The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 46



Sejak kejadian malam itu, Kaisar Wang mulai memperketat penjagaan di sekitar kediaman Mei Yin. Dia tidak ingin hal serupa kembali terjadi. "Jangan biarkan siapapun masuk ke tempat ini tanpa seizinku. Mulai sekarang, kalian harus lebih waspada," ucap Kaisar Wang pada semua penjaga yang ada di tempat itu.


"Baik, Yang Mulia."


Kaisar Wang kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Mei Yin tampak bersandar di sisi tempat tidur karena kondisi tubuhnya yang belum stabil.


"Istriku, tidurlah. Aku akan menjagamu," ucap Kaisar Wang sambil membelai lembut wajah istrinya itu.


"Aku belum mengantuk. Sebentar lagi baru aku tidur," jawab Mei Yin dengan senyum.


Kaisar Wang duduk di sampingnya sambil mengelus lembut perut istrinya itu. "Anakku, kamu harus kuat. Jangan buat ibumu sakit, ayah sangat menyayangimu," ucapnya sambil meletakkan kepalanya di dekat perut istrinya dengan senyum yang terpancar dari wajahnya.


Mei Yin menatap lelaki itu, perlahan air matanya jatuh. Sesaat, dia teringat kembali dengan Zhao Li yang selalu melakukan hal yang sama saat dia sedang mengandung Chen Li dulu. Raja Zhao Li begitu memanjakannya dan tidak sekalipun meninggalkannya sendirian.


Andai saja saat ini, lelaki yang di depannya adalah Zhao Li, maka Mei Yin akan semakin bahagia. Dia ingat saat Raja Zhao Li mengatakan kalau dirinya ingin memberikan seorang adik pada Chen Li, tapi Mei Yin belum bisa mewujudkannya hingga ajal datang menjemputnya.


Tanpa sadar, Mei Yin menangis hingga membuat Kaisar Wang mengangkat kepalanya dan menatap wajah istrinya yang telah basah dengan air mata. "Kenapa kamu menangis?" tanya Kaisar Wang sambil membelai lembut wajah istrinya itu.


Mei Yin tidak mampu berkata. Hanya tangisan yang terdengar hingga membuat Kaisar Wang memeluknya. "Ada apa? Apa aku sudah membuatmu menangis?" Mei Yin menggeleng. Dia begitu sedih karena merindukan Zhao Li. Dia begitu sedih karena mengingat kebersamaannya bersama Zhao Li di masa lalunya.


Kaisar Wang tidak lagi bertanya karena Mei Yin hanya menangis tanpa menjawab pertanyaannya. Hanya pelukan yang dia eratkan sambil mengelus lembut punggung istrinya itu. "Jangan menangis, kasihan bayi kita," ucap Kaisar Wang sambil menghapus air mata di wajah istrinya itu.


Mei Yin mengangguk sambil mengelus lembut perutnya. Kaisar Wang tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan istrinya dan mengelus lembut perutnya dengan perlahan. "Kamu tahu, aku akan menjagamu dan juga anak kita. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian. Aku tidak peduli dia lelaki atau perempuan, karena itu tidak penting bagiku. Aku hanya ingin mendengarnya memanggilku ayah, itu sudah cukup bagiku," ucap Kaisar Wang dengan air mata yang jatuh di antara senyumannya.


Entah sadar atau tidak, Mei Yin perlahan menghapus air mata di wajah lelaki itu. Sekilas, dia melihat sikap Zhao Li padanya. Tak hanya sikap, namun rupa mereka juga terlihat hampir sama. "Walaupun kalian sangat mirip, tapi aku tidak bisa menerimamu. Sikapmu dan wajahmu yang sama dengannya, tidak akan membuatku jatuh cinta padamu. Aku hanya mencintai dia dan aku hanya akan bertahan demi dia," batin Mei yang perlahan memeluk Kaisar Wang. Lelaki itu menerima pelukan istrinya dengan senyuman kebahagiaan, namun bagi Mei Yin itu semua hanya suatu kepura-puraan.


