The Secret of Love Season 2

The Secret of Love Season 2
Part 48



Kaisar Wang masih menggenggam tangan Mei Yin dan mengelus lembut dahinya yang mulai basah dengan peluh. Mei Yin yang merasakan sakit masih menjerit kesakitan walau dia coba untuk bisa menahan, namun rasa sakit itu masih terasa memutar di perut hingga terasa ke punggungnya.


"Istriku, bertahanlah," ucap Kaisar Wang sambil menggenggam tangan Mei Yin yang sedari tadi digenggamnya dengan erat.


"Yang Mulia, silakan tunggu di luar. Biar kami yang akan mengurus Nyonya," ucap tabib wanita yang datang dengan beberapa orang perawat.


Kaisar Wang seakan tidak ingin meninggalkan Mei Yin yang sedari tadi menjerit kesakitan. Dia tidak kuasa melihat istrinya itu menahan rasa sakit.


"Yang Mulia, percayalah pada kami. Kami akan mengurus Nyonya. Yang Mulia, tunggulah di luar," ucap Dayang Ling yang berusaha meyakinkan rajanya itu.


"Baiklah, aku percayakan istri dan anakku pada kalian," ucap Kaisar Wang yang terpaksa keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, Kaisar Wang sempat membelai dan mengecup kening Mei Yin. "Istriku, aku sangat mencintaimu. Bertahanlah, aku mohon," bisik Kaisar Wang yang perlahan menitikkan air mata.


Lelaki itu kemudian keluar dan menunggu di ruang kerjanya. Rasanya, dia tidak sanggup untuk menunggu di depan kamar karena dia tidak tahan mendengar jeritan Mei Yin yang bisa saja membuat dirinya menerobos masuk ke dalam kamar itu.


Kaisar Wang terlihat gelisah. Dia begitu takut jika terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya. Rasa gelisah tidak bisa dia tahan hingga membuatnya berjalan mondar-mandir tak tentu arah. "Yang Mulia, tenanglah. Hamba yakin, Nyonya dan bayinya akan baik-baik saja," ucap seorang kasim yang mencoba menenangkan lelaki itu.


Sementara Mei Yin, masih berusaha dalam kesakitan yang luar biasa. Walau ini bukan persalinan pertamanya, tapi rasa sakitnya begitu membuatnya tak tahan hingga hampir saja membuatnya putus asa.


"Nyonya, bertahanlah," ucap Dayang Ling sambil menggenggam tangannya.


Mei Yin menangis karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menderanya. Matanya mulai nanar hingga membuatnya semakin lemah. "Apa aku akan mati?" batin Mei Yin dengan air mata yang perlahan jatuh.


Melihat Mei Yin yang terlihat lemah membuat semua perawat dan tabib menjadi khawatir. "Bagaimana ini. Jika Nyonya sampai tidak sadarkan diri, itu akan berakibat buruk pada bayinya."


Dayang Ling berusaha untuk terus berbicara dengan Mei Yin agar wanita itu bisa tetap tersadar, tapi nyatanya Mei Yin akhirnya tidak sadarkan diri hingga membuat semua yang ada di tempat itu menjadi panik.


Samar-samar, Mei Yin mendengar suara Dayang Ling yang memanggil-manggil dirinya, tapi dia tidak mampu untuk menjawab. Antara sadar dan tidak, dia merasa tubuhnya tidak bisa lagi bergerak. Perasaan takut menghinggapi di benaknya hingga membuat dia menangis.


Di alam bawah sadarnya, Mei Yin melihat dirinya sendiri yang tengah menangis dalam kesendirian. Di satu pojok, dia tampak menangis sambil menekuk lututnya dan menundukan wajahnya di antara lututnya itu. Hingga tiba-tiba dia mengangkat kepalanya saat dia mendengar seseorang memanggil namanya. Melihat orang itu, sontak membuat Mei Yin segera bangkit dan memeluknya. "Suamiku, aku sangat merindukanmu," ucap Mei Yin pada orang itu sambil menangis sesenggukan dalam pelukannya.


