
Raja Zhao Li sedang duduk di samping pembaringan dan menatap Mei Yin yang masih tertidur. Ada sedikit rasa khawatir saat melihat Mei Yin yang sesekali mengigau ketakutan hingga membuat Raja Zhao Li segera menggenggam tangannya. "Istriku, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Maafkan, aku," ucap Raja Zhao Li sambil mengelus lembut wajah istrinya itu.
Tiba-tiba, Mei Yin membuka matanya. Tatapannya kosong dengan raut wajah yang penuh kecemasan. "Suamiku!! Suamiku!!" panggil Mei Yin panik dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Raja Zhao Li yang duduk di sampingnya kemudian meraih tubuh istrinya itu dan segera memeluknya. "Tenanglah, kita sudah aman. Kita baik-baik saja," ucap Raja Zhao Li sambil mengelus lembut punggung istrinya itu.
Melihat Raja Zhao Li ada di depannya membuat Mei Yin menangis sesenggukan dalam pelukannya. Dia sangat takut kehilangan suaminya itu. "Suamiku, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Mei Yin sambil memeriksa sekujur tubuh suaminya itu.
"Tenanglah, aku baik-baik saja. Kita berdua baik-baik saja, karena Kakak Wang dan Pengawal Yue datang menolong kita. Kamu jangan takut lagi," ucap Raja Zhao Li yang kembali memeluk tubuh istrinya itu.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengajakmu ke makam Lian. Aku takut kamu ... " Mei Yin kembali menangis karena mengingat kejadian tadi. Dia sangat takut jika Raja Zhao Li akan meninggalkannya, sama seperti Lian yang harus mati karena melindunginya.
"Sudah cukup aku kehilangan Lian, aku tidak ingin kehilanganmu lagi." Tangis Mei Yin semakin menjadi. Kedua tangannya dieratkan di leher suaminya itu dengan kepala yang bersandar di dada bidangnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kalaupun aku mati, aku akan mati denganmu dan mati di sampingmu. Itukan yang sudah aku janjikan padamu? Jadi, jangan pernah takut selama kita bersama, karena aku akan selalu menjagamu." Mei Yin mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Air matanya jatuh saat mendengar kalimat yang dilontarkan Raja Zhao Li untuknya.
"Sekarang istirahatlah dan jangan pernah takut lagi. Aku akan selalau menemanimu. Ayo, sekarang kita tidur." Raja Zhao Li kemudian naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping tubuh Mei Yin. Kedua tangannya mendekap erat tubuh istrinya itu dan dia bisa merasakan rasa takut yang masih tersisa dari getaran tubuh istrinya itu.
"Istriku, kamu tahu sebenarnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan buatku. Walau kita sempat mengalami peristiwa menakutkan itu, tapi sebenarnya hari ini aku merasa sangat bahagia," ucap Raja Zhao Li sambil mengecup kening istrinya itu.
Mei Yin mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya itu. "Apa yang sudah membuatmu bahagia. Di luar sana, kita tidak melakukan apapun yang berarti. Apa ada hal yang tidak aku ketahui?" tanya Mei Yin yang mulai sedikit melupakan rasa takutnya.
Raja Zhao Li tersenyum dan mengangguk hingga membuat Mei Yin melepaskan pelukannya dan memilih untuk duduk dan bersandar di sisi tempat tidur. "Apa kamu tadi melihat wanita yang lebih cantik dariku?" tanya Mei Yin yang terlihat manja karena cemburu.
Raja Zhao Li kembali tersenyum dan duduk bersandar di sampingnya. "Saat di luar tadi aku melihat seorang wanita yang wajahnya seperti seorang dewi. Dia sangat cantik hingga aku ... "
"Lebih baik aku pergi," ucap Mei Yin dengan wajah yang terlihat kesal. Mei Yin kemudian bangkit dari tempat tidur dan memilih keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti karena Raja Zhao Li segera menarik tangannya hingga tubuhnya berada dalam pelukan suaminya itu.
