The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 54



Putra Mahkota Kerajaan Wu yang bernama Wu Lai yang ditinggal mati ayahnya saat dirinya berumur 6 tahun, kini telah tumbuh menjadi pemuda tampan. Tak hanya itu, di umurnya yang menginjak 15 tahun, dia telah dinobatkan menjadi Raja. Dan kini, di usianya yang ke 28 tahun, dia telah berhasil menjadikan negerinya salah satu negeri yang makmur.


Walau begitu, sifatnya tak beda jauh dengan kakek dan juga ayahnya. Pemuda tampan itu ternyata suka mengoleksi wanita, tapi bukan untuk dijadikan Permaisuri, tapi hanya dijadikan sebagai pelampiasan sesaatnya saja.


"Yang Mulia, carilah wanita dari kalangan bangsawan dan menikahlah. Umur Yang Mulia sudah cukup untuk memiliki pendamping hidup. Apa Yang Mulia akan selamanya hidup seperti ini?" tanya salah satu perdana menteri sambil menatap ke arah Raja Wu Lai yang tampak acuh.


"Tenanglah, saat ini aku masih ingin bersenang-senang. Walau tidak ada pendamping hidup, tapi aku tetap memperhatikan rakyatku. Sudahlah, jangan ganggu aku dengan omong kosongmu itu." Lelaki itu kemudian pergi dan menemui beberapa gadis yang sudah menunggu di ruang pribadinya.


Perdana Menteri itu terlihat kecewa. Dia tidak menyangka, Raja yang dia didik selama ini ternyata tak lebih dari seorang lelaki playboy yang suka menggonta-ganti wanita dan tak sekalipun dia serius dengan wanita-wanita itu. "Yang Mulia, kapan kamu akan membalaskan dendam atas kematian kakek dan ayahmu jika kamu hanya sibuk dengan wanita saja?"


Di ruangan pribadinya, lelaki itu tampak asyik dengan dua orang gadis yang kini menemaninya. Gadis-gadis itu dengan lihainya membuat dia tertawa sambil menikmati sebotol arak yang tak henti diteguknya. "Yang Mulia, tidakkah Yang Mulia berpikir untuk mempunyai Permaisuri?"


"Ah, pertanyaanmu membuat aku geli. Kalau aku punya Permaisuri, maka kalian berdua tidak akan lagi bisa datang menemaniku di sini. Apa kalian inginkan itu?" Kedua gadis itu saling memandang dan tersenyum manja padanya. "Yang Mulia, kami berdua rela kalau dijadikan selir," ucap salah seorang gadis yang membuat lelaki itu menatapnya.


"Wanita yang akan menjadi Permaisuriku nanti bukanlah wanita sembarangan. Jika aku bisa menemukannya, aku tidak butuh kalian lagi," ucap lelaki itu yang membuat kedua gadis itu saling memandang. "Yang Mulia, apa maksudmu?"


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Ayo, tuangkan arak lagi padaku dan menarilah bersamaku." Lelaki itu berdiri dengan sempoyongan sambil meneguk arak dan menari bersama kedua gadis itu.


*****


Di halaman kerajaan, 30 orang peserta yang berhasil lolos sudah bersiap untuk menerima ujian selanjutnya. Mereka saling memandang satu sama lain karena ujian kali ini, mereka harus bertarung secara fisik dan diawali dengan ujian memanah.


Sepuluh orang sudah berdiri berjejer menghadap sasaran panah yang berjarak sekitar 150 meter di depan mereka. Di antara kesepuluh orang itu, Yuwen termasuk salah satunya, sementara Chen Li masih menunggu giliran berikutnya.


"Jika siapa berhasil mendaratkan anak panah di dalam garis merah sebanyak tiga kali, maka dia akan lolos ke ujian selanjutnya," ucap seorang lelaki yang menjadi juri di ujian kali ini.


Mereka kemudian bersiap-siap. Yuwen dengan lincahnya mengangkat busur yang sudah dikaitkan dengan anak panah. Matanya begitu tajam mengarah ke dalam lingkaran merah itu. Setelah dirasa pas, lelaki tampan itu kemudian melepaskan anak panah dan mendarat pas di dalam lingkaran merah. Tak hanya satu, tapi tiga anak panah berhasil tertancap di lingkaran merah itu hingga membuatnya lolos ke ujian selanjutnya.


