
Kaisar Wang menatap Mei Yin tanpa berkedip. Ucapan Mei Yin ternyata mengundang perhatiannya. "Istriku, apa yang baru saja kamu katakan?"
Mei Yin terperanjat. Ucapan yang tanpa sadar terlontar dari mulutnya itu rupanya membuat Kaisar Wang penasaran padanya.
Ucapan yang tanpa sadar terlontar untuk mendiang suaminya itu membuatnya harus berputar otak. Tidak mungkin dia berkata jujur karena itu pasti akan membuatnya mengalami masalah besar.
Dengan tersenyum, Mei Yin mendekati Kaisar Wang. Walau ragu, tapi dia harus bisa meyakinkan lelaki itu. "Suamiku, aku mencintaimu," ucap Mei Yin sambil memeluk Kaisar Wang dengan kedua tangannya yang melingkar di leher lelaki itu.
Mei Yin menahan tangis agar air matanya tidak jatuh. Dia merasa terpaksa hingga membuatnya merasa bersalah pada mendiang suaminya. Ungkapan cinta yang biasa dia lontarkan untuk suaminya, kini telah dia lontarkan untuk lelaki yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. "Maafkan aku, maafkan aku," batin Mei Yin yang merasa sangat berdosa pada mendiang suaminya.
Mendengar ucapan cinta dan sebuah pelukan dari Mei Yin membuat Kaisar Wang menitikkan air mata. Dia bagaikan tersihir hingga membuatnya tak bisa berkutik. Semua itu bagaikan mimpi baginya, hingga Mei Yin menatap dan tersenyum padanya. "Ada apa? Kenapa kamu seperti orang bingung?" tanya Mei Yin sambil menyentuh lembut wajah lelaki itu.
Kaisar Wang terdiam dan menatap Mei Yin yang tersenyum di depannya. "Apa yang baru saja kamu katakan itu benar?" tanya Kaisar Wang yang masih belum percaya.
Mei Yin mengangguk dengan wajahnya yang tersipu malu. "Apa kamu masih tidak percaya padaku?" tanya Mei Yin sambil membalikkan tubuhnya dan membelakangi Kaisar Wang.
Lelaki itu tampak tersenyum dan berjalan mendekatinya. Kedua tangannya lantas memeluk Mei Yin dari belakang dan mengecup mesra pipinya yang merah merona. "Aku percaya, sangat percaya," bisiknya dengan lembut.
Kaisar Wang memeluk Mei Yin sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di atas pundak wanita itu. Kedua tangannya begitu erat memeluk tubuh Mei Yin hingga tak ingin dia lepaskan. "Istriku, aku sangat mencintaimu. Terima kasih karena telah mencintaiku," bisik Kaisar Wang dengan air mata yang perlahan jatuh.
Kaisar Wang terlihat begitu bahagia. Dengan mesranya, dia membopong tubuh Mei Yin dan merangkulnya hingga membuat Mei Yin tersandar di dada bidang lelaki itu. Wajah cantiknya kini ditatap mesra oleh Kaisar Wang hingga membuat lelaki itu mengecup lembut bibir ranum yang begitu menggodanya.
Dengan gagahnya, Kaisar Wang berjalan dan membawa Mei Yin yang masih terdiam dalam bopongannya menuju ke dalam kamar. Dengan lembutnya, dia membaringkan tubuh Mei Yin di atas ranjang dan tersenyum pada wanita itu. Lilin yang sementara masih menyala, dipadamkannya.
Lelaki itu begitu bahagia. Ungkapan cinta Mei Yin padanya membuat rasa cintanya pada wanita itu kian membuncah, hingga membuatnya ingin menumpahkan semua rasa cinta dan kasih sayangnya hanya untuk Mei Yin seorang.
Lelaki itu terbaring di samping tubuh Mei Yin dengan senyum kepuasan. Sesaat, tatapannya tertuju ke arah Mei Yin yang sementara tertidur di sampingnya. Tangannya yang kekar, membelai lembut wajah wanita itu yang masih basah dengan peluh. Sejurus, lelaki itu tersenyum dan mengecup lembut dahinya. "Aku harap semua ini bukanlah mimpi. Tetaplah bersamaku karena aku tidak ingin kamu jauh dariku. Tetaplah seperti ini, maka apapun akan aku lakukan untukmu," batin Kaisar Wang yang masih memandangi Mei Yin dengan tatapan penuh cinta.
