The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 27



Sejak mimpi buruk di malam itu, Mei Yin tampak mulai khawatir dengan Raja Zhao Li. Apapun yang dilakukan suaminya selalu dalam pengawasannya. Dari makanan hingga pekerjaan, membuat Mei Yin tak luput memperhatikan.


"Istriku, ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kamu terlihat begitu khawatir padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Raja Zhao Li pada istrinya itu.


"Jangan khawatir, aku hanya ingin memastikan kalau kamu selalu baik-baik saja. Suamiku, kalau kamu merasa sakit atau lelah, jangan dipaksakan dan segeralah beritahu aku. Aku akan meminta tabib untuk memeriksa keadaanmu," ucap Mei Yin yang berusaha terlihat wajar agar Raja Zhao Li tidak terlalu curiga.


Raja Zhao Li tersenyum dan segera memeluknya. "Baiklah, istriku. Aku akan ingat pesanmu itu," ucap Raja Zhao Li yang begitu senang dengan perhatian istrinya itu.


Sementara itu, Putri Yuri mulai melakukan rencananya. Dia tahu, Raja Zhao Li sangat suka dengan kue buatannya dan berencana untuk memasukan racun ke dalam kue itu. Sifat racun itu tidak membunuh secara langsung melainkan secara perlahan. Racun itu juga tidak bisa terdeteksi karena gejalanya hanya berupa pusing dan mual yang bersifat sementara, tapi di dalam tubuh, racun itu akan menggerogoti secara perlahan.


Hampir setiap hari, Putri Yuri membawakan kue itu untuk cemilan Raja Zhao Li dan Mei Yin sama sekali tidak mencurigainya. Rasa pusing dan mual sama sekali tidak terasa setelah selesai makan kue itu, tapi setelah beberapa hari kemudian barulah merasakan efek dari racun itu.


Hampir tiap hari Raja Zhao Li memakan kue yang dibawa oleh Putri Yuri, tapi tak hanya itu, ternyata wanita licik itu juga memasukannya melalui makanan hingga efek racun mulai bereaksi lebih cepat.


Hingga suatu hari, Raja Zhao Li tiba-tiba jatuh pingsan dengan keringat yang membasahi wajahnya. Mendengar suaminya tidak sadarkan diri membuat Mei Yin menjadi panik.


Tubuh Raja Zhao Li terbaring lemah, sementara tabib masih memeriksa kondisi Raja Zhao Li yang terlihat pucat.


"Tabib, bagaimana keadaan suamiku?"


"Permaisuri, Yang Mulia hanya mengalami kelelahan. Tidak perlu khawatir, setelah meminum ramuan obat, Yang Mulia pasti akan sehat kembali," jawab tabib paruh baya itu.


Mei Yin menatap wajah Raja Zhao Li yang masih terbaring lemah dengan keringat yang membasahi wajahnya. Dengan lembut, Mei Yin menyeka keringat itu dan menggenggam tangannya. "Suamiku, bertahanlah. Jangan khawatir, aku akan menjaga dan merawatmu," bisik Mei Yin hingga membuat Raja Zhao Li perlahan membuka matanya. Tatapan matanya terlihat nanar. Bibirnya terasa kelu hingga membuatnya tidak bisa berbicara. Hanya genggaman tangan yang coba dia eratkan, tapi itupun tak mampu dia lakukan.


Mei Yin kemudian meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat dengan sebuah kecupan di tangannya. "Bersabarlah, aku akan mengobatimu," ucap Mei Yin sambil meminumkan ramuan obat yang diberikan tabib untuknya.


Tanpa Mei Yin sadari, ramuan obat itu hanya membuat penyakit Raja Zhao Li semakin parah, karena kandungan obat itu yang ternyata bereaksi lebih cepat jika bercampur dengan racun yang diberikan Putri Yuri.


Racun yang Putri Yuri berikan adalah racun yang berasal dari Wilayah Dataran Timur. Racun itu sangat efektif dan tidak dapat terdeteksi dengan mata telanjang. Hanya orang-orang yang paham dengan racun yang mampu mendeteksi racun itu, tapi itupun dalam keadaan sang pasien sudah cukup parah dan penawar racun itu hanya bisa didapatkan di Wilayah Dataran Timur.


