The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 71 ( END )



Jasad Putri Yuri dan Yuan sudah dibawa ke alun-alun kota dan digantung di sana. Walau sedih, tapi itu adalah hukuman yang sudah ditetapkan oleh kerajaan dan Putri Xia tidak bisa melakukan apapun.


Sementara jasad Kaisar Wang akan segera dikremasi. Di depan jasad ayahnya itu, Putri Xia hanya menangis dalam diam. Kini, dia benar-benar sendiri. Ayah yang belum lama ini mengakuinya, akhirnya pergi. "Bangkitlah, Nak. Sudah saatnya jasad ayahmu untuk dikremasi." Mei Yin mendekati gadis itu yang tengah duduk menangisi ayahnya. Putri Xia kemudian bangkit sambil menghapus air matanya.


Asap putih mengepul saat api mulai membakar jasad Kaisar Wang. Mei Yin menatap dengan air mata yang perlahan jatuh. Dipeluknya Guan Yin dan Putri Xia yang kini menangis dalam pelukannya.


Kaisar Wang Li, lelaki yang terlihat kejam, nyatanya hatinya penuh cinta dan kasih sayang untuk keluarganya. Dia akan melakukan apa saja untuk keluarganya walau dia harus menjemput kematian. Walau kenyataannya, dia pernah berbuat dosa, namun Mei Yin telah memaafkannya.


Di dalam kamarnya, Mei Yin menatap sekelilingnya. Setiap sudut kamar itu membuatnya teringat pada lelaki itu. Lelaki yang memperlakukannya dengan penuh cinta, hingga maut datang menjemput, lelaki itu masih memberikannya cinta.


Mei Yin duduk dan menangis. Air matanya jatuh saat mengenang lelaki yang mengisi hidupnya selama dua puluh tahun lebih itu. Walau selama itu dia hidup dalam kepura-puraan, tapi nyatanya di saat terakhirnya, Kaisar Wang sudah membuat hatinya luluh. Dan kini, di saat lelaki itu telah pergi, dia merasa sangat kehilangan.


Untuk ke sekian kalinya, dia harus melihat orang-orang yang mencintainya mati di depannya. Dan itu semua karena pengorbanan mereka untuknya. Mei Yin menundukan wajahnya saat mengingat semua kisah tragisnya itu.


"Apa aku boleh masuk?" Terdengar suara seseorang dari luar yang membuat Mei Yin segera membuka pintu. "Apa aku mengganggumu?"


"Liang Yi?"


Lelaki itu tersenyum. "Aku tahu kamu sedang sedih, karena itu aku datang ke sini. Apa kamu butuh sesuatu?"


Mei Yin menggeleng. Melihat Liang Yi yang berdiri di depannya membuat Mei Yin segera memeluknya. "Aku tidak butuh apapun. Liang Yi, apa aku masih pantas untukmu? Aku takut jika kita bersama nanti, aku akan melihatmu mati sama seperti mereka." Tangis Mei Yin pecah di pelukan Liang Yi. Dia takut jika nasib buruk itu akan menimpa lelaki yang masih setia menunggunya itu.


"Aku pasti tetap akan mati, tapi aku akan mati dengan bahagia karena sebelum aku mati, aku bisa hidup bersama denganmu dan membahagiakanmu. Aku tidak peduli apapun itu, asalkan kita bisa hidup bahagia bersama, aku akan rela." Liang Yi mengelus lembut rambut Mei Yin dan mengecup dahinya.


"Aku ke sini untuk berpamitan padamu." Mei Yin melepaskan pelukannya dan menatapnya heran. "Apa maksudmu?"


Liang Yi tersenyum dan mengelus wajahnya. "Aku akan menjemputmu saat masa berkabung Kaisar Wang telah selesai. Dan untuk saat ini, aku akan membangun sebuah rumah sederhana di padang bunga, seperti yang sudah aku janjikan padamu dahulu."


Mei Yin tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku akan menunggumu. Dan setelah itu, kita akan tinggal di padang bunga." Liang Yi kembali memeluknya dan mengecup dahinya.


Selama sebulan, masa berkabung yang ditetapkan untuk kematian Kaisar Wang. Setelah masa berkabung selesai, Chen Li akan diangkat menjadi raja karena sebelum kematiannya, Kaisar Wang telah membuat wasiat yang menyatakan kalau Chen Li adalah putra dari Raja Zhao Li dan dialah yang berhak untuk menggantinya menjadi raja.