Sejak saat itu, Kaisar Wang selalu berada di sisinya. Di saat waktu luang, Kaisar Wang selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya walau hanya sekadar untuk mengecup keningnya. Lelaki itu tampak perhatian pada istrinya itu.
"Istriku, bergegaslah," ucap Kaisar Wang saat dirinya baru saja sampai di dalam kamar.
Mei Yin mentatapnya heran karena Kaisar Wang terlihat memakai jubah sederhana dengan penutup wajah yang sudah ada di tangannya.
"Ada apa? Memangnya kita mau kemana?" tanya Mei Yin penasaran.
Kaisar Wang memeluk istrinya itu dan mengecup pipinya. "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan di luar. Sudah beberapa bulan ini, kamu hanya terkurung di tempat ini. Bukankah, aku sudah pernah berjanji untuk mengajakmu jalan-jalan dan menikmati pemandangan di luar istana?"
Mei Yin mengangguk dan tersenyum. Memang benar, dia ingin menikmati pemandangan di luar sana. Dia sudah merasa bosan terkurung di tempat itu.
Mei Yin lantas memakai penutup wajah yang menutupi setengah wajahnya. Walau begitu, tatapan matanya yang sebiru lautan begitu terlihat menawan dan tak mengurangi kecantikannya.
Seekor kuda sudah disiapkan di halaman kediamannya. Mei Yin lantas duduk di depan, sementara Kaisar Wang duduk di belakangnya. Kuda itu berjalan perlahan dengan tali kekang yang dipegang di tangan kanan Kaisar Wang, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang istrinya dengan erat.
Melihat mereka, para dayang yang sedang melintas segera menunduk dan memberi hormat. Tak terkecuali Permaisuri Yuri yang tak sengaja melintas, tak luput untuk memberi hormat pada mereka.
Melihat Mei Yin yang duduk berdua dengan Kaisar Wang di atas kuda membuat Permaisuri menatapnya sinis. Wajahnya memerah menahan rasa marah dan juga benci.
Melihat kemesraan yang ditunjukan Kaisar Wang pada Mei Yin membuat beberapa dayang mulai membicarakan mereka. "Wanita itu terlalu cantik untuk dibiarkan hidup sendiri. Lihat saja, Kaisar bahkan memperlakukannya seperti seorang permaisuri. Rupanya, kecantikan wajahnya sudah membuat Kaisar begitu jatuh cinta padanya," ucap seorang dayang yang tanpa sengaja didengar oleh Permaisuri Yuri.
"Sepertinya, Permaisuri Yuri tidak punya arti bagi Kaisar, nyatanya Kaisar lebih mencintai Nyonya Wang dari pada dirinya," jawab dayang lainnya yang membuat Permaisuri Yuri naik darah.
Dengan marahnya, Permaisuri Yuri langsung mendekati mereka dan membentak dayang-dayang itu dan memerintahkan prajurit untuk menangkap mereka. "Prajurit, bawa mereka ke penjara dan siksa mereka!!" perintah Permaisuri dengan wajahnya yang memerah. Dia begitu marah hingga menampar dayang-dayang itu sebelum mereka diseret menuju penjara.
Dayang-dayang itu memohon dan meminta pengampunan, tapi sia-sia karena Permaisuri sama sekali tidak menggubrisnya.
Permaisuri yang marah dan kesal masuk ke dalam kamarnya dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Kamarnya yang semula rapi kini terlihat berantakan.
"Permaisuri, berhentilah. Jangan menyiksa dirimu seperti ini," ucap Yuan yang sudah berdiri di depannya.
Wanita itu tampak menangis. Air matanya jatuh karena mengingat penolakan dan perlakuan Kaisar Wang padanya. "Yuan, apa aku tidak berhak untuk bahagia?" tanya Permaisuri di sela tangisannya.
Yuan berjalan mendekatinya dan melihat tangan wanita itu yang berdarah. Tanpa sadar, pecahan vas telah melukai tangannya hingga berdarah. Melihat tangan Permaisuri yang berdarah, membuat Yuan merobek jubahnya dan menutupi luka dengan jubahnya itu.
"Siapa bilang kamu tidak pantas untuk bahagia? Kamu berhak untuk bahagia, tapi kenapa kamu harus tersiksa sengan seseorang yang tidak bisa memberikanmu kebahagiaan?" ucap Yuan yang membuat Permaisuri menatapnya.
