The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 32



Di dalam kamar, mereka menangis bersama. Mei Yin menangis sambil memeluk tubuh suaminya. Dia begitu sedih hingga tidak mampu mengangkat wajahnya. "Istriku, angkat kepalamu dan lihat aku." Mei Yin mengangkat wajahnya dan menatap suaminya. Tangannya bergetar saat berusaha menyentuh wajah istrinya itu. Mei Yin segera meraih tangan suaminya itu dan meletakkannya di pipinya. Lelaki itu menyentuh bibir istrinya yang berdarah dan menyeka darah itu.


"Istriku, jangan lagi kamu menyakiti dirimu seperti ini. Aku tahu kamu marah, tapi jangan menyakiti dirimu. Aku tidak ingin melihat kamu terluka. Maafkan aku karena aku ... " Raja Zhao Li terdiam dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia menunduk dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Mei Yin menghapus air mata yang masih menggenang itu. "Jangan katakan apapun. Aku harap malam ini adalah malam terakhir kita di sini. Dayang Ling diam-diam memberikanku surat ini," ucap Mei Yin sambil membuka sepucuk kertas.


Mei Yin mulai membaca isi surat itu dan matanya melebar saat membaca sebuah nama yang tiba-tiba membuatnya tersenyum. "Suamiku, ini surat dari Liang Yi," bisik Mei Yin pelan.


"Aku tahu, dia pasti akan datang menolong kita," ucap Raja Zhao Li sambil tersenyum.


Melihat ekspresi suaminya yang tidak terlalu terkejut membuat Mei Yin penasaran. "Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?"


Raja Zhao Li mengangguk. "Kamu masih ingatkan saat kita dihadang perampok waktu pulang dari makam Lian?" Mei Yin mengangguk.


"Liang Yi lah orang yang menembakkan panah ke arah perampok-perampok itu dan dia yang memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu Pengawal Yue hingga mereka datang menolong kita," jelas Raja Zhao Li pada istrinya itu.


Mei Yin tersenyum. Rupanya, kakak angkatnya itu tidak benar-benar pergi meninggalkan mereka. "Suamiku, apa benar ada jalan rahasia di villa ini?"


"Ada, jalan rahasia itu sering aku gunakan untuk bersembunyi dari guru saat aku sudah bosan belajar dan menemui Liang Yi yang sudah menungguku di ujung jalan. Jalan rahasia itu hanya aku dan Liang Yi yang tahu." Raja Zhao Li tersenyum mengingat semua kenangan itu bersama sahabatnya.


"Suamiku, sebentar lagi kita akan pergi dari sini. Kita akan tinggal di mana tidak ada orang yang akan mengenali kita. Bukankah, itu yang kamu inginkan?"


Raja Zhao Li tersenyum. Memang benar, dia ingin tinggal bertiga saja dengan anak dan istrinya di suatu tempat di mana mereka tidak di kenali. Dia ingin hidup sebagai orang biasa tanpa harus memikirkan urusan kerajaan. Dia ingin bebas melakukan apa saja dengan keluarga kecilnya.


"Ibu, aku ingin melihat Ibu menari," ucap Chen Li tiba-tiba dengan mata yang sudah terihat mengantuk.


Mei Yin tersenyum dan membelai lembut wajah putranya. "Baiklah, Ibu akan menari untuk kalian berdua."


Chen Li duduk bersandar di samping ayahnya sambil menggenggam tangan ayahnya itu. "Ayah, aku menyayangimu."


Raja Zhao Li menatap wajah putranya itu dan tersenyum padanya. "Ayah juga menyayangimu, Nak."


Mei Yin menari di depan kedua orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Mereka adalah sumber kebahagiaannya. Bersama mereka, dia mampu menentang dunia. Dan kini, dia ingin secepatnya pergi meninggalkan tempat itu dan hidup bahagia bersama mereka.


Melihat ibunya menari, Chen Li tersenyum dengan mata yang sudah mengantuk hingga tubuh mungilnya itu benar-benar tertidur dengan kepala yang sudah tergelatak di atas pangkuan ayahnya.


