
Jenderal Wang Li tampak menikmati kebersamaannya bersama Mei Yin. Wajahnya tersenyum saat wanita itu tidak menolak ajakannya. "Apa dia sering mengajakmu jalan-jalan seperti ini?" tanya Jenderal Wang Li tiba-tiba.
"Kenapa? Apa kamu pikir dengan melakukan hal ini bersamaku bisa membuatku jatuh cinta padamu?" tanya Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li tertawa kecil.
"Sudahlah, cukup jawab saja pertanyaanku. Apa dia sering mengajakmu jalan-jalan seperti ini?" tanya Jenderal Wang Li kembali.
Mei Yin terdiam. Dia akui, Zhao Li jarang mengajaknya jalan-jalan di luar istana karena kesibukannya mengurus negerinya. "Aku tidak ingin menjawabnya," ucap Mei Yin tegas.
Lelaki itu kembali tertawa karena dia tahu, Zhao Li jarang mengajak Mei Yin jalan-jalan di luar istana. "Mulai sekarang, aku akan sering-sering mengajakmu jalan-jalan di luar istana. Aku tahu Zhao Li jarang mengajakmu jalan-jalan di luar, benar, kan?"
"Itu bukan urusanmu dan terima kasih karena aku tidak ingin jalan-jalan lagi. Bisakah kita kembali?"
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin melihat orang-orang di luar sana? Apa kamu tidak bosan tinggal di dalam istana? Kalau kamu mau, aku akan mengajakmu tinggal di luar istana dan hidup bersama, apa kamu tertarik dengan usulku itu?" tanya Jenderal Wang Li yang membaut Mei Yin tersenyum kecut.
"Sudahlah, jangan bercanda denganku. Apa kamu tidak takut aku akan lari dan meninggalkanmu?" Mendengar ucapan Mei Yin membuat Jenderal Wang Li menghentikan kudanya.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku. Suka atau tidak suka, kamu selamanya akan ada di sampingku. Aku akan pastikan, kamu tidak akan pernah bisa meninggalkanku," bisik lelaki itu dengan tangannya yang memeluk tubuh Mei Yin dengan erat.
"Terserah apa katamu, aku sudah bilang kamu bisa memiliki tubuhku, tapi kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan cintaku," ucap Mei Yin tanpa rasa takut.
Jenderal Wang Li mengepalkan kedua tangannya, tapi tak lama karena setelah itu tangannya kembali melingkar di pinggang Mei Yin.
Mereka masih terus berjalan hingga mereka berhenti di depan seorang pedagang yang menjual aneka manik-manik dan hiasan rambut. Jenderal Wang Li memperhatikan sepasang anting dan hiasan rambut yang menarik hatinya. Lelaki itu kemudian turun dari atas kudanya dan membeli anting dan hiasan rambut itu dan sebuah cincin batu giok berwarna biru laut.
"Berikan tanganmu," ucap Jenderal Wang Li sambil menengadahkan tangannya di depan Mei Yin.
"Tidak perlu, aku tidak butuh semua perhiasan itu. Mendiang suamiku sudah memberikanku perhiasan yang cukup banyak, jadi aku tidak butuh darimu lagi," tolak Mei Yin yang kembali membuat lelaki itu tersenyum.
"Sudahlah, jangan keras kepala. Berikan saja tanganmu itu atau kamu ingin aku menghancurkan pasar ini?" tanya lelaki itu dengan senyum di bibirnya.
Mei Yin menatap ke arahnya. "Apa dia ingin membuatku mengikuti kemauannya dengan semua ancaman ini?" batin Mei Yin yang memandang sekitar pasar.
Pasar itu terlihat ramai dengan lalu lalang pembeli dan penjual yang menjajakan aneka macam dagangan mereka. Dia tidak mungkin membiarkan Jenderal Wang Li menghancurkan pasar, karena itu berarti para pedagang akan kehilangan tempat untuk mereka berdagang.
