
Kehadiran Chen Li di kerajaan ternyata membuat Putri Xia semakin penasaran padanya, hingga membuat gadis itu sering mendatangi tempat kediaman Mei Yin secara diam-diam untuk sekedar melihat pemuda itu. "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" Gadis itu terkejut dan membalikkan tubuhnya perlahan. Sontak, dia terkejut saat melihat Kaisar Wang yang sudah berdiri di depannya.
"Maaf, Yang Mulia. Aku hanya ... "
"Yang Mulia, tolong maafkan Putri Xia. Dia tidak sengaja datang ke tempat ini. Hamba mohon Yang Mulia, ampuni Putri Xia." Tiba-tiba saja Dayang Yu datang dan menunduk di depan Kaisar Wang untuk memohon pengampunan bagi gadis itu.
"Bukankah, kamu sudah tahu kalau tempat ini terlarang bagi siapapun, tapi kenapa kamu berani menginjakkan kaki di tempat ini?!" Kaisar Wang tampak marah sambil memandangi gadis yang kini tengah menundukkan wajahnya itu.
Putri Xia menunduk karena berusaha menahan air matanya. Melihat ayahnya yang kini berdiri di depannya dengan tatapan yang penuh amarah padanya, membuat gadis itu memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. "Apa aku tidak pantas untuk berada di tempat ini? Apa hanya mereka yang pantas mendapatkan kasih sayang dan perhatian darimu dan aku tidak? Aku juga putrimu, tapi kenapa kamu tidak pernah sekalipun memperlakukan aku dan ibuku seperti mereka!?" Pertanyaan gadis itu sontak membuat Kaisar Wang terkejut, sementara Dayang Yu mencoba membujuk Putri Xia untuk tidak melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri.
"Putriku? Apakah dia anakku dari Permaisuri?" batin Kaisar Wang sambil menatap wajah Putri Xia yang kini menangis di depannya.
"Putri Xia, jangan lakukan itu. Ayo, kita pergi dari sini."
"Tidak!! Aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan penjelasan darinya!!" ucap Putri Xia tanpa takut sedikitpun sambil telunjuknya mengarah pada Kaisar Wang.
"Putri Xia, apa yang kamu lakukan?" Dayang Yu terlihat panik dan takut atas apa yang sudah dilakukan gadis itu.
"Ada apa ini? Suamiku, apa yang terjadi dan siapa gadis ini?" tanya Mei Yin yang tiba-tiba datang dengan Chen Li yang berdiri tak jauh darinya.
Melihat Chen Li, Putri Xia menundukkan wajahnya seakan dia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada pemuda itu, tapi Chen Li tahu kalau saat ini gadis itu sedang menangis.
"Istriku, dia adalah putri dari Permaisuri," jelas Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tersenyum dan mendekati Putri Xia yang masih menundukan wajahnya. "Jadi, kamu Putri dari Permaisuri?" Putri Xia mengangkat wajahnya dan mengangguk.
Melihat wajah gadis itu yang penuh dengan air mata membuat Mei Yin mendekatinya dan menghapus air mata yang membasahi pipinya itu. "Jangan menangis. Mulai sekarang, kamu boleh datang ke sini dan anggaplah aku seperti ibumu karena bagaimanapun juga kamu adalah putri dari suamiku." Putri Xia terkejut saat Mei Yin mengucapkan itu hingga membuatnya kembali menangis. Melihat gadis itu yang terus menangis membuat Mei Yin memeluknya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang, aku akan membuat Ayahmu menyayangimu sama seperti dia menyayangi putriku. Sekarang, aku tak hanya punya satu putri, tapi dua putri. Sudahlah, jangan menangis lagi." Putri Xia begitu terharu hingga membuatnya memeluk Mei Yin dan menangis dalam pelukannya.
Selama hidupnya, dia tidak pernah merasakan pelukan dari seorang ibu. Dia merasa terabaikan dari orang tuanya sendiri, tapi dia selalu berusaha untuk tetap ceria dan menutupi kesedihannya itu. Namun kini, dia merasa sangat bahagia karena Mei Yin memperlakukannya seperti putrinya sendiri dan itu membuat dia terharu.