Mei Yin menghentikan tariannya dan duduk di samping suaminya dengan kepala bersandar di lengan suaminya itu. "Aku berharap selamanya kita akan tetap bersama. Kita akan melihat anak kita tumbuh hingga dia dewasa dan menjadi lelaki hebat sama sepertimu." Mei Yin menggenggam tangan suaminya dan mengecupnya.


Raja Zhao Li menitikkan air mata karena dia tahu hidupnya tidak akan lagi lama. Dia merasa tubuhnya sudah tidak lagi berdaya dan hanya bisa menunggu kematian datang menjemputnya.


Sementara di luar kerajaan, Liang Yi dan beberapa anak buahnya sudah bersiap-siap di ujung jalan rahasia. Jalan itu terlihat sunyi dan gelap karena sudah ditumbuhi semak dan pepohonan.


"Qiang, tunggu dan berjagalah di sini. Aku akan masuk, jika sampai setengah jam aku tidak kembali, maka kalian pergilah dari tempat ini, mengerti?"


"Maaf, Ketua. Aku akan tetap menunggu hingga Ketua kembali. Jika sampai setengah jam Ketua tidak kembali, aku akan menerobos masuk. Karena itu, aku mohon agar Ketua bisa kembali dengan selamat," ucap lelaki bertubuh tegap itu.


Liang Yi hanya mengangguk melihat kesetiaan anak buahnya itu. Dengan menutup wajahnya, Liang Yi kemudian masuk ke jalan rahasia itu.


Sementara Pengawal Yue dengan beberapa anak buah kepercayaannya, terlihat mengendap-endap memasuki villa bunga. Busur di tangan mereka diarahkan kepada beberapa prajurit yang sedang menjaga di pintu kamar. Dengan sekali tarikan, anak panah dari busur itu melesat dan menghujam tubuh beberapa orang penjaga.


Melihat penjaga-penjaga itu telah roboh, Pengawal Yue lantas berlari dan masuk ke dalam kamar itu. "Yang Mulia," ucap Pengawal Yue sambil berlutut di depan Raja Zhao Li dan Mei Yin.


"Yang Mulia, aku akan membawa Yang Mulia dan Permaisuri keluar dari tempat ini," ucapnya sambil mengangkat tubuh Chen Li yang masih tertidur.


"Pengawal Yue, angkat kayu di lantai itu," perintah Raja Zhao Li. Pengawal Yue lantas mengangkat kayu itu dan tiba-tiba Liang Yi muncul dari tempat itu. Rupanya, itu adalah jalan bawah tanah yang sengaja dibangun atas perintah ibu suri.


Mei Yin menatap lelaki itu. Walau wajahnya ditutupi, tapi Mei Yin sangat mengenali lelaki itu. "Kakak Liang," ucap Mei Yin sambil memeluk lelaki itu. Mei Yin menangis karena sudah lama mereka tidak bertemu.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Liang Yi sambil menatap wajah Mei Yin. Sontak, pandangannya tertuju pada bibir wanita itu yang terluka dan berdarah. Tangannya mengepal saat melihat sisa darah yang masih menempel di sudut bibirnya itu.


"Permaisuri," ucap Qiang sambil memberi hormat dan menundukan wajahnya.


"Tolong, jaga putraku. Aku akan kembali ke dalam," ucap Mei Yin yang kembali masuk ke dalam lorong itu.


Samar-samar, dia mendengar suara dentingan pedang sedang beradu. Mei Yin kemudian berlari di dalam lorong yang gelap itu hingga membuatnya terjatuh beberapa kali. Hingga dia tiba di dalam kamar dan mendapati Liang Yi dan Pengawal Yue yang sedang bertarung dengan pengawal yang sudah mengepung mereka.


Melihat Mei Yin kembali membuat Liang Yi menjadi khawatir. "Pengawal Yue, bawa Mei Yin dari sini, biar aku yang menghadapi mereka," perintah Liang Yi.


