The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 26



Pernikahan Jenderal Wang Li dan Putri Yuri menjadi berita yang cukup menggembirakan bagi penduduk di Wilayah Dataran Timur. Para pejabat tinggi di wilayah itu terlihat turut hadir dalam upacara pernikahan mereka. Sementara warganya merayakannya dengan makan bersama.


Sementara di desa, Liang Yi juga mendengar berita yang sama. Berita yang membuatnya merasa lega karena kecurigaan yang sempat mengganggunya ternyata tidaklah terbukti. "Syukurlah kalau Wang Li menikah dengan Putri dari Wilayah Dataran Timur, dan itu berarti apa yang aku takutkan tidaklah terbukti," ucap Liang Yi dengan perasaan lega.


Pernikahan yang cukup meriah itu turut dihadiri oleh kelompok penari dari wisma tari milik Hua Feng yang sengaja diundang oleh Mei Yin. Penari-penari itu tampak berbakat dengan penampilan mereka yang memukau. Mei Yin merasa sangat terhibur dengan penampilan mereka, tapi tidak bagi Jenderal Wang Li yang menatap dengan senyum kepalsuan. Dia sama sekali tidak tertarik dengan tarian-tarian itu karena baginya tarian Mei Yin adalah tarian yang paling indah dan mengagumkan.


Putri Yuri dan Jenderal Wang Li tampak tersenyum saat satu persatu tamu undangan menyalami mereka. Tawa dan senyum keduanya terlihat begitu tulus, namun semua itu hanyalah kepura-puraan. "Jagalah pandanganmu, apa kamu ingin mereka curiga padamu?" bisik Putri Yuri saat mereka tengah duduk.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Ah, aku harap semua ini cepat berakhir," keluh Jenderal Wang Li kesal.


Akhirnya, satu persatu tamu undangan pamit undur diri. Halaman istana yang semula ramai, kini terlihat lengang. Sementara, Raja Zhao Li dan Mei Yin sudah kembali ke villa bunga bersama Jenderal Wang Li dan Putri Yuri.


"Kakak Wang, Adik Yuri, apa kalian lelah? Kalau kalian merasa lelah, lebih baik kembalilah ke kamar. Aku tidak ingin memaksa kalian karena aku masih ingin menyaksikan mereka menari," ucap Mei Yin sambil tersenyum.


"Kami berdua belum merasa lelah, lagipula kami tidak ingin kehilangan pertunjukan tari yang sangat indah ini," jawab Jenderal Wang Li yang membuat Putri Yuri meliriknya dengan perasaan kesal.


"Baiklah. Dayang Ling, panggilkan Kak Hua Feng dan semua penari ke sini. Aku ingin bertemu dengan mereka," perintah Mei Yin.


Dayang Ling kemudian memanggil Hua Feng dan semua penari untuk datang ke villa bunga.


"Kakak, terima kasih karena sudah menerima undanganku. Aku senang bisa bertemu dengan Kakak dan adik-adikku lagi," ucap Mei Yin pada Hua Feng.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah diundang lagi ke kerajaan."


"Kakak, kalau tidak keberatan, apa boleh aku melihat mereka menari lagi?" tanya Mei Yin yang membuat Hua Feng tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, ini adalah suatu kehormatan bagi mereka karena bisa menari di depan Raja dan Permaisuri."


Di halaman villa, penari-penari itu mulai menari dengan diiringi petikan kecapi dan merdunya suara seruling. Penari yang berjumlah enam orang itu mulai menari dengan indah dan terlihat kompak. Mereka adalah penari-penari handal dari wisma tari milik Hua Feng.


Raja Zhao Li dan Mei Yin saling menggenggam tangan dengan erat. Melihat tarian yang begitu indah, membuat Mei Yin tersenyum. Suara seruling dan petikan kecapi membuat kakinya ikut bergoyang.


"Istriku, apakah kamu ingin menari bersama mereka?" tanya Raja Zhao Li saat melihat istrinya itu yang begitu bahagia.


"Aku tidak mungkin menari tanpa izinmu, apalagi di depan mereka," jawab Mei Yin.