Dengan berat hati, Mei Yin mengulurkan tangan kirinya dan Jenderal Wang Li memakaikan cincin giok berwarna biru laut itu ke jari manisnya. Melihat cincin itu di jari Mei Yin membuat Jenderal Wang Li tersenyum puas. "Kamu terlihat semakin cantik. Ingat, jangan pernah melepaskan cincin itu dari jarimu. Simpanlah perhiasaan ini dan pakailah saat kita bersama," ucapnya sambil memberikan sekantong perhiasan yang tadi dibelinya.
Mei Yin menerimanya dengan terpaksa karena jika dia kembali menolak, maka Jenderal Wang Li tidak akan suka dan itu bisa membuat orang lain mengalami masalah.
"Sebaiknya kita kembali. Aku ingin istirahat, aku lelah," ucap Mei Yin.
"Baiklah, kita akan kembali." Baru saja mereka berbalik arah, pandangan Mei Yin langsung tertuju pada beberapa anak yang sedang mengemis.
"Tunggu sebentar, apa kamu masih punya uang?" tanya Mei Yin hingga membuat Jenderal Wang Li menatapnya heran.
"Masih, tapi untuk apa? Apa kamu ingin membeli sesuatu?" Mei Yin mengangguk. Jenderal Wang Li lantas mengeluarkan sekantong uang dari balik bajunya dan memberikannya untuk Mei Yin.
"Kita ke kedai roti, ayo," ucap Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li menurutinya. Di kedai roti, Mei Yin membeli beberapa bungkus roti dan menghabiskan setengah kantong uang untuk membeli roti-roti itu.
"Aku akan menggantikan uangmu yang telah aku pakai, sekarang kita ke anak-anak itu," ucap Mei Yin sambil mengembalikan kantong uang itu pada Jenderal Wang Li.
"Habiskan saja uang itu dan belikan roti yang banyak untuk mereka, karena apa yang aku miliki adalah milikmu juga. Ayo, kita berikan roti itu kepada mereka."
Jenderal Wang Li kembali menuju anak-anak pengemis itu. Melihat mereka, Mei Yin teringat dengan kedua orang tua angkatnya. Tiba-tiba, anak-anak itu berlari menuju suatu tempat. Mereka tampak gembira hingga membuat Jenderal Wang Li menjadi heran. "Kenapa mereka pergi ke tempat itu?" tanya Jenderal Wang Li penasaran. Lelaki itu kemudian mengikuti mereka dan melihat mereka berkumpul di depan sebuah tenda yang sudah menyediakan makanan.
Mei Yin terperanjat saat melihat tenda itu. Tatapannya tertuju pada seorang lelaki yang sedang membagikan makanan untuk anak-anak pengemis dan orang-orang miskin.
"Apa mereka membagikan makanan gratis untuk anak-anak pengemis dan orang miskin?" tanya Jenderal Wang Li sambil menatap ke arah orang-orang itu.
"Aku akan memberikan roti ini kepada mereka, biar mereka yang akan membagikannya pada anak-anak itu," ucap Mei Yin yang langsung turun dari atas kuda.
"Biar aku saja, kamu tunggulah di sini."
"Tidak perlu, biarkan sekali ini aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Apa kamu juga akan melarangku melakukan apa yang ingin aku lakukan?"
"Baiklah, pergilah. Aku akan melihatmu dari sini."
"Terima kasih, aku sangat berterima kasih," ucap Mei Yin sambil menundukan wajahnya di depan lelaki itu.
"Apa Chen Li baik-baik saja," tanya Mei Yin yang membuat lelaki tersadar.
"Jangan katakan apapun, cukup anggukan kepalamu. Apa putraku baik-baik saja?" Lelaki itu yang tidak lain adalah Liang Yi kemudian mengangguk pelan. Mei Yin menahan tangis. Ingin rasanya dia memeluk kakak angkatnya itu, tapi dia tidak bisa.
"Kakak, tolong jaga putraku. Aku akan bertahan hingga dia datang menjemputku," ucap Mei Yin yang kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Liang Yi.