Villa bunga yang awalnya terbengkalai, kini dipugar kembali. Atas perintah Chen Li, villa itu kini di tempati oleh ibunya hingga Ling Yi datang menjemput. Taman bunga dan kolam ikan di villa bunga, ditata seperti dulu. Sama seperti saat dia masih kecil dulu.


"Ibu, sebelum paman menjemput Ibu, aku ingin Ibu tinggal di sini. Di tempat ini, ada kenangan ayah dan aku ingin kenangan ayah akan tetap hidup di tempat ini."


"Putraku, kenangan tentang ayahmu tersimpan baik di dalam hati Ibu. Sampai kapanpun, Ibu takkan pernah melupakan ayahmu. Dia akan tetap hidup di hati Ibu. Karena itu, Ibu ingin kamu menjadi seperti ayahmu. Dia adalah lelaki yang setia dan tak sekalipun dia menyakiti hati Ibu. Putraku, Putri Xia mencintaimu dan sampai kapan kamu akan menjadikannya sebagai pelayanmu?" Mei Yin meraih tangan putranya itu dan menggenggamnya erat.


"Aku tahu dia sangat mencintaiku, karena itu aku sengaja menjadikannya pelayan untuk melihat kesungguhannya padaku. Aku sengaja membuatnya sedikit menderita untuk melihat apakah dia akan membenciku atau dia tetap mencintaiku. Aku sadar, yang aku butuhkan adalah wanita yang mencintaiku tulus karena dengan begitu, aku akan membuka hatiku untuknya."


Mei Yin tersenyum dan membelai lembut wajah putranya itu. "Jika itu rencanamu, Ibu tidak akan bertanya lagi, tapi jangan membuatnya terlalu menderita karena dia pasti sedih jika kamu memperlakukannya seperti itu." Chen Li mengangguk.


Putri Xia, tanpa membantah selalu melakukan apa yang diperintahkan Chen Li padanya. Di depan lelaki itu, Putri Xia selalu menundukkan wajahnya, seakan dia tidak ingin menunjukan wajahnya pada lelaki itu. "Apa kamu jijik padaku karena menjadikanmu pelayan hingga kamu tak ingin lagi melihat wajahku?"


Sontak, Putri Xia mengangkat wajahnya. "Bukan begitu, Pangeran. Aku hanya ... "


"Kenapa berhenti? Kamu hanya apa?" Chen Li sengaja mempertegas pertanyaannya hingga membuat Putri Xia menunduk di depannya.


"Maafkan aku. Aku hanya merasa tidak pantas untuk melihat wajah Pangeran." Putri Xia terlihat sedih dan kembali menundukan wajahnya.


"Bagaimana bisa kamu melayaniku kalau kamu tidak melihat ke arahku. Apa kamu membenciku?"


"Tidak, aku tidak membenci Pangeran. Baiklah, aku tidak akan menundukan wajahku lagi." Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Chen Li. Wajah cantiknya terlihat memerah dengan tangan yang gemetar hingga membuatnya merasa tidak nyaman.


Chen Li memperhatikannya dan pandangannya tertuju pada tangan gadis itu yang terlihat luka lecet di jari-jarinya. Timbul rasa iba karena gadis yang selama ini tidak pernah bekerja kasar kini harus bekerja kasar hingga membuat jari lentiknya terluka. "Apa aku terlalu berlebihan padanya?" batin Chen Li yang perlahan mulai goyah.


"Pergilah dan bawakan aku kudapan karena aku harus menyambut beberapa tamu yang sebentar lagi akan datang."


"Baik, Pangeran." Putri Xia kemudian keluar dari ruangan itu dan menuju ke dapur istana. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa satu meja kecil makanan ringan dan menuju ke dalam ruangan di mana Chen Li sudah menunggunya.


Putri Xia kemudian masuk setelah diizinkan oleh Chen Li dan betapa terkejutnya dia saat melihat lima orang gadis yang sudah duduk di depan pemuda itu. "Letakkan meja itu di sini dan layani mereka."


Putri Xia kemudian meletakkan meja itu dan duduk sambil menuangkan teh ke dalam cangkir untuk gadis-gadis itu.


