The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 13



Berita kematian Ketua Yuen akhirnya sampai di telinga Raja Kerajaan Wu yang kini telah dipimpin oleh Raja Wu Zia, anak dari raja sebelumnya yang telah wafat, Raja Wu Luo.


Raja muda itu telah memimpin kerajaan sejak beberapa bulan yang lalu. Walaupun masih muda, tapi dia tidak jauh berbeda dengan sang ayah yang berambisi untuk menyatukan kerajaannya dengan Wilayah Dataran Timur.


Bukan hanya itu, rupanya kecantikan Putri Yuri telah menarik perhatiannya. Jika dulu ayahnya tidak berhasil mendapatkan gadis cantik itu, tapi itu tidak akan berlaku baginya. Dia telah bertekad untuk menjadikan Putri Yuri sebagai salah satu wanita koleksinya.


Wajah Raja Wu Zia cukup tampan, tapi sifatnya tidak jauh berbeda dengan sang ayah. Raja itu tidak hanya puas dengan seorang permaisuri, tapi dia juga mempunyai tiga orang selir di usianya yang masih muda.


Sebelum ayahnya wafat, dia sudah diberitahu untuk bisa mendapatkan Wilayah Dataran Timur walau harus dengan cara berperang. Dia harus bisa menaklukkan wilayah itu agar luas wilayah kerajaan mereka bisa bertambah dan itu artinya mereka akan menjadi kerajaan terbesar kedua setelah kerajaan Xia yang dipimpin oleh Raja Zhao Li.


Seminggu setelah kematian Ketua Yuen, utusan dari Kerajaan Wu datang dan membawa pesan dari Raja Wu Zia yang meminta Putri Yuri menerima tawarannya untuk menjadi selirnya.


"Apa??!!" ucap Putri Yuri sambil melempar gulungan kertas yang dibawa oleh utusan itu.


"Kalian pikir setelah kematian ayahku kalian bisa memiliki wilayah kami? Katakan pada rajamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima tawarannya apalagi menjadi selirnya. Katakan padanya kalau aku, Putri Yuri tidak akan menjadi milik siapapun karena aku akan menjadi milik Raja Zhao Li," ucap Putri Yuri tegas.


Utusan itu kembali dan menyampaikan seperti apa yang Putri Yuri katakan padanya. Sontak saja, Raja Wu Zia naik darah. "Dasar perempuan ******??!! Masih untung aku menawarkannya untuk menjadi selirku. Mulut lancangnya harus aku bungkam. Lihat saja, wilayah kalian akan hancurkan menjadi abu!!??" ucapnya geram.


"Kumpulkan semua pejabat istana dan para jenderal, hari ini juga aku akan mengadakan pertemuan," perintahnya pada seorang kasim.


Dengan tergesa-gesa, kasim itu segera melakukan perintah rajanya itu dan tak sampai setengah jam, semua pejabat istana dan jenderal telah berkumpul di dalam ruang pertemuan istana. "Yang Mulia, kami siap mendapatkan perintah dari Yang Mulia," ucap mereka kompak.


"Perdana menteri pertahanan, siapkan sepulu ribu pasukan dan kita akan menyerang Wilayah Dataran Timur," ucap Raja Wu Zia yang membuat orang-orang yang ada di tempat itu mengangkat wajah mereka.


"Yang Mulia, apa itu tidak terlalu berlebihan? Sepuluh ribu pasukan bukanlah pasukan yang sedikit. Lagipula di daerah perbatasan sudah ada pasukan dari Kerajaan Xia yang akan membantu pasukan Wilayah Dataran Timur. Apa tidak sebaiknya keputusan Yang Mulia ditarik kembali?" tanya seorang perdana menteri yang diamini hampir semua perdana menteri yang ada di tempat itu.


"Apa kepalamu itu ingin terlepas dari tubuhmu, hah??!! Dulu, ayahku sudah dipermalukan oleh Ketua Yuen dan sekarang aku dipermalukan oleh putrinya, apa kalian terima jika Raja kalian dipermalukan seperti ini??!!"


Semua orang di tempat itu saling memandang dan kemudian menundukkan kepala mereka di depan Raja Wu Zia dengan kompak. "Tidak, Yang Mulia," jawab mereka.


"Aku perintahkan untuk mempersiapkan pasukan dan semua perlengkapan persenjataan, tunggu perintahku setelah itu kita akan menyerang mereka."


"Baik, Yang Mulia."


Kali ini, Raja Wu Zia benar-benar akan menyerang Wilayah Dataran Timur. Baginya, kesabaran selama tiga tahun sudahlah cukup dan kali ini dia tidak akan menahan diri lagi.


Mata-mata yang ditugaskan Putri Yuri untuk memata-matai Kerajaan Wu memberikan informasi penting itu. Seorang lelaki yang mengenakan baju petani, terlihat memasuki Wilayah Dataran Timur dan berjalan menuju sebuah rumah yang terlihat berbeda dari rumah lainnya.


