah berdiri di bawah pohon sakura. Belaian angin nan lembut itu telah membuatnya menari di bawah pohon sakura yang mulai menjatuhkan bunganya. Guan Yin begitu kagum pada tarian yang kini dibawakan oleh ibunya. Tak hanya Guan Yin, tapi Yuwen dan Chen Li juga menatap kagum hingga membuat air matanya terjatuh. "Ibu, aku rindu melihat tarianmu lagi."


Tak hanya mereka, tapi seseorang yang sedari tadi berdiri di balik rumput ilalang yang meninggi juga merasakan hal yang sama. Sudah lama dia merindukan tarian dari wanita yang begitu di cintainya. Hingga tanpa sadar, dia menitikkan air mata saat melihat wanita itu menari dengan deraian air mata. "Mei Yin, aku mohon jangan menangis. Melihatmu seperti ini, aku takut aku tidak akan membiarkanmu kembali padanya. Aku mohon, jangan menangis." Dialah Liang Yi yang datang atas permintaan Mei Yin yang tertulis di surat itu. Mei Yin sangat ingin bertemu dengannya, katanya dia begitu merindukannya.


Guan Yin melihat ibunya menari diiringi suara tangisan yang membuat hatinya tersentuh. "Ibu, apa yang terjadi denganmu? Kenapa Ibu menangis seperti itu?" Guan Yin merasa heran hingga membuatnya ingin mendekati ibunya, tapi Yuwen segera meraih tangannya. "Biarkan saja."


"Tapi ... "


"Guan Yin, saat ini Nyonya ingin sendiri. Lebih baik kita tunggu saja di kereta. Ayo." Yuwen meraih tangan Guan Yin dan mengajaknya untuk kembali ke kereta. Walau dia tidak mengerti dengan situasi saat ini, tapi melihat kesedihan di wajah ibunya membuat Mei Yin semakin penasaran. "Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa aku merasa kalau ada sesuatu yang ibu sembunyikan dariku?"


Di bawah pohon sakura, Mei Yin terduduk dengan air mata yang tak hentinya jatuh. "Ibu, ada apa?"


Mei Yin menatap putranya itu dan mengangkat sebuah guci kecil yang sudah lapuk termakan usia. "Di sinilah Ibu menabur abu ayahmu. Chen Li, di sinilah Ibu ingin tinggal. Di tempat ini, Ibu merasa damai karena ada ayahmu yang akan selalu menemani Ibu." Mei Yin menangis sambil memeluk guci kecil itu hingga membuat Chen Li memeluk Ibunya.


Ibu dan anak itu menangis karena teringat akan sosok yang begitu menyayangi mereka. "Ibu, aku akan membalas atas semua perbuatan mereka pada Ayah dan Ibu. Aku akan membuat mereka menyesal karena sudah menghancurkan keluarga kita!!" Chen Li begitu geram saat melihat ibunya menangis hingga sesenggukan.


Dari balik ilalang, Liang Yi melihat Mei Yin yang menangis hingga membuat hatinya terusik. Dengan langkah yang dipercepat, Liang Yi keluar dari balik ilalang dan berdiri di depan mereka. "Paman?" Chen Li menatap Liang Yi yang kini berdiri di depan mereka.


"Liang Yi?" Melihat Liang Yi, Mei Yin kemudian bangkit dan berlari ke arahnya dan segera memeluknya. Di pelukan Liang Yi, Mei Yin menangis dan menumpahkan rasa sedihnya. Saat ini, dia membutuhkan seseorang untuk tempatnya bersandar dan Liang Yi lah orang yang saat ini dibutuhkannya.


"Maafkan aku karena baru sekarang aku menemuimu," ucap Liang Yi yang masih memeluk Mei Yin dengan erat.


"Liang Yi, aku sangat merindukanmu." Mei Yin menangis di dalam pelukan Liang Yi dengan wajah yang bersandar di dada bidang lelaki itu.


"Aku juga sangat merindukanmu. Jangan menangis lagi karena Zhao Li pasti tidak akan suka jika melihatmu menangis."


Mei Yin tidak peduli. Dia masih menangis dalam pelukan Liang Yi hingga membuat Chen Li memilih pergi meninggalkan mereka.


Liang Yi membiarkan Mei Yin menangis hingga Mei Yin menghentikan tangisannya. "Liang Yi, biarkan aku ikut denganmu. Aku tak ingin lagi tinggal di sana. Aku sudah muak ada di sisinya. Liang Yi, aku mohon bawa aku pergi." Mei Yin mengiba di depan Liang Yi. Sejenak, Liang Yi tersenyum dan mengelus wajah Mei Yin yang memerah dan basah dengan air mata. "Bersabarlah, aku pasti akan datang menjemputmu dan tinggal di tempat ini. Bukankah, itu yang pernah kita janjikan dulu?"


