The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 58



Liang Yi mulai membuka lembaran surat yang diberikan Mei Yin untuknya. Tangannya bergetar saat membaca setiap kata yang dituliskan di lembaran surat itu. Perlahan, air matanya jatuh hingga membuat Chen Li dan Yuwen menatapnya dengan heran. "Paman, apa yang dituliskan ibu?" tanya Chen Li yang terlihat penasaran.


Liang Yi melipat lembaran surat itu dan menyelipkannya di dalam saku jubahnya. Wajahnya terlihat basah dengan sisa air mata yang masih menempel di pipinya. "Ibumu ingin agar kita secepatnya menyelesaikan masalah ini karena dia sudah tidak tahan lagi berada di sisi lelaki itu," ucap Liang Yi yang tak sadar sudah membuatnya kembali menitikkan air.


Rupanya, bukan itu yang membuat Liang Yi menangis, tapi satu kalimat dari Mei Yin yang sudah membuatnya tersentuh. Satu kalimat yang sangat ingin di dengarnya sedari dulu. "Apakah kamu sungguh merindukanku? Ah, aku juga sangat merindukanmu. Andai kamu tahu, hati dan juga cintaku tak pernah berkurang untukmu. Mei Yin, bersabarlah. Andai kamu memberikanku kesempatan, aku ingin hidup bersamamu dan menjagamu selama sisa hidupku." Liang Yi tersenyum dibalik air matanya yang perlahan jatuh.


Rasa cinta dan sayang yang dirasakan Liang Yi untuk Mei Yin tak sedikitpun berubah. Semua rasa itu masih tetap sama, tersimpan baik di lubuk hatinya yang terdalam. "Chen Li, apa ibumu baik-baik saja? Dia tidak sakit, kan?" Liang Yi terlihat khawatir saat menanyakan itu semua.


"Ibu baik-baik saja, tapi ibu terlihat tidak bahagia karena apa yang dilakukannya di depan lelaki itu hanya sandiwara. Paman, aku kasihan pada ibu karena selama ini ibu hanya pura-pura bahagia." Liang Yi tertegun saat membayangkan perasaan Mei Yin saat ini.


"Chen Li, kita harus bergerak cepat. Paman sudah tidak sanggup membayangkan jika ibumu terlalu lama menahan perasaannya. Paman akan segera melaksanakan rencana kita dan kalian lakukan tugas kalian. Ingat, jika rencana kita gagal maka ibumu dan juga kalian bisa dalam bahaya."


"Kami mengerti, Paman. Kami akan melakukan sesuai rencana."


Rencana yang dimaksud Liang Yi adalah menyebarkan rumor tentang kematian Raja Zhao Li yang mati karena diracun. Selama ini, kematian Raja Zhao Li hanya diketahui oleh rakyatnya karena suatu penyakit parah yang membuat raja mereka mati muda, tapi fakta sebenarnya begitu tersimpan rapi dan tak diketahui oleh siapapun selain Kaisar Wang, Permaisuri Yuri dan juga Mei Yin yang terpaksa tutup mulut demi kebaikan putranya.


Sementara itu, Yuan sudah mulai melancarkan rencananya untuk menjodohkan Putri Xia dengan Raja Wu Lai. Di depan raja muda itu, Yuan menunduk memberi hormat.


"Jadi, maksud kedatanganmu kemari hanya untuk menawarkan Putri Xia untuk menjadi permaisuriku?" tanya pemuda itu sambil menatap lurus ke arah lelaki yang diketahui sebagai tangan kanan Permaisuri Yuri itu.


"Benar, Yang Mulia. Hamba ingin menawarkan perjanjian dengan Yang Mulia."


"Perjanjian? Perjanjian apa?"


"Jika Putri Xia menjadi Permaisuri, maka Wilayah Dataran Timur akan melepas diri dari Kerajaan Xia dan bergabung dengan Kerajaan Wu. Tak hanya itu, kami juga akan membantu Kerajaan Wu untuk menghancurkan Kerajaan Xia."


Raja Wu Lai menatap ke arah Yuan dengan pandangan merendahkan. "Apa kamu kira akan semudah itu aku mempercayai kalian? Karena kesombongan kalian, kakek dan ayahku harus mati dan kini kalian ingin menawarkan putri kalian padaku?" batin Raja Wu Lai sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Apa hanya itu syaratnya?" Yuan mengangguk dan mengiyakan.


