
Mei Yin masih manatap kepergian Kaisar Wang yang enggan pergi meninggalkannya. Dia tersenyum saat mengingat kembali wajah permaisuri yang terlihat cemburu padanya.
"Nyonya, sepertinya permaisuri sangat cemburu pada Nyonya," ucap Dayang Ling yang berdiri di sampingnya.
"Itu yang aku inginkan. Aku akan membuatnya menanggung rasa cemburu seumur hidupnya," ucap Mei Yin dengan tatapannya yang penuh dendam.
"Dayang Ling, terima kasih karena darimu aku bisa tahu tentang Perdana Menteri Qing Ruo. Kalau kamu tidak memberitahuku, mungkin Tuan Qing akan selamanya ada di dalam penjara. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin ada pertumpahan darah yang disebabkan oleh diriku."
"Tenanglah, Nyonya. Aku akan selalu membantu Nyonya. Sebaiknya, Nyonya kembali ke dalam kamar dan beristirahat."
Mei Yin mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya. Di atas pembaringan, Mei Yin masih terjaga. Ingatannya kembali tertuju pada putranya, Chen Li. Rasanya, dia begitu merindukan buah hatinya itu hingga membuatnya menitikkan air mata. "Putraku, bersabarlah, Nak. Kita pasti akan bertemu lagi, Ibu janji," batin Mei Yin dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Kaisar Wang sangat marah saat Permaisuri datang menemuinya di kediaman Mei Yin. "Apa yang kamu pikirkan saat datang menemuiku di sana? Apa kamu tidak punya rasa malu?"
Wanita itu terdiam dan menundukan wajahnya. "Aku lakukan itu karena aku marah. Kenapa kamu tidak pernah lagi datang mengunjungiku dan selalu mengunjungi dia bahkan kamu sampai bermalam di sana. Apa kamu lupa dengan janjimu padaku?" Permaisuri menangis sambil menundukan wajahnya.
"Aku tahu kita menikah karena kepentingan kita masing-masing, tapi apa kamu tahu kalau di malam pertama pernikahan kita kamu telah membuat aku jatuh cinta padamu?" Permaisuri menangis saat mengungkapkan perasaannya itu.
"Kamu bisa bersama dengannya walau dia tidak mencintaimu, tapi kenapa kamu tidak bisa bersamaku padahal aku sangat mencintaimu?" Wanita itu menangis. Segala uneg-uneg yang ada di dalam hatinya dia utarakan tanpa dia merasa malu. Kaisar Wang yang sementara membelakanginya tiba-tiba terkejut saat permaisuri memeluknya dari belakang.
"Suamiku, aku mencintaimu. Tidak bisakah kamu memperlakukan aku seperti kamu memperlakukannya?" Tangis Permaisuri sambil memeluk Kaisar Wang dengan eratnya.
Kaisar Wang melepaskan tangan permaisuri yang sementara memeluknya. "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku akan melakukan janjiku, tapi aku tidak bisa mencintaimu. Cintaku hanya untuknya dan aku tidak akan membaginya untuk wanita manapun. Tidurlah, untuk malam ini aku akan tidur di kamarku."
Kaisar Wang kemudian meninggalkan permaisuri yang sementara berdiri terpaku dengan tangis yang tak bisa dia tahan. Dia begitu kecewa dengan semua ucapan Kaisar Wang yang menolaknya. "Apa kamu pikir dia bisa dengan mudahnya menerima dirimu setelah apa yang sudah kita lakukan padanya?" tanya Permaisuri yang membuat langkah Kaisar Wang terhenti.
"Apa kamu yakin dia benar-benar menerima dirimu setelah kamu membunuh suaminya?" tanya Permaisuri yang membuat Kaisar Wang melangkah ke arahnya dengan matanya yang memerah.
"Tutup mulutmu itu!! Bukankah kamu yang telah meracuni Zhao Li?" ucap Kaisar Wang dengan tangannya yang sudah mengarah ke leher permaisuri.
"Ya, aku yang meracuninya, tapi itu untuk kepentingan kita berdua. Jika dia mati, kita bisa dapatkan apa yang menjadi tujuan kita, tapi berpikirlah yang waras apa wanita itu bisa dengan mudahnya menerimamu setelah ... "
"Cukup!!" bentak Kaisar Wang. Tangannya mencekik leher permaisuri hingga membuat wanita itu kesulitan bernafas dengan wajah yang mulai memerah.
