The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 60



Matahari mulai menghilang di balik awan, meninggalkan warna jingga keemasan yang membuat langit terlihat indah. Namun, keindahan itu tak berarti bagi Kaisar Wang yang baru saja tersadar dan mendapati dirinya tergeletak di atas tanah di padang bunga. Sejurus, pandangannya liar mengitari area itu dan mencari dua sosok yang sudah membuatnya pingsan tak berdaya. "Kenapa aku bisa pingsan di tempat ini? Kedua orang yang menghunuskan pedang ke arahku itu siapa? Apa mungkin mereka adalah penunggu di tempat ini?" batin Kaisar Wang sambil bangkit dan mengambil pedangnya yang tergelatak tak jauh darinya.


Lelaki itu mencoba mengingat kembali kejadian tadi hingga membuatnya teringat akan ucapan dua sosok itu. "Apa mereka itu nyata atau hanya khayalanku saja? Apa maksud dari perkataan mereka?"


Bunga-bunga yang tadi dihantamnya terlihat berserakan. Ranting pohon sakura yang patah, sudah tertancap di atas tanah. Kaisar Wang menatap sekeliling tempat itu dan tidak menemukan dua sosok yang sudah membuatnya terkejut. "Aku harus kembali. Aku tidak ingin berlama-lama ada di tempat ini," batinnya sambil melangkah pergi dari area padang bunga menuju kudanya dan memilih kembali ke kerajaan.


Setibanya di kerajaan, dilihatnya Mei Yin yang sudah tersadar dan duduk di temani Guan Yin di taman. "Istriku, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Kaisar Wang sambil melangkah mendekatinya dan segera memeluknya.


"Aku baik-baik saja," jawab Mei Yin dengan senyum yang begitu dipaksakan.


"Ayo kita masuk. Hari sudah gelap, nanti kamu bisa sakit."


"Aku masih ingin duduk di sini. Tolong, biarkan aku sendiri," ucap Mei Yin yang menolak ajakan Kaisar Wang untuk masuk.


"Ibu, benar kata Ayah. Masuklah, ini sudah malam, nanti Ibu bisa sakit," ucap Guan Yin yang mencoba membujuk ibunya, tapi Mei Yin tetap menolak dan masih ingin duduk di taman itu.


"Guan Yin, masuklah. Biar Ayah yang akan menemani Ibumu."


"Baiklah, Ayah." Gadis itu kemudian pergi dan meninggalkan ayah ibunya yang kini duduk bersama.


"Istriku, ada apa denganmu? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" Kaisar Wang menggenggam tangan istrinya itu dengan lembut, tapi Mei Yin sama sekali masih tidak peduli.


"Istriku, apa ada yang ingin kamu katakan padaku? Aku mohon, jangan acuhkan aku seperti ini karena aku tidak suka jika diacuhkan olehmu," ucap Kaisar Wang sambil meraih tubuh Mei Yin dan dipeluknya.


Rasanya, Mei Yin ingin melepaskan tubuhnya dari pelukan Kaisar Wang, tapi dia tidak mampu lakukan itu. Dia masih harus bersabar dan terus bersandiwara di depan lelaki itu. Saat ini, perasaannya sedang sedih setelah mengunjungi padang bunga, terlebih saat dirinya bertemu dengan Liang Yi. "Sampai kapan aku harus bertahan dengan semua sandiwara ini? Sebaiknya, apa yang harus aku lakukan?" Mei Yin merasa bingung dengan perasaannya. Di satu sisi, dia ingin pergi meninggalkan kerajaan bersama putranya dan juga Liang Yi. Dia merasa lelah dengan semua sandiwara yang selama ini dilakoninya. Namun, di sisi lain, dia juga ingin membalaskan atas kehancuran yang sudah mereka lakukan untuk keluarganya. Untuk sesaat, perasaannya bimbang, tapi dia berusaha untuk tetap fokus pada rencana awal yakni membalaskan dendam keluarganya.


