The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 35



"Apa maksud dengan ucapanmu itu?" tanya Jenderal Wang Li yang menatap Putri Yuri dengan heran.


"Kenapa? Apa kamu tidak bisa melakukannya? Aku tahu kamu sangat mencintainya, tapi aku juga mencintaimu, apa salah jika aku jatuh cinta padamu?" ucap Putri Yuri sambil memeluk Jenderal Wang Li.


Jenderal Wang Li berusaha melepaskan pelukan Putri Yuri, tapi mengingat Mei Yin yang kini sedang sekarat membuat dia mengurungkan niatnya itu. "Aku akan menuruti apa yang kamu mau, tapi aku tidak akan pernah meninggalkannya. Aku akan melakukan kewajibanku sebagai suamimu, tapi jangan menuntutku untuk mencintaimu. Kamu tahu aku melakukan semua ini karena dia, jadi jangan pernah menggangguku selama aku bersamanya. Dirimu akan menjadi permaisuri negeri ini, tapi bagiku dia adalah permaisuriku. Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, jadi biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan dan kamu lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Itu adil, kan?"


"Baiklah, aku setuju. Aku akan menganggapnya sebagai selirmu karena dia tidak pantas untuk menjadi permaisurimu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan dengannya, tapi jangan lupa dengan kewajibanmu padaku." Putri Yuri lantas mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam lemarinya dan memberikannya untuk Jenderal Wang Li.


"Berikan obat penawar itu padanya sekarang juga. Lebih baik kamu cepat karena bisa saja dia sekarang sudah mati," ucap Putri Yuri dengan senyuman liciknya.


"Ini pertama dan terakhir kamu menyentuhnya, sekali lagi kamu menyakitinya maka aku akan membunuhmu," ucap Jenderal Wang Li sambil mengambil botol itu dan berlari keluar menuju kamarnya.


Putri Yuri memandanginya dengan senyum kepuasan. "Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Asalkan kamu sudah mengikuti kemauanku, aku akan biarkan dia hidup," batin Putri Yuri dengan senyum di sudut bibirnya.


Setibanya di sana, Jenderal Wang Li melihat Mei Yin yang kembali memuntahkan darah hitam. Dengan segera, Jenderal Wang Li mendekatinya dan meminumkan penawar itu padanya.


Mei Yin yang awalnya merasa kesakitan tiba-tiba terdiam dengan nafasnya yang turun naik. Baju berkabung yang tadinya berwarna putih kini telah penuh dengan darah. Wajah dan bibirnya yang sempat memucat kini terlihat mulai normal.


Melihat kondisi Mei Yin yang sudah mulai membaik membuat Jenderal Wang Li duduk di sampingnya dengan wajah yang menunduk. "Dayang Ling, keluarlah." Wanita itu kemudian keluar dan meninggalkan Jenderal Wang Li yang masih duduk di depan Mei Yin. Terlihat, air mata jatuh di sudut matanya. Ada rasa takut kehilangan di sorot matanya. Ditatapnya kembali wajah Mei Yin yang terbaring tak berdaya. "Apakah rasa ini yang juga kamu rasakan saat takut kehilangan dia?" ucap lelaki itu sambil menggenggam tangannya.


Jenderal Wang Li mengecup lembut tangan Mei Yin dan menggenggamnya erat. Dengan lembutnya, lelaki itu membersihkan wajah Mei Yin yang penuh dengan darah. Tak sedikitpun dia merasa jijik dengan darah-darah itu, bahkan dia memperlakukan Mei Yin seperti seorang suami yang merawat istrinya yang sedang sakit.


Sebelum itu, Jenderal Wang Li telah menyiapkan air dari tanaman obat yang dipakai untuk berendam guna menghilangkan sisa racun dalam tubuh. Air yang sudah dipanaskan itu kemudian dituang ke dalam bak mandi.


Tubuh Mei Yin yang masih lemah dan setengah sadar itu kemudian diangkat olehnya dan diletakkan di dalam bak mandi. Uap dari ramuan obat itu masih mengepul hingga membuat Mei Yin terbatuk beberapa kali saat menghirupnya. Begitupun dengan keringat yang masih membasahi dahinya.