Orang itu memeluk tubuhnya dengan erat. Terlihat satu senyuman yang terpancar di wajahnya. Senyuman yang membuat Mei Yin tidak ingin melepaskan pelukannya. "Istriku, aku juga sangat merindukanmu, tapi belum waktunya untuk kita bertemu. Kuatkanlah dirimu dan jangan terburu-buru untuk menemuiku. Lanjutkan apa yang menjadi tujuanmu, jika itu sudah tercapai maka aku sendiri yang akan datang menjemputmu." Lelaki itu tampak tampan dan gagah dengan jubah raja yang dipakainya.


Mei Yin menatapnya dan mengelus lembut wajah lelaki itu yang tak lain adalah Raja Zhao Li. Terlihat, sebuah senyuman terukir di bibir Mei Yin yang ranum hingga membuat lelaki itu mengecupnya dengan lembut. "Kembalilah, aku akan menunggumu. Kita akan bertemu lagi dan saat itu kita tidak akan pernah terpisah," ucap Raja Zhao Li yang perlahan melepaskan pelukannya. Mei Yin yang melihat suaminya pergi meninggalkannya berusaha mengejarnya, namun percuma karena bayangan suaminya itu tiba-tiba menghilang dengan senyuman yang mengarah padanya.


Mei Yin terhentak dan tba-tiba membuka matanya. Nafasnya turun naik sambil matanya liar seakan mencari sosok Raja Zhao Li yang tadi ditemuinya. "Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Dayang Ling yang terlihat menyeka air matanya.


Mendengar pertanyaan Dayang Ling membuat Mei Yin kembali tersadar dan teringat dengan pertemuannya dengan suaminya tadi. "Suamiku, aku akan bertahan. Terima kasih karena kamu sudah datang mengunjungiku. Aku akan selalu mencintaimu," batin Mei Yin yang membuatnya kembali menatap Dayang Ling hingga membuat wanita itu menangis.


"Nyonya, bertahanlah. Aku mohon, tetaplah tersadar agar proses persalinan ini cepat selesai," ucap Dayang Ling sambil mengelus kepala majikannya itu. Mei Yin mengangguk dan mulai merasakan kembali sakit di perutnya hingga membuatnya kembali menjerit kesakitan.


"Aaarrgghhhhh," jerit Mei Yin tiba-tiba yang diiringi suara bayi yang menangis dengan kencangnya. Mei Yin tergolek dengan peluh yang membasahi wajahnya. Wajah cantiknya terlihat pucat, tapi dia tersenyum saat wajah Raja Zhao Li melintas dalam ingatannya.


Mendengar suara bayi yang menangis membuat Kaisar Wang segera membuka pintu dan mendapati seorang bayi mungil dalam pelukan Dayang Ling. "Yang Mulia, Nyonya telah melahirkan seorang putri yang sangat cantik," ucap Dayang Ling sambil menyerahkan bayi mungil itu kepada Kaisar Wang.


Tangannya gemetar saat menerima bayi itu dalam pelukannya. Perlahan, lelaki itu menitikkan air mata sambil menatap wajah bayi mungil itu yang tertidur dalam pelukannya. "Anakku," ucapnya sambil mencium pipi bayi itu. Sejurus, Kaisar Wang menatap ke arah Mei Yin yang terbaring dengan mata yang sudah terpejam. Kaisar Wang kemudian mendekati Mei Yin dan mengelus lembut wajahnya yang terlihat pucat. "Istriku, terima kasih karena sudah memberikan seorang putri yang cantik untukku. Ini adalah hadiah yang paling berharga bagiku. Kalian berdua adalah kehidupanku," ucap Kaisar Wang dengan air mata yang perlahan jatuh.


Kaisar Wang begitu bahagia dengan kehadiran seorang bayi yang tak jemu dipandanginya. Wajah bayi itu sangat cantik dengan warna matanya yang sama dengan Mei Yin. Bola matanya berwarna biru, sebiru lautan lepas.


Kaisar Wang kembali menatap ke arah Mei Yin yang perlahan membuka matanya. Wajahnya tampak lelah hingga tubuhnya pun tak mampu untuk dia gerakkan. "Bayiku, di mana bayiku," ucap Mei Yin yang ingin bertemu dengan bayinya.