"Suamiku, aku meminta izinmu untuk membiarkan Putri Xia datang mengunjungiku kapanpun dia mau. Apa boleh?" tanya Mei Yin sambil menatap ke arah suaminya itu. Kaisar Wang tersenyum dan mengangguk karena dia tidak ingin membuat wanita yang sangat dicintainya itu kecewa. "Baiklah, kalau itu permintaanmu, aku akan izinkan." Mei Yin tersenyum dan memeluk suaminya itu. Chen Li yang berdiri di tempat itu sontak menundukan wajahnya saat ibunya memeluk Kaisar Wang. "Ibu, apa harus Ibu memeluknya di depanku?" batin Chen Li yang terlihat kecewa.
Mei Yin sadar, sikapnya pada Kaisar Wang akan membuat putranya kecewa padanya, tapi dia juga tahu kalau hanya dirinya yang mampu membuat Kaisar Wang luluh atas apapun permintaannya dan hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Putri Xia, mulai saat ini, kamu boleh berkunjung ke tempat ini. Tempat ini akan selalu terbuka untukmu. Lian, tolong antarkan Putri Xia ke ruanganku."
"Baik, Nyonya."
Putri Xia tersenyum dan kembali memeluk Mei Yin. Gadis itu begitu bahagia. "Tenanglah, aku akan bicara dengan ayahmu agar dirinya mau memperlakukanmu sama seperti Guan Yin," bisik Mei Yin yang membuat gadis itu mengangguk.
Chen Li kemudian mengantar Putri Xia menuju ke ruangan ibunya. Gadis itu terlihat tersipu malu saat berjalan bersama Chen Li. Seketika, rasa sedihnya berganti dengan perasaan suka cita karena dia bisa leluasa datang ke tempat itu dan melihat pemuda yang sangat dikaguminya itu.
"Masuklah," ucap Chen Li sambil membuka pintu ruangan itu.
"Tidak perlu, aku akan menunggu di sini bersamamu," ucapnya sambil menutup pintu itu kembali.
Chen Li hanya menatapnya dengan heran dan berdiri di depan pintu, sementara Putri Xia terus menatapnya hingga membuat Chen Li merasa tidak nyaman. "Apa yang bisa kamu lihat dari pemuda sepertiku? Putri Xia, jangan terlalu memperhatikanku karena aku tidak pantas untuk mendapatkan perhatian darimu." Chen Li mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Chen Li sadar dengan perhatian yang diberikan Putri Xia padanya, tapi jauh di dasar hatinya sudah ada seseorang yang menempati ruang di hatinya itu.
"Kenapa? Apa seorang gadis yang terbuang sepertiku tidak pantas untuk bahagia? Apa kamu merasa aku tidak pantas ada di sisimu karena aku hanyalah putri yang terbuang?" Putri Xia menitikkan air mata saat mengucapkan itu hingga membuat Chen Li merasa bersalah. "Maafkan aku, tapi itu bukan maksudku. Aku ini hanyalah pengawal pribadi Nyonya Wang dan kamu adalah Putri dari Kaisar, apa pantas kamu menyukaiku?"
Putri Xia terkejut saat mendengar ucapan Chen Li hingga membuat wajahnya memerah. "Apa maksud ucapanmu itu? Kenapa kamu bilang kalau aku menyukaimu?" tanya Putri Xia dengan wajahnya yang merah merona.
Chen Li mendengus dan menatap lurus ke arahnya. "Apa aku semenarik itu di matamu hingga membuatmu menatapku secara diam-diam dari sana?" tunjuk Chen Li ke arah sebatang pohon yang berdiri kokoh di luar pintu utama. Rupanya, tingkah Putri Xia yang selalu memandangi Chen Li secara diam-diam sudah diketahui oleh pemuda itu.