"Aku mengundang kalian karena aku bermaksud untuk memilih salah satu dari kalian yang memenuhi syarat untuk aku jadikan permaisuri."  Sontak, Putri Xia terkejut hingga dia membuat kesalahan karena teh yang dituangkannya ke salah seorang gadis tiba-tiba tumpah hingga membuat Chen Li marah padanya. "Apa yang kamu lakukan?"


"Maaf, Pangeran, maaf." Putri Xia menunduk meminta maaf dan membersihkan kekacauan yang tanpa sengaja sudah dibuatnya.


"Apa yang kamu pikirkan hingga berbuat seceroboh itu? Minta maaflah padanya." Perintah Chen Li yang membuat Putri Xia menunduk dan meminta maaf pada gadis itu. "Maafkan saya, Nona."


Teh yang masih panas itu rupanya mengenai tangannya hingga membuat punggung tangannya menjadi merah, tapi itu tidak dihiraukannya. Walau terasa perih, Putri Xia berusaha untuk menahannya walau di dasar hatinya dia merasakan sakit luar biasa karena lelaki yang di cintainya tak mungkin lagi akan dimilikinya karena dirinya merasa hina dan tak layak untuk lelaki itu.


Tanpa terasa air matanya menggantung di pelupuk matanya. Hatinya merasa sakit saat Chen Li menatap gadis-gadis itu hingga membuatnya merasakan cemburu yang teramat luar biasa. Perasaan yang ingin coba dia hilangkan dari hatinya, rupanya enggan untuk pergi. Walau dia sadar, dirinya tak pantas untuk memiliki.


Chen Li yang menyadari itu sesekali melirik ke arahnya. Gadis itu terlihat berusaha menutupi perasaannya di balik senyum yang dipaksakan. Tak hanya itu, Chen Li tahu saat ini gadis itu sedang menahan rasa sakit di tangannya, karena tangannya yang terlihat gemetar hingga membuatnya meringis tanpa suara.


"Sebaiknya kalian pergi, untuk saat ini aku belum bisa memilih." Terlihat kekecewaan di raut wajah gadis-gadis itu. Mereka kemudian pergi dan meninggalkan Chen Li yang memandangi Putri Xia yang juga sudah bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Letakkan meja itu kembali dan duduklah." Putri Xia yang sudah berdiri sambil mengangkat meja itu kemudian duduk kembali. Sambil menundukan wajahnya, gadis itu duduk di depan Chen Li.


Melihat gadis di depannya itu duduk dengan wajah yang menunduk dan tangan lecet yang coba disembunyikan, membuat Chen Li bangkit dan mengambil sebuah salap dan duduk kembali di depannya. "Berikan tanganmu itu." Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Chen Li. "Ayo, berikan tanganmu itu." Putri Xia lantas mengulurkan tangannya dan diraih dengan lembut oleh Chen Li.


"Aku tidak mungkin bisa membencimu. Apa aku pantas untuk membencimu? Aku yang seharusnya pantas untuk kamu benci karena aku ... "


"Aku sama sekali tidak membencimu. Apa kamu pikir aku membencimu?" Putri Xia mengangkat wajahnya, tampak air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Rasa perih yang mendera tangannya, tak lagi dirasakannya.


"Apa selama ini kamu pikir aku membencimu?" Chen Li menatap lurus ke arahnya hingga membuat gadis itu kembali menunduk dengan menahan tangisnya.


"Xia, lihat aku. Apakah kamu membenciku?"


"Bagaimana mungkin aku membencimu karena aku ... " Gadis itu tak mampu melanjutkan kalimatnya karena dia takut Chen Li tahu tentang perasaannya.


"Apa kamu masih mencintaiku?" Putri Xia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Chen Li.


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Chen Li kembali.


"Kalaupun aku masih mencintaimu, apa aku masih pantas untuk mendapatkan cintamu itu? Aku sadar aku tak pantas untukmu. Aku adalah anak dari orang yang telah menghancurkan keluargamu. Aku hanya gadis hina yang ... " Putri Xia tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja Chen Li memeluknya.


"Jangan katakan apapun, karena yang aku ingin dengar hanyalah ungkapan cintamu, hanya itu." Chen Li memeluknya dengan mesra dan membelai lembut rambutnya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita, maafkan aku." Putri Xia menangis seakan tak percaya dengan apa yang kini di alaminya. Semuanya bagaikan mimpi hingga membuatnya ingin melepaskan pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu dan katakan sekali lagi kalau kamu mencintaiku. Xia, katakan sekali lagi kalau kamu mencintaiku." Chen Li mengeratkan pelukannya dan kembali membuat Putri Xia menangis.