Chen Li memandang ke arah Yuwen dengan tersenyum. Pemuda itu membalas senyumnya dan berjalan mendekati kakaknya itu. "Kakak, berusahalah, langkah kita hampir dekat," ucap Yuwen yang membuat Chen Li mengangguk.


Kini, tiba giliran Chen Li. Di tangannya, sudah ada busur dan anak panah yang sudah siap dia lesatkan. Matanya menatap lurus ke arah lingkaran merah itu dan anak panah itu melesat menembus lingkaran merah hingga membuat kayu yang dicat merah itu retak.


Semua orang menatap kagum padanya, tak terkecuali Kaisar Wang yang menyaksikan secara diam-diam. "Siapa pemuda itu? Apakah hasil ujiannya memuaskan?" tanya Kaisar Wang pada salah satu juri yang berdiri di sampingnya.


"Namanya Lian. Dia sangat pintar dan hasil ujiannya sangat memuaskan. Tak hanya dia saja, tapi adiknya yang bernama Yuwen tak kalah hebat. Untuk saat ini, mereka berdua yang memegang skor tertinggi di antara semua peserta ujian," jelas lelaki itu. Kaisar Wang menatap mereka dan pandangannya langsung tertuju pada Yuwen.


"Siapa pemuda yang menggunakan jubah biru itu? Apakah dia juga lolos dalam ujian saat ini?"


"Itu adalah Yuwen, Yang Mulia. Adik pemuda itu."


Kaisar Wang tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Rupanya, kalian berdua sedang mengikuti ujian ini. Baguslah, jika kalian berhasil lolos, aku akan menjadikan kalian pengawal pribadiku." Kaisar Wang masih memandangi mereka dengan antusias.


"Baiklah, yang lolos di ujian memanah hanya 15 orang. Menurut keputusan juri, kalian yang tidak lolos ujian fisik akan ditempatkan di bagian personalia kerajaan dan kalian yang lolos masih harus diuji karena Kaisar ingin menjadikan pemenang kali ini sebagai pengawal pribadinya," jelas salah satu juri yang membuat ke lima belas orang itu tersenyum.


"Kakak, kita harus berhasil mengalahkan mereka. Jika kita bisa mendapatkan posisi itu, maka dengan mudah kita bisa mengambil perhatian Kaisar," bisik Yuwen yang membuat Chen Li mengangguk.


"Baiklah, aku akan membacakan nama-nama yang akan bertanding." Juri itu kemudian membacakan nama. Yuwen mendapatkan lawan tanding yang cukup tangguh. Lelaki dengan tubuh tegap dengan badannya yang kekar menjadi lawan tanding Yuwen. Sementara Chen Li mendapat lawan tanding dari salah satu prajurit terbaik karena tidak adanya lawan tanding dari peserta lainnya untuk menjadi lawan tandingnya.


Satu persatu peserta mulai unjuk kebolehan. Semua gerakan kung fu yang dipelajari mulai diperagakan. Hingga tiba di giliran Yuwen yang kini berhadapan dengan seorang lelaki yang mempunyai tubuh dua kali lipat dari tubuhnya.


Lelaki itu menatap Yuwen dengan pandangan yang merendahkan. Senyuman sinis terukir di wajahnya dengan bunyi gigi gerahamnya yang beradu. Yuwen hanya tersenyum dan menatapnya dengan sorot mata yang biasa saja.


Kedua lelaki itu mulai berhadapan. Dan, pertarungan itupun dimulai. Lelaki itu dengan beringas mulai maju dengan serangannya. Tangannya begitu kuat dan kokoh mencari sasaran untuk mendarat di tubuh Yuwen, tapi kelincahan Yuwen untuk menghindar mampu membuat lelaki itu naik darah. "Sialan. Pemuda ini mampu menangkis semua seranganku!!" batinnya sambil terus menyerang dan mencari celah untuk mendaratkan pukulannya, tapi sia-sia karena dirinya yang kini menjadi sasaran pukul dari Yuwen.


Yuwen dengan lincahnya mampu mendaratkan sebuah pukulan tepat di dadanya hingga membuat tubuh kekarnya terdorong ke belakang. Tak hanya itu saja, lelaki bertubuh kekar itu kemudian memuntahkan darah segar yang membuat semua orang memandang ke arahnya.