"Itu karena aku mencintainya," jawab Permaisuri dengan tatapan matanya yang kosong. Yuan menatapnya dengan hati yang kecewa. Jawaban itu bagaikan sebuah sembilu yang mengiris hatinya secara perlahan. Sakit dan luka tanpa berdarah.
"Kalau dia tidak mencintaimu, lepaskan dia. Bukankah, dari awal tujuanmu menikah dengannya hanya untuk menjadi permaisuri agar Wilayah Dataran Timur akan selalu aman dan terjaga?"
Yuan tercekat karena wanita yang dicintainya kini ada dalam pelukannya. Seakan tak percaya, kedua tangannya mulai bergerak perlahan dan merangkul tubuh itu dengan erat. "Menangislah, aku akan selalu ada di sisimu," ucap Yuan sambil mengelus lembut punggung wanita yang dicintainya itu.
Sementara di luar sana, Mei Yin tampak menikmati suasana yang berbeda. Dia begitu terpesona dengan pemandangan laut yang baru pertama kali dilihatnya. Kaisar Wang yang sudah hafal dengan semua tempat yang ada di negeri itu bisa dengan mudah mengetahui tempat-tempat yang indah.
Tugas yang memaksanya untuk mengetahui setiap seluk beluk dari negerinya, membuatnya tahu setiap tempat termasuk laut yang kini didatangi mereka.
"Istriku, apa kamu suka tempat ini?" tanya Kaisar Wang sambil memeluknya dari belakang.
Mei Yin mengangguk dan memandangi lautan lepas. Angin laut yang bertiup membuat rambutnya terurai. Kakinya yang basah kini dipenuhi butiran pasir putih. "Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya," ucap Mei Yin dengan senyum yang mengembang dari sudut bibirnya.
Melihat istrinya yang tersenyum dan menyukai tempat itu membuat Kaisar Wang ikut tersenyum. Dia bahagia karena melihat senyuman di wajah istrinya itu.
Deburan ombak memukul perlahan dan menyingkirkan butiran pasir di kakinya. Air laut yang terasa menyejukkan mulai menarik hatinya. Mei Yin berjalan perlahan mendekati bibir pantai hingga deburan ombak kembali menerpa kakinya. Wajahnya tampak tersenyum saat kakinya kembali diterpa ombak hingga membuatnya mengangkat hanfunya yang mulai basah.
Mei Yin tertawa sambil berlari pelan saat deburan ombak mengejarnya. Melihat Mei Yin tertawa membuat Kaisar Wang mendekatinya dan mengangkat tubuh istrinya itu dan berlari pelan di bibir pantai sambil menghindar dari deburan ombak.
Mei Yin tampak tertawa sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Kaisar Wang. Untuk sesaat, dia lupa kalau saat ini dia sedang bersandiwara, tapi nyatanya keindahan pantai telah membuatnya meluapkan rasa senangnya tanpa kepura-puraan. Ya, saat ini, itulah perasaannya yang sebenarnya, perasaan tanpa kepura-puraan karena dia sangat menyukai tempat itu.
Di atas batu, Mei Yin duduk sambil mengayunkan kakinya yang diterpa deburan air laut yang mulai pasang. Langit yang mulai senja membuat tempat itu terlihat indah. Matahari yang perlahan terbenam di balik hamparan laut membuat Mei Yin tak jemu untuk memandang.
"Apa kamu bahagia?" tanya Kaisar Wang yang berdiri di sampingnya. Mei Yin mengangguk sambil tersenyum padanya. Melihat senyumannya, Kaisar Wang ikut tersenyum dan menatap wajah cantik yang kini tengah memandangi langit senja.
Langit yang mulai gelap memaksa Mei Yin untuk bangkit. Kakinya yang basah dengan hanfu yang juga telah basah membuat Kaisar Wang segera menggendong tubuh istrinya itu di atas punggungnya dan berjalan menuju ke arah kuda yang berada tidak jauh dari mereka.
"Jika kamu suka tempat ini, aku akan sering-sering mengajakmu ke sini," ucap Kaisar Wang saat mereka sudah duduk di atas kuda dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.
"Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya," jawab Mei Yin sambil menyandarkan tubuhnya di dada Kaisar Wang. Rasanya dia begitu lelah, hingga membuatnya tidak bisa menegakkan tubuhnya sendiri.