"Kalau kamu ingin menari, menarilah. Aku tidak akan melarangmu menari selama itu masih di villa bunga dan di tempat ini tidak ada orang lain. Semua yang ada di tempat ini adalah keluarga kita, jadi itu tidak masalah bagiku," ucap Raja Zhao Li yang membuat Mei Yin tersenyum.


Mei Yin kemudian mengecup pipi suaminya itu dengan manjanya. Dia kemudian berdiri dan berlari pelan dengan mengangkat sedikit hanfunya dan bergabung menari bersama keenam penari itu.


Di saat yang sama, tangan Jenderal Wang Li mengepal karena melihat Mei Yin mengecup mesra Raja Zhao Li. Hatinya terasa panas karena merasa cemburu, tapi itu hanya sementara. Pandangannya kembali tertuju kepada Mei Yin saat wanita itu mulai menari.


Mei Yin menari di tengah-tengah keenam penari itu. Mei Yin terlihat bagaikan sekuntum bunga di antara kepakan kupu-kupu yang mengelilinginya. Gerakan tariannya yang lincah membuat semua mata menatapnya penuh rasa takjub. Putri Yuri yang tidak pernah melihatnya menari, tampak kagum hingga membuatnya tak berkedip. "Apakah dia seorang dewi yang menjelma menjadi manusia hingga tariannya bisa seindah ini?" batin Putri Yuri yang begitu terpukau.


Begitupun dengan Jenderal Wang Li yang membuat amarahnya kembali reda saat melihat tarian Mei Yin yang begitu memukau hatinya. Gerakan tubuhnya begitu gemulai dengan tatapan matanya yang begitu menggoda. Senyuman di bibirnya tampak merekah indah. Semua yang ada pada diri wanita itu terlihat sempurna di matanya. Rasa ingin memiliki wanita itu kini semakin kuat. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk memiliki wanita itu hanya untuknya. Dia sudah tidak sabar untuk menikmati tarian indah itu hanya untuk dirinya. "Aku akan memilikimu hanya untukku. Aku tidak akan membiarkan dia bersamamu lagi, aku pastikan kalian tidak akan bisa bersama lagi," batin Jenderal Wang Li dengan sebuah senyum karena membayangkan dirinya yang akan segera memiliki wanita itu.


Tarian Mei Yin terhenti seiring dengan petikan kecapi dan syahdunya suara seruling yang juga terhenti. Wajahnya tampak tersenyum puas dengan nafasnya yang turun naik. Wajah cantiknya terlihat merah merona dengan peluh yang menempel di dahinya. Sontak, Raja Zhao Li bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju istrinya itu.


Tangan kekar lelaki itu menghapus peluh di dahi Mei Yin dengan sebuah senyuman penuh makna. "Apa kamu bahagia?" bisik Raja Zhao Li yang kemudian meraih tubuh istrinya itu dalam pelukannya. Mei Yin mengangguk dengan nafas yang masih turun naik. Raja Zhao Li tersenyum dan mengecup mesra kening istrinya itu.


Melihat kemesraan mereka, membuat semua mata menunduk, tak terkecuali Jenderal Wang Li yang mengalihkan pandangannya dengan tangan yang mengepal. Putri Yuri menyadari itu dan melirik ke arahnya. Sontak, Putri Yuri tampak terkejut melihat tatapan mata yang penuh amarah. Mulutnya menyeringai dengan suara gemeretak giginya yang kokoh itu.


"Tuan Wang, sadarlah," bisik Putri Yuri yang sama sekali tidak dihiraukan olehnya.


Saat itu adalah saat yang paling menyakitkan untuknya. Di depan matanya, dia melihat kemesraan itu hingga membuatnya marah. Di dalam kamar yang sudah dihiasi dengan aneka hiasan bunga yang berwarna merah, Jenderal Wang Li duduk sambil menuang arak yang tersedia di atas meja. Wajahnya memerah karena marah dan pengaruh arak yang sudah beberapa kali diteguknya.