"Aku mencintaimu, Chen Li. Sangat mencintaimu." Gadis itu lantas membalas pelukan Chen Li dan menangis dalam pelukan lelaki itu. Tanpa sadar, Chen Li menitikan air mata saat Putri Xia memeluknya hingga membuatnya mengecup mesra dahi gadis itu.


Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Chen Li melihat Putri Xia menangis. Hatinya begitu terenyuh saat melihat gadis itu menangis sendirian. Ingin rasanya dia mendekati dan memeluknya, tapi dia tidak sanggup hingga membuatnya pergi dari tempat itu.


Sejak saat itu, hatinya mulai gelisah hingga membuatnya ingin mengakhiri kekejaman yang disengajakan untuk gadis itu. Karena itulah, Chen Li sengaja mengundang beberapa gadis untuk melihat kecemburuan di mata gadis itu. Dan ternyata itu berhasil. Putri Xia terlihat cemburu hingga membuat gadis itu menangis.


Chen Li menatap Putri Xia sambil meraih tangannya. "Maafkan aku karena pernah menipu cintamu, tapi ketulusan cintamu itu telah membuka hatiku dan aku tidak pernah membencimu atas kejahatan orang tuamu. Xia, izinkan aku untuk menyelami hatimu agar aku bisa mencintaimu tulus dari dasar hatiku." Putri Xia mengangguk dan tersenyum padanya.


Tanpa ragu, Chen Li menggenggam tangan Putri Xia dan melihat luka di tangannya itu. "Mulai sekarang, tangan ini tidak akan bekerja lagi karena tangan ini hanya akan menggenggam tanganku. Xia, aku ingin menjadikanmu permaisuriku dan hidup selamanya di sampingku. Apa kamu bersedia?" Chen Li menatap Putri Xia yang mengangguk padanya dengan air mata yang perlahan jatuh.


"Jangan menangis, aku tidak ingin lagi melihatmu menangis." Chen Li menghapus air mata gadis itu dan memeluknya.


Sekali lagi, ketulusan cinta telah berhasil meluluhkan hati yang awalnya benci. Kebaikan hati telah menggoyahkan kerasnya hati dan cinta telah berhasil membuat hati merasakan jatuh cinta hingga tak ingin berpisah.


Di aula istana, Chen Li dan Putri Xia terlihat serasi dengan gaun pengantin yang mereka kenakan. Tak hanya mereka, Yuwen dan Guan Yin juga terlihat serasi dengan gaun berwarna merah yang kini juga mereka kenakan. Di depan altar, mereka berempat menunduk memberi hormat pada abu leluhur setelah menjalani beberapa ritual pernikahan.


Wajah mereka tampak berseri saat saling memandang. Yuwen tak hentinya memandangi Guan Yin yang tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna merah itu. Begitupun dengan Chen Li yang tak melepaskan pandangannya pada wanita yang sudah membuat hatinya luluh dan merasakan jatuh cinta.


Mei Yin dan Liang Yi terlihat bahagia saat melihat putra-putri mereka yang kini sedang berbahagia. Rasanya, tugas mereka sebagai orang tua sudah selesai hingga membuat Mei Yin menitikan air mata. Melihatnya menangis, Liang Yi memeluknya. "Sekarang mereka sudah bahagia dan kini giliran kita untuk bahagia." Mei Yin mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.


Sementara Huanran dan Raja Wu Lai tampak tersenyum saat menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Pasangan yang baru saja menikah itu turut berbahagia dengan pernikahan sahabat mereka.


Setelah upacara pernikahan selesai, Chen Li dan Putri Xia kemudian dinobatkan menjadi Raja dan Permaisuri Kerajaan Xia. Keduanya terlihat serasi dengan jubah raja dan permaisuri yang mereka kenakan.


Semua orang di tempat itu menunduk memberi hormat. Tak lupa, Hua Feng datang bersama penari-penari yang didatangkan khusus untuk acara pernikahan keponakannya itu. Tawa bahagia terlihat di wajah mereka setelah berbagai macam peristiwa menyedihkan yang menimpa. Kini, kebahagiaan mulai menghampiri dan mereka berharap bahagia tidak akan pernah pergi.