Melihat darah yang keluar dari mulutnya membuat lelaki itu menjadi geram. Dengan emosi yang menggebu, dia mulai menyerang Yuwen dengan membabi buta, tapi sekalai lagi dia tidak bisa menyentuh tubuh Yuwen melainkan tubuhnya yang selalu kena pukulan dari Yuwen.


"Cukup!!" teriak salah satu juri yang sudah bisa menilai siapa pemenang dari kedua pemuda itu.


Yuwen menghentikan gerakannya dan kembali ke tempat duduknya. "Pemuda itu hebat juga. Rupanya, dia mempunyai ilmu tenaga dalam yang cukup tangguh hingga bisa membuat lelaki berbadan kekar itu termundur ke belakang dan memuntahkan darah segar," batin Kaisar Wang yang masih memperhatikan mereka.


Yuwen yang sadar diperhatikan olehnya hanya pura-pura acuh karena saat ini yang diperhatikannya adalah Chen Li yang sudah bersiap bertanding dengan seorang prajurit.


Chen Li sudah berdiri berhadap-hadapan dengan prajurit itu. Wajah prajurit itu tersenyum sinis dengan tatapan yang begitu merendahkan. Chen Li hanya tersenyum dan mulai memasang kuda-kuda. "Majulah," ucap Chen Li yang membuat prajurit itu menyeringai dan berlari ke arahnya dengan sebuah pukulan yang siap didaratkan ke tubuh Chen Li.


Prajurit itu menyasar tinjunya secara bertubi-tubi ke arah dada Chen Li, tapi tinjunya itu mampu ditangkis oleh Chen Li hingga membuat prajurit itu marah. Karena tidak puas serangannya selalu ditangkis membuat dia mengambil sebuah tongkat kayu dan mulai menghantamkannya ke arah Chen Li.


Tongkat yang panjangnya setengah meter itu diarahkan ke ke kaki Chen Li, tapi pemuda itu dengan gesit melompat dan menghindar. Belum sempat Chen Li mendaratkan kakinya di tanah, lelaki itu mulai mengarahkan tongkat itu ke arah punggungnya, tapi tongkat itu malah berpindah tangan karena Chen Li berhasil merebut tongkat itu darinya.


Sontak saja dia terperanjat, apalagi saat Chen Li mulai mengarahkan tongkat itu padanya dan dia tidak sempat untuk menghindar. Tongkat yang diarahkan Chen Li di kakinya membuat prajurit itu terduduk dengan denyutan hebat di betisnya. Rasa sakit membuat betisnya seakan mati rasa. Di saat bersamaan, Chen Li mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi dan bersiap melayangkan tongkat itu ke arah kepala prajurit itu hingga membuatnya pasrah tak bergerak, tapi gerakan tongkat itu terhenti dan berada hanya satu jengkal di atas kepalanya.


"Cukup!!" Salah satu juri menghentikan Chen Li untuk tidak melanjutkan pertarungannya. Prajurit itu memandang ke arah Chen Li dengan perasaan takut. "Untung saja," batinnya. Lelaki itu kemudian berdiri, tapi kakinya masih tidak mampu hingga membuat beberapa prajurit lainnya datang membantunya.


Kaisar Wang yang berada tak jauh dari tempat itu cukup kagum dan terkesima dengan pertarungan Chen Li. Melihat kehebatan kedua pemuda itu membuatnya berpikir untuk merekrut mereka. "Bawakan kedua pemuda itu menghadap padaku," ucap Kaisar Wang pada salah satu juri yang sedari tadi menemaninya. "Baik, Yang Mulia."


Kaisar Wang kemudian pergi kembali ke kediamannya dan menemui Mei Yin. Selama ini, dia tidak percaya pada siapapun untuk menjadi pengawal pribadi istrinya itu, tapi melihat mereka berdua, Kaisar Wang jadi berkeinginan untuk merekrut mereka menjadi pengawal bagi istri dan juga putrinya.


"Istriku, hari ini aku melihat dua orang pemuda yang sangat hebat. Apa kamu ingat dengan pemuda yang sudah menyelamatkan putri kita waktu itu?" tanya Kaisar Wang saat menemui Mei Yin.


"Aku ingat, memangnya kamu melihatnya di mana?"