"Jangan pernah katakan itu padaku. Aku tak peduli walau dia menerimaku karena terpaksa. Aku tak peduli apapun asalkan dia tetap ada di sisiku. Jika kamu melakukan semua ini karena kecemburuanmu, baiklah. Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan pernah mengatakan hal bodoh itu di depanku kalau tidak, dengan tanganku sendiri aku akan menghabisi nyawamu!!"
Kaisar Wang lantas meraih tubuh Permaisuri ke dalam pelukannya dan ******* bibir wanita itu dengan kasar. Tak hanya itu, Kaisar Wang kemudian merobek baju yang dikenakan wanita itu hingga setengah tubuhnya terlihat polos.
"Bukankah ini yang kamu inginkan?" Mata Kaisar Wang tampak merah menahan rasa marah. Dengan kasarnya dia menghempaskan tubuh permaisuri ke atas ranjang. Sebotol arak yang ada di atas meja kemudian diteguknya hingga membuat jubahnya basah. Matanya mulai liar menatap ke arah permaisuri yang menatapnya tanpa rasa takut.
Kata-kata Permaisuri rupanya telah membuat Kaisar Wang tersulut emosi. Dia begitu marah hingga membuatnya melakukan hal senekat itu.
Kaisar Wang melepaskan jubahnya dan menatap Permaisuri dengan senyuman penuh kebencian. "Tidakkah kamu berpikir kalau sekarang kamu terlihat seperti seorang selir?" tanya Kaisar Wang yang membuat wajah permaisuri berubah. Wanita itu tampak marah karena disebut selir hingga membuatnya bangkit dari atas ranjang, tapi terlambat karena tangan kekar Kaisar Wang kembali menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kenapa? Apa kamu marah karena aku menyebutmu selir? Apa kamu tidak sadar tindakanmu itu hanya pantas dilakukan seorang selir?"
"Pergi kamu dari sini, aku bukanlah selirmu. Aku adalah istrimu, aku tidak pantas diperlakukan seperti ini," ucap Permaisuri sambil menangis karena dirinya diperlakukan dengan kasar oleh Kaisar Wang.
Kaisar Wang lantas mendekap tubuhnya dengan kasar. Permaisuri yang tidak rela diperlakukan seperti seorang selir berusaha untuk berontak, tapi tangan kekar Kaisar Wang begitu erat memeluknya hingga membuatnya tidak berdaya.
Permaisuri tampak menangis karena Kaisar Wang memperlakukannya seperti itu. Walau begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika dengan gagahnya Kaisar Wang menggerayangi tubuhnya dengan kasar seperti seekor binatang. Dia tidak mengharapkan kejadiannya akan menjadi seperti itu. Dia menginginkan kelembutan Kaisar Wang yang membuatnya jatuh cinta, tapi kini dia mendapatkan perlakuan yang menghinakan dirinya.
Setelah puas, Kaisar Wang tampak tersenyum sinis dan memandangi permaisuri yang menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Bukankah ini yang kamu inginkan? Jangan pernah mengatakan apapun tentang dia di depanku kalau kamu tidak ingin aku sakiti. Aku akan tahan dengan hinaan apapun, tapi tidak untuk dia. Di mataku, kamu hanya seperti seorang selir untuk pemuas hasratku. Apa kamu pikir, kamu sama dengannya? Bagiku, dialah permaisuriku dan kamu hanyalah seorang selir di mataku." Lelaki itu kemudian mengambil jubahnya di lantai dan dipakainya. Tanpa berkata apapun, dia kemudian pergi meninggalkan Permaisuri yang menangis sendirian di atas ranjang.
Kaisar Wang berjalan menuju ke kamar Mei Yin. Hatinya masih diliputi rasa marah dengan wajahnya yang memerah. Ucapan Permaisuri tentang Mei Yin yang membencinya dan berpura-pura menerimnya membuat dia mulai meragukan kesungguhan Mei Yin padanya.