"Sepertinya, rencanaku sudah berhasil. Raja Zhao Li sudah tidak mampu untuk melakukan apapun. Sekarang, kita tinggal menunggu karena tidak lama lagi dia akan mati," ucap Putri Yuri di depan Jenderal Wang Li.


"Baguslah, lebih cepat dia mati maka itu lebih baik," jawab lelaki itu yang terlihat egois.


Keegoisan Jenderal Wang Li telah membutakan hatinya. Rasa cinta pada Mei Yin dan rasa cemburu pada Raja Zhao Li membuatnya rela melakukan apa saja. Dan untuk memuluskan rencananya itu, dia bersama beberapa pejabat istana yang loyal padanya mulai membuat isu untuk menurunkan Raja Zhao Li karena sudah tidak mampu memimpin negeri.


"Apa!!? Apa kalian bermaksud untuk menurunkan Raja? Raja Zhao Li masih hidup dan kalian tidak bisa begitu saja menurunkannya dari takhta," ucap Perdana Menteri Qing Ruo saat mendengar pendapat beberapa orang pejabat yang menginginkan agar Raja Zhao Li segera mundur.


"Kami tahu itu, tapi bagaimana bisa kerajaan sebesar ini dipimpin oleh Raja yang sementara sakit parah?" ucap salah satu dari orang-orang itu.


Perdana Menteri Qing Ruo merasa tersudut. Rupanya, isu itu sudah meluas hingga membuat hampir seluruh pejabat istana meminta Raja Zhao Li untuk segera mundur.


Belum lagi dengan masalah baru yang tiba-tiba muncul. Sekelompok perusuh dengan mudahnya memporak-porandakan pasar dan membuat keributan dengan meminta pajak kepada para pedagang. Kelompok itu tidak segan-segan membunuh jika ada yang menolak memberikan uang kepada mereka.


"Tuan Qing, apa yang harus kita lakukan? Para perusuh itu sekarang sudah semakin berani dan terang-terangan membuat onar dan tidak ada satupun dari mereka yang berhasil kita tangkap. Mereka seperti pasukan yang terorganisir yang sengaja membuat kisruh di saat Yang Mulia sakit parah. Apa menurut Tuan, ini semua adalah kesengajaan?" tanya Pengawal Yue pada perdana menteri senior itu.


"Aku sendiri sudah mulai curiga dengan semua kejanggalan yang terjadi, tapi siapa dalang di balik semua peristiwa keji ini? Selama ini, Yang Mulia tidak pernah sakit dan selalu menjaga pola makannya, tapi kenapa Yang Mulia bisa tiba-tiba sakit? Pengawal Yue, apakah ada sesuatu yang kamu curigai?"


Lelaki bertubuh tegap itu hanya menggeleng. Dia sama sekali tidak punya alasan untuk mencurigai siapapun.


"Pengawal Yue, cobalah mencari informasi secara diam-diam. Aku pikir, ada orang yang ingin menjatuhkan Yang Mulia dan ingin meraih takhtanya. Apa kamu tidak curiga kepada Jenderal Wang Li?"


Pertanyaan Perdana Menteri Qing Ruo membuat lelaki itu berpikir sejenak. "Apa alasannya hingga Jenderal Wang melakukan itu semua? Bukankah, dia selama ini sudah banyak membantu Yang Mulia?"


"Bukankah, kita sama-sama tahu kalau ayah Jenderal Wang Li adalah kakak raja sebelumnya yang juga merupakan putra mahkota yang menolak untuk menjadi raja. Mungkin saja, sekarang Jenderal Wang Li ingin merebut kembali posisi ayahnya." Kedua lelaki itu terdiam dan kembali memimirkan hal itu.


Sementara itu, Mei Yin masih menemani Raja Zhao Li yang terbaring lemah. Tubuhnya bagaikan mati rasa hingga membuatnya tidak bisa bergerak. Bibirnya masih kelu hingga tidak bisa berbicara dan hanya bisa berinteraksi lewat tatapan mata.


"Permaisuri, kami membawakan bubur untuk Yang Mulia," ucap seorang dayang sambil membawa masuk semangkok bubur yang masih panas.