"Baiklah, aku akan terima. Dalam waktu dekat, aku akan berkunjung ke Kerajaan Xia secara diam-diam. Aku ingin melihat bagaimana keadaan Kerajaan Xia yang terkenal makmur itu. Aku juga ingin melihat Putri Xia tanpa dia mengetahui keberadaanku. Apa kalian bisa mengaturnya?"


"Hamba akan mengaturnya. Memangnya, kapan Yang Mulia akan datang?"


"Bulan depan. Pastikan tanggal 13 bulan depan aku akan masuk wilayah Kerajaan Xia tanpa ada yang curiga."


"Baiklah, Yang Mulia. Hamba akan mengaturnya."


Setelah bernegoisasi, Yuan terlihat keluar meninggalkan Kerajaan Wu. Di perbatasan Wilayah Dataran Timur dan Kerajaan Wu, lelaki itu terlihat leluasa keluar tanpa ada yang melarangnya karena semua yang berjaga di tempat itu adalah anak buahnya.


Setelah kepergian Yuan, Raja Wu Lai terlihat tersenyum sinis. "Aku akan mengambil kesempatan ini. Karena wanita kalian, kakek dan ayahku tewas dan sekarang kalian ingin menawarkan wanita kalian untukku? Baiklah, aku akan membuat kalian menyesal atas keputusan kalian itu."


Raja Wu Lai tak hanya mempunyai wajah yang tampan, tapi dirinya juga andal dalam bernegoisai dan mengambil kesempatan yang menurutnya menguntungkan baginya. Dan, tawaran Yuan sudah membuka jalan baginya untuk membalas dendam atas kematian ayah dan juga kakeknya. Dalam sekali lompatan, dia bisa mencapai dua tujuan. Dia akan mendapatkan Kerajaan Xia dengan bantuan dari Wilayah Dataran Timur dan setelah itu dia akan mendapatkan Wilayah Dataran Timur dan wanita dari wilayah itu yang akan dijadikannya sebagai pelampiasan dendamnya. Putri Xia akan dijadikan sebagai wanita pemuas hasratnya bukan sebagai Permaisurinya.


"Yuan, bagaimana? Apakah Raja Wu Lai setuju?" tanya Permaisuri saat Yuan datang ke ruangannya.


"Dia setuju, bulan depan dia ingin berkunjung ke wilayah ini secara diam-diam dan sekaligus ingin melihat Putri Xia." Permaisuri Yuri tersenyum bahagia saat Yuan mengatakan hal itu. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran Kerajaan Xia.


Yuan yang melihat senyum di wajah Permaisuri ikut tersenyum. Lelaki itu kemudian bangkit dan berjalan menuju ke arah wanita itu. "Yuri, apakah aku sudah pantas ada di hatimu?" tanya Yuan sambil menatap ke arah Permaisuri. Wanita itu tertegun saat Yuan menatapnya. Perasaan yang selama ini ingin ditepisnya, perlahan mulai mengusik. Kebenciannya pada Kaisar Wang karena penolakan atas diri dan cintanya membuat wanita itu tak peduli lagi dengan apapun hingga menbuatnya mengangguk di depan Yuan. "Aku akan menerimamau, tapi apakah itu tidak terlambat bagimu?"


Lelaki itu tersenyum dengan tangannya yang perlahan mendekati wajah Permaisuri dan mengelus lembut wajah wanita itu. "Tidak ada kata terlambat bagiku asalkan aku bisa memilikimu. Yuri, lupakanlah dia dari hatimu dan biarkan aku ada di hatimu. Jika rencana kita berhasil, aku ingin kita hidup bersama karena aku ingin menjagamu karena itu adalah tujuan hidupku. Aku ingin membuatmu bahagia selama sisa hidupmu, apakah itu tidak cukup?"


Yuan tersenyum dan memeluk Permaisuri yang kini terdiam dalam pelukannya. "Kenapa harus malu? Di mataku, dirimu tetaplah Yuri yang cantik dan ceria. Aku mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintaimu." Permaisuri menitikkan air mata. Rasanya, ada penyesalan yang tiba-tiba muncul saat melihat Yuan yang begitu mencintainya. "Yuan, maafkan aku karena tidak dapat melihat ketulusan cintamu semenjak dulu. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu." Permaisuri menangis hingga membuat Yuan mengeratkan pelukannya.