Kaisar Wang segera membawa bayi mungil yang sementara dalam pelukannya dan menyerahkannya kepada Mei Yin yang sudah duduk tersandar sambil menatap haru ke arah bayi mungil itu.


Mei Yin menerima bayi itu dalam pelukannya dan membuat dia menangis. Walaupun, bayi itu adalah anak dari lelaki yang sudah membunuh suaminya, tapi dia tidak bisa membenci bayi yang tidak berdosa itu. Sambil memeluknya, Mei Yin menangis hingga membuat Kaisar Wang memeluknya.


"Bayi kita sangat cantik. Coba lihat wajahnya, tidakkah kamu berpikir kalau dia sangat mirip denganmu?" tanya Kaisar Wang yang membuat Mei Yin mengangguk. Memang benar, wajahnya sangat cantik dengan tatapan matanya yang sebiru lautan.


"Apa boleh aku menamainya Guan Yin?" tanya Mei Yin sambil menatap ke arah Kaisar Wang. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. "Itu nama yang sangat cantik," ucap lelaki itu sambil mengelus lembut pipi bayi mungil itu dan mendaratkan sebuah kecupan di dahi Mei Yin.


Kaisar Wang terlihat sangat bahagia hingga membuatnya tidak ingin meninggalkan mereka. Selama hidupnya, saat ini adalah saat yang paling membahagiakan baginya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.


"Tidurlah, biarkan aku yang akan menjaganya. Beristrirahatlah agar kamu bisa cepat pulih," ucap Kaisar Wang sambil menggenggam tangan Mei Yin. Mei Yin yang masih merasa lemah perlahan mengangguk dan memejamkan matanya. Dia begitu lelah hingga membuatnya tertidur.


Kehadiran bayi mungilnya membuat hari-hari Kaisar Wang terlihat begitu bahagia. Sang putri yang diberi nama Guan Yin itu rupanya telah membuat Kaisar Wang ingin berlama-lama bersama putrinya itu.


Mendengar Mei Yin telah melahirkan seorang putri membuat Permaisuri sedikit berlega hati, karena jika dia bisa melahirkan seorang putra maka otomatis tahta kerajaan akan turun pada putranya itu.


Dua minggu setelah kelahiran Guan Yin, Permaisuri juga melahirkan seorang putri yang membuat dirinya kecewa. Harapannya untuk mendapat seorang putra rupanya harus kandas. "Permaisuri, Tuan Putri sangat cantik," ucap tabib wanita yang sementara menggendong bayi mungil itu.


Permaisuri seakan tidak peduli dan terlihat acuh. Dia merasa sangat kecewa karena selama proses persalinan dia tidak ditunggui oleh Kaisar sebagaimana Kaisar menunggui saat Mei Yin melahirkan. Yang menunggunya hanya Yuan yang terlihat khawatir.


"Berikan bayi itu padaku," ucap Yuan sambil mengambil bayi mungil itu dari pelukan tabib. Yuan tersenyum melihat bayi mungil itu di dalam dekapannya. "Lihatlah dia, wajahnya sangat cantik," ucap Yuan sambil menunjukan wajah bayi itu pada Permaisuri, tapi wanita itu malah memalingkan wajahnya.


"Kenapa kamu seperti itu, lihatlah dia. Apa kamu tidak menyayanginya?" tanya Yuan sambil menunjukkan bayi itu pada Permaisuri.


Permaisuri masih terdiam. Ada rasa kecewa saat dia melihat bayi itu. Seharusnya dengan kehadiran bayi itu, setidaknya bisa membuat Kaisar Wang datang mengunjunginya, tapi nyatanya dia kembali harus kecewa. Walau dia sudah berusaha untuk melupakan Kaisar Wang, tapi perasaan itu terlalu sulit untuk dia lupakan.


Walaupun sudah mendengar tentang Permaisuri yang telah melahirkan seorang putri, tapi itu tidak membuat Kaisar Wang memaafkannya. Lelaki itu tak sekali pun datang mengunjungi putrinya itu dan hanya fokus pada putrinya bersama Mei Yin.


Bayi mungil yang diberi nama Xia itu hanya dirawat oleh dayang, sementara permaisuri hanya sesekali melihatnya. Sedangkan, Guan Yin mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari kedua orang tuanya.


