The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 25



Setelah Putri Yuri dan Jenderal Wang Li selesai membicarakan kesepakatan dan rencana mereka, akhirnya Putri Yuri mendatangi villa bunga dengan maksud untuk menyampaikan jawabannya.


"Jadi, apa jawabanmu, Putri Yuri?" tanya Mei Yin pada wanita cantik itu.


"Aku akan menerima Jenderal Wang Li menjadi suamiku, tapi aku punya satu syarat."


"Katakanlah."


"Maaf, Permaisuri. Aku ingin agar kerajaan menjaga Wilayah Dataran Timur dari gangguan wilayah lain dan aku ingin setelah menikah aku akan tetap tinggal di kerajaan bersama Jenderal Wang Li. Apa syaratku itu terlalu sulit?"


Mei Yin tersenyum. "Tidak, itu hal yang wajar. Aku pahami itu, jadi Putri Yuri tidak usah khawatir karena aku akan meminta Raja Zhao Li untuk mengabulkan syaratmu itu. Kalau begitu, kalian bersiaplah karena aku dan Raja Zhao Li akan segera melaksanakan pernikahan kalian."


Putri Yuri mengangguk dan tersenyum. Sebuah senyum yang penuh kepalsuan. Sementara itu, Jenderal Wang Li mulai melakukan pendekatan dengan Raja Zhao Li. Hampir semua urusan kerajaan, dilakukan olehnya dengan izin dari Raja Zhao Li. Tanpa rasa curiga, Raja Zhao Li membiarkan Jenderal Wang Li mengurusi separuh masalah kerajaan.


"Kakak Wang, situasi negeri kita saat ini sangat baik. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan dan jika Putri Yuri menerima lamarannya, aku akan membuat sebuah pesta besar untuk pernikahan kalian. Kakak Wang, aku berharap Kakak Wang akan bahagia dengan pernikahan ini," ucap Raja Zhao Li antusias.


"Adik Zhao, aku akan ikuti apapun yang Adik Zhao dan Adik Mei Yin inginkan. Bagiku, kalian adalah saudaraku dan aku bersyukur dengan itu." Jenderal Wang Li tampak tulus mengatakan kalimat itu, tapi jauh di lubuk hatinya, itu hanya sebuah kalimat tanpa makna. Sebuah kata-kata pemanis untuk mendukung rencananya.


Rasa cinta yang terlalu besar kepada Mei Yin dan rasa cemburu yang teramat sangat kepada Raja Zhao Li menutupi mata hatinya dan rela berbuat apa saja untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.


Bertahun-tahun hidup tanpa kasih sayang dan perhatian dari keluarga dan orang-orang dekat, membuat Jenderal Wang Li begitu mendambakan kasih sayang dan perhatian dari seorang wanita yang baginya adalah sumber kebahagiaannya. Melihat kasih sayang dan perhatian yang Mei Yin berikan untuk suami dan putranya, melihat kecantikan wajah dan pesona Mei Yin yang begitu sempurna, telah membuat Jenderal Wang Li mendambakan hal yang sama untuk dia rasakan. Namun, semua itu hanya dia inginkan dari satu wanita, yaitu Mei Yin. Dia tidak mendambakan kasih sayang dari wanita manapun, hanya Mei Yin lah wanita pertama yang berhasil mencairkan hatinya yang lama beku. Hanya Mei Yin lah satu-satunya wanita yang begitu dia dambakan hingga membuatnya rela melakukan hal apapun untuk mendapatkan wanita itu.


Sementara Mei Yin dan Raja Zhao Li tidak menyadari akan hal itu. Mereka begitu tulus menyayanginya sebagai keluarga dan juga sebagai seorang kakak. Raja Zhao Li begitu menghargainya karena baginya, Jenderal Wang Li tak hanya sebagai keluarga dan seorang kakak, tapi juga sebagai seorang sahabat dan tentu saja sebagai penolong karena telah menyelamatkan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.