"Ketua, Raja Wu Zia telah mempersiapkan sepuluh ribu pasukan untuk menyerang perbatasan. Sebaiknya, Ketua segera meminta bantuan kepada Raja Zhao Li karena pasukan kita tidak mampu menyeimbangi pasukan Kerajaan Wu. Jalan satu-satu hanyalah meminta bantuan dari Raja Zhao Li," ucap lelaki itu.


Mendengar penuturan lelaki itu membuat Putri Yuri menjadi bimbang. Dia tidak menyangka, Raja Wu Zia bisa secepat itu memutuskan untuk menyerang wilayah mereka.


"Yuan, siapkan kereta. Sekarang juga kita akan pergi ke Kerajaan Xia," perintah Putri Yuri kepada lelaki itu.


"Baik, Ketua."


Di depan cermin, Putri Yuri menatap wajahnya yang sudah terlihat cantik. Putri Yuri mengenakan gaun berwarna putih dengan rambut yang dibiarkan terurai dengan tusuk konde yang menghias di  rambutnya. Putri Yuri berjalan dengan anggunnya hingga membuat Yuan tertegun.


"Ayo, kita pergi," ucap Putri Yuri kepada Yuan yang sudah berdiri di samping kereta. Putri cantik itu kemudian masuk ke dalam kereta dan membawanya ke Kerajaan Xia.


Di depan gerbang istana, kereta yang membawa Putri Yuri berhenti. Dengan anggunnya, Putri Yuri turun dari dalam kereta dan berjalan memasuki halaman istana. Ini adalah kedatangannya untuk pertama kali di Kerajaan Xia.


Melihat keindahan dan kemegahan Kerajaan Xia membuat Putri Yuri menjadi takjub. Seorang kasim, tampak mempersilakan Putri Yuri duduk di sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan bagi tamu-tamu kerajaan.


Putri Yuri duduk di salah satu kursi yang terbilang cukup mewah sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. "Kerajaan ini ternyata sangat besar dan mewah. Aku harus bisa menaklukkan Raja Zhao Li, tidak peduli apapun caranya, aku harus menjadi permaisurinya," batin Putri Yuri.


Tak lama kemudian, dari balik pintu Raja Zhao Li muncul bersama dengan Perdana Menteri Qing Ruo yang berjalan di belakangnya. Tanpa melihat wajah Raja Zhao Li, Putri Yuri menunduk dan berlutut di depannya hingga Raja Zhao Li duduk di sebuah kursi yang terlihat berbeda dari kursi lainnya. "Berdirilah," ucap Raja Zhao Li yang terdengar wibawa.


"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Putri Yuri sambil berdiri dan mengangkat kepalanya. Melihat Raja Zhao Li yang telah duduk di depannya, membuat Putri Yuri tertegun. Dia tidak menyangka, Raja Zhao Li yang selama ini namanya sering terdengar di telinganya ternyata seorang lelaki yang sangat tampan. Putri Yuri kemudian duduk di kursinya kembali.


"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Maaf, hamba datang tanpa memberitahu terlebih dulu karena ada sesuatu yang ingin hamba minta kepada Yang Mulia," ucap Putri Yuri.


"Katakanlah. Aku dan Ketua Yuen telah menjalin kerja sama lebih dari tiga tahun terakhir ini, jadi katakan saja apa permintaanmu."


Putri Yuri memandang lurus ke arah Raja Zhao Li. Sekali lagi, dia terpesona dengan wajah tampan lelaki itu. Putri Yuri kemudian berdiri dan segera berlutut di depan Raja Zhao Li.


"Apa yang kamu lakukan, bangkitlah," ucap Raja Zhao Li saat melihat Putri Yuri yang sudah berlutut di depannya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba, Putri Yuri, saat ini juga akan mengabdi kepada Yang Mulia. Tolong, jadikan hamba selir Yang Mulia, maka hamba dan seluruh Wilayah Dataran Timur akan menjadi milik Kerajaan Xia dan kami akan tuduk dan patuh pada Karajaan Xia. Hamba mohon, terimalah permintaan hamba," ucap Putri Yuri sambil menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.


Melihat aksi Putri Yuri membuat Raja Zhao Li tidak bergeming. Walau gadis itu berlutut dan memohon di depannya, Raja Zhao Li tidak peduli. "Kembalilah, kalau kamu datang hanya untuk memintaku menjadikanmu sebagai selir, maka kembalilah. Aku akan menerima apapun permintaan yang kamu minta, tapi aku tidak akan pernah menerimamu menjadi selirku." Raja Zhao Li kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Yang Mulia, maafkan Putri Yuri. Mungkin saat ini pikirannya sedang kalut karena Wilayah Dataran Timur akan diserang oleh Kerajaan Wu," ucap Perdana Menteri Qing Ruo yang mencoba membujuk Raja Zhao Li.


Mendengar ucapan Perdana Menteri Qing Ruo membuat Raja Zhao Li menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Putri Yuri yang masih menunduk. "Aku akan mengirimkan pasukan tambahan dan pasukan yang sangat terlatih untuk membantu menjaga Wilayah Dataran Timur. Kamu tidak perlu khawatir lagi dan kembalilah. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerima wanita manapun untuk menjadi selirku. Jadi, buang keinginanmu itu jauh-jauh." Raja Zhao Li kemudian keluar dari tempat itu.


