The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 40



Kaisar Wang menatap Mei Yin yang terdiam di depannya. Tangannya yang kekar membelai lembut kepala wanita itu dan membuka penutup wajah yang sedari tadi menutupi kecantikannya. Terlihat, bibirnya tersenyum saat melihat Mei Yin yang sedang memejamkan matanya. "Bukalah matamu dan tataplah aku," ucap Kaisar Wang lembut. Mei Yin perlahan membuka matanya dan menatap ke arah Kaisar Wang yang tersenyum di depannya.


"Apakah kamu benar-benar telah menerimaku? Ah, maafkan aku jika aku menanyakan itu." Kaisar Wang tampak tidak percaya kalau Mei Yin benar-benar telah menerimanya.


Mei Yin tersenyum dan menatapnya. "Kalau kamu masih meragukan ucapanku, aku tidak akan memaksa. Aku hanya lelah karena terus menolakmu. Aku sadar, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima dirimu, walaupun rasa cinta di hatiku belum ada untukmu, tapi aku akan mencoba untuk menerima dirimu," ucap Mei Yin seserius mungkin agar Kaisar Wang mempercayainya.


Lelaki itu tersenyum dan mengecup bibir ranum Mei Yin dengan lembutnya. Mei Yin terdiam dan membiarkan Kaisar Wang menciumnya. "Istriku, aku sangat mencintaimu. Aku akan lakukan apapun untuk melihatmu bahagia. Biarkan aku memilikimu dan izinkan aku untuk melakukan hakku atas dirimu," ucapnya sambil melepaskan tali ikatan hanfu yang dikenakan oleh Mei Yin.


Mei Yin terdiam dan kembali memejamkan matanya. Kedua tangannya mengepal saat Kaisar Wang membaringkan tubuhnya perlahan. Lilin yang sementara menyala tiba-tiba padam seiring embusan angin yang meniup kencang dengan suara petir yang menyambar.


Suasana di dalam kamar terlihat remang dengan cahaya petir yang kadang terlihat sesaat. Mei Yin menitikkan air mata saat Kaisar Wang melakukan haknya walau tangisnya itu dia sembunyikan dibalik kepasrahannya.


Tangannya yang tadinya mengepal perlahan terbuka seiring tangan kekar Kaisar Wang yang menggenggamnya erat. Mei Yin dapat merasakan embusan nafas Kaisar Wang yang memburu di telinganya.


Sementara Permaisuri Yuri di dalam kamarnya tidak bisa menahan rasa cemburu yang merasuk di hatinya. Saat ini, dia begitu tersiksa dengan pikirannya yang membayangkan kebersamaan Kaisar Wang bersama Mei Yin. Pikirannya kalut hingga membuatnya meneguk segelas arak yang ada di atas mejanya. "Permaisuri, tidurlah. Ini sudah larut malam dan jangan minum arak lagi," ucap seorang dayang padanya.


"Jangan ganggu aku, pergilah!!" usir Permaisuri Yuri. Dayang itu kemudian keluar dari kamar itu dan meninggalkan Permaisuri yang masih menenggak arak.


Yuan yang merasa kasihan dengan Permaisuri terpaksa turun tangan. Tanpa mengetuk pintu, Yuan kemudian masuk dan duduk di depannya dan mengambil gelas dari tangan Permaisuri dan diteguknya arak dari dalam gelas itu.


"Yuan, pergilah. Biarkan aku sendiri," ucap Permaisuri saat tahu lelaki yang duduk di depannya adalah sahabatnya.


"Aku akan menemanimu minum. Malam ini, biarkan aku menemanimu," ucap Yuan yang tidak memandang kalau wanita di depannya adalah permaisuri melainkan seorang wanita yang dicintainya dalam diam.


Permaisuri menatap wajah Yuan dan membuatnya tersenyum. "Pergilah, kamu tidak bisa menggantikannya. Aku memerlukan suamiku bukan sahabatku," ucap Permaisuri sambil meneguk arak.


"Apakah sekarang kamu sudah jatuh cinta padanya? Apakah semudah itu wanita yang aku kenal kuat dengan pendiriannya dan tidak mudah putus asa bisa terpuruk hanya karena seorang lelaki?"


Permaisuri Yuri menatapnya dengan sebuah senyuman. "Benar, aku rapuh di depannya. Dia telah membuatku jatuh cinta, hingga membuatku tidak ingin melepaskannya. Sudahlah, tahu apa kamu soal cinta," ucap Permaisuri Yuri yang membuat Yuan tersenyum kecut.