"Maafkan aku. Bukan maksudku mengacuhkanmu, tapi aku ... "


"Sudahlah, jangan katakan apapun. Asalkan, kamu tidak lagi mengacuhkanku, maka aku akan maafkan apapun yang kamu lakukan padaku. Sungguh, aku takkan sanggup jika kamu mengacuhkanku seperti itu." Kaisar Wang masih memeluk tubuh Mei Yin dan enggan untuk melepaskannya. "Mei Yin, apa selama ini kamu bahagia bersamaku? Ataukah, kamu menderita bersamaku?" batin Kaisar Wang yang mulai terpengaruh dengan perkataan yang dilontarkan dua sosok di padang bunga waktu itu.


Ucapan yang didengarnya di padang bunga mulai mengusik hatinya. Dia sadar, perbuatannya di masa lalu sudah membuat Mei Yin menderita, tapi itu karena cinta yang dia rasakan pada Mei Yin hingga membuatnya tega melakukan semua perbuatan itu. Namun kini, dia mulai menyesali perbuatannya itu karena akhirnya dia tahu bagaimana sakitnya jika harus kehilangan orang yang dicintai. Dia begitu takut kehilangan Mei Yin dan juga putrinya, Guan Yin.


Sejak bersama Mei Yin, hidupnya sangat bahagia. Apalagi, sejak memiliki Guan Yin, hidupnya terasa lebih sempurna. Kehidupan sebuah keluarga yang diidam-idamkannya semenjak dulu, akhirnya terwujud berkat Mei Yin walau dia tahu, kebahagiaannya itu didapatinya dari kehancuran wanita yang dicintainya.


Untuk menebus kesalahannya di masa lalu, diam-diam Kaisar Wang menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Chen Li, namun semuanya percuma karena jejak yang ditinggalkan ternyata tak cukup hingga membuat pencarian terhenti.


Pencarian Chen Li bukan tanpa alasan. Semuanya dia lakukan karena dia sudah bertekad untuk mengembalikan tahta kepada pewaris yang sebenarnya, yaitu Chen Li. Kini, Kaisar Wang hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarganya. Dia berusaha menjalankan tugasnya sebagai raja walau sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. Dia hanya ingin hidup dengan damai bersama wanita yang dicintainya dan juga sang buah hati.


"Istriku, bersiaplah. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Kaisar Wang sambil memeluk Mei Yin dari belakang.


"Kita mau kemana?"


"Ikut saja, aku yakin kamu pasti akan suka." Mei Yin mengangguk dan menuruti ucapan suaminya itu.


Di atas kuda hitam, Mei Yin duduk dengan Kaisar Wang yang sudah duduk di belakangnya. Sementara Chen Li, hanya bisa menatap kepergian ibunya dengan lelaki itu. Dia tidak diizinkan untuk ikut karena Kaisar Wang ingin menghabiskan waktunya bersama istrinya saja.


Selama perjalanan, Mei Yin hanya terdiam dan sikapnya itu membuat Kaisar Wang semakin tertekan. Dia merasa, sejak kepulangan Mei Yin dari padang bunga, sikap istrinya itu mulai berubah padanya. Perlahan, Kaisar Wang melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya itu dan menyandarkan kepala di bahunya. Tak hanya itu, Kaisar Wang kemudian mengecup pipi kiri istrinya itu sambil tersenyum. "Aku sangat mencintaimu," ucap Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tersenyum. "Aku tahu," jawab Mei Yin yang membuat Kaisar Wang kembali mengecup pipinya.


"Apa kamu suka?" Mei Yin mengangguk dan berjalan perlahan di tepian pantai. Kakinya mulai basah dengan butiran pasir yang menempel di kakinya. Melihat senyum di wajah istrinya itu membuat Kaisar Wang terlihat bahagia. Senyum yang sudah membuatnya tergila-gila dan jatuh cinta. Senyum yang akhir-akhir ini tak dilihatnya hingga membuatnya terluka.


Diraihnya tangan istrinya itu dan mengajaknya menuju suatu tempat yang tidak jauh dari pesisir pantai itu. "Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu." Kaisar Wang membawa Mei Yin menuju bukit kecil yang ada di dekat pesisir pantai. Di bukit kecil itu, berdiri sebuah rumah sederhana dengan taman bunga yang mengitari rumah itu. Bukan hanya itu, pemandangan dari rumah itu terlihat begitu indah karena dari depan terasnya, mereka bisa melihat hamparan lautan lepas.