Kaisar Wang melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya itu dan mulai meninggalkan hamparan pantai yang mulai menghilang dari pandangan.
Mei Yin yang masih bersandar, perlahan memejamkan matanya. Kepalanya terasa begitu berat hingga membuatnya tidak bisa membuka matanya. "Istriku, ada apa denganmu?" tanya Kaisar Wang saat melihat Mei Yin yang hanya bersandar tanpa bergerak sama sekali. Nafasnya terlihat turun naik dengan peluh yang membasahi wajahnya.
Kaisar Wang terlihat panik hingga menghentikan kudanya. Tangannya perlahan meraba dahi Mei Yin dan membuatnya terkejut. "Istriku, kamu sedang demam," ucap Kaisar Wang yang tampak panik.
Hari yang sudah mulai malam dan lokasi kerajaan yang masih beberapa kilo meter lagi membuat Kaisar Wang mengurungkan niatnya untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya, Kaisar Wang memilih untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di tempat itu.
"Nyonya, apakah di tempat ini ada seorang tabib?" tanya Kaisar Wang pada wanita pemilik penginapan itu.
"Maaf, Tuan. Rumah tabib sangat jauh dari sini, lagipula ini sudah malam dan mereka tidak melayani orang sakit jika sudah malam," jawab wanita itu yang membuat Kaisar Wang menahan marah.
"Bagaimana bisa seorang tabib berbuat seperti itu?" batinnya. Kalau bukan karena ingin menutupi identitasnya, saat itu juga dia akan memerintahkan semua tabib untuk dihukum.
"Sebentar Tuan, sepertinya ada seorang tamu di kamar sebelah yang biasa mengobati orang sakit, tapi dia bukan seorang tabib. Kalau Tuan tidak keberatan, Tuan bisa meminta bantuannya," ucap wanita itu sambil menunjuk ke salah satu kamar.
Kaisar Wang menatap ke arah kamar itu dan berjalan menuju di depan pintu. "Permisi, Tuan. Apakah Anda bisa mengobati orang sakit?" tanya Kaisar Wang sambil mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.
Perlahan, kamar itu terbuka. Kaisar Wang menatap orang itu yang sudah berdiri di depannya. "Maaf, Tuan. Aku dengar Tuan biasa mengobati orang sakit, kalau tidak keberatan tolong obati istriku, dia sedang sakit," ucap Kaisar Wang yang menatap lelaki itu. Lelaki yang kini berdiri di depannya itu terlihat tampan dengan guratan wajah yang tak biasa. Wajahnya cukup bersahaja dan berkharisma.
"Antarkan aku ke sana," jawab lelaki itu sambil menutup pintu kamarnya.
Kaisar Wang lantas berjalan di depannya dan menuju ke kamar di mana Mei Yin tengah terbaring tak berdaya. Setibanya di depan pintu, langkah Kaisar Wang terhenti. Dia kembali menatap lelaki itu seakan dia tak rela jika istrinya diperiksa oleh lelaki yang kini telah berdiri di depannya.
"Ada apa? Jika Tuan keberatan, aku tidak akan memeriksa kondisi istri Tuan. Kalau tidak dibutuhkan, aku akan pergi," ucap lelaki itu sambil berjalan meninggalkannya.
"Tunggu. Baiklah, tolong Tuan periksa istriku," ucap Kaisar Wang yang tidak bisa menolak karena rasa khawatir pada istrinya itu.
"Masuklah," ucap Kaisar Wang mempersilakan. Lelaki itu kemudian masuk dan mendapati seorang wanita yang tengah terbaring dengan peluh yang memenuhi wajahnya.
Lelaki itu menatap lurus ke arah Mei Yin hingga membuatnya duduk di sampingnya. Dari balik bajunya, lelaki itu mengeluarkan sapu tangan dan menyeka peluh di wajah wanita itu.
Melihat itu, Kaisar Wang tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan lelaki itu mengobati istrinya.
Lelaki itu kemudian meraih pergelangan tangan Mei Yin dan meletakkan jarinya di atas nadi wanita itu. Perlahan, dia terkejut karena merasakan sesuatu hingga membuatnya menatap ke arahnya. "Apakah, kamu sedang mengandung?" batin lelaki itu sambil menatapnya dengan tatapan penuh rasa iba.
"Inikah pengorbananmu hingga membuatmu harus melakukan semua ini?" Tanpa sadar, lelaki itu menitikkan air mata dalam diam.