"Tuan Wang, sudahlah. Jangan menyiksa dirimu seperti ini, bersabarlah aku akan membantumu untuk mendapatkan dia," ucap Putri Yuri yang berusaha untuk menenangkan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Jenderal Wang Li tidak mempedulikan ucapannya. Lelaki itu masih saja meneguk arak hingga membuat matanya memerah. "Aku akan memilikimu. Aku akan membunuhnya agar rasa cemburu ini tidak lagi menyiksaku," ucap Jenderal Wang Li sambil kembali meneguk arak.


"Tuan Wang, apa Tuan baik-baik saja?" tanya Putri Yuri. Jenderal Wang menatap ke arah suara itu. Matanya liar memandangi wanita yang kini ada di depannya.


"Mei Yin," ucapnya pelan sambil melangkah menuju Putri Yuri.


"Apa yang akan dia lakukan?" batin Putri Yuri saat Jenderal Wang Li tiba-tiba saja berjalan ke arahnya dan meraih tubuhnya.


"Adik Mei, aku sangat mencintaimu," ucap Jenderal Wang Li sambil mendekap tubuh Putri Yuri dalam pelukannya.


"Tuan, lepaskan aku," ucap Putri Yuri yang berusaha berontak, tapi Jenderal Wang Li tidak peduli. Wajah Putri Yuri yang masih tertutup kain tipis, perlahan dibuka olehnya. Jari-jemarinya yang kuat membelai lembut wajah Putri Yuri yang di matanya terlihat seperti Mei Yin. Tangan kekarnya terasa begitu hangat saat menyentuh wajah wanita itu. "Aku mencintaimu," ucap Jenderal Wang Li sambil mengecup bibir Putri Yuri dengan lembut. Sontak, wanita itu terkejut tanpa bisa melakukan apapun. Dia terdiam saat bibirnya dipermainkan oleh lelaki itu.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku membiarkannya melakukan ini padaku?" batin Putri Yuri yang masih terdiam dengan tangannya yang  meremas gaun pengantinnya.


Walau mabuk dan terlihat kasar, tapi Jenderal Wang Li memperlakukan Putri Yuri dengan lembut tanpa kekerasan. Di matanya, saat ini Putri Yuri terlihat seperti Mei Yin hingga membuatnya bersikap lembut. Jenderal Wang Li perlahan melepaskan bibirnya dan menatap wajah yang kini tengah terpejam, sontak lelaki itu terkejut dan termundur ke belakang. "Maafkan aku," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian membalikkan tubuhnya.


Putri Yuri perlahan membuka matanya dan mendapati Jenderal Wang Li yang sudah kembali duduk dengan kedua tangan yang menopang wajahnya.


"Apa kamu benar-benar sangat mencintainya?"


Jenderal Wang Li terdiam. Sisa arak di dalam gelas kemudian diteguknya.


"Apa kamu melakukan semua itu karena berpikir aku adalah dia dan kamu membelakangiku setelah sadar kalau ternyata aku bukanlah dia?" tanya Putri Yuri kembali.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ... "


"Aku tahu di hatimu hanya ada dia. Ternyata, cintamu padanya sangatlah besar," ucap Putri Yuri sambil menuangkan sebotol arak di dalam gelas dan kemudian meneguknya.


"Aku akan membantumu, jadi jangan terlalu memikirkan masalah itu. Ayo, kita nikmati malam pertama kita dengan minum arak hingga mabuk," ucap Putri Yuri sambil menuangkan arak ke dalam gelas.


"Ayolah, jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti tadi lagi," lanjutnya dengan sedikit tertawa.


Jenderal Wang Li tersenyum dan mengangkat gelas itu dan diteguknya. Malam itu, mereka menghabiskan malam dengan mabuk bersama. Putri Yuri meneguk arak tanpa henti hingga membuatnya terkapar tak sadarkan diri. Sementara, Jenderal Wang Li masih bisa mengontrol dirinya dan menatap Putri Yuri yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dengan kedua tangannya, Jenderal Wang Li mengangkat tubuh Putri Yuri dan meletakkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur.