Saat pagi menjelang, Mei Yin terbangun dan membuka matanya perlahan. Di sampingnya, Kaisar Wang tengah tertidur dengan tangannya yang barada di atas perutnya. Mei Yin segera memindahkan tangannya itu, tapi Kaisar Wang perlahan membuka matanya. "Biarkan saja, aku hanya ingin memeluk anakku," ucap Kaisar Wang sambil merangkul tubuh Mei Yin ke dalam pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, lagipula ini masih terlalu pagi. Aku masih mengantuk karena baru bisa tertidur saat menjelang subuh tadi. Ah, ternyata kamu sangat cantik jika sedang tertidur hingga membuatku terus menatapmu." Kaisar Wang kembali memejamkan matanya dengan pelukan yang tidak ingin dia lepaskan.


Mei Yin hanya terdiam dan kembali dalam pelukan Kaisar Wang. Lelaki itu perlahan membuka matanya dan tersenyum pada istrinya itu. "Apa aku mengganggumu?" tanya Kaisar Wang sambil membelai lembut wajah istrinya itu.


"Sedikit, karena aku .... " Tiba-tiba saja Mei Yin bangkit karena rasa mual yang membuatnya ingin muntah.


Kaisar Wang tampak panik saat melihat Mei Yin yang mual tanpa henti. Wajahnya tampak memerah karena mual hingga membuat tubuhnya melemah.


"Dayang Ling, cepat panggilkan tabib!!" perintah Kaisar Wang, namun segera dicegah oleh Mei Yin.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja," ucap Mei Yin sambil menyeka wajahnya. Kaisar Wang segera mendekatinya dan memeluknya.


"Apa maksudmu baik-baik saja? Lihat wajahmu itu, kamu pucat dan terlihat lemah," ucap Kaisar Wang yang terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa, itu sudah biasa. Dayang Ling, tolong bawakan aku buah kesemek. Lidahku tidak bisa merasakan apapun dan jangan membawa makanan apapun di sini, aku tidak suka dengan aroma makanan," ucap Mei Yin yang membuat Kaisar Wang menjadi bingung.


"Istriku, kalau kamu tidak makan lalu bagaimana dengan bayi kita?"


"Tenanglah, aku bisa makan ubi rebus. Rasa mual ini juga tidak akan berlangsung lama, hanya beberapa bulan saja aku pasti sudah bisa makan seperti biasa," jelas Mei Yin sambil menyandarkan tubuhnya.


Rasa mual ternyata cukup menguras tenaganya hingga membuatnya lemas. "Dayang Ling, buatkan aku ramuan obat yang aku bawa waktu itu. Setelah meminum ramuan obat itu, tubuhku pasti akan segar kembali."


"Baiklah, Nyonya."


Dayang Ling kemudian pergi menyiapkan ramuan obat yang diberikan oleh Liang Yi. Baru saja dia berjalan sampai di depan pintu, salah satu dayang datang dan melapor padanya. "Nyonya, Permaisuri meminta izin untuk menemui Kaisar dan Nyonya Wang. Aku sudah memintanya untuk kembali, tapi Permaisuri menolak dan masih berdiri di depan," bisik dayang itu.


"Baiklah, aku sendiri yang akan memintanya untuk pergi." Dayang Ling kemudian menemui Permaisuri yang sudah berdiri di pintu utama.


"Maaf, Permaisuri. Sebaiknya, Permaisuri kembali karena saat ini Kaisar dan Nyonya sedang beristirahat," jelas Dayang Ling, tapi wanita itu tidak menggubrisnya.


"Katakan pada suamiku dan Nyonya kalian kalau aku ingin bertemu. Aku ingin menjelaskan kalau bukan aku yang melakukan perbuatan itu," ucap Permaisuri memaksa.


"Permaisuri, tolong kembalilah. Kalau Kaisar sampai tahu keributan ini, Permaisuri sendiri yang akan mendapat masalah." Wanita itu masih tidak peduli dan berusaha untuk menerobos masuk hingga tiba-tiba Kaisar Wang datang dan mengusirnya.


"Prajurit, cepat bawa Permaisuri kembali ke kamarnya. Aku tidak ingin istriku terganggu dengan ulahnya!!"


"Suamiku, aku mohon. Aku ingin menjelaskan kalau aku tidak melakukan perbuatan keji itu. Aku ingin bertemu dengan Nyonya Wang. Biarkan aku bertemu dengannya," ucap Permaisuri yang sudah menangis dan berlutut di depannya.