Dari balik penutup wajah, Mei Yin menitikkan air mata. Sungguh, dia begitu merindukan putranya. Dia ingin memeluk putranya itu dan menari di depannya seperti dulu.
"Kamu kenapa? Apa kamu menangis?" tanya Jenderal Wang Li yang curiga saat melihat Mei Yin yang terlihat berubah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedih karena melihat anak-anak itu mengemis," ucap Mei Yin berbohong.
"Sudahlah, hapuslah air matamu. Aku tidak ingin melihatmu menangis. Sebaiknya, kita harus kembali, kamu pasti sangat lelah." Mei Yin mengangguk dan menghapus air matanya.
Dari balik penutup wajah, Mei Yin memandang ke arah Liang Yi yang sementara membagikan makanan, hingga dia pergi dan tak lagi dapat melihatnya. Liang Yi lantas memandang ke arah mereka setelah mereka berbalik arah. "Tenanglah, aku akan menjaganya dan jagalah dirimu baik-baik karena aku dan putramu akan datang menjemputmu," batin Liang Yi dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Di istana, Putri Yuri tampak gelisah. Sedari tadi, dia menunggu kedatangan Jenderal Wang Li. Dia begitu marah saat tahu kalau suaminya telah pergi berdua dengan Mei Yin. "Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia pergi berdua dengan perempuan itu?" ucapnya kesal.
Tak lama kemudian, dia melihat Jenderal Wang Li datang bersama Mei Yin. Lelaki itu berjalan di samping kuda dan Mei Yin duduk sendirian di atas kuda.
"Suamiku, kalian dari mana saja? Kenapa kalian baru datang?" tanya Putri Yuri, tapi Jenderal Wang Li terlihat acuh.
"Kembalilah ke kamarmu, nanti aku akan ke sana," jawab Jenderal Wang Li sambil menurunkan Mei Yin dari atas kuda tanpa menoleh ke arah Putri Yuri.
Wanita itu terlihat kesal karena diacuhkan. Mei Yin melirik ke arah wanita itu dan dia bisa melihat kecemburuan di matanya. "Pergilah temani istrimu, aku akan ke kamar sendirian. Terima kasih karena sudah menemaniku dan membelikanku semua perhiasan ini," ucap Mei Yin sengaja di depan Putri Yuri untuk membuat wanita itu semakin kesal. Dan benar saja, wajahnya memerah setelah mendengar ucapan Mei Yin.
"Aku senang kalau kamu menyukainya. Sebaiknya, aku mengantarmu ke kamar karena aku masih ingin bersama denganmu," ucap Jenderal Wang Li tersenyum dan tak mempedulikan Putri Yuri.
Wanita itu marah dan kesal karena diacuhkan. "Suamiku, tak bisakah kamu menunggu? Dia itu masih Permaisuri dan kamu tidak bisa memperlakukan dia selayaknya simpananmu. Kenapa kamu tidak datang saja padaku, toh aku adalah istrimu," ucap Putri Yuri yang memprotes Jenderal Wang Li karena lebih mempedulikan Mei Yin yang notabene masih berstatus istri mendiang raja daripada dirinya yang sebagai istri sahnya.
"Sudahlah, bukankah hal ini sudah kita bahas. Jangan menggangguku selama aku bersamanya, bisa, kan? Kalau kamu ingin diperhatikan, maka jangan menuntut lebih dariku," ucap Jenderal Wang Li yang membuat Putri Yuri terdiam.
Mei Yin menatap ke arah Putri Yuri yang sepertinya cemburu padanya. "Apakah sekarang kamu jatuh cinta padanya? Baiklah, aku ingin lihat bagaimana jika orang yang kamu cintai direbut oleh orang lain. Kalian akan menyesal karena sudah membunuh suamiku. Aku akan membuat kalian mati dengan perasaan kalian, lihat saja nanti," batin Mei Yin.
"Kakak Wang, pergilah bersamanya. Aku akan menunggu di kamar. Jangan sampai dia membuat keributan karena aku tidak suka jika seluruh istana berpikir kalau aku adalah wanita murahan yang mencoba merayumu," bisik Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li menatap ke arahnya.