Dayang itu kemudian keluar. Mei Yin menatap mangkok bubur itu dan mencoba untuk mencicipinya. Rasanya tetap sama, tidak ada sesuatu yang aneh. Sendok pendeteksi racunpun tidak menunjukan kalau bubur itu mengandung racun. "Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sudah memberikannya obat, tapi kenapa penyakitnya semakin bertambah parah?" batin Mei Yin yang mulai curiga.


Mei Yin kemudian mengambil buku pengobatan yang selama ini telah dia pelajari. Setelah membaca dan mencari-cari informasi, Mei Yin harus kecewa karena gejala yang di alami Raja Zhao Li sama sekali tidak menunjukan kalau dia sedang terkena racun. "Kalau ini bukan karena racun, pasti penyakitnya sudah sembuh. Namun, kenapa suamiku belum juga sembuh walau sudah diberi obat?"


Mei Yin semakin penasaran dengan penyakit suaminya itu yang tak kunjung sembuh. Bubur yang di atas meja, dia biarkan begitu saja dan berniat untuk membuat bubur yang baru. "Tunggu aku, aku akan membuatkanmu bubur," ucap Mei Yin sambil berbisik di telinga Raja Zhao Li. Lelaki itu mengangguk tanpa suara.


Mei Yin kemudian keluar dari kamar dan bertemu dengan Jenderal Wang Li di depan pintu villa.


"Adik Mei, bagaimana keadaan Adik Zhao?" tanya Jenderal Wang Li saat melihat Mei Yin berjalan dengan tergesa-gesa.


Mei Yin tampak gelisah hingga membuatnya tidak fokus pada pertanyaan Jenderal Wang Li. "Adik Mei, kamu kenapa?" tanya Jenderal Wang Li yang tanpa sadar meraih tangan Mei Yin hingga tubuh Mei Yin bersandar di dadanya.


"Adik Mei, ada apa?" tanya Jenderal Wang Li kembali hingga membuat Mei Yin tersadar dan memundurkan langkahnya ke belakang.


Melihat wajah Mei Yin yang tampak sedih membuat lelaki itu menjadi luluh. Sungguh, rasa cintanya pada Mei Yin membuatnya tidak bisa berkutik di depannya.


"Kakak Wang, aku takut jika hal buruk terjadi pada suamiku. Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa sembuh? Aku takut jika dia ... " Mei Yin tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Hanya air mata yang tiba-tiba jatuh hingga membuat Jenderal Wang Li menahan hasratnya untuk menghapus air mata di wajah cantik itu.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan meminta semua tabib untuk memeriksa Adik Zhao kembali. Aku mohon, jangan lagi kamu menangis," ucap Jenderal Wang Li memohon.


Mei Yin mengangguk dan menyeka air matanya. Saat ini, dia sangat tertekan. Bagaimana mungkin dia bisa tenang kalau suaminya sementara berjuang melawan penyakit misterius. Bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak kalau setiap malam suaminya tidak bisa tidur dan selalu merintih kesakitan. Walau begitu, Mei Yin selalu sabar. Dia akan menjaga dan merawat Raja Zhao Li semampunya karena itu adalah janjinya.


"Kakak Wang, tolong temani suamiku. Aku akan segera kembali," ucapnya sambil berjalan terburu-buru.


Jenderal Wang Li mengangguk dan menatap kepergian Mei Yin yang menghilang di balik dinding istana. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kamar dan mendapati Raja Zhao Li yang terbaring tak berdaya. 99"Adik Zhao, bagaimana keadaanmu?" tanya lelaki itu sambil menarik sebuah kursi dan duduk di sisi tempat tidur.


Raja Zhao Li membuka matanya dan menatap ke arah lelaki itu. Mulutnya tidak sanggup untuk menjawab, hanya kedipan mata yang sanggup dia lakukan.


"Adik Zhao, kamu sangat beruntung karena memiliki wanita seperti Adik Mei Yin. Dia sangat mencintaimu hingga rela merawatmu dengan keadaanmu seperti sekarang ini. Ah, aku sangat iri padamu," ucap Jenderal Wang Li dengan tatapan yang terlihat begitu berbeda.