Putri Yuri mengangkat kepalanya dengan air mata yang perlahan jatuh. Dia tidak menyangka, rasa malu yang coba dia tahan di depan Raja Zhao Li karena memohon untuk menjadikannya selir ternyata sama sekali tidak diindahkan. Harga dirinya sebagai seorang wanita runtuh di depannya.


"Putri Yuri, bangkitlah," ucap Perdana Menteri Qing Ruo.


Gadis cantik itu perlahan berdiri dan tersenyum sinis saat mengingat penolakkan Raja Zhao Li terhadapnya. "Aku tidak akan membiarkanmu menolakku lagi. Bagaimanapun caranya, kamu pasti akan menerimaku menjadi selirmu," batin Putri Yuri yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Ayo, kita pulang," ucap Putri Yuri pada Yuan.


Kereta itu kemudian pergi meninggalkan pelataran halaman istana. Di suatu tempat, Raja Zhao Li memandangi kepergian mereka. "Perdana Menteri Qing, cepat bawa utusan ke Jenderal Wang Li dan berikan suratku untuknya," perintah Raja Zhao Li pada Perdana Menteri Qing Ruo yang berdiri di sampingnya.


"Tapi, Yang Mulia ... "


"Lakukan saja perintahku!!?? Aku tidak akan pernah menerima permintaan Putri Yuri. Aku pikir, kalian pasti mengerti dengan situasiku dan jangan paksa aku jika kalian tidak ingin melihatku marah!!??" Raja Zhao Li kemudian pergi meninggalkan Perdana Menteri Qing Ruo yang terpaku menatap kepergiannya.


Raja Zhao Li kemudian pergi ke villa bunga di mana Mei Yin dan putra kecilnya sedang menunggunya. "Ayah," panggil Chen Li sambil berlari ke arah Raja Zhao Li dengan senyum yang terlihat menggemaskan.


Raja Zhao Li tersenyum dan meraih tubuh mungil Chen Li ke dalam pelukannya dan berjalan mendekati Mei Yin yang sementara memandangi mereka.


"Kenapa sudah kembali? Bukankah, ada tamu dari Wilayah Dataran Timur yang ingin bertemu denganmu?" tanya Mei Yin.


"Tamu itu sudah pergi, lagipula tidak ada hal yang penting untuk dibahas," jawab Raja Zhao Li yang mencoba menghindar dari pertanyaan istrinya itu.


Melihat istri dan anaknya yang selalu tersenyum bahagia, membuat Raja Zhao Li bertekad untuk menolak permintaan Putri Yuri. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah menerima tawaran itu, karena baginya senyum dan tawa bahagia istri dan anaknya itu lebih berarti daripada hanya sebuah wilayah. Cinta dan kasih sayangnya, hanya untuk mereka dan tidak akan dia berikan pada orang lain.


*****


Jenderal Wang Li yang dimakud Raja Zhao Li adalah Jenderal yang ditugaskan oleh raja terdahulu untuk menjaga perbatasan di daerah bagian selatan. Jenderal Wang Li bukanlah orang asing bagi Raja Zhao Li karena dia adalah kakak sepupu dari Raja Zhao Li dari jalur ayah. Hanya saja, ibunya dari kalangan rakyat biasa hingga membuat kedudukannya tidak terlalu berarti di istana. Ayah dan ibunya memilih tinggal di luar istana dan menjadi warga biasa. Karena saking cintanya pada sang istri, membuat ayah Jenderal Wang Li memilih untuk keluar dari istana.


Karena permintaan dari ayahnya, raja terdahulu akhirnya merawat Jenderal Wang Li hingga dewasa dan mengangkatnya menjadi Jenderal karena keuletan dan kemampuan bertarungnya yang sudah jauh di atas rata-rata. Sedari kecil, Jenderal Wang Li sudah tidak lagi merasakan kasih sayang orang tuanya karena mereka meninggal di saat dia berumur delapan tahun.


Walaupun mereka sepupu, tapi mereka tidaklah terlalu dekat. Umur mereka hanya terpaut tiga tahun. Sikap Wang Li sedari kecil selalu pendiam dan tidak suka bergaul. Yang dia lakukan hanyalah berlatih memanah dan bertarung hingga membuatnya menjadi salah satu jenderal yang cukup ditakuti oleh lawannya.


"Jenderal, ada surat dari istana," ucap salah satu prajuritnya sambil menyodorkan selembar kertas untuknya.


Jenderal Wang Li menerima surat itu dan mulai membacanya. Raut wajahnya tiba-tiba berubah. Dia mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya pada prajurit-prajuritnya yang tengah beristirahat.


"Kumpulkan semua pasukan, ada yang harus aku sampaikan," perintah Jenderal Wang Li pada pada salah satu anak buahnya.


"Siap, Jenderal." Prajurit itu kemudian pergi dan melakukan perintah yang di embankan padanya. Tanpa menunggu lama, semua prajurit yang ada di bawah naungan Jenderal Wang Li telah berkumpul dan siap menunggu perintah dari Jenderal Wang Li yang kini dengan gagahnya telah berdiri di depan mereka.