"Dia dan kakaknya ternyata mengikuti ujian kerajaan dan mereka berdua berhasil mengungguli semua peserta. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengangkat mereka menjadi pengawal pribadimu dan juga Guan Yin agar aku tak lagi khawatir. Aku tak ingin kejadian itu terulang lagi," jelas Kaisar Wang yang membuat Mei Yin tersenyum.


"Baiklah, aku tidak akan keberatan. Itu semua demi kebaikan putri kita karena aku tidak ingin putri kesayanganku mengalami hal serupa seperti waktu itu," jawab Mei Yin yang membuat Kaisar Wang memeluknya.


"Ayah, Ibu, apa yang kalian bicarakan?" tanya Guan Yin yang tiba-tiba datang.


"Putriku, ayah dan ibu sedang berpikir untuk memberikanmu seorang pengawal pribadi. Apa kamu keberatan?"


"Tapi Ayah, untuk apa seorang pengawal pribadi kalau aku dan Ibu hanya berdiam di tempat ini."


"Maafkan Ayah, Nak. Semua itu karena Ayah tidak ingin kamu dan ibumu mengalami masalah di luar sana. Namun, jika ada pengawal tangguh dan terpercaya bisa berada di samping kalian, maka Ayah akan membolehkan kalian keluar dari tempat ini kapan saja."


"Apa itu benar, Ayah? Apa Ayah serius?" tanya Guan Yin yang seakan tak percaya dengan ucapan ayahnya itu.


"Ayah serius. Kamu dan ibumu boleh keluar dari tempat ini dan bebas mengelilingi kerajaan ini, tapi tak sendiri karena Ayah sudah memutuskan untuk menempatkan pengawal pribadi bagi kalian." Gadis itu tersenyum dan memeluk ayahnya itu. "Terima kasih, Ayah. Aku sangat menyayangi Ayah."


Melihat kebahagiaan di wajah putrinya membuat Kaisar Wang sangat bahagia. Dia akan melakukan apa saja, asalkan istri dan putrinya itu bahagia. Baginya, mereka berdua adalah kebahagiaannya. Hanya mereka berdua yang mampu meluluhkan hatinya.


Di taman kerajaan, Chen Li dan Yuwen tengah berdiri menunggu kehadiran Kaisar yang katanya ingin bertemu dengan mereka berdua. "Kakak, ini kesempatan kita. Semoga saja, Dewa membantu kita," ucap Yuwen yang membuat Chen Li mengangguk.


Sesaat, Chen Li melihat ke sekitar taman itu, tapi ingatan masa kecilnya ternyata tak merekam baik dengan situasi di tempat itu hingga dia merasa tak mengenali taman itu.


Mereka berdua masih berdiri sambil memandang pohon sakura yang perlahan menggugurkan daunnya. Taman itu terlihat asri dengan aneka bunga yang terawat baik.


"Kalian siapa? Apa yang kalian lakukan di taman ini?" Suara seseorang mengagetkan mereka dan membuat mereka membalikkan tubuh mereka secara bersamaan. "Maaf, kami hanya ..."


"Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya orang itu dengan ekspresi wajahnya yang terkejut dan juga bahagia.


"Nona, apa Nona baik-baik saja? Nona tidak terluka, kan?" tanya Yuwen sambil melihat ke arah orang itu yang tak lain adalah Putri Xia.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja dan itu berkat kalian berdua. Maaf, kemarin aku tidak sempat berterima kasih pada kalian karena aku ..."


"Putri Xia, ayo kita kembali. Kaisar sedang menuju ke sini, cepatlah," ucap seorang dayang sambil menarik tangannya.


"Maaf, aku harus kembali. Aku senang bertemu kalian. Maaf, aku harus pergi," ucapnya sambil berlari pelan meninggalkan Yuwen dan Chen Li yang menatapnya heran.


"Kakak, gadis itu adalah seorang putri. Apa Kakak tidak berpikir kalau gadis itu bisa saja adalah adikmu?" tanya Yuwen yang membuat Chen Li menatapnya dengan wajah yang berubah.


"Kalau ibuku mempunyai anak dengan lelaki itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai adikku." Ucapan Chen Li membuat Yuwen menatapnya dan menyesali atas pertanyaan konyol yang dia lontarkan tadi. "Ah, apa yang sudah aku perbuat," batin Yuwen sambil memukul kepalanya sendiri.