"Adik Zhao, kamu harus cepat sembuh karena semua pejabat istana menginginkanmu untuk turun dari takhta. Belum lagi dengan masalah perusuh-perusuh itu yang membuat rakyat semakin ketakutan karena dari pihak kerajaan tidak ada yang sanggup untuk menangkap mereka. Kalau tidak ada perintah darimu, prajurit kita tidak bisa bergerak." Semua ucapan itu seakan sengaja dia katakan agar membuat Raja Zhao Li tertekan.


"Aku bisa saja menangkap dan menumpas mereka, tapi kamu harus memberiku kuasa agar aku bisa melakukan itu," lanjutnya.


Raja Zhao Li mendengar semua ucapan Jenderal Wang Li dan dia merasa kalau lelaki itu sepertinya menyimpan sesuatu. "Kenapa aku merasa tatapan matanya begitu berbeda? Apa sebenarnya yang coba dia sembunyikan?" batin Raja Zhao Li saat melihat Jenderal Wang Li yang baginya sudah terlihat berbeda.


Mei Yin kemudian datang dengan membawa semangkok bubur di tangannya. "Kakak Wang, terima kasih karena sudah menemani suamiku."


"Tidak masalah, katakan saja jika kamu memerlukan bantuanku. Aku dengan senang hati akan membantu," ucapnya hingga membuat Mei Yin tersenyum.


"Sebaiknya aku harus pergi. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Adik Zhao, aku pergi dulu," ucapnya kemudian keluar dari kamar itu.


Mei Yin memandangi Raja Zhao Li yang sedang menatap ke arahnya. Bibirnya tersenyum dan perlahan mengecup pipi suaminya itu. "Suamiku, bersabarlah. Aku akan berusaha mengobatimu. Aku akan selalu ada untukmu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucapnya dengan sebuah senyum yang terlihat begitu indah.


Dengan telaten, Mei Yin menyuapi Raja Zhao Li hingga bubur di mangkok itu habis. Tak lama kemudian, Dayang Ling datang membawa ramuan obat yang sengaja dibuat atas perintah Mei Yin.


"Minumlah ramuan obat ini. Aku sengaja membuatnya untukmu karena ramuan obat yang selama ini kamu minum sama sekali tidak membuatmu membaik." Mei Yin kemudian meminumkan ramuan obat itu. Setelah beberapa kali teguk, Raja Zhao Li tiba-tiba merintih kesakitan sambil berusaha memegang dadanya. Rasanya, dadanya seperti terbakar. Keringat terlihat mengucur deras dan tiba-tiba saja, Raja Zhao Li memuntahkan darah hitam hingga membuat Mei Yin terperanjat.


Melihat darah hitam yang dimuntahkan Raja Zhao Li membuat Mei Yin semakin yakin kalau suaminya telah diracuni. Kecurigaannya selama ini akhirnya terbukti. Mei Yin yang selama ini belajar ilmu pengobatan ternyata mampu mendeteksi penyakit yang diderita oleh suaminya itu.


Sejak kematian Lian karena terkena racun, Mei Yin bertekad untuk memperlajari ilmu pengobatan secara serius. Dan semua itu tidak sia-sia. Dia berhasil mematahkan racun di dalam tubuh Raja Zhao Li.


Setelah memuntahkan darah hitam itu, Raja Zhao Li sudah mampu menggerakkan tubuhnya walau masih terlihat lemah. Bibir dan lidahnya yang kelu, kini bisa berkata walau masih terbata-bata. Melihat perubahan pada Raja Zhao Li membuat Mei Yin menitikkan air mata.


"Istriku," bisik Raja Zhao Li saat Mei Yin memeluk tubuh suaminya itu.


Mei Yin menatap wajah lelaki itu dan tersenyum. "Terima kasih karena tidak pergi meninggalkanku," ucap Mei Yin yang tak mampu menahan air matanya. Melihat istrinya menangis, membuat Raja Zhao Li menghapus air mata itu dengan tangannya. Mei Yin segera meraih tangan suaminya itu dan mengecupnya. "Jangan pernah meninggalkan aku, aku mohon," ucap Mei Yin hingga membuat Raja Zhao Li meraih tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.