"Aku akan membunuh siapapun yang mengatakan hal itu tentangmu. Mei Yin, bagiku kamu wanita istimewa dan jangan pernah mengatakan hal konyol itu lagi." Tangan Jenderal Wang Li memegang dagu Mei Yin dan menatapnya tajam.
Mei Yin tersenyum dan berjalan meninggalkannya. "Pergilah, berikan apa yang dia inginkan, setelah itu datanglah padaku," ucap Mei Yin sambil berjalan membelakanginya. Di sudut bibirnya, Mei Yin tersenyum sinis dengan tingkah kedua orang yang sangat dibencinya itu.
Jenderal Wang Li menatap kepergian Mei Yin hingga dia menghilang di sudut dinding istana. Entah kenapa dia tidak bisa mengelak dari permintaan wanita itu. Lelaki itu kemudian menatap tajam ke arah Putri Yuri dan melangkah pergi ke kamar mereka dan diikuti wanita itu dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jenderal Wang Li saat Putri Yuri tiba-tiba memeluknya waktu mereka baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kenapa? Apa seorang istri tidak bisa memeluk suaminya?" Putri Yuri mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Jenderal Wang Li.
Lelaki itu terdiam. Bagaimanapun juga, dia sudah terlanjur berjanji untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dan itu tidak bisa dielaknya.
"Aku akan membiarkanmu bersamanya, asalkan kamu tunaikan dulu hasratku padamu," ucap Putri Yuri tanpa malu sambil melekatkan bibirnya ke arah bibir lelaki itu.
"Lakukanlah seperti apa yang pernah kamu lakukan padanya. Tumpahkan semua hasratmu padaku sama seperti yang pernah kamu berikan padanya. Aku juga ingin merasakan apa yang dia rasakan darimu," bisik Putri Yuri dengan perlahan.
Jenderal Wang Li mencoba menahan perasaannya dan berusaha untuk menghindar, tapi Putri Yuri tidak memberikan kesempatan itu. Lelaki yang kini sudah ada di depannya, tidak akan dia biarkan pergi begitu saja kecuali hasratnya sudah terpenuhi.
"Minumlah ini, aku tahu kamu sungkan padaku. Minumlah, biar kita bisa lebih santai dan tidak terburu-buru," ucap Putri Yuri sambil menyodorkan segelas arak kepadanya.
Jenderal Wang Li mengambil gelas itu dan langsung meneguknya tanpa rasa curiga. Putri Yuri tersenyum saat Jenderal Wang Li meminum arak itu. Perlahan, wajah lelaki itu mulai memerah. Ada rasa panas di dalam tubuhnya hingga membuatnya melepaskan bajunya. Tatapan matanya mulai liar dan pandangannya tertuju pada Putri Yuri yang tersenyum padanya.
Jenderal Wang Li menatap Putri Yuri yang kini duduk di sisi ranjang dengan senyumannya yang begitu menggoda. Lelaki itu berjalan mendekatinya dan langsung memeluknya. "Mei Yin," ucap Jenderal Wang Li yang tanpa sadar memanggil nama Mei Yin. Kini, di matanya Putri Yuri terlihat seperti Mei Yin. Senyumnya begitu menggodanya hingga membuat dia mengecup lembut bibir ranum itu.
Wajah Mei Yin terpampang di depan matanya. Dia tersenyum saat melihat wajah Mei Yin yang tersenyum indah padanya. Sementara Putri Yuri tidak peduli walau saat ini di mata lelaki itu dia adalah Mei Yin. Yang dia inginkan hanyalah mendapatkan apa yang Mei Yin dapatkan dari suaminya. Hingga dia tersenyum puas saat lelaki itu berhasil menumpahkan hasratnya.
"Mei Yin, aku mencintaimu," bisik Jenderal Wang Li saat dirinya telah berhasil menumpahkan hasratnya itu dan berbaring di samping tubuh Putri Yuri yang kini tersenyum puas.