"Apa kamu cemburu?" tanya Raja Zhao Li yang berusaha menahan tawanya.
"Kenapa kalau aku cemburu? Apa aku tidak pantas untuk cemburu?" gerutu Mei Yin dengan wajahnya yang cemberut.
"Aku suka kalau kamu sedang cemburu, itu artinya kalau kamu sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu." Mei Yin mengangkat wajahnya dan memandang heran ke arah suaminya itu.
"Kamu sudah tidak takut lagi, kan? Rupanya, aku sudah berhasil membuat hilang rasa takutmu itu."
"Jadi, kamu sengaja membuat aku cemburu? Lalu, wanita yang kamu bilang seperti dewi, itu juga candaanmu?" tanya Mei Yin semakin penasaran.
"Kalau itu bukan candaan karena aku memang melihat wanita yang seperti dewi itu. Kenapa, kamu penasaran?" goda Raja Zhao Li yang semakin suka jika melihat wajah Mei Yin yang cemberut karena cemburu.
"Suamiku, jangan katakan itu, aku tidak ingin mendengarnya," rengek Mei Yin sambil menutup kedua telinganya.
Raja Zhao Li lantas memeluk tubuh Mei Yin dengan erat. Tangannya mengelus lembut kepala istrinya itu dengan mesra. "Maafkan aku karena sudah membuatmu cemburu. Istriku, aku ingin kamu melupakan kejadian menakutkan itu. Aku hanya ingin mengingat hari ini sebagai hari yang paling berkesan bagiku. Hari ini kamu telah membuatku bahagia karena aku bisa berjalan-jalan berdua denganmu. Aku bisa membelikan hiasan rambut untukmu. Kita bisa naik kuda berdua dan yang paling membuat aku bahagia, aku bisa melihatmu menari di bawah pohon sakura. Tarianmu itu sangat indah dengan bunga-bunga yang bertebaran di dekatmu. Kamu tahu, aku bahkan berpikir kalau saat itu yang sedang menari bukanlah dirimu, tapi seorang dewi dan peri-peri kecil yang sengaja datang untuk menari di depanku." Mei Yin terdiam saat Raja Zhao Li mengucapkan semua itu. Pelukannya dia eratkan, dia sama sekali tidak menyangka kalau hal sekecil itu bisa menjadi suatu hal yang membahagiakan bagi suaminya.
"Apa kamu percaya kalau aku memang bertemu dengan seorang dewi?" Mei Yin mengangguk dengan isak tangis bahagia. Baginya, suaminya seperti dewa, tapi dia tidak menyangka kalau bagi suaminya dia seperti seorang dewi.
"Istriku, berjanjilah padaku jangan pernah merasa takut karena rasa takut hanya akan membuatmu lemah. Lupakankah kejadian buruk yang pernah menimpamu dan ingatlah kejadian bahagia yang sudah kita lewati bersama. Ingatlah semua tentang kita," ucap Raja Zhao Li yang tanpa sadar sudah membuatnya menitikkan air mata.
"Baiklah, aku berjanji akan menghilangkan rasa takut dan kenangan buruk di masa lalu dan aku hanya akan mengingat masa-masa bahagia kita. Aku akan lakukan itu, aku berjanji padamu." Mei Yin menghapus air matanya dan air mata yang masih menggantung di pelupuk mata suaminya. Dia menyunggingkan sebuah senyuman hingga Raja Zhao Li mengecup lembut bibirnya.
Di dalam hatinya, Mei Yin berjanji akan memberikan yang terbaik untuk suaminya itu. Dia akan membuat suaminya bahagia. Dia akan selalu mendampinginya hingga takdir memisahkan mereka dengan kematian.