Jenderal Wang Li kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke villa bunga. Entah mengapa, kakinya itu menuntunnya untuk pergi ke tempat itu seakan ada suatu dorongan yang memaksanya.


Setibanya di sana, dia melihat seseorang sedang duduk di depan ruangan itu sambil menatap langit malam. Malam itu, langit terlihat begitu terang dengan cahaya bulan yang membentuk sempurna.


Jenderal Wang Li masih memperhatikan sosok itu hingga matanya melebar ketika sosok itu berdiri dan mulai menari di bawah sinar cahaya bulan.


Jenderal Wang Li tampak tertegun melihat keindahan tarian itu. Tarian yang sengaja dia ciptakan untuk seseorang yang tak pernah hilang dari hati dan ingatannya. Sosok itu adalah Mei Yin yang sengaja keluar untuk melihat indahnya cahaya bulan. Ya, malam itu adalah malam kematian Lian dan dia ingin menari untuk kekasih dan cinta pertamanya itu. Dia tidak ingin melupakan lelaki yang sudah membuatnya mengenal arti cinta. Lelaki yang rela mati untuk melindunginya.


Mei Yin masih menari yang tanpa sadar sudah membuatnya menitikkan air mata. Dia teringat lagi akan sosok lelaki itu hingga membuatnya menghentikan tariannya dan menunduk menangis dengan terisak.


Dari tempatnya berdiri, Jenderal Wang Li bisa mendengar suara isakan tangisnya. Suara tangis yang membuat hati lelaki itu menjadi luluh dan ikut bersedih. Rasanya, dia ingin berlari dan memeluk tubuh itu dan meluapkan tangisan dalam peluknya. "Apa sebenarnya yang membuatmu menangis seperti itu? Ah, andai aku mampu, aku pasti akan berlari dan memelukmu," batin Jenderal Wang Li sambil menatap dari balik pepohonan.


Tangisan Mei Yin adalah tangisan seorang wanita yang harus merasakan kehilangan dan juga kebahagiaan. Karena kehilangan Lian, dia bisa bertemu dan merasakan kebahagiaan bersama Raja Zhao Li. Dengan kehilangan Lian, akhirnya dia bisa tahu bagaimana rasa sakit karena kehilangan karena saat ini dia begitu takut kehilangan seseorang yang telah membuatnya bahagia.


Mei Yin yang sudah tertidur, tiba-tiba kaget dan terbangun karena sebuah mimpi yang membuatnya menangis. Mimpi yang membuat hatinya menjadi gusar.


Di mimpinya itu, dia melihat dua orang lelaki yang tersenyum padanya. Tatapan mata keduanya begitu penuh cinta. Mereka tampak tersenyum padanya dan perlahan menghilang dari pandangannya. Mei Yin tersentak karena kedua lelaki itu adalah orang yang sangat dicintainya. Mereka berdua mempunyai tempat yang spesial di hatinya.


Mei Yin menatap Raja Zhao Li yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya begitu damai hingga membuat Mei Yin tersenyum saat memandangnya. Namun, mimpi itu kembali mengganggunya hingga membuatnya keluar dari kamarnya dan duduk menatap langit malam yang bertabur cahaya bintang dengan cahaya bulan yang terlihat sempurna.


"Lian, aku mohon jangan membuat aku takut. Apa kamu ingin melihat aku kehilangan lagi? Tidak cukupkah aku kehilanganmu dan kini kamu juga ingin mengambil Zhao Li dariku?" ucap Mei Yin dengan tangis yang kembali membuatnya terisak.


Mimpi itu telah menggoyahkan hatinya. Selama ini, dia tidak pernah memimpikan Lian, karena itu dia begitu takut saat memimpikan Lian yang pergi dengan Raja Zhao Li dan meninggalkannya. Mimpi itu terasa nyata hingga membuatnya kembali menangis.


Mungkinkah, itu adalah pertanda kalau Raja Zhao Li akan meninggalkannya? Ataukah, itu hanya bunga tidur penghantar mimpinya? Entahlah ...