Jenderal Wang Li duduk di samping bak mandi dan menghapus peluh di dahi Mei Yin. Tangannya dengan lembut membasuh wajah wanita itu dengan air. "Mei Yin, kamu dengar aku?" tanya Jenderal Wang Li sedikit berbisik.


Mei Yin terlihat masih lemah. Matanya bahkan tak mampu untuk terbuka. Hanya suara igauan yang terdengar memanggil suaminya. "Apa kamu belum bisa melupakannya?" batin Jenderal Wang Li yang terlihat kecewa. Walaupun begitu, dia tetap diam karena itu adalah resiko yang harus ditanggungnya. Dia sadar, tidak semudah itu dia bisa membuat Mei Yin melupakan Raja Zhao Li karena dia sendiri tahu bagaimana sulitnya melupakan orang yang dicintai.


"Mei Yin, maafkan aku atas keegoisan cintaku. Aku pantas untuk kamu benci, tapi aku tidak akan membalas membencimu. Aku akan memberikan semua rasa cintaku padamu. Aku hanya ingin bahagia bersamamu walau aku telah jahat karena merenggut kebahagiaanmu. Aku pantas untuk mati, tapi aku ingin mati ditanganmu. Aku akan menunggu hingga hari itu tiba, tapi untuk saat ini biarkan aku merasakan bahagia bersamamu." Jenderal Wang Li menitikkan air mata dan mengecup tangan Mei Yin yang sedari tadi digenggamnya.


Setelah dirasa cukup, Mei Yin akhirnya diangkat kembali olehnya. Tubuh itu diletakkan di atas tempat tidurnya dan ditutupi selimut. Jenderal Wang Li memperlakukan Mei Yin dengan penuh perhatian. Dia begitu telaten menjaga dan merawat Mei Yin hingga akhirnya Mei Yin perlahan mulai tersadar.


Hampir dua hari Mei Yin tidak sadarkan diri dan selama dua hari itu pula Jenderal Wang Li terjaga di sampingnya. Saat melihat Mei Yin terbangun, dia tersenyum dan menggenggam erat tangan wanita itu. "Syukurlah, akhirnya kamu siuman," ucap Jenderal Wang Li yang terlihat gembira.


Mei Yin memandangi ruangan itu dan dia sadar itu bukan di villa bunga. Sontak, dia ingin bangkit karena teringat akan suaminya. "Suamiku, mana suamiku?" tanya Mei Yin yang tampak panik. Mei Yin belum menyadari kalau suaminya telah meninggal hingga dia tersadar setelah melihat Jenderal Wang Li membawakan sebuah guci kecil yang berisikan abu suaminya.


"Aku sudah menepati janjiku. Ini adalah abu Zhao Li yang kamu minta dan sekarang giliranmu untuk menepati janjimu padaku," ucap Jenderal Wang Li sambil memberikan guci itu padanya.


Mei Yin menatap guci itu dan mengambilnya. "Aku tidak akan lupa janjiku, tapi izinkan aku untuk menabur abu suamiku di suatu tempat. Setelah itu, kamu boleh mengurungku di mana saja, tapi jangan mengurungku di villa bunga. Biarkan villa bunga kosong, dan jangan biarkan siapapun menempatinya. Aku akan sangat berterima kasih jika permintaanku ini dikabulkan," ucap Mei Yin dengan tatapan lurus ke arah Jenderal Wang Li.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa membawamu menabur abu itu sekarang karena kondisi tubuhmu masih lemah. Aku akan mengantarmu jika kondisi tubuhmu telah membaik. Maka dari itu, beristirahatlah. Aku telah menyuruh Dayang Ling untuk menjadi pelayan pribadimu. Mulai sekarang, kamu akan menempati kamarku ini dan villa bunga akan aku tutup seperti permintaanmu," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian duduk di sampingnya dan memeluk tubuhnya. Mei Yin tidak mengelak, bahkan dia sengaja membiarkan tubuhnya dipeluk oleh lelaki itu.


"Tetaplah menurut padaku, maka akupun akan menurut padamu. Tetaplah menjadi wanitaku, maka aku akan memberikan duniaku untukmu," bisik lelaki itu.


Mei Yin hanya terdiam. Dia sengaja membiarkan tubuhnya dipeluk lelaki itu karena dia ingin membuat lelaki itu menurut padanya. Dia akan menurut apapun yang diminta lelaki itu hingga dia benar-benar bisa menguasainya. Dengan begitu, dia akan bisa membalaskan dendamnya. Dia ingin melihat lelaki itu hancur di depan matanya.