Mei Yin melingkarkan kedua tangannya di leher Raja Zhao Li saat lelaki itu membopong tubuhnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Tubuh kekar Raja Zhao Li kini berbaring di sampingnya dengan sebuah pelukan hangat yang membuatnya terlena. Sungguh, dia begitu sangat bahagia. Kini, tidak ada lagi yang perlu dia takutkan karena ada seorang lelaki yang akan selalu menemaninya, lelaki yang membuatnya selalu bahagia dan lelaki yang selalu mencintainya.
Tanpa mereka sadari, Jenderal Wang Li sedari tadi sudah berdiri di luar. Rasa cemasnya pada Mei Yin begitu mengganggunya hingga memaksa kakinya melangkah menuju ke villa bunga. Namun, setibanya di depan ruangan itu, langkahnya terhenti. Walaupun perasaan cemas pada Mei Yin begitu mengganggunya, tapi tidak mungkin baginya untuk memperlihatkan rasa cemas yang sudah terlalu berlebihan itu di depan mereka.
Melihat lampu di dalam ruangan itu telah padam membuat Jenderal Wang Li akhirnya pergi. Terselip, rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak hingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya.
Semua rasa yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya, hadir bukan tanpa sebab. Jenderal Wang Li yang dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua dan juga keluarga dekatnya, tiba-tiba tersentuh dengan kebaikan dan perhatian Mei Yin yang teramat besar untuk suami dan anaknya. Di depan matanya, dia melihat satu keuarga yang begitu harmonis dan saling menyayangi dan dia iri dengan kebahagiaan mereka.
Walaupun perasaan iri dan cemburu ingin dia tepis, tapi rasanya sulit karena rasa cinta yang tiba-tiba hadir membuat dia tidak bisa lagi untuk mundur. Ya, dia mencintai Mei Yin karena baginya, Mei Yin adalah wanita yang penyayang dan kecantikkan yang dimilikinya sanggup meluluhkan hatinya yang beku.
Selama ini, dia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, walau wanita itu memiliki kencantikan seperti seorang dewi, dia tidak akan peduli. Dia selalu menutupi hatinya dari sentuhan kasih sayang yang baginya hanya kepura-puraan. Namun, semua itu berubah saat dia melihat Mei Yin dengan kecantikan dan kasih sayangnya yang membuat hatinya luluh seketika walau dia sadar wanita itu tidak lagi sendiri.
Di dalam kamarnya, Jenderal Wang Li merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membayangkan senyuman Mei Yin yang pernah ditatapnya. "Aku akan menunggu. Aku akan menyimpan perasaan ini hingga saat itu tiba. Aku tidak menginginkan apapun kecuali kasih sayangmu. Yang aku butuhkan hanya kasih sayang dan perhatianmu, sama seperti yang kamu berikan untuknya. Apa aku salah jika aku mencintai dan mengharapkan kasih sayangmu itu?" Jenderal Wang Li tampak menitikan air mata. Air mata karena kerinduannya akan kasih sayang yang sama sekali tak pernah dirasakannya.
*****
Mei Yin membuka matanya saat matahari pagi mulai menyapa. Dia segera bangkit saat tidak menemukan Raja Zhao Li di sampingnya. Tatapan matanya liar mencari-cari keberadaan lelaki itu hingga dia mendengar suara Chen Li yang sedang tertawa dan bermain di halaman villa bunga.
Mei Yin mengintip dari balik jendela dan melihat Chen Li sedang bermain bersama Jenderal Wang Li. Melihat kebersamaan mereka, Mei Yin ikut tersenyum.
Mei Yin segera membersihkan tubuhnya dan menemui mereka. "Ibu," panggil Chen Li saat melihat ibunya datang.
Mei Yin tersenyum dan segera memeluk putranya itu. "Ibu, ayah sedang pergi karena itu Paman menemaniku bermain," ucap Chen Li dengan polosnya.
"Adik Mei, Adik Zhao sedang keluar sebentar. Katanya, ada sesuatu yang harus diurusnya, makanya dia tidak ingin membangunkanmu dan pergi tanpa pamit padamu," ucap Jenderal Wang Li yang perlahan berjalan mendekatinya.