*****


Kaisar Wang sudah mempersiapkan pengangkatan Mei Yin sebagai Permaisurinya. Di aula kerajaan, semua pejabat sudah berkumpul. Selama ini, mereka hanya diam dengan apapun keputusan Kaisar Wang. Tidak ada yang berani menentang keputusannya karena keputusannya adalah mutlak dan tidak bisa digugat karena hanya akan membawa pada kematian jika ada yang berani menentangnya. "Mulai saat ini, aku umumkan kalau Nyonya Wang adalah permaisuriku. Di depannya, kalian harus menunduk dan menghormatinya. Jika ada yang memandang dirinya dengan tatapan yang tidak menyenangkan, maka aku sendiri yang akan mencungkil matanya." Kaisar terlihat tegas hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu bergidik ketakutan.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Kaisar Wang untuk menjadikan Mei Yin sebagai permaisurinya. Itu semua bukan tanpa alasan. Dia hanya takut orang-orang akan memandang rendah Mei Yin karena telah menerima dirinya sebagai suaminya, padahal semua orang tahu kalau Mei Yin adalah Permaisuri dari raja sebelumnya. Dan kini, setelah dua puluh tahun lebih, Kaisar Wang akhirnya memberanikan diri untuk menjadikan Mei Yin sebagai permaisurinya.


Di kediamannya, Mei Yin duduk di bangku taman bersama Chen Li yang sudah berdiri di sampingnya. "Putraku, maafkan Ibu karena sudah melangkah terlalu jauh. Ibu tahu, selama ini kamu tidak suka dengan Guan Yin karena dia adalah putri lelaki itu, tapi dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Andai Ibu mau, Ibu bisa saja tidak mempertahankan dia dulu, tapi Ibu tidak sekejam itu, Nak. Ibu mohon, perlakukanlah dia dengan baik. Jika dia tahu ayahnya adalah pembunuh dan ibunya hanyalah bersandiwara di depan ayahnya, menurutmu apa dia tidak akan kecewa dan terluka?" Mei Yin menitikkan air mata jika membayangkan hal itu. Bagaimana tidak, Guan Yin adalah gadis yang penyayang dan baik hati dan Mei Yin sangat menyayangi putrinya itu.


Chen Li terdiam. Dia sadar, ibunya ternyata mampu membaca hati dan juga pikirannya. Selama ini, dia selalu bersikap acuh pada Guan Yin bahkan terlihat tidak peduli. Hanya Yuwen yang menemani Guan Yin saat hatinya begitu gundah.


"Yuwen, apakah kakakmu begitu membenciku? Kenapa wajahnya terlihat tidak begitu suka dengan keberadaanku?" keluh Guan Yin seakan dia tahu kalau pemuda yang menjadi pengawal ibunya itu sangat tidak menyukainya.


"Bukan begitu, Nona. Mungkin itu hanya perasaan Nona saja." Yuwen mencoba menghibur Guan Yin walau dia sebenarnya tahu kalau Chen Li memang tidak suka dengan gadis itu.


"Lihatlah mereka," ucap Guan Yin sambil telunjuknya mengarah pada Chen Li dan Mei Yin. "Dia dan ibuku terlihat sangat akrab."


"Nona, itu karena kakakku adalah pengawal Nyonya. Bukankah, kita juga akrab?" Guan Yin menatap Yuwen yang kini tersenyum padanya. "Nona, jangan khawatir. Kakakku tidak sejahat itu. Lagipula, aku kan yang menjadi pengawal Nona? Jadi, biarkan kakakku seperti itu karena aku tahu dia itu sebenarnya pemuda yang sangat baik."


Guan Yin tersenyum dan mengangguk. Dia berpikir, mungkin saja dia yang salah dalam menafsirkan sikap Chen Li padanya atau mungkin dia cemburu karena kedekatan ibunya dengan pemuda itu.


Guan Yin kemudian bangkit dan berjalan mendekati ibunya. "Ibu, apa boleh aku duduk di sini?" tanya gadis itu yang membuat Mei Yin tersenyum dan meraih tangannya. "Kemarilah, Nak."