"Suamiku, Putri Yuri sudah menerima lamaran kita. Dan dia juga mengajukan syarat agar kita bersedia menjaga Wilayah Dataran Timur agar tetap aman dan juga dia meminta setelah menikah nanti, dia dan Kakak Wang tetap akan tinggal di kerajaan. Apakah, kamu menyetujuinya?" tanya Mei Yin saat sedang duduk bersama dengan Raja Zhao Li di depan kolam di taman villa bunga.


"Untuk kebahagiaan mereka, aku akan mengabulkannya. Lagipula, syarat itu tidaklah sulit," jawab Raja Zhao Li yang membuat Mei Yin tersenyum.


Melihat wajah cantik istrinya itu membuat Raja Zhao Li memandanginya. "Istriku, tetaplah tersenyum seperti ini karena aku sangat menyukai senyumanmu itu. Ah, apakah kamu tahu kalau saat di hutan waktu itu aku hampir saja gila karena memikirkanmu? Aku bisa mati jika saat itu aku tidak bisa lagi bertemu denganmu. Istriku, aku mohon jangan pernah lagi meninggalkan aku seperti itu. Aku tidak bisa hidup jika tanpa ada dirimu di sampingku. Aku sangat mencintaimu hingga membuatku tidak bisa lepas darimu," ucap Raja Zhao Li dengan penuh cinta. Dan itulah kenyataannya. Raja Zhao Li begitu mencintai Mei Yin hingga membuatnya tidak bisa berpisah dengannya.


Baginya, Mei Yin adalah kehidupannya dan tanpa Mei Yin di sisinya, dia bagaikan mati karena kehilangan separuh nafasnya. Ah, cinta mereka terlampau luar biasa. Rasa cinta yang penuh dengan suka dan duka. Cinta yang penuh pengorbanan dan air mata, dengan bahagia yang masih enggan untuk meninggalkan mereka, bahagia yang akan bertahan entah sampai kapan.


Mei Yin tersenyum dan mengelus lembut wajah suaminya itu. Tampak wajah tampan nan rupawan yang begitu menyejukkan matanya. "Aku akan selalu ada di sampingmu. Kita akan hidup bersama selamanya. Saat Chen Li dewasa dan menggantikan dirimu kelak untuk memimpin negeri ini, aku akan memintanya untuk mendirikan sebuah rumah di padang bunga untuk kita agar kita bisa menghabiskan masa tua kita di sana," ucap Mei Yin dengan senyum. Raja Zhao Li mengangguk dan memeluk tubuh istrinya itu.


Terlihat, raut kebahagiaan dari wajah keduanya. Mereka tampak bahagia dengan senyum yang mengembang dari wajah mereka. Pelukan hangat dan genggaman tangan yang begitu erat, membuat keduanya tak ingin untuk cepat-cepat berpisah.


Di saat mereka sedang bahagia, tampak seraut wajah yang begitu memerah karena menahan gelora cinta dan rasa cemburu yang membuncah. Tidak jauh dari mereka duduk, berdiri seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikan mereka. Tatapan matanya penuh amarah saat melihat Raja Zhao Li memeluk tubuh wanita yanag sudah membuatnya jatuh cinta. Dadanya terasa sesak saat melihat wanita itu melayangkan senyuman kepada Raja Zhao Li yang menurutnya tidak layak untuk mendapatkan semuanya.


Dengan menahan amarahnya, dia pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Putri Yuri di kediamannya. "Tuan Wang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat marah seperti itu?" tanya Putri Yuri saat melihat lelaki itu datang dengan wajahnya yang terlihat kesal dan marah.


Jenderal Wang Li berjalan dan mendekati Putri Yuri. Tangan kekarnya mengangkat dagu wanita itu dan menatap matanya tajam. "Lihat aku. Apa aku sama sekali tidak menarik bagimu? Apa wajahku tidak setampan wajahnya hingga kamu dan dia begitu menyukainya?"