"Yuri, andai kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Sejak kecil, aku sudah menahan perasaan ini dan kini di depanku kamu mengatakan kalau kamu mencintai lelaki lain dan kamu bilang aku tidak tahu soal cinta? Ah, kalau kamu bisa melihat hatiku, aku yakin kamu akan sadar kalau cintaku lebih besar dari cintamu padanya," batin Yuan sambil meneguk arak.


"Saat ini, dia pasti sangat bahagia," ucap Permaisuri dengan senyum kecutnya.


"Apa maksudmu?"


"Dia sangat mencintai wanita itu hingga membuatnya menentang peraturan kerajaan. Dia sangat mencintainya, walau wanita itu sama sekali tidak mencintainya bahkan mungkin membencinya, tapi kenapa dia tidak bisa melihat diriku seperti melihat wanita itu?"


"Permaisuri, jangan pikirkan itu. Bukankah tujuanmu menikah dengannya hanya untuk menjadi permaisuri negeri ini? Lupakanlah dia dan fokuslah pada tujuanmu sebelumnya."


"Andai aku bisa, aku akan melupakannya, tapi aku tidak bisa," ucap Permaisuri dengan wajah yang terlihat sedih.


Yuan menatap wajah Permaisuri Yuri yang terlihat sedih itu. Rasanya, dia ingin memeluknya dan menghapus kegelisahannya, namun dia tidak punya keberanian untuk melakukan itu semua.


Permaisuri terlihat menitikkan air mata dan meneguk arak entah untuk keberapa kalinya hingga kepalanya tak lagi mampu untuk diangkat dan tergeletak di atas meja tanpa daya.


Yuan mendekati Permaisuri yang mulai mabuk dan tidak sadarkan diri. Lelaki itu menatap wajah Permaisuri dan menghapus sisa air mata di pipinya. "Kenapa kamu harus menderita karena dia? Bukankah menurutmu cinta hanya sesuatu yang percuma?" tanya Yuan yang mengingat semua ucapan Permaisuri di masa lalu.


Yuan lantas membopong tubuh Permaisuri Yuri dan membaringkannya di atas tempat tidur. Wajah wanita itu tampak memerah karena terlalu banyak minum arak.


Yuan menutupi tubuh Permaisuri dengan selimut. Ditatapnya wajah wanita itu dan membelai wajahnya dengan lembut. "Aku akan ada di sisimu. Selama masih ada aku, kamu tidak akan pernah sendirian." Yuan kemudian keluar dari kamar itu. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Lelaki itu menatap langit hitam tanpa bertabur bintang. Di bawah derasnya air hujan, dia melangkah pergi dengan kekecewaan yang menggelayut di hatinya.


Sementara itu, Mei Yin terbaring dengan tubuhnya yang dipeluk Kaisar Wang. Lelaki itu tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Mei Yin. Nafasnya yang masih turun naik bisa dirasakan oleh Mei Yin. Hujan yang deras tidak membuat peluh di wajah lelaki itu berkurang. Rasanya, dia begitu puas hingga membuatnya enggan melepaskan pelukannya. Saat ini, dia merasa sangat bahagia karena Mei Yin tak lagi menolaknya. Dia bahagia, karena Mei Yin telah menjadi istrinya.


"Istriku, aku sangat bahagia. Inilah saat yang paling aku tunggu, yaitu memilikimu tanpa harus ditolak olehmu. Aku sangat mencintaimu," ucapnya sambil mengelus lembut pipi Mei Yin yang tampak memerah.


Mei Yin hanya terdiam dengan senyum yang dipaksakan. Senyum yang membuat Kaisar Wang kembali mengecup bibirnya dan merasakan kembali kehangatan tubuhnya hingga dia terbaring lemas di samping tubuh Mei Yin dengan senyum kepuasan di sudut bibirnya.


Malam itu, Kaisar Wang sangat bahagia hingga membuatnya tidak melepaskan Mei Yin dari pelukannya. Mei Yin bagaikan magnet yang selalu menariknya untuk selalu mendekatinya. Hingga pagi menyapa, Mei Yin masih ada dalam pelukannya.