Pengawal Yue lantas meraih tangan Mei Yin dan bermaksud membawanya, tapi Mei Yin menolak karena melihat suaminya yang masih berada di tempat itu. Bagaimana mungkin dia pergi meninggalkan suaminya begitu saja. "Kalian pergilah. Jaga anakku. Aku akan tetap di sini bersama suamiku. Apapun yang terjadi jangan biarkan anakku tertangkap. Kakak, tolong bimbing dia dan jadikan dia anak yang kuat dan berani. Katakan padanya kalau aku dan juga ayahnya sangat menyayanginya. Terima kasih karena Kakak telah datang menolong kami. Sekarang pergilah!!" ucap Mei Yin yang kemudian mengambil sebuah anak panah dan meletakkannya di lehernya.


"Biarkan mereka pergi, kalau tidak aku akan membunuh diriku di depan kalian," ancam Mei Yin pada penjaga-penjaga itu.


"Kakak, pergilah," ucap Mei Yin dengan air mata yang jatuh. Liang Yi tidak bisa membantah karena dia tahu, saat ini mereka sudah terpojok.


"Mei Yin, Zhao Li, aku berjanji akan menjaga putra kalian. Dia akan aku jadikan lelaki yang tangguh dan tunggulah hingga dia datang menjemput kalian." Liang Yi menitikkan air mata dan kemudian pergi bersama Pengawal Yue.


Tak lama kemudian, Jenderal Wang Li datang dan melihat kejadian itu. Tangannya mengepal dengan suara gemeretak giginya yang saling beradu. Melihat Mei Yin meletakkan anak panah di lehernya membuat lelaki itu naik darah. "Kalian cepat kejar mereka dan dapatkan pangeran kembali, biar aku yang mengurus Permaisuri," ucap Jenderal Wang Li yang berjalan perlahan mendekati Mei Yin.


"Jangan mendekat, kalau tidak aku akan mati di depanmu. Katakan pada mereka untuk tidak mencari putraku, biarkan dia pergi!!" ancam Mei Yin yang berdiri menutupi jalan rahasia itu.


Melihat leher Mei Yin yang sudah mengeluarkan darah membuat Jenderal Wang Li memerintahkan penjaga-penjaga itu untuk mundur. "Kalian pergilah dan kembali ke tempat kalian," perintah Jenderal Wang Li pada penjaga-penjaga itu.


"Letakkan anak panah itu, maka aku akan melepaskan Chen Li."


Mei Yin tidak menghiraukan kata-katanya karena dia tahu tidak semudah itu Jenderal Wang Li melepaskan buruannya. Mei Yin masih meletakkan anak panah itu mengarah ke lehernya.


"Istriku, letakkan anak panah itu," ucap Raja Zhao Li tiba-tiba. Mei Yin menoleh ke arahnya dan menitikkan air mata. Mei Yin kemudian meletakkan anak panah itu dan berniat mendekati suaminya, tapi Jenderal Wang Li segera meraih tubuhnya dan mengangkat tubuh itu ke atas pundaknya.


"Apa yang kamu lakukan, turunkan aku!!" teriak Mei Yin yang berusaha berontak dan memukul pugggung lelaki itu, tapi Jenderal Wang Li tidak peduli dan membawanya keluar dari kamar itu.


"Jaga dia, dan segera cari pangeran lewat jalan rahasia itu," perintahnya pada pengawal-pengawal yang langsung bergerak masuk ke dalam jalan rahasia itu.


Melihat istrinya dibawa pergi membuat Raja Zhao Li berteriak memanggil istrinya sambil merangkak sekuat tenaga. Belum sampai di depan pintu, tubuhnya kembali ditarik oleh salah satu pengawal dan dihempaskan kembali ke tempatnya semula.


"Istriku!!" panggil Raja Zhao Li, tapi itu percuma karena Jenderal Wang Li sudah membawa Mei Yin ke suatu ruangan yang agak jauh dari villa bunga.


"Turunkan aku!!" teriak Mei Yin saat sudah tiba di ruangan itu. Ruangan yang terlihat mewah itu adalah ruangan yang sering dipakai Jenderal Wang Li saat dia sedang beristirahat. Di ruangan itu, dia banyak menghabiskan waktunya dengan melukis.