Putri Yuri terdiam. Dia tidak mampu berkata dan hanya bisa mengagumi ketampanan lelaki yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya itu. Sungguh, wajah itu begitu sempurna. Ketampanan wajahnya dan kegagahan tubuhnya menjadi daya pikat tersendiri hingga membuat wanita akan takluk padanya. "Ada apa denganmu? Apa sekarang kamu sedang cemburu?" tanya putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li melepaskan tangannya dari dagu wanita itu.


Melihat ekspresi wajahnya, Putri Yuri semakin yakin kalau saat ini lelaki itu sedang cemburu. "Kenapa kamu harus tersiksa karena wanita itu? Lihatlah di sekelilingmu dan carilah wanita yang lebih darinya. Aku akui dia memang sangat cantik, tapi di antara semua wanita yang ada di negeri ini kenapa kamu harus jatuh cinta padanya?" tanya Putri Yuri yang tidak senang karena lelaki itu begitu tergila-gila dengan Mei Yin.


Putri Yuri masih diam terpaku dan mendengar ungkapan hati lelaki itu. Sejenak, dia merasa cemburu karena Mei Yin mampu menaklukan dua hati hingga rela mati untuknya. Dia merasa iri karena Mei Yin mampu mengubah seorang lelaki dingin dan kejam menjadi seorang lelaki yang begitu menyayanginya. "Walau dia tidak mencintaimu, apa kamu tetap akan memaksanya untuk tetap ada di sampingmu? Apa kamu yakin, dia akan menerimamu setelah apa yang akan kita lakukan untuk mereka nantinya?" tanya Putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li menatapnya sinis.


"Aku tidak peduli walau dia tidak mencintaiku, asalkan dia tetap ada di sampingku. Aku tidak peduli walau dia membenciku karena memisahkan dia dari lelaki itu, asalkan hanya aku satu-satunya lelaki yang ada untuknya dan tidak ada lelaki manapun yang akan memilikinya kecuali aku," ucap Jenderal Wang Li yang begitu terobsesi akan cintanya kepada Mei Yin.


"Ingatlah, pernikahan kita ini hanya pura-pura dan jangan berharap lebih dariku. Kamu tahu siapa yang aku cintai karena itu jangan sekali-kali mengeluh di depanku. Bukankah, kamu sendiri yang menawarkan pernikahan ini? Jadi, biarkan aku melakukan apa saja padanya tanpa perlu kamu bertanya."


Putri Yuri tersenyum kecut mendengar ucapan Jenderal Wang Li. "Baiklah, aku tidak akan meminta apapun darimu asalkan tepati janjimu padaku. Selebihnya, aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu. Sebaiknya, kita harus bersiap-siap karena aku sudah mempunyai rencana agar kamu bisa segera naik takhta."


"Baiklah, lakukan saja rencanamu, tapi ingat jangan pernah kamu menyentuhnya karena aku sendiri yang akan menghabisimu jika dia sampai ikut terluka," ucap Jenderal Wang Li yang kemudian pergi meninggalkan Putri Yuri.


"Apakah dia seberharga itu bagimu? Ah, kenapa aku dihadapkan dengan dua lelaki yang begitu tergila-gila padanya? Apakah nasibku hanya sebagai wanita yang tanpa harga di depan mereka?" Putri Yuri mendengus kesal mengingat perlakuan dua lelaki itu yang sama sekali tidak tertarik dengannya.


*****


Di halaman istana, suasana tampak ramai dengan aneka hiasan dan lampion warna merah yang menggantung di jalan utama. Tak hanya itu, suara alunan musik terdengar menambah meriah suasana.


Di dalam kamar, Putri Yuri tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna merah dengan kain tipis yang menutupi wajahnya. Wanita itu terlihat anggun hingga membuat dayang yang mendandaninya menjadi kagum. "Putri Yuri, Anda sangat cantik. Jenderal Wang Li sangat beruntung karena mendapatkn istri yang cantik seperti Putri," ucap seorang dayang memuji. Terlintas sebuah senyum terpancar dari sudut bibirnya yang merah merona. "Beruntung? Ah, apa aku beruntung menikah dengan lelaki yang mencintai wanita lain?" batinnya.