"Suamiku, rumah siapa ini? Lihat, pemandangannya sangat indah," ucap Mei Yin sambil tersenyum dengan telunjuk yang mengarah ke lautan bebas.


"Apa kamu suka?" Mei Yin tersenyum dan mengangguk.


"Rumah ini milikmu. Aku sengaja membangunnya untukmu. Aku ingin kita menghabiskan masa-masa tua kita di rumah ini bersama. Apa kamu bersedia?" Perlahan, senyum di wajah Mei Yin menghilang seiring pertanyaan yang dilontarkan Kaisar Wang untuknya.


"Ada apa? Apa kamu tidak suka?" Mei Yin menggeleng dan berjalan mendekati Kaisar Wang. "Aku sangat suka tempat ini, tapi aku tidak yakin kita bisa tinggal bersama di tempat ini." Lelaki itu sontak menatapnya. Mendengar jawaban Mei Yin membuat perasaannya kembali terluka. "Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kamu tetap tinggal di sisiku? Mei Yin, kamu telah berubah."


Mei Yin menatap wajah Kaisar Wang yang kini berdiri di depannya. "Apakah kamu bahagia selama bersamaku? Apakah kamu sudah merasa puas memilikiku?"


"Apa maksud ucapanmu itu? Apa selama ini kamu tak bahagia bersamaku? Mei Yin, aku mohon jangan mempermainkan perasaanku!!?" Kaisar Wang mencengkram kedua bahu Mei Yin dengan tatapannya yang tajam.


"Aku sudah memberikanmu segalanya. Apa yang kamu minta, aku turuti. Bahkan, aku sudah memberikanmu seorang putri yang cantik, tapi pernahkan sekali kamu bertanya tentang apa yang aku inginkan? Baiklah, saat ini juga aku ingin lepas darimu. Aku mohon, biarkan aku hidup tanpamu!!" teriak Mei Yin dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya.


Kaisar Wang terperanjat. Hatinya begitu sakit saat mendengar penuturan Mei Yin yang ingin melepas diri darinya. Seketika, wajahnya memerah. Dia tidak menyangka, istrinya akan meminta hal yang mustahil untuk dikabulkannya. "Aku akan menganggap tidak mendengar apa yang baru saja kamu katakan. Aku akan menutup telinga atas apa yang kamu katakan itu. Istriku, selamanya kamu akan tetap ada di sisiku. Jangan pernah mengatakan hal konyol itu lagi padaku, mengerti?" Kaisar Wang meraih tubuh Mei Yin dan mendekapnya. "Jika kamu tidak bahagia, setidaknya berpura-puralah untuk bahagia. Aku tidak ingin memilikimu dengan cara menyakitimu lagi. Aku hanya ingin kamu mencintaiku tulus walau hanya sedikit. Tak bisakah kamu beri sedikit saja cintamu padaku?" batin Kaisar Wang yang terlihat menitikkan air mata.


Di saat yang sama, mereka tidak menyadari kalau mereka sedang di awasi oleh sekelompok orang-orang bercadar hitam yang sudah mengawasi mereka sedari tadi. Hingga mereka terkejut saat sebuah anak panah tiba-tiba melesat dan menyerempet lengan Mei Yin hingga berdarah. Andai saja bukan karena arah angin yang datang tiba-tiba, mungkin saja saat ini panah itu sudah tertancap di dadanya.


Melihat lengan istrinya yang berdarah dan anak panah yang beberapa kali menyasar ke arah istrinya itu membuat Kaisar Wang yakin kalau saat ini, Mei Yin menjadi target pembunuhan. "Cepat sembunyi!!" perintah Kaisar Wang yang segera menarik tangan istrinya itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Kaisar Wang terlihat geram saat melihat lengan istrinya yang berdarah. Dikeluarkannya sebuah pita rambut yang ada di saku jubahnya dan segera menutupi luka di lengannya dengan pita rambut itu. Mei Yin tertegun saat melihat pita rambut miliknya itu. "Bukankah, pita rambut itu milikku yang dulu aku pakai untuk menutupi luka di jarinya?"