Kehidupan dua orang bayi perempuan itu rupanya sangat berbeda. Xia, hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah dan ibunya hanya memandangnya seperti seorang anak yang tidak diharapkan. Hanya Yuan, yang memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan Guan Yin, begitu mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang melimpah dari kedua orang tuanya. Mereka begitu menyayanginya, bahkan dayang istana pun sangat menyayanginya.


Hingga 10 tahun kemudian, mereka berdua tumbuh menjadi dua orang dengan sifat yang sangat jauh berbeda.


"Ibu, ini bunga buat Ibu," ucap Guan Yin sambil memberikan Mei Yin seikat bunga.


"Putriku, kamu dapat darimana bunga-bunga cantik ini?"


Guan Yin tersenyum. Wajahnya tampak cantik dengan sinar matanya yang sebiru lautan. "Itu rahasia, Ibu." Guan Yin kemudian berlari menuju ayahnya yang sedari tadi memandanginya sambil tersenyum.


"Apa ibumu suka dengan bunga-bunga itu?" tanya Kaisar Wang saat Guan Yin sudah ada di gendongannya.


"Ibu sangat suka dengan bunga-bunga itu, Ayah. Katanya, bunga-bunga itu sangat cantik, tapi aku tidak bilang kalau bunga itu dari Ayah." Kaisar Wang tersenyum dan mengecup pipi putrinya itu.


"Apa ayahmu yang memberikan bunga ini untuk Ibu?" tanya Mei Yin sambil menatap ke arah putrinya itu.


"Kok Ibu bisa tahu, sih? Kan, aku tidak bilang apa-apa ke Ibu?" tanya Guan Yin dengan wajahnya yang cemberut.


Mei Yin tersenyum dan mendekati wajah putrinya itu. "Karena ayahmu sering memberikan Ibu bunga-bunga yang sangat cantik. Makanya, Ibu bisa tahu," bisiknya yang membuat Guan Yin tersenyum.


Guan Yin begitu menikmati kebersamaannya bersama kedua orang tuanya, sementara Xia hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri sambil membaca buku. Walau tidak mendapatkan kasih sayang, tidak membuat gadis itu menjadi anak yang cengeng. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar.


"Putri Xia, istirahatlah. Bukankah, sudah sejak tadi Putri belajar?" tanya Yuan sambil mendekati anak itu.


Dia tersenyum sambil menutup bukunya. "Paman, bisakah aku bertemu dengan ayahku?" tanya Putri Xia yang tentu saja membuat lelaki itu terkejut.


"Untuk apa? Saat ini, ayahmu sangat sibuk dan tidak bisa diganggu," jelas lelaki itu.


"Paman, apakah ayahku sesibuk itu hingga tak sekali pun dia mengunjungiku? Ayah juga tidak pernah datang menemui ibu dan ibu tidak sekalipun menyayangiku," ucap Putri Xia dengan wajahnya yang terlihat sedih.


Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan pertama kali yang dia lontarkan. Sudah sering dia bertanya tentang ayahnya yang tak pernah sekalipun ditemuinya dan jawabannya selalu sama, ayahnya sedang sibuk.


Sementara Mei Yin dan juga putrinya, tak pernah meninggalkan kediaman mereka karena Kaisar Wang tidak ingin mereka direndahkan. Rumor tentang Mei Yin yang disebut sebagai selir membuat Kaisar Wang terpaksa melarang mereka untuk keluar dari tempat itu.


Hingga suatu hari, keingintahuan Putri Xia tentang ayahnya membuatnya ingin mencari tahu. Dengan berjalan mengendap-endap, dia menyusuri setiap sudut istana dan berharap bertemu dengan ayahnya yang katanya adalah Kaisar dari kerajaan itu.


Setelah beberapa hari dia mencoba untuk mencari tahu, akhirnya dia melihat seorang lelaki dengan jubah rajanya sedang bermain bersama seorang gadis kecil yang seusianya. Tak hanya itu, dia juga melihat seorang wanita cantik yang tampak tersenyum melihat anak itu bermain, hingga dia terperanjat kaget saat anak itu memanggil lelaki itu dengan sebutan ayah.