Yuan yang selama ini menemani Putri Yuri hanya bisa menatap pasrah ke arah wanita itu yang terlihat cantik dengan gaun merahnya. Matanya begitu takjub dan terpesona dengan kecantikan wanita yang sudah dicintainya sejak masih kecil dulu. "Ketua, apakah pernikahan ini adalah jalan untuk meraih keinginan Ketua?" tanya Yuan mencoba meyakinkan kembali akan keputusan wanita itu.


"Aku yakin, bersabarlah. Yuan, aku akan meraih apa yang diinginkan oleh ayah, karena itu tetaplah percaya padaku dan bantu aku agar keinginan ayah bisa tercapai. Aku akan lakukan apapun agar keinginan ayah bisa terwujud. Karena itu, aku harap kamu tetap ada di sisiku," ucap Putri Yuri.


Yuan menunduk dan memberi hormat. "Aku akan selalu ada di sampaing Ketua. Aku akan membantu agar keinginan Ketua terwujud," jawabnya.


Putri Yuri tersenyum. Dia sangat mempercayai Yuan yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Persahabatan sejak kecil rupanya telah membuat Yuan mencintai Putri Yuri, tapi sayang itu tidak dirasakan oleh Putri Yuri hingga membuatnya hanya bisa mencintai dalam diam.


Iring-iringan pengantin wanita keluar dari dalam kamar. Sementara, pengantin pria tampak gagah dengan jubah pengantin berwarna merah dan berdiri menunggu kedatangan pengantin wanita.


Sementara itu, di atas mimbar Raja Zhao Li terlihat tampan dan gagah dengan balutan jubah berwarna putih dengan bordiran benang emas dan Mei Yin terlihat cantik dan anggun dengan balutan hanfu berwarna putih dengan bordiran benang emas yang serupa dengan jubah yang dikenakan Raja Zhao Li. Mereka berdua terlihat sangat serasi hingga membuat semua mata tertuju pada mereka dengan tatapan penuh rasa kagum.


Orang-orang yang hadir di tempat itu bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah para pejabat kerajaan dan juga para bangsawan.


Di saat yang sama, Jenderal Wang Li berusaha untuk menjaga pandangannya. Dia tidak menyangka, dia bisa meliht Mei Yin yang begitu anggun dan cantik dengan balutan hanfu putih itu. Dia begitu tergoda hingga membuat matanya tidak ingin berpaling dari kecantikan wajah itu. Namun, dia berusaha untuk menahan perasaannya hingga membuatnya menundukkan pandangannya. Dia takut, jika pandangannya akan membuat orang-orang curiga padanya.


Pengantin wanita tiba dan berdiri di samping pengantin pria. Walau terlihat cantik, tapi Jenderal Wang Li sama sekali tidak tertarik. Rasanya, dia ingin agar acara itu cepat selesai.


Setelah upacara pernikahan dan penghormatan kepada abu leluhur, mereka dinyatakan resmi menjadi suami istri. Kedua pengantin berdiri berhadapan dan saling memberi hormat. Setelah itu, mereka menghadap di depan Raja Zhao Li dan Mei Yin. Keduanya lantas menunduk dan memberi hormat.


"Bahagialah, doa kami akan selalu menyertai kalian berdua," ucap Raja Zhao Li dengan senyum.


"Jadilah istri yang baik bagi suamimu dan cintailah dia," ucap Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li menatapnya tanpa kedip. Di depannya, tampak wajah yang begitu cantik dan mempesona. Pipinya yang merona, bibirnya yang ranum dan merekah indah dengan tatapan bola mata sebiru lautan. Wajah itu bagaikan sebuah magnet yang membuatnya enggan untuk berpaling.


"Sadarlah, jaga pandanganmu," bisik Putri Yuri yang membuat Jenderal Wang Li segera mengalihkan pandangannya.