Itu adalah janji yang pernah mereka ikrarkan dulu. Mereka ingin tinggal di padang bunga dan membangun sebuah keluarga di sana, tapi janji itu tak pernah terwujud karena takdir tak ingin mereka bersatu.


"Aku akan membalas atas apa yang sudah mereka lakukan padamu dan juga Zhao Li. Aku telah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu dan juga Chen Li. Setelah itu, aku masih ingin bahagia bersamamu dan mengganti Zhao Li untuk menjagamu. Apakah aku masih punya kesempatan itu?" Liang Yi menatap wajah Mei Yin dan mengharapkan sebuah jawaban darinya.


"Kamu tahu bagaimana perasaanku padamu. Dulu, kamu telah mengorbankan perasaanmu hanya untuk melihat Zhao Li bahagia bersamaku tanpa peduli dengan perasaanku. Kini, aku ingin membalas perasaanmu itu dan aku yakin, Zhao Li pasti akan mengerti karena dia tahu kamu pasti akan menjaga dan menyayangiku." Liang Yi tersenyum dan mengecup mesra kening Mei Yin dan kembali memeluknya.


"Disinilah aku menebar abu Zhao Li. Jika semua sudah berakhir, aku ingin tinggal di sini dan menemani mereka. Mereka pasti sangat kesepian."


"Kita akan tinggal di sini. Aku akan menemanimu tinggal di sini. Kita akan menemani Zhao Li dan Lian agar mereka tidak lagi kesepian."


Mei Yin dan Liang Yi kemudian berlutut di tempat itu seolah meminta restu dari mereka. Perlahan, angin bertiup dengan lembutnya hingga membuat Mei Yin kembali menitikkan air mata. "Zhao Li, izinkan aku untuk bahagia bersama Liang Yi. Hanya dirinya yang mampu menggantikanmu." batin Mei Yin yang masih duduk bersujud.


Sementara Liang Yi juga melakukan hal yang sama. Rasa cintanya untuk Mei Yin telah menguatkan hatinya hingga membuatnya bertahan sampai saat ini. "Zhao Li, izinkan aku untuk membahagiakan Mei Yin. Hanya dia wanita yang ingin aku cintai dan aku berjanji akan menjaganya hingga kita semua dipertemukan kembali."


Guguran bunga sakura kembali berjatuhan dengan desiran angin yang perlahan berembus. Waktu terlalu singkat bagi mereka untuk bertemu. Rasanya, Liang Yi tidak ingin membiarkan Mei Yin pergi, tapi dia harus bisa menahan perasaannya itu.


Dari balik ilalang, Liang Yi menatap kepergian Mei Yin yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan. "Mei Yin, aku mencintaimu."


Di kerajaan, Kaisar Wang tampak gelisah. Pikirannya begitu tak menentu karena memikirkan tentang Mei Yin yang kini ada di padang bunga. "Kenapa dia begitu lama? Apa aku harus menyusulnya?" Kaisar Wang kemudian bangkit dan bermaksud untuk menyususl Mei Yin, tapi baru saja dia melangkah, Mei Yin sudah terlihat di pintu utama. Melihat Mei Yin, Kaisar Wang segera berlari dan memeluknya. "Apa kamu baik-baik saja? Lian, kenapa kalian begitu lama? Apa terjadi sesuatu?"


"Maaf, Yang Mulia, tadi kami ... "


"Maafkan aku jika sudah membuatmu khawatir. Aku ingin istirahat sebentar." Mei Yin kemudian berjalan meninggalkan Kaisar Wang, tapi tiba-tiba saja dia merasakan pusing dengan pandangan yang mulai nanar hingga membuatnya jatuh pingsan.


"Istriku!!" pekik Kaisar Wang panik saat melihat Mei Yin tergeletak di atas tanah dan sudah tidak sadarkan diri. Lelaki itu kemudian meraih tubuh istrinya itu ke dalam bopongannya. "Lian, cepat panggilkan tabib!!"


"Baik, Yang Mulia."


Chen Li yang tak kalah panik kemudian berlari memanggil tabib kerajaan. Dirinya begitu mencemaskan sang ibu yang kini tidak sadarkan diri. "Ibu, aku mohon bertahanlah."


Seorang tabib wanita terlihat memasuki kamar di mana Mei Yin terbaring lemah. Setelah diperiksa, tabib itu kemudian memerintahkan salah satu perawat untuk membuatkannya ramuan obat. "Yang Mulia, jangan khawatir. Permaisuri baik-baik saja. Permaisuri hanya lelah dan butuh istirahat," jelas tabib itu yang membuat Kaisar Wang mengembuskan nafas lega.