Di dalam kamarnya, Chen Li menatap wanita yang kini telah menjadi istrinya. Dengan perlahan, penutup wajah berwarna merah itu tersingkap dan terlihat seraut wajah cantik yang membuat Chen Li kagum dan terpesona. Dengan mesranya, Chen Li mengangkat wajah istrinya itu yang menunduk. "Terima kasih karena sudah mencintaiku. Aku tidak ingin berjanji, tapi aku hanya ingin memastikan kalau kamu akan menjadi wanita pertama dan terakhir di dalam hidupku. Xia, tetaplah mencintaiku dan teruslah berada di sampingku."


Putri Xia mengangguk dan tersenyum dengan air mata bahagia yang jatuh. Chen Li menghapus air mata itu dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir ranum istrinya yang perlahan memejamkan matanya. Putri Xia meremas lengan suaminya saat kecupan hangat mereka saling menyatu. Hingga bulir air bening tak mampu dia tahan, saat dirinya telah menjadi wanita seutuhnya. Kini, jiwa dan raganya hanya akan dia persembahkan untuk suaminya dan jauh di lubuk hatinya, dia berjanji untuk selalu mencintai lelaki itu kini, nanti dan selamanya.


Di padang bunga, terlihat sebuah rumah sederhana yang di kelilingi bunga berwarna putih. Dari teras rumah itu, mereka bisa menyaksikan pemandangan yang begitu memanjakan mata. Semilir angin yang meniup membuat hamparan bunga putih bagaikan susunan ombak yang saling berkejaran. Guguran bunga sakura menambah indah suasana.


Dan kini, Mei Yin sedang menikmati keindahan itu bersama Liang Yi yang kini sedang memeluknya. Mereka tampak bahagia saat menikmati keindahan itu. "Istriku, aku mencintaimu. Sejak dulu hingga kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Saat inilah yang paling aku tunggu, hidup bahagia bersamamu." Liang Yi mengeratkan pelukannya dan Mei Yin tersenyum sambil memejamkan matanya. Perlahan, semilir angin meniup lembut ke arah mereka dengan guguran bunga yang terlihat bak salju di musim dingin. "Lihatlah, mereka merestui kita." Mei Yin melihat ke arah Liang Yi sambil tersenyum hingga membuat lelaki itu mengecup keningnya.


Mei Yin lantas meraih tangan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu dan berlari pelan menuju di bawah pohon sakura. Sambil tertawa, Mei Yin menari di bawah pohon itu dengan diiringi semilir angin yang seakan menyambut mereka. Wajah Mei Yin terlihat cantik saat dia tertawa tanpa beban hingga membuat Liang Yi kembali memeluknya.


Dibawah pohon sakura, pasangan kekasih yang pernah terpisah oleh takdir, kini bersama lagi. Mereka terlihat bahagia dan tertawa bersama. Kesedihan yang dulu pernah melanda, perlahan berganti dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang kekal dan abadi hingga semesta datang dan membawa pergi.


Terlihat, dua sosok sedang menyaksikan kebahagiaan mereka. Sosok yang menginginkan kebahagiaan untuk wanita yang mereka cintai. Kebahagiaan yang akan kembali terukir saat semesta mempertemukan mereka kembali. Entah kapan, hanya takdir yang mampu untuk menjawab. Dan di saat itulah, mereka takkan pernah melepaskan kebahagiaan itu lagi, apapun yang terjadi.


 


T A M A T


 


Alhamdulillah, akhirnya novel ini tamat juga. Aku ucapkan banyak terima kasih buat readers yang selama ini sudah mengikuti novelku ini. Terima kasih atas krisan, like dan koment yang sudah diberikan dari season 1 sampai season 2 ini.


Buat teman-teman yang suka sama novel ini, mohon bantuannya untuk bisa meng-share novel ini di medsos kalian. Semua bantuan kalian Insha Allah akan dibalas oleh Allah Azza Wajalla. AMIIN.


Sekali lagi terima kasih buat kalian dan semoga kita semua diberi kesehatan dan dijauhkan dari virus yang sekarang lagi mewabah. Jaga kesehatan teman-teman dan mari kita saling mendoakan agar virus itu bisa segera diangkat oleh Allah. AMIIN.


Terima kasih.


embun_senja.