"Ibu, ayah sudah mengangkat Ibu sebagai permaisuri dan itu berarti kita bisa keluar kapan saja dari tempat ini. Apa boleh, kita jalan-jalan di luar? Aku ingin jalan-jalan bersama Ibu." Pinta gadis itu manja sambil merangkul tangan ibunya.


Mei Yin tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, jika ayahmu datang minta izinlah darinya. Jika diizinkan, Ibu ingin mengajakmu ke suatu tempat karena Ibu sangat ingin mengunjungi tempat itu. Kita akan pergi bersama pengawal Lian dan pengawal Yuwen. Mereka yang akan menjaga kita." Gadis cantik itu mengangguk dan bangkit sambil berlari ke Kaisar Wang yang baru saja datang.


"Ayah, apa boleh aku dan Ibu jalan-jalan keluar sebentar?" Kaisar tersenyum saat melihat putrinya yang berlaku manja padanya.


"Katakanlah, putri Ayah yang cantik ini mau pergi kemana?"


"Mungkin ke tempat yang Ibu suka. Katanya, Ibu ingin mengajakku ke suatu tempat." Kaisar Wang menatap pada istrinya yang tengah duduk sambil memandangi bunga-bunga di taman itu. "Apa mungkin, dia sedang memikirkan sesuatu?"


"Baiklah, Ayah akan izinkan." Guan Yin tersenyum dan memeluk ayahnya itu. "Terima kasih, Ayah."


Melihat kegelisahan di wajah Mei Yin membuat Kaisar Wang mendekati istrinya itu. "Istriku, apa yang sedang kamu pikirkan?" Mei Yin menggeleng, tapi Kaisar Wang tidak percaya begitu saja. "Katakanlah, apapun yang kamu minta, aku pasti akan turuti." Kaisar Wang menggenggam tangan Mei Yin dan membelai mesra wajah istrinya itu. "Jika aku meminta untuk pergi ke padang bunga tempat abu Zhao Li disebar, apa kamu akan izinkan?" Mei Yin menatap wajah Kaisar Wang dan mengharapkan jawaban dari pertanyaan yang sudah lama ingin dia tanyakan itu.


Mei Yin tak pernah lagi mengunjungi padang bunga sejak terakhir dia menaburkan abu Raja Zhao Li di sana. Selama ini, Mei Yin menahan perasaannya untuk berkunjung ke tempat itu karena dia tahu keinginannya itu tidak akan pernah dikabulkan oleh Kaisar Wang.


"Kenapa? Apa belum cukup aku terkurung di tempat ini? Aku tidak pernah meminta lebih darimu dan aku sudah menuruti semua keinginanmu. Apa itu masih belum cukup?"


"Aku tahu, hari ini adalah hari kematiannya. Mei Yin, apa kamu masih mengingat dirinya?" Mei Yin tersenyum, tapi perlahan dia menitikkan air mata. "Dia tidak akan pernah bisa hilang dari ingatanku. Apa itu menjadi masalah bagimu? Bukankah, semua yang kamu ingin dariku sudah aku berikan?"


Kaisar Wang melihat air mata di wajah Mei Yin. Sungguh, hatinya sakit ketika melihat wanita yang dicintainya menangis untuk orang lain. "Aku tidak akan melarangmu, tapi aku mohon jangan pernah menitikkan air mata untuknya. Aku cemburu karena air matamu jatuh untuknya. Mei Yin, berhentilah menangis karena aku tak sanggup melihat air matamu itu." Kaisar Wang menghapus air mata yang jatuh di pipi Mei Yin dan memeluk tubuh istrinya itu. "Aku akan mengizinkanmu pergi, tapi aku mohon berhentilah menangis."


Sekali lagi, air mata seorang Mei Yin mampu meluluhkan hati seorang Kaisar yang terkenal tegas. Cintanya yang terlalu besar pada Mei Yin membuat dirinya tak sanggup melihat kesedihan di wajah wanita itu. "Jika itu bisa membuatmu bahagia, aku akan izinkan walau sebenarnya aku sangat cemburu karena setelah kematiannya pun kamu belum bisa melupakannya. Mei Yin, apakah dirimu akan mengingatku setelah kepergianku kelak?" batin Kaisar Wang sambil memeluk tubuh Mei Yin yang diam terpaku dalam pelukannya.