Pintu kamar terbuka. Kaisar Wang berjalan mendekati tempat tidur di mana Mei Yin sedang tertidur pulas. Tatapannya mengarah lurus ke wajah cantik itu. "Apakah kamu hanya pura-pura menerimaku? Apakah kamu benar-benar membenciku karena aku telah membunuh suamimu?" batin Kaisar Wang sambil duduk di atas tempat tidur.
Perlahan, tangan kekarnya mendekati wajah Mei Yin dan membelai lembut wajah cantik itu, tapi ucapan Permaisuri kembali terngiang di telinganya hingga membuat tangannya mulai mengarah ke leher Mei Yin dan ingin mencekiknya, tapi Mei Yin tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum padanya. "Suamiku, apa kamu sudah kembali?" tanya Mei Yin sambil meraih tangan Kaisar Wang dan meletakannya di pipinya.
Sontak, Kaisar Wang tersadar dan membalas senyuman wanita itu. "Bukankah, kamu bilang kalau kamarmu selalu terbuka untukku?"
Mei Yin mengangguk dan duduk di depannya. Tangannya yang lembut menghapus peluh di dahi Kaisar Wang. "Apa yang sudah kamu lakukan hingga wajahmu berkeringat seperti ini?" tanya Mei Yin dengan lembutnya.
"Bagaimana mungkin kedatangan suamiku sendiri dapat mengagetkanku. Bukankah, ini juga kamarmu dan siapa yang berani masuk ke kamar ini selain dirimu?" ucap Mei Yin yang membuat Kaisar Wang tersenyum padanya, tapi semua itu belum cukup untuk membuktikan kalau dirinya sudah diterima oleh wanita itu.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tercekat. Walau begitu, Mei Yin berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pertanyaan itu dan berusaha untuk terlihat wajar.
"Apa aku perlu menjawabnya? Kalau aku tidak mencintaimu, apakah kamu akan membunuhku?" tanya Mei Yin yang membuat Kaisar Wang menatapnya.
"Kalau kamu masih meragukan diriku, silakan bunuh aku," ucap Mei Yin sambil memberikannya tusuk rambut yang dibelikan olehnya waktu itu.
Kaisar Wang terkejut dan masih memandangi Mei Yin yang tampak serius dengan ucapannya.
"Kalau kamu masih ragu, biar aku yang akan membuktikannya sendiri," ucap Mei Yin sambil mengarahkan tusuk rambut itu ke arah jantungnya, tapi Kaisar Wang segera mengambil tusuk rambut itu dari tangannya.
"Maafkan aku," ucap Kaisar Wang sambil memeluk tubuh Mei Yin hingga membuatnya menitikan air mata.
Lelaki itu memeluknya begitu erat. Mei Yin membalas memeluknya dengan melingkarkan kedua tangannya di punggung lelaki itu.
"Istriku, maafkan aku," ucap Kaisar Wang yang belum juga melepaskan pelukannya.
"Sudahlah, ayo temani aku tidur," ucap Mei Yin yang membuat Kaisar melepaskan pelukannya. Lelaki itu mengangguk dan berbaring di samping Mei Yin yang sudah lebih dulu berbaring.
Tangannya yang kekar memeluk tubuh wanita itu. Mei Yin terdiam dalam pelukannya dan membiarkan dirinya didekap walau rasa takut masih menguasai hatinya.
Saat Kaisar Wang memasuki kamarnya, Mei Yin belum benar-benar tertidur. Dia hanya memejamkan matanya karena berusaha untuk tidur. Ketika Kaisar Wang mendekatinya, dia sengaja belum membuka matanya hingga dia merasakan tangan lelaki itu menyentuh wajahnya dan perlahan turun ke arah lehernya.
Mei Yin terkejut saat dia merasakan tangan Kaisar Wang mengarah ke lehernya dengan posisi seperti ingin mencekik. Sejenak, ada rasa takut jika lelaki itu benar-benar akan mencekiknya hingga dia memberanikan diri untuk membuka matanya.
"Istriku, apa kamu sudah tidur?" tanya Kaisar Wang sambil memeluk dan menatap wajah Mei Yin yang bersandar di dadanya.
"Belum, ada apa?"
Kaisar Wang tersenyum saat melihat Mei Yin membuka matanya. Dengan mesranya, Kaisar Wang mengecup dahinya berulang-ulang.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku mencintaimu," ucap Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tersenyum dan mengangguk.