"Istirahatlah, aku harus pergi karena ada suatu urusan yang harus aku selesaikan. Tunggu aku, aku akan segera kembali padamu," ucapnya dengan sebuah kecupan di dahi Mei Yin. Jenderal Wang Li kemudian pergi.


Melihat lelaki itu pergi, Mei Yin tersenyum sinis. Matanya memerah menahan amarah. "Aku akan menahan semua rasa muak yang membuncah di dadaku. Aku akan biarkan dirimu memiliki tubuhku dan membuatmu takluk di tanganku. Lihat saja, cintamu itu akan membunuhmu perlahan." Mei Yin memeluk guci tempat abu Raja Zhao Li yang sedari tadi dipegangnya dengan air mata yang perlahan jatuh.


Wanita itu masuk dan bersujud di depannya. "Permaisuri, maafkan hamba karena tidak bisa melindungi Permaisuri," ucap Dayang Ling sambil menangis.


"Bangkitlah dan jangan lagi panggil aku Permaisuri. Aku bukan lagi Permaisuri karena aku sekarang adalah wanita simpanan laki-laki itu. Dayang Ling, tolong bantu aku untuk bangkit. Aku ingin menikmati udara pagi ini."


Dayang Ling mengangguk dan membantu Mei Yin untuk bangkit. Walau lemah, Mei Yin berusaha untuk tetap berjalan menuju halaman yang ternyata cukup luas. Bukan hanya itu, di halaman itu juga ditanami bunga-bunga dengan aneka warna. Di sisi kamarnya, berdiri kokoh pohon sakura yang baru berbunga. Di atas batangnya yang kokoh, terdapat sebuah ayunan yang menggantung.


Tempat itu adalah tempat di mana ayah Jenderal Wang Li tinggal dulu. Setelah dia kembali ke istana, Jenderal Wang Li meminta kamar itu dikembalikan untuknya dan Raja Zhao Li mengabulkannya.


Melihat Mei Yin yang sangat menyukai bunga, membuat Jenderal Wang Li menanami halaman itu dengan aneka tanaman bunga dan berharap agar wanita itu akan tinggal di tempat itu bersamanya kelak.


Mei Yin berjalan mendekati ayunan dan duduk di sana. Dayang Ling berdiri di belakangnya dan mendorong ayunan itu perlahan. "Dayang Ling, apakah aku salah jika melakukan semua ini? Apa yang kamu pikirkan tentangku jika aku menjadi wanita simpananya? Apa kamu juga akan berpikir kalau aku adalah wanita murahan, kotor dan tak tahu malu?" tanya Mei Yin yang membuat Dayang Ling meneteskan air mata. Dia tahu, saat ini wanita itu sedang tertekan dan apa yang dilakukan olehnya itu karena terpaksa.


"Nyonya, aku tidak peduli walau orang lain menganggap Nyonya seperti itu, karena bagiku Nyonya tetaplah Permaisuri dan wanita yang paling suci di mataku. Aku tahu kehidupan Nyonya dari dulu, jadi aku akan mendukung apapun yang akan Nyonya lakukan. Nyonya, bersabarlah karena suatu saat nanti, orang-orang itu akan mati dengan tragis karena dosa-dosa mereka," ucap Dayang Ling dengan penuh kesungguhan. Ucapan Dayang Ling membuat Mei Yin tersenyum, setidaknya ada seseorang yang mendukungnya hingga membuat rasa bersalah pada suami dan anaknya sedikit berkurang.


Setelah kematian Raja Zhao Li, tahta menjadi kosong. Tidak ada saudara Raja Zhao Li yang pantas menduduki tahta karena dia anak tunggal dari ibu ratu dan raja sebelumnya. Dan itu artinya, anak dari seorang selir tidak bisa dijadikan sebagai raja.


"Bagaimana kalau kita jadikan Jenderal Wang Li sebagai raja berikutnya? Jenderal Wang Li bukanlah orang lain, dia adalah sepupu dari mendiang Raja Zhao Li. Jenderal Wang Li juga mempunyai andil yang cukup besar dalam menaklukan Kerajaan Wu dan beberapa daerah di sekitar perbatasan. Saya rasa, itu semua cukup untuk membuatnya menjadi seorang raja," usul salah seorang perdana menteri dan diamini pejabat yang lainnya.