Jenderal Wang Li meletakkan tubuh Mei Yin di atas tempat tidur dan menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Aku sudah berbaik hati padamu. Aku membiarkanmu bersama Zhao Li dan putramu, tapi kenapa kamu melakukan ini padaku??!!" teriak Jenderal Wang Li dengan sorot mata yang memerah.


"Aku sudah bilang jangan sekali-kali menyakiti tubuhmu, tapi kenapa kamu masih melakukannya? Apa kamu ingin menguji kesabaranku?" Jenderal Wang Li lantas mengambil sebuah pisau dan menggoreskan pisau itu di lehernya hingga berdarah.


Mei Yin terkejut melihat darah yang mengucur dari leher lelaki itu.


"Kenapa? Apa kamu takut melihat darahku? Lihat luka ini, aku tidak merasakan sakit sedikitpun, tapi melihat lukamu itu hatiku sakit, lebih sakit dari luka ini. Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja mengikuti perintahku?" Jenderal Wang Li menitikkan air mata. Tatapan matanya terlihat sedih saat menatap wajah Mei Yin. Tangannya bergetar saat menyentuh luka goresan di leher wanita itu.


"Tidak bisakah kamu berbaik hati padaku. Aku tidak ingin menyakitimu dan orang-orang di dekatmu. Aku tidak ingin menyakiti Zhao Li dan Chen Li, tapi hatiku tidak tahan jika melihatmu tertawa bersama mereka. Aku juga ingin bahagia bersamamu, melihatmu tertawa dan tersenyum kepadaku. Aku hanya ingin memilikimu hanya untukku, semua ini karena aku mencintaimu!!" Jenderal Wang Li menangis dan memeluk tubuh Mei Yin, tapi Mei Yin mengelak dan berusaha menghindar, namun percuma karena tubuhnya tak mampu melawan hingga akhirnya lelaki itu berhasil memeluk tubuhnya.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa dengan melakukan semua ini, kamu pikir akan bisa memiliki diriku? Mungkin kamu bisa, tapi kamu hanya bisa memiliki ragaku, tapi hatiku selamanya tidak akan pernah bisa kamu miliki," ucap Mei Yin dengan air mata yang jatuh.


"Kita lihat saja, sekuat apa kamu bisa bertahan dengan keangkuhanmu itu. Selama ini, aku sudah membiarkanmu bersama Zhao Li, tapi kini tidak lagi. Aku akan memisahkan kalian dan tunggu saja karena tidak lama lagi dia pasti akan mati dan kamu tidak akan pernah melihat jasadnya. Aku akan membuang jasadnya agar kamu sadar kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," ucap Jenderal Wang Li yang membuat Mei Yin terperanjat. Seketika, ekspresi wajahnya berubah. Tiba-tiba, dia menitikkan air mata karena membayangkan itu semua.


"Jangan lakukan itu, aku mohon. Izinkan aku menemani suamiku. Biarkan aku menemaninya," ucap Mei Yin memohon dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Jenderal Wang Li tersenyum penuh kemenangan. Ternyata, ancamannya berhasil hingga membuat Mei Yin luluh. Seketika, tangan kekarnya menyentuh leher Mei Yin yang berdarah. "Biarkan aku membalut lukamu itu dan temani aku tidur malam ini. Besok, aku akan mengembalikanmu padanya dan aku akan membiarkanmu menemaninya hingga dia mati," ucap Jenderal Wang Li setengah berbisik. Mei Yin tersentak dengan permintaan lelaki itu. Bagaimana mungkin dia mampu menemani lelaki lain tidur sedangkan dia adalah seorang istri yang mempunyai suami.


Mei Yin menangis mendengar pilihan itu. Keduanya terasa begitu sulit dan dia harus bisa menentukan pilihannya. "Suamiku, apakah cinta kita akan berakhir tragis? Aku mohon, tolong maafkan aku." Mei Yin menangis saat tubuhnya direbahkan di atas tempat tidur. Air matanya jatuh mengingat suaminya yang kini sendirian. Hatinya hancur karena dirinya kini telah ternoda.