Sementara di taman, Mei Yin sedang duduk bersama Kaisar Wang yang kini sudah mendekap tubuhnya. "Aku minta maaf, jika permintaanku membuatmu terpaksa mengiyakan, tapi bagaimanapun juga gadis itu adalah putrimu sama seperti Guan Yin dan selama ini kamu tidak pernah memberikan perhatian padanya. Apakah, kamu tidak merasa bersalah padanya?" tanya Mei Yin yang membuat Kaisar Wang menatapnya sambil tersenyum. "Aku tahu kamu wanita yang sangat baik. Dia bukan putrimu, tapi kamu memperlakukannya seperti putrimu dan aku hargai itu. Jujur, aku hanya ingin memberikan kasih sayang dan perhatianku hanya untukmu dan juga putri kita walau aku sebenarnya tahu kalau aku mempunyai putri dari wanita itu. Aku melakukannya hanya untuk kalian karena aku tidak ingin membagi kasih sayangku pada orang lain selain untuk kalian," jawab Kaisar Wang sambil membelai lembut rambut istrinya itu.
"Kalau kamu menginginkan aku untuk menyayanginya, akan aku lakukan, tapi aku butuh waktu karena itu tidak akan mudah. Aku harap, kamu bisa mengerti." Mei Yin mengangguk dan tersenyum. Kaisar Wang lantas mencium dahinya dan kembali memeluknya. "Terima kasih karena sudah menerima putriku itu." Mei Yin kembali mengangguk, tapi di dasar hatinya, itu hanyalah salah satu caranya untuk membuat Permaisuri Yuri menderita karena dia tahu, Putri Xia tidak diperlakukan selayaknya seorang anak oleh Permaisuri. Mei Yin akan memperlakukan Putri Xia seperti putrinya sendiri dan membuat Permaisuri terluka karena putrinya kini tak lagi menginginkannya. Secara perlahan, Mei Yin akan merebut Putri Xia dari Permaisuri dan membuat gadis itu semakin membenci ibunya sendiri.
"Ayah, Ibu, apa Putri Xia itu adalah putri Ayah?" tanya Guan Yin yang tiba-tiba datang dan duduk di dekat mereka.
"Benar, apa kamu marah karena Ayahmu mempunyai putri yang lain?" tanya Mei Yin sambil menatap ke arah putrinya itu.
"Tidak, Ibu. Aku malah merasa senang karena aku sekarang punya adik dan tentu saja dia akan menjadi temanku dan akan menemaniku di sini. Bolehkan, Ayah?" Guan Yin begitu antusias saat tahu kalau dia mempunyai seorang adik. Rasa sepi di tempat itu rupanya membuat Guan Yin ingin memiliki seseorang yang bisa diajaknya melakukan hal-hal yang selama ini dilakukannya seorang diri.
"Di mana adikku itu, Ibu. Aku ingin menemuinya."
"Kenapa? Apa kamu sangat ingin bertemu dengannya?" Guan Yin mengangguk dan bangkit dari tempat duduk itu.
Mei Yin tersenyum sembari bangkit dari tempat duduknya dan diikuti oleh Kaisar Wang. "Baiklah, ayo kita temui dia," ajak Mei Yin yang membuat Guan Yin tersenyum dan mengangguk.
Mereka kemudian menemui Guan Yin yang sementara menunggu di dalam ruangan. Chen Li yang berdiri di depan pintu menunduk memberi hormat saat melihat mereka datang.
"Lian, temuilah Yuwen dan beristirahatlah. Saat ini, aku tidak akan kemana-mana. Jika ada urusan yang ingin kamu kerjakan, maka lakukanlah."
"Baik, Nyonya. Aku ingin meminta izin untuk keluar sebentar karena aku dan Yuwen harus berkunjung ke makam ibu karena hari ini adalah hari peringatan kematiannya," ucap Chen Li yang membuat Mei Yin terkejut.