Tabib itu kemudian pamit dan meninggalkan Kaisar Wang dan Mei Yin di dalam kamar. Terlihat, ada kecemasan teramat sangat di tatapan Kaisar Wang. Dia merasa tak tega melihat Mei Yin yang tampak lelah. "Apa kamu seperti ini karena terlalu banyak menangisinya? Mei Yin, apakah aku belum sepenuhnya memilikimu?" Kaisar Wang menggenggam tangan Mei Yin dengan erat hingga membuatnya menitikkan air mata.


Sementara Guan Yin dan Chen Li tampak khawatir. Melihat kecemasan di wajah Chen Li membuat gadis itu menatapnya heran. "Apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa Lian terlihat sangat mengkhawatirkan ibu?" 


"Kakak, apa ibu baik-baik saja?" tanya Putri Xia yang tiba-tiba datang. Gadis itu terlihat panik saat mendengar kalau ibu angkatnya jatuh pingsan.


"Kata tabib ibu hanya lelah, tapi kita belum bisa bertemu dengan ibu karena ayah sekarang sedang menemaninya," jelas Guan Yin.


"Tenanglah, Kak. Ibu pasti baik-baik saja." Putri Xia memeluk Guan Yin yang terlihat sedih. Sementara Chen Li, menatap Guan Yin yang mulai menitikkan air mata. "Ibu tidak apa-apa. Ibu kita adalah orang yang tegar dan kuat. Aku harap, kamu bisa setegar dan sekuat dirinya saat semua kebenaran akan terungkap," batin Chen Li yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Guan Yin menatap ke arah Chen Li yang mulai menjauh. Rasa penasaran pada pemuda itu semakin membuatnya ingin mencari tahu tentangnya. "Aku harus tahu siapa dia. Ada hubungan apa antara dia dengan ibu."


Pintu kamar terbuka. Terlihat kesedihan di wajah Kaisar Wang saat dia keluar dari kamar itu. "Ayah, bagaimana keadaan Ibu?"


"Tidak apa-apa, Ibu kalian hanya lelah. Kalian berdua temani Ibu, Ayah harus pergi. Jika Ibu telah siuman, segera beritahu Ayah."


"Baik, Ayah." Kedua gadis itu kemudian masuk dan menemui Mei Yin yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


Sementara Kaisar Wang, terlihat menunggangi kudanya dan meninggalkan kerajaan. Kuda berwarna hitam itu dipacunya dengan cepat hingga tiba di padang bunga. Lelaki itu kemudian turun dan berjalan menuju ke padang bunga. Matanya merah menahan marah dengan pedang yang sudah digenggamnya.


Setibanya di padang bunga, pedangnya dia ayunkan dan mulai membabat setiap bunga yang dijumpainya. "Kenapa setelah matipun kamu masih membuatku cemburu!!?? Apa kamu tidak bisa melepaskan Mei Yin untukku!!??" Kaisar Wang mengamuk seperti orang gila. Matanya memerah karena menahan marah dan juga tangis.


Kaisar Wang berjalan mendekati pohon sakura dan bersiap menebaskan pedangnya ke arah batang pohon itu, tapi tiba-tiba saja angin kencang berembus hingga membuatnya terpental ke belakang. Tidak hanya itu, ranting pohon sakura tiba-tiba retak dan patah. Ranting pohon dengan ukuran besar itu jatuh dan hampir saja mengenai tubuh Kaisar Wang. Andai saja dia tidak segera menghindar, mungkin saja ujung ranting pohon itu sudah tertancap di batok kepalanya. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja angin berembus dengan kencang? Mataku tidak bisa melihat karena tempat ini sudah tertutup debu dan tebaran bunga-bunga. Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Kaisar Wang yang mulai panik.


Di antara kepulan debu dan bunga-bunga, samar-samar dia melihat dua sosok lelaki yang berdiri berdampingan. Kedua sosok itu kemudian berjalan ke arahnya dengan pedang yang digengganm di tangan keduanya. Melihat dirinya akan diserang, Kaisar Wang bangkit dan mulai menghunuskan pedangnya ke arah dua sosok itu, tapi percuma karena pedangnya tidak bisa melukai mereka. Tebasan pedangnya seperti menebas ruang kosong walau dia sadar tebasannya itu tidaklah meleset. "Siapa kalian!!??"


Kedua sosok itu tidak menjawab dan terus berjalan mendekatinya. Kaisar Wang terdesak dan berjalan mundur sambil menatap dua sosok itu. "Kamu tak pantas dengannya. Kamu telah membuatnya menderita. Dan kamu akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kamu lakukan untuknya. Kamu pantas untuk mati!!" Dua sosok itu kemudian mengangkat pedang dan menghantamkannya ke arah Kaisar Wang. "Tidaaakkkk!!"