Suara riuh terdengar di dalam ruang pertemuan. Jenderal Wang Li tampak acuh karena dia tahu, mereka pasti akan menerima usulan itu. Dan benar saja, hampir 85% pejabat istana menyetujui usulan itu.


"Aku akan menjadi raja berikutnya, tapi setelah masa berkabung selesai barulah aku akan naik tahta. Untuk saat ini, tahta akan dibiarkan kosong, tapi kalau ada masalah yang perlu diselesaikan, maka aku akan siap membantu," ucap Jenderal Wang Li penuh keyakinan.


Akhirnya, Jenderal Wang Li akan menjadi raja selanjutnya. Setelah masa berkabung selesai, dia akan dilantik menjadi raja secara resmi.


Jenderal Wang Li kembali ke kamar pribadinya dan melihat Mei Yin sedang duduk di ayunan. Wajahnya tersenyum saat melihat wanita itu begitu menikmati duduk di ayunan itu.


Jenderal Wang Li berjalan perlahan dan menyuruh Dayang Ling untuk pergi. Tanpa diketahui oleh Mei Yin, lelaki itu yang kini mendorongnya pelan. "Apa kamu suka dengan tempat ini?" tanya Jenderal Wang Li yang membuat Mei Yin terkejut.


"Kenapa? Apa itu penting bagiku? Toh, suka atau tidak suka, itu tidak akan berpengaruh buatmu," jawab Mei Yin datar.


"Siapa bilang itu tidak berpengaruh buatku? Melihatmu tersenyum dan tertawa saja membuatku bahagia. Melihatmu menikmati ayunan ini juga membuatku bahagia. Aku mengubah tempat gersang ini menjadi taman yang indah untuk dirimu. Jadi, bagaimana mungkin itu tidak berpengaruh bagiku?"


Mei Yin hanya terdiam dan tidak peduli dengan semua ucapannya hingga Jenderal Wang Li menghentikan ayunan itu. "Sebaiknya kita masuk, kamu masih harus beristirahat. Ayo, aku akan membawamu ke dalam," ucap Jenderal Wang Li sambil meraih tubuh Mei Yin untuk diangkatnya.


"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri," elak Mei Yin sambil berdiri, tapi tangan kekar Jenderal Wang Li segera mengangkat tubuhnya walau Mei Yin berusaha untuk menolak.


"Jangan menolak, bukankah kamu sudah berjanji untuk menuruti semua kemauanku?" Mei Yin terdiam dan segera menundukkan wajahnya.


Melihat Mei Yin menunduk membuat Jenderal Wang Li tersenyum. Lelaki itu begitu memujanya hingga membuatnya rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Dengan lembut, Jenderal Wang Li mengecup keningnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Melihat perlakuan Jenderal Wang Li padanya membuat Mei Yin mengingat suaminya. Betapa Raja Zhao Li begitu menyayanginya. Raja Zhao Li sering melakukan hal itu padanya. Dia sering dimanja dengan perlakuan yang istimewa. Tak sadar, Mei Yin menangis. Air matanya jatuh dalam diam, hingga Jenderal Wang Li menghapus air mata itu. "Jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku tahu kamu mengingatnya, tapi tak bisakah selama bersamaku kamu melupakan dia barang sejenak?" tanya Jenderal Wang Li saat meletakkan tubuh Mei Yin di atas tempat tidur.


"Itu adalah hukuman buatmu, dan selamanya kamu akan tersiksa karena itu. Bagaimana bisa kamu memintaku untuk melupakannya sedangkan dia adalah cintaku, dia adalah suamiku."


Jenderal Wang Li tersenyum dan duduk di sampingnya. "Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk melupakannya. Ingatlah dia, kenanglah dia sesukamu, tapi ingat dia tak lagi bersamamu karena aku yang kini bersamamu," ucapnya sambil mengecup lembut bibir Mei Yin yang hanya berjarak sejengkal darinya.


Mei Yin pasrah. Walau hatinya terluka, dia berusaha untuk tidak goyah. Tubuhnya mungkin akan dimiliki oleh lelaki itu, tapi cintanya hanya milik suaminya dan itu tidak akan pernah bisa berubah.