"Tetaplah di sini. Aku akan menghadapi mereka." Kaisar Wang menggenggam pedang di tangannya dan bermaksud menghadapi penyerang-penyerang itu, tapi tiba-tiba saja puluhan anak panah berapi melesat dan tertancap di setiap sudut rumah itu. Sontak saja, panah api itu mulai membakar hingga membuat mereka terjebak. 


Penyerang-penyerang itu rupanya telah mengepung mereka hingga membuat mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah itu. "Istriku, tenanglah. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu." Kaisar Wang membuka jubahnya dan menutupi tubuh Mei Yin dengan jubahnya itu.


Asap terlihat mengepul. Mei Yin mulai terbatuk-batuk karena menghirup asap yang mulai menutupi pandangannya. Sementara di luar sana, orang-orang bercadar itu sudah berdiri di sekeliling rumah yang mulai terbakar. "Mereka pasti sudah mati terbakar. Cepat, dobrak pintunya!!" perintah seorang dari mereka.


Seorang lelaki mulai mendobrak pintu rumah yang belum terbakar. Pintu kayu itu roboh dan kepulan asap terlihat keluar dari dalam rumah. Di saat yang sama, Kaisar Wang dan Mei Yin berlari keluar. "Tangkap mereka!!" seru pemimpin orang-orang itu. Sontak saja, mereka berlari mengejar Kaisar Wang dan Mei Yin dengan pedang yang terhunus.


Kaisar Wang menghunuskan pedangnya saat melihat orang-orang itu mengejar mereka. "Istriku, larilah!! Biar aku yang menghadapi mereka." Kaisar Wang mendorong Mei Yin agar pergi meninggalkan tempat itu, tapi di saat yang sama, dia melihat seseorang mengarahkan anak panah ke arah istrinya itu. Sontak, dia terkejut dan memandang ke arah Mei Yin yang sudah berlari meninggalkan tempat itu. "Tak akan kubiarkan kalian membunuhnya!!" Kaisar Wang berlari kearah sasaran anak panah dan ketika anak panah itu dilepaskan, dada kanannya yang menjadi sasaran anak panah itu. Kaisar Wang termundur ke belakang dengan anak panah yang sudah tertancap di dada kanannya. Darah segar keluar dari balik jubahnya. Walau begitu, Kaisar Wang masih kuat berdiri dan bertarung menghadang orang-orang yang hendak mengejar Mei Yin.


Melihat Mei Yin yang mulai menjauh, Kaisar Wang menitikkan air mata. "Jika aku harus mati untuk melindungimu, aku rela. Pergi dan menjauhlah, jika ini adalah perpisahan kita, aku akan rela." Kaisar Wang mematahkan anak panah yang tertancap di dadanya itu dan mulai merangsek maju. Ketangguhannya dalam bertarung sangatlah mumpuni. Walau tak muda lagi, tapi kemahirannya memainkan pedang masih terlalu tangguh untuk mereka tandingi.


"Biar aku yang menghadapi tua bangka ini. Cepat kalian kejar wanita itu dan bunuh dia!!"


"Tidak akan aku biarkan!!" Kaisar Wang maju menghunuskan pedangnya ke arah orang-orang yang mengejar Mei Yin. Dentingan suara pedang terdengar bersahutan. Pekikan suara erangan terdengar saat pedang Kaisar Wang berhasil melumpuhkan lawan. Namun, luka di dadanya membuat gerakannya mulai melambat. Nafasnya mulai tersendat. "Menyerahlah, dengan luka di dadamu itu, kamu tidak akan bisa bertahan." Lelaki yang memakai penutup wajah itu sudah bersiap dengan pedang di tangannya. Diangkat pedangnya tinggi-tinggi dan bersiap menghantamkannya ke kepala Kaisar Wang, tapi tiba-tiba saja lelaki itu tersungkur dengan anak panah yang sudah tertancap di punggungnya.


Terlihat, dua orang pemuda yang menunggangi kuda dengan kecepatan tinggi berlari ke arah mereka. Di tangan keduanya memegang busur dengan anak panah yang siap dilesatkan ke arah orang-orang bercadar itu. Melihat mereka berdua, orang-orang itu mulai panik, namun mereka terlambat karena anak panah yang dilesatkan kedua pemuda itu menghentikan langkah mereka. Mereka jatuh tersungkur bersimbah darah.