Mei Yin perlahan membuka matanya dan menatap wajah Kaisar Wang yang tertidur pulas sambil memeluknya. Sejenak, Mei Yin menatap wajah lelaki itu yang terlihat mirip dengan Raja Zhao Li. Keduanya mempunyai struktur wajah yang sama. Hidungnya yang mancung dengan alis yang tebal, begitu mirip dengan Raja Zhao Li. Tulang pipi lelaki itu tampak kokoh hingga wajahnya terlihat tampan sempurna. Mei Yin menatap wajah itu hingga membuatnya tersenyum karena mengingat mendiang suaminya. "Andai saat ini kamu yang bersamaku, maka aku tak akan pernah bangkit dari ranjang ini dan membiarkan tubuhku dalam pelukmu," batin Mei Yin yang kembali menundukan pandangannya.


"Kenapa kamu menunduk? Apa wajahku terlalu jelek hingga membuatmu selalu menunduk?" tanya Kaisar Wang tiba-tiba hingga membuat Mei Yin terkejut.


"Suamiku, bangkitlah. Segera bersihkan tubuhmu karena sekarang kamu harus menjalankan tugasmu sebagai raja. Bergegaslah," ucap Mei Yin yang memotong pembicaraan Kaisar Wang sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan lelaki itu. Mendengar dirinya dipanggil suami oleh Mei Yin membuat Kaisar Wang tersenyum.


Mei Yin yang baru saja bangkit dari tempat tidur tiba-tiba terkejut saat tubuhnya dibopong oleh lelaki itu. "Apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!!" pinta Mei Yin saat Kaisar Wang membopong tubuhnya sambil berputar hingga membuat Mei Yin melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.


Sambil tertawa, Kaisar Wang terus berputar karena melihat Mei Yin yang melingkarkan kedua tangannya dengan erat di lehernya. Kaisar Wang terlihat sangat bahagia hingga membuatnya tidak ingin meninggalkan Mei Yin sendirian.


"Suamiku, berhentilah," ucap Mei Yin dan perlahan Kaisar Wang berhenti berputar.


"Turunkan aku, cepat!!"


Kaisar Wang Li tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau. Aku ingin kamu temani aku mandi," ucapnya sambil berjalan menuju ke tempat pemandian.


"Kamu bukan anak kecil lagi, masa aku harus temani mandi?"


"Kenapa? Apa kamu masih malu padaku?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin menundukkan wajahnya.


"Ayolah, jangan menundukkan wajahmu. Lihat aku." Mei Yin mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Baiklah, tapi setelah itu kamu harus berjanji untuk menjadi raja yang baik. Aku tidak ingin kamu menjadi raja yang semena-mena karena aku tidak suka rakyat kita menderita," ucap Mei Yin dengan kesungguhan tanpa kepura-puraan.


"Baiklah, aku berjanji. Asalkan kamu selalu ada di sisiku, apapun akan aku lakukan untukmu," ucap Kaisar Wang sambil mendudukan Mei Yin di dalam bak mandi yang sudah terisi dengan air hangat.


Mei Yin tersenyum karena itulah yang dia inginkan. Dia akan mengendalikan Kaisar Wang walau dia harus mengorbankan tubuhnya, hati, dan juga perasaannya.


"Kemarilah, bukankah kamu ingin aku menemanimu mandi?" tanya Mei Yin sambil mengulurkan tangannya ke arah lelaki itu.


Kaisar Wang tersenyum dan menerima uluran tangan Mei Yin dan masuk ke dalam bak mandi itu. Mei Yin tampak tertawa saat Kaisar Wang menyiraminya dengan air hingga membuat rambut panjangnya terurai basah. Sungguh, Kaisar Wang benar-benar merasa sangat bahagia melihat wanita yang dicintainya tertawa lepas di depannya. Setelah sekian lama dia mengharapkan wajah cantik itu tertawa dan tersenyum tulus untuknya, tanpa beban, tanpa paksaan dan kini dia bisa melihat senyuman itu.


Sementara Permaisuri Yuri masih berharap agar pagi itu Kaisar Wang datang mengunjunginya, tapi hingga menjelang siang, lelaki itu tidak menampakkan wajahnya.


Dengan kesal, dia akhirnya keluar dari kamarnya dan berniat menemui Kaisar Wang di ruangannya, tapi lelaki itu rupanya belum kembali dan masih berada di kamar Mei Yin. "Apa aku harus ke sana?" batinnya yang mulai bimbang.


Permaisuri Yuri akhirnya berjalan menuju ke kediaman Mei Yin. Di depan pintu, langkahnya terhenti karena Dayang Ling sudah berdiri di depannya. "Aku ingin bertemu dengan Mei Yin. Katakan padanya kalau aku, Permaisuri Yuri ingin bertemu dengannya."