"Suamiku memang seperti itu. Kalau aku masih tertidur, dia tidak akan membangunkanku. Terima kasih karena Kakak Wang sudah menemani Chen Li," ucap Mei Yin sambil memeluk putranya itu.
"Chen Li, ayo main lagi dengan Paman," ajak Jenderal Wang.
"Tidak mau. Aku ingin melihat Ibu menari," ucap Chen Li sambil melingkarkan kedua tangannya di leher sang ibu.
"Tapi Chen Li, ibumu sedang sakit."
"Tidak mengapa Kakak Wang. Chen Li memang selalu seperti ini. Kalau aku tidak menari di depannya, dia pasti akan mendiamkanku. Jadi, aku selalu turuti permintaannya itu."
"Tapi Adik Mei, kamu ... " Mei Yin tersenyum hingga membuat Jenderal Wang Li tidak lagi melanjutkan ucapannya.
Mei Yin kemudian mendudukan Chen Li di atas sebuah kursi. Di sebelahnya, Jenderal Wang Li menatap lurus ke arahnya.
"Kakak Wang, tolong iringi tarianku dengan petikan kecapi dari Kakak Wang. Aku sangat menyukai petikan kecapi Kakak yang terdengar syahdu. Aku akan menari jika Kakak berkenan memainkan kecapi itu untukku." Mendengar penuturan Mei Yin membuat Jenderal Wang Li mengangguk dan tersenyum.
Mei Yin kemudian menari saat suara petikan kecapi mulai terdengar. Petikan kecapi yang lambat membuat Mei Yin menari dengan gerakan yang juga melambat. Gerakan tariannya begitu indah dengan sebuah senyuman yang terpancar di wajahnya. Tatapan matanya penuh cinta saat menatap ke arah Chen Li yang duduk di depannya sambil mengayunkan kakinya.
Mei Yin kemudian mengulurkan tangannya kepada Chen Li dan mengajaknya menari. Kaki mungil bocah itu tampak ikut menari dengan tangan yang mengayun bersama tangan sang bunda. Mereka berdua tertawa dan menari bersama di iringi petikan kecapi dari Jenderal Wang Li yang tersenyum saat melihat mereka.
Di depannya, dia melihat wanita yang begitu dikaguminya hingga membuatnya larut dalam hayalan. Andaikan saat ini, wanita itu adalah istrinya dan bocah itu adalah putranya, alangkah dia merasa sangat bahagia. Hidupnya pasti tak akan sia-sia. Hingga dia berpikir ingin memiliki mereka hanya untuk dirinya. Rasa egois yang tiba-tiba membuncah mulai merasukinya. Rasa cinta dan kasih yang sudah terlanjur dia rasakan ingin dia tumpahkan untuk mereka hingga tanpa sadar membuatnya bangkit dan mendekati mereka.
Tangan kokohnya tiba-tiba meraih tubuh mungil Chen Li dan meletakkannya di atas pundaknya. Bocah itu tampak tertawa riang saat Jenderal Wang Li mulai berlari pelan mengelilingi taman hingga Mei Yin pun tersenyum melihat tingkah mereka.
"Biarkan aku menikmati saat-saat indah ini bersama kalian. Bagiku, kalian adalah keluargaku dan aku ingin memiliki kalian hanya untukku. Mei Yin, maafkan aku karena aku telah mencintaimu. Biarkan aku menikmati saat indah ini bersama kalian dan tetaplah kamu tersenyum seperti ini untukku," batinnya sambil sesekali memandangi wajah Mei Yin yang tersenyum.
Cinta, memang buta. Tak peduli pada siapa cinta akan menyapa. Tak peduli dengan cara apa cinta datang menggoda, tapi apakah cinta itu mampu menghadirkan cinta yang sama jika cinta hanya hadir di satu hati bukan hati keduanya?