
Melihat suaminya yang sudah lemah dengan darah hitam yang tiba-tiba keluar dari mulutnya, membuat Mei Yin menangis dan berusaha berontak ingin melepaskan diri dari pelukan Jenderal Wang Li. "Kakak Wang, tolong lepaskan aku. Aku ingin melihat suamiku," pinta Mei Yin dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Mendengar tangisan Mei Yin membuat lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan pernah menangis untuknya. Apa dia seberharga itu bagimu hingga kamu harus menangisinya seperti ini?" ucap Jenderal Wang Li yang tidak suka melihat Mei Yin menangis untuk Raja Zhao Li.
"Iya!! Aku mencintainya. Dia berharga bagiku, kalau dia mati, maka aku juga akan mati!!" ucap Mei Yin yang sontak membuat Jenderal Wang Li melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati Raja Zhao Li yang sudah terlihat lemah.
"Baik, aku akan membunuhnya agar kamu bisa melupakannya dan kamu akan menjadi milikku. Apa kamu selama ini tidak menyadari kalau aku sangat mencintaimu?" ucap Jenderal Wang Li sambil meletakkan sebuah pisau di leher Raja Zhao Li.
"Apa kamu gila? Aku ini istri adikmu, apa pantas kamu mencintai istri adikmu sendiri?"
"Aku tidak peduli. Apa yang menjadi milik Zhao Li, maka akan menjadi milikku. Kerajaan ini, kamu dan juga Chen Li, akan menjadi milikku."
Mendengar ucapan Jenderal Wang Li akhirnya membuat Mei Yin yakin kalau lelaki itulah yang sudah meracuni suaminya. "Jadi, kamulah orang yang sudah meracuni suamiku?"
"Bukan dia, tapi aku," ucap Putri Yuri yang tiba-tiba datang.
Mei Yin terperanjat ketika wanita itu mengakui semua perbuatannya. "Apa kalian berdua telah bersekongkol untuk meracuni suamiku? Apa kalian selama ini hanya berpura-pura baik di depan kami?" tanya Mei Yin yang masih tidak percaya.
"Kenapa? Apa kamu pikir aku tidak mampu untuk melakukannya? Dan asal kamu tahu, semua ini terjadi karena keegoisanmu. Kalau saja dari awal kamu setuju menjadikanku selir, aku tidak akan melakukan ini. Kalau dari awal kamu tidak menolak tawaran ayahku, mungkin Jenderal Wang Li tidak akan bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu. Karena dirimu, semua ini harus terjadi."
Mendengar ucapan Putri Yuri membuat Mei Yin menundukkan kepalanya dan menangis. "Istriku, jangan dengarkan mereka. Kita sudah melakukan hal yang benar, karena kita saling mencintai dan tidak boleh ada siapapun yang akan masuk dalam kehidupan cinta kita," ucap Raja Zhao Li yang membuat Jenderal Wang Li menjadi geram dan menampar wajahnya.
"Hentikan!!" teriak Mei Yin saat melihat suaminya ditampar di depannya. Matanya memerah dengan kedua tangan yang mengepal.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku? Kalau begitu, aku akan menjadi milikmu, tapi kamu hanya akan memiliki jasadku," ucap Mei Yin yang kemudian mengambil sebuah vas di atas meja dan memecahkannya. Pecahan vas itu kemudian diambilnya dan diarahkan ke pergelangan tangannya, tapi belum sempat pecahan vas menggores pergelangan tangannya itu, Jenderal Wang Li sudah berlari ke arahnya dan mengambil pecahan vas itu dari tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan pernah menyakiti tubuhmu karena aku tidak akan membiarkanmu terluka," ucap Jenderal Wang Li panik saat melihat Mei Yin berusaha untuk bunuh diri.
"Jangan sentuh aku!! Pergi kamu, aku sangat membencimu!!" teriak Mei Yin saat melihat Jenderal Wang Li berusaha memeluknya.
Telapak tangan Mei Yin ternyata berdarah saat dia memecahkan vas bunga itu. Melihat darah di tangan Mei Yin membuat Jenderal Wang Li semakin panik. Dia kemudian meraih tangan wanita itu dan mengeluarkan pita rambut dari balik bajunya dan ingin membalut luka itu, tapi Mei Yin segera menarik tangannya.
Raja Zhao Li melihat pita rambut itu dan dia mengenalinya. Itu adalah pita rambut milik istrinya.
Walau Mei Yin menolak, tapi Jenderal Wang Li memaksa dan meraih tangannya. "Biarkan aku mengobati lukamu, maka aku akan membiarkanmu menemani Zhao Li. Jangan lakukan hal yang bisa membuatmu terluka, kalau tidak aku akan membunuh orang-orang yang ada di sekitarmu," ancam Jenderal Wang Li yang membuat Mei Yin tidak bisa berkutik.
"Pergilah padanya. Aku akan membiarkanmu bersamanya, tapi jangan pernah membuat tubuhmu terluka. Aku bisa menahan semuanya, tapi jangan menangis di depanku karena aku tidak sanggup melihat air matamu," ucap Jenderal Wang Li sambil menghapus air mata di wajah Mei Yin. Tangan kekarnya menghapus dengan lembut air mata itu hingga membuat Mei Yin terdiam sambil menutup matanya. Tangannya mengepal saat tangan lelaki itu menyentuh wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak akan membunuhnya?" tanya Putri Yuri yang kemudian mengambil pisau yang sempat terjatuh dan mengarahkannya di leher Raja Zhao Li.