Dayang Ling mengangguk dan berjalan menuju ke kamar Mei Yin dan mengetuk pintu kamar yang masih tertutup itu. "Nyonya, Permaisuri Yuri ingin bertemu," ucap Dayang Ling dari balik pintu.


"Baiklah, aku akan segera menemuinya," jawab Mei Yin sambil membuka pintu kamarnya.


"Nyonya, sepertinya Permaisuri terlihat gelisah. Mungkin saat ini dia sedang cemburu," ucap Dayang Ling yang membuat Mei Yin tersenyum.


"Kita lihat saja, aku akan membuat dia tersiksa dengan perasaan cemburunya itu," jawab Mei Yin dengan senyumnya yang mengembang indah di sudut bibirnya.


Mei Yin memasuki ruang khusus untuk menyambut tamu. Dilihatnya Permaisuri Yuri telah duduk di tempat duduknya. Mei Yin tersenyum sinis dan duduk di depannya tanpa menunduk memberi hormat padanya.


Melihat Mei Yin yang tidak memberi hormat padanya membuat wanita itu menjadi geram. "Apakah kamu tidak menghargaiku sebagai Permaisuri? Kenapa kamu tidak menunduk memberi hormat padaku?" tanya wanita itu marah.


Bukannya meminta maaf, Mei Yin malah tersenyum sinis padanya. "Untuk apa aku harus menunduk dan memberi hormat padamu? Bukankah, kita mempunyai status yang sama? Kita berdua adalah istrinya, jadi jangan mengharap penghormatan dariku," ucap Mei Yin yang membuat Permaisuri Yuri semakin kesal padanya.


"Dasar wanita tidak tahu malu. Aku datang ke sini karena ingin menemuimu, tapi aku malah dihina seperti ini. Apa kamu sudah bosan hidup?"


Mei Yin kembali tersenyum. "Kamu ingin menemuiku atau ingin mencari tahu tentang suamimu? Tenang saja, dia baik-baik saja. Semalam kami berdua ... ah, sudahlah aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Oh iya, kalau kamu ingin mencarinya, datang saja ke aula istana, kalau dia tidak ada di sana berarti kembalilah ke sini karena dia pasti datang menemuiku lagi," ucap Mei Yin sedikit berbisik seakan mengejek wanita itu.


Wajah Permaisuri memerah menahan amarah. Tanpa menunggu lama, dia lantas bangkit dari tempat duduknya dan keluar tanpa mengatakan apapun.


Permaisuri lantas menuju ke aula istana dan dia harus kecewa karena Kaisar Wang tidak ada di sana. Ucapan Mei Yin kembali terngiang di telinganya hingga dia kembali membayangkan kalau saat ini Kaisar Wang sedang bersama dengan Mei Yin di dalam kamar wanita itu.


Di dalam kamarnya dia berteriak histeris dan menghancurkn apa saja yang ada di dekatnya. Dayang yang berjaga di luar kamarnya hanya bisa terdiam dan tidak mampu melakukan apapun. "Dasar wanita iblis. Beraninya kamu melakukan ini padaku, aku tidak akan memaafkanmu," ucapnya sambil membanting sebuah vas yang ada di atas meja riasnya hingga pecah dan berantakan di atas lantai kamarnya.


Sementara dirinya tengah diliputi rasa marah dan cemburu, Mei Yin di dalam kamarnya sedang tersenyum dan tertawa lepas meluapkan rasa puasnya karena telah berhasil membuat Permaisuri termakan ucapannya. "Aku akan lihat sampai sejauh mana kamu akan bertahan. Aku akan membuatmu terluka seumur hidupmu karena rasa cintamu itu. Kalian berdua hanya akan merasakan kecewa karena keegoisan cinta kalian. Kalian akan merasakan bagaimana sakitnya apa yang pernah aku rasakan dan di saat itu tiba, kalian sudah terlambat untuk menyesalinya." Mei Yin tersenyum dan menatap wajahnya di depan cermin.


Kini, dia tidak akan selemah dulu lagi. Dia akan menjadi wanita yang mampu untuk menjaga dirinya sendiri. Dia akan tetap hidup walau hidupnya saat ini hanyalah sebuah sandiwara, tapi itulah jalan yang terbaik yang mampu dia jalani dan semuanya demi sang buah hati dan kekasihnya yang telah pergi.