"Hari peringatan kematian ibu kalian? Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak tadi? Kalau begitu, tunggu aku sebentar." Mei Yin yang terlihat sedih kemudian menemui Dayang Ling dan memintanya untuk menyiapkan makanan untuk disajikan di upacara peringatan kematian. Dia sangat ingin pergi bersama mereka dan ingin berkunjung ke makam adik angkatnya itu.
Saat Yuwen menceritakan tentang Jiao Yi yang meninggal karena melahirkannya membuat Mei Yin semakin menyayangi pemuda itu. Bagaimanapun juga, Jiao Yi adalah adik angkat yang paling di sayanginya. "Bawalah ini." Mei Yin memberikan sebuah bungkusan makanan yang sudah disiapkan Dayang Ling.
"Terima kasih, Nyonya." Setelah menunduk memberi hormat pada ibunya dan juga Kaisar Wang, Chen Li kemudian meninggalkan tempat itu dan menemui Yuwen yang sudah menunggunya. Kaisar Wang tersenyum saat melihat sikap istrinya itu yang sangat peduli dengan pengawalnya sendiri. "Mereka sangat beruntung karena memiliki Permaisuri yang baik hati sepertimu," ucap Kaisar Wang pada istrinya itu.
"Aku bukanlah permaisuri, tapi istrimu."
"Tidak, aku sudah memikirkan untuk menjadikanmu sebagai Permaisuri." Mei Yin tersenyum. "Jangan bercanda, bagaimana mungkin ada dua permaisuri di kerajaan ini? Ah, sudahlah. Ayo, kita temui Putri Xia." Mei Yin kemudian membuka pintu dan mendapati Putri Xia yang sudah berdiri sambil menunduk ke arah mereka.
Mei Yin mendekati gadis itu dan memperkenalkannya pada Guan Yin. Melihat adiknya itu, Guan Yin tersenyum sambil memeluknya. "Adik Xia, aku senang karena ternyata aku mempunyai seorang adik yang cantik sepertimu. Kamu mau kan menemaniku di sini?" tanya Guan Yin yang membuat gadis itu mengangguk.
Sementara Kaisar Wang berjalan mendekatinya dan menatap wajahnya. Walau dia tidak menyukai Permaisuri Yuri, tapi tidak mungkin baginya untuk selamanya membenci darah dagingnya sendiri. Kaisar Wang tampak menitikkan air mata saat mendekati putrinya itu. "Maafkan Ayah karena baru sekarang kita bertemu. Apa kamu membenci Ayah?" tanya Kaisar Wang yang sudah membuat Putri Xia menangis. Gadis itu menggeleng dan berjalan perlahan mendekati ayahnya dan menghempaskan tubuhnya dalam pelukan lelaki itu. "Ayah, aku sangat merindukanmu," ucap Putri Xia yang menangis dalam pelukan Kaisar Wang. Ayah dan anak itu terlihat menangis.
Kaisar Wang begitu menyayangi keluarganya karena dia tahu bagaimana menderitanya hidup tanpa keluarga yang menyayanginya dan dia tidak ingin keluarganya hidup seperti dirinya di masa lalu.
Dia ingin mencurahakan kasih sayang dan perhatian pada istri dan kedua putrinya itu karena baginya mereka adalah kehidupannya dan juga kebahagiaannya.
Sementara di desa, Liang Yi sudah menunggu kedatangan Chen Li dan Yuwen. Kedua pemuda itu baru saja tiba saat Liang Yi keluar dari rumahnya. "Paman," ucap keduanya secara bersamaan.
Melihat mereka berdua, Liang Yi segera memeluk mereka dan ingin menanyakan tentang Mei Yin yang beberapa hari ini sudah mengusik hatinya. "Chen Li, apa ibumu baik-baik saja?" Pemuda itu mengangguk sembari memberikan bungkusan makanan yang diberikan Mei Yin padanya.
"Apa ini?"
"Itu pemberian ibu." Liang Yi lalu membuka bungkusan itu dan mendapati sebuah surat yang ditujukan untuknya. Dengan tangan yang gemetar, Liang Yi mengambil surat itu dan mulai membacanya.