"Aku tahu, tidurlah."
Kaisar Wang mendekatkan wajahnya dan menatap ke arah Mei Yin. Dengan senyum, lelaki itu mengecup bibir Mei Yin dengan lembutnya. Tangannya dengan mesra menyentuh wajah cantik itu. Tak pernah sekalipun Kaisar Wang memperlakukan Mei Yin dengan kasar, karena baginya Mei Yin pantas diperlakukan dengan penuh kelembutan karena dia adalah wanita yang sangat istimewa di hatinya.
Sekali lagi, Kaisar Wang luluh di depan Mei Yin. Rasa bersalahnya pada wanita itu karena hampir mencelakainya telah membuatnya berjanji untuk selalu mempercayai dan menjaga wanita itu. Dia tidak akan pernah termakan lagi dengan ucapan orang tentang istrinya. Baginya, Mei Yin adalah segalanya. Dan dia tidak ingin kehilangan wanita itu, apapun alasannya.
Sementara Mei Yin, terus memantapkan hatinya. Walau semua yang dia lakukan adalah kebohongan, tapi dia berusaha agar Kaisar Wang mempercayainya. Dia akan melakukan apa saja agar Kaisar Wang tidak akan pernah meragukannya.
"Istriku, maafkan aku karena sudah meragukanmu. Aku tidak akan lagi mengulangi kesalahanku itu, maafkan aku," batin Kaisar Wang sambil membelai lembut wajah Mei Yin yang kini sedang tertidur di pelukannya.
Sementara Mei Yin tertidur dalam pelukan Kaisar Wang, Permaisuri di kamarnya hanya berbaring dengan tubuh yang tertutup selimut. Dia tidak menyangka, Kaisar Wang akan melakukan hal sekasar itu padanya. Yang lebih menyakitkan baginya adalah ucapan Kaisar Wang yang menyebutnya seperti seorang selir yang membuat harga dirinya bagaikan terinjak-injak.
"Apa aku serendah itu di matamu? Apa dia lebih berarti bagimu? Lihat saja, aku akan membuatnya tidak akan lagi berharga di matamu." Matanya memerah dengan air mata yang jatuh di sudut matanya. Saat ini, yang dia pikirkan adalah membalaskan rasa sakit hatinya pada Mei Yin. Dia telah bertekad untuk membuat Mei Yin menderita, bagaimanapun caranya.
Sejak saat itu, Kaisar Wang tidak pernah lagi mengunjungi Permaisuri. Baginya, Mei Yin adalah permaisurinya dan Mei Yin lah tempat baginya mencurahkan kasih sayangnya.
Setiap malam, Kaisar Wang selalu tidur di kamar Mei Yin. Tak sekali pun dia meninggalkan Mei Yin tidur tanpa dirinya. Bahkan, di malam-malam tertentu, mereka terlihat duduk bersama di taman sambil menikmati keindahan bulan dan bintang. Seperti saat ini, di mana Kaisar Wang duduk sambil memainkan kecapi dengan alunan yang lembut. Sementara Mei Yin mulai menari di bawah pohon sakura dan ditemani dengan cahaya bulan purnama yang menerangi di malam itu.
Mei Yin menari dengan indahnya. Wajahnya tampak tersenyum karena membayangkan kalau saat ini, Zhao Li dan Chen Li sedang memandanginya. Senyumnya terlihat menawan hingga membuat Kaisar Wang tertawan.
Mei Yin begitu menghayati tariannya hingga membuatnya tersenyum lepas. Kaisar Wang yang begitu kagum, berjalan mendekatinya dan langsung memeluknya. Saat dirinya dipeluk, Mei Yin memejamkan matanya dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan lelaki itu dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. "Aku mencintaimu, suamiku," ucap Mei Yin tanpa sadar sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Kaisar Wang dengan nafasnya yang turun naik.
Kaisar Wang tampak terkejut dengan ucapan Mei Yin yang baru saja didengarnya. Antara percaya dan tidak, Kaisar Wang melepaskan pelukannya dan menatap Mei Yin yang masih memejamkan matanya.
Mei Yin tersentak saat membuka matanya dan mendapati Kaisar Wang yang menatapnya heran. "Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin menundukkan wajahnya. Mei Yin terdiam dan tidak mampu untuk berkata.