"Lihat apa kalian? Cepat bawa dia kembali ke kamarnya!!" Kaisar Wang kemudian kembali menemui istrinya dan meninggalkan Permaisuri yang kini dipaksa untuk meninggalkan tempat itu.


"Suamiku, aku mohon dengarkan penjelasanku," teriak Permaisuri sambil memohon, tapi Kaisar Wang sama sekali tidak mempedulikannya.


"Lepaskan Permaisuri!!" Tiba-tiba Yuan datang dan berlari ke arah wanita itu.


"Permaisuri, apa Anda baik-baik saja?" tanya Yuan sambil menatap ke arah wanita itu.


"Yuan, aku ... " Tiba-tiba saja Permaisuri jatuh pingsan. Yuan tampak panik dan segera mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam kamarnya.


"Cepat, panggilkan tabib," perintah Yuan pada dayang yang biasa melayani Permaisuri.


"Baik, Tuan."


"Tuan, tabib sudah datang."


Seorang lelaki paruh baya kemudian duduk di depan Permaisuri dan mulai memeriksanya. "Tuan, Permaisuri saat ini sedang mengandung," ucap tabib yang membuat Yuan tercekat.


"Apa? Mengandung?"


"Benar, Tuan. Namun, kondisinya saat ini sangat lemah, jika Permaisuri tidak cukup istirahat, maka hamba takut bayinya tidak akan selamat," jelas tabib itu.


"Hamba akan membuatkan ramuan obat untuknya, dan sebaiknya biarkan Permaisuri istirahat dulu," ucap tabib itu yang kemudian pergi.


Yuan begitu terkejut mendengar kalau Permaisuri saat ini tengah mengandung. Ditatapnya wajah permaisuri yang tampak pucat. "Permaisuri, apa ini yang kamu inginkan? Sekarang, kamu tengah mengandung anaknya. Apa kamu akan bahagia dengan berita ini?" Yuan menggenggam tangannya dengan erat Perlahan air matanya jatuh, wanita yang dicintainya ternyata mencintai orang lain. Orang yang sama sekali tidak mencintanya.


Sungguh, baginya itu sangat menyakitkan, tapi apa mau dikata karena cinta tak bisa dipaksakan. Yang bisa dilakukannya hanya tetap berada di sisi wanita yang dicintinya itu. Dia akan ada selama wanita itu masih membutuhkannya. Dia akan terus mencintai dan menyayangi dalam diam. Apapun akan dia lakukan asalkan melihat wanita yang dicintainya itu bisa tersenyum bahagia.


"Yuan, apa yang terjadi padaku?" tanya Permaisuri saat dirinya sudah tersadar.


"Permaisuri tadi jatuh pingsan. Sekarang, minum ramuan obat ini."


Permaisuri mengangguk. Yuan menyandarkan tubuh Permaisuri di sisi ranjang dan meminumkannya ramuan obat.


"Kenapa kamu menemui mereka? Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai memohon seperti itu di depan mereka?" Yuan tampak marah.


"Aku hanya ingin dia percaya padaku dan kembali padaku walau sekali saja. Aku juga ingin diperlakukan seperti dia memperlakukan wanita itu. Apa aku salah?"


Yuan tersenyum kecut hingga membuat Permaisuri menatapnya heran. "Apa maksud dengan senyumanmu itu?"


"Kamu begitu mencintainya walau dia memperlakukanmu seperti itu. Kamu begitu mengharapkan kehadirannya walau dia tidak menginginkanmu. Apa hatimu tidak merasakan sakit?"


"Sudahlah, jangan tambah lagi masalahku. Aku tidak peduli karena saat ini aku hanya ingin membuat dia kembali padaku." Wanita itu tampak memejamkan matanya seakan dia ingin melepaskan rasa lelahnya.


"Kalau itu yang kamu inginkan, mungkin ini adalah kesempatanmu," ucap Yuan yang membuat Permaisuri membuka kembali matanya.


"Apa maksudmu? Kesempatan apa?"


"Sekarang, kamu tengah mengandung anaknya," ucap Yuan yang membuat Permaisuri terkejut.


"Apa maksudmu? Apa sekarang aku ... ?"


"Iya, sebaiknya kamu menjaga kesehatanmu dan juga bayimu. Berdoa saja, semoga bayi itu seorang putra agar kelak dia bisa menggantikan ayahnya menjadi raja," ucap Yuan yang kemudian pergi.