"Letakan pisau itu. Tanpa membunuhnya pun tidak lama lagi dia akan mati. Ternyata, racunmu sangat efektif. Jangan lakukan apapun padanya, karena aku masih membutuhkannya."
Mei Yin menatap Raja Zhao Li dan mencoba mendekatinya, tapi tiba-tiba saja tangannya diraih oleh Jenderal Wang Li dan menarik tubuhnya hingga tubuhnya didekap oleh lelaki itu. "Lepaskan aku!!" teriak Mei Yin yang berusaha berontak.
"Pergunakanlah waktumu bersamanya dengan baik karena tidak lama lagi dia akan mati. Setelah itu, aku yang akan menjadi raja dan kamu serta Chen Li akan menjadi milikku. Jangan pernah berharap untuk bisa lolos dariku, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku," ucap Jenderal Wang Li dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku membencimu!! Aku sangat membencimu!! Walaupun kamu memiliki tubuhku, tapi cintaku hanya untuk suamiku!!" ucap Mei Yin yang membuat Jenderal Wang Li menjadi geram.
"Pergilah, puaskan dirimu bersamanya. Setelah dia mati, aku yang akan memilikimu." Jenderal Wang Li melepaskan tangannya. Mei Yin kemudian berlari ke arah Raja Zhao Li yang sudah terbaring dengan darah hitam yang memenuhi bajunya. Rupanya, racun itu sudah menggerogoti organ dalamnya. Walau di luar terlihat baik-baik saja, tapi organ di dalam tubuh sudah hancur apalagi dengan memaksakan diri melakukan gerakan yang berat, maka cepat atau lambat, orang yang terkena racun itu pasti akan mati.
Mei Yin menangis dan mengangkat kepala Raja Zhao Li ke atas pangkuannya. Tangannya gemetar saat menyeka darah hitam di wajah suaminya itu. "Suamiku, maafkan aku. Ini semua salahku," ucap Mei Yin dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sekali lagi, dia merasa telah dipermainkan oleh takdir.
Dulu, dia harus kehilangan Lian karena kecemburuan Nona Liu padanya dan kini dia akan kehilangan suaminya karena obsesi seorang lelaki yang mencintainya dan ingin memilikinya. Rasanya, dia ingin mati bersama suaminya itu, tapi dia tidak mampu karena mengingat Chen Li, putra mereka.
Mei Yin mengangguk dan menyeka air matanya. Dia berusaha untuk tabah. Dengan sekuat tenaga, dia membantu Raja Zhao Li untuk bangkit agar bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tapi dia tidak sanggup karena Raja Zhao Li sudah tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya.
"Tidak perlu kamu repot-repot mengobatinya karena dia akan segera mati. Racunku, tidak ada yang sanggup bisa bertahan hidup dari racunku. Aku tahu, kamu berusaha menyembuhkannya, tapi itu tidak akan bisa karena sekali racun itu masuk ke dalam tubuh, maka bersiaplah untuk mati," ucap Putri Yuri yang membuat Mei Yin menatapnya dengan penuh dendam.
"Adik Mei, aku akan berbaik hati padamu dan membiarkanmu menemaninya, tapi setelah itu kamu hanya akan menemaniku. Mulai saat ini, kalian tidak akan aku izinkan meninggalkan tempat ini dan Chen Li akan ada di bawah pengawasanku. Aku tidak ingin menyakitinya karena aku sudah menganggapnya seperti putraku, karena itu bersikap baiklah karena aku sama sekali tidak ingin menyakiti kalian."
Jenderal Wang Li menatap Mei Yin yang masih menitikkan air mata. Mata indahnya terlihat sendu karena menangisi Raja Zhao Li dan itu membuat Jenderal Wang Li merasa sangat cemburu hingga membuatnya keluar dari kamar itu.
Putri Yuri berjalan mengikutinya dari belakang. Rasanya, dia sedikit kecewa karena Jenderal Wang Li terlihat lemah di depan Mei Yin. "Apa kamu selemah ini jika melihat dia terluka? Kenapa kamu tidak membunuh Raja Zhao Li agar kita bisa cepat menyelesaikan rencana kita?" Putri Yuri tampak kecewa dengan sikap Jenderal Wang Li yang menurutnya terlalu lemah.
"Diamlah. Kalau kamu masih ingin menjadi permaisuri dari kerajaan ini, maka jangan coba-coba mendikteku dan lakukan saja apa yang menjadi tugasmu. Untuk Mei Yin dan Chen Li, mereka adalah urusanku dan jangan pernah menggangguku dengan keluh kesahmu itu," jawab Jenderal Wang Li yang membuat Putri Yuri terdiam.
Jenderal Wang Li kemudian memerintahkan para pengawal untuk menjaga villa bunga. Bahkan, Pengawal Yue dan Dayang Ling yang biasanya bebas keluar masuk ke villa bunga kini sudah tidak bisa lagi masuk ke sana.
Bukan hanya itu, tetapi Jenderal Wang Li juga sudah mengeluarkan surat keputusan yang mengatakan kalau dirinyalah yang akan menggantikan posisi Raja Zhao Li untuk sementara karena penyakit Raja Zhao Li yang semakin parah.
Rupanya, semua rencananya sudah di siapkan secara sempurna dan semua berjalan sesuai rencananya, tapi dirinya mulai terusik saat mendengar kalau orang-orang suruhannya telah dibantai oleh sekelompok orang yang menutupi wajah mereka.
"Apa laki-laki itu sempat mengatakan tentang diriku?" tanya Jenderal Wang Li kepada lelaki yang datang melapor padanya.
"Jangan khawatir, Tuan. Aku sudah menghabisinya sebelum dia mengatakan semuanya," jawab lelaki itu.