Permaisuri seakan tidak percaya kalau kini, dia tengah mengandung. Ada perasaan bahagia yang tiba-tiba merasuk di hatinya. "Bayi ini, dia bisa menjadi alasan bagiku untuk mendapatkanmu kembali. Semoga saja, bayi yang aku kandung ini seorang putra agar dia bisa menggantikanmu kelak menjadi raja dan menggantikanku untuk menjaga Wilayah Dataran Timur," ucap Permaisuri dengan senyum yang terpancar dari wajahnya.


Tanpa di sadarinya, Yuan telah pergi menemui Kaisar Wang di tempat peristirahatan Mei Yin.


"Biarkan aku menemui Kaisar, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padanya," ucap Yuan pada salah satu penjaga.


"Tuan, harap tunggu sebentar. Aku akan mencoba menanyakan pada Kaisar, kalau Kaisar mengizinkan, maka Tuan akan dipersilakan untuk masuk." Penjaga itu kemudian menemui Kaisar Wang yang sementara bersama Mei Yin.


"Maaf, Yang Mulia. Tuan Yuan ingin bertemu dengan Yang Mulia, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan," lapor penjaga itu.


"Suruh dia kembali, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun," perintah Kaisar Wang.


"Suamiku, temuilah dia. Mungkin saja ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu. Jangan khawatirkan aku, aku di sini baik-baik saja," ucap Mei Yin lembut.


Mendengar penuturan istrinya membuat Kaisar Wang tidak bisa menolak. "Baiklah, katakan padanya untuk menungguku di ruang kerjaku," perintah Kaisar Wang yang langsung dikerjakan oleh penjaga itu.


Kaisar Wang mendekati Mei Yin yang sementara duduk. Dipeluknya wanita itu dan membelai lembut kepalanya sambil mengecup dahinya. "Sebenarnya, aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku masih ingin ada di sini bersamamu. Karena permintaanmu, aku akan menemuinya, tapi jangan khawatir karena aku akan segera kembali." Mei Yin mengangguk. Kaisar Wang tampak tidak ingin melepaskan pelukannya, namun dia harus tetap pergi.


Kaisar Wang menemui Yuan yang sudah menunggunya. Sambil menunduk, Yuan memberi hormat padanya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Cepatlah, karena aku harus menemani istriku," ucap Kaisar Wang yang membuat Yuan menatapnya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba hanya ingin menberitahukan Yang Mulia, kalau saat ini, Permaisuri sangat memerlukan kehadiran Yang Mulia." Yuan menunduk saat mengatakan itu semua.


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang dia. Kalau hanya itu yang ingin kamu sampaikan, maka kembalilah." Kaisar Wang kemudian bangkit dan bermaksud meninggalkan tempat itu.


"Permaisuri saat ini sedang mengandung anak Yang Mulia," ucap Yuan tiba-tiba yang membuat langkah Kaisar Wang terhenti.


"Apa maksud ucapanmu itu? Apa kamu ingin mempermainkanku!!?" tanya Kaisar Wang seakan tidak percaya.


"Jika hamba mempermainkan Yang Mulia, maka hukumlah hamba, tapi hamba mohon sekali saja Yang Mulia mengunjungi Permaisuri karena saat ini dia sedang sakit dan dia juga sangat merindukan Yang Mulia," ucap Yuan memohon.


Kaisar Wang menatap lelaki itu dan dia bisa melihat ada kecemasan di raut wajahnya. "Kalau kamu peduli padanya, maka jagalah dia karena aku sudah tidak peduli lagi padanya. Dia sudah berani menyentuh istriku dan ingin membunuhnya, walau aku tidak punya bukti, tapi aku tahu dia tidak menyukai istriku. Aku tidak peduli walau kini dia tengah mengandung anakku dan jangan ganggu aku perihal dia karena aku tidak pernah mencintainya," ucap Kaisar Wang yang kemudian pergi meninggalkan Yuan yang menahan rasa marah.


Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya. Dia marah dengan ucapan Kaisar Wang yang ternyata tidak peduli dengan Permaisuri. Dia juga marah kepada dirinya sendiri karena tidak mampu untuk menjaga wanita itu. "Yuri, apa yang harus aku lakukan agar kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu?" Yuan menunduk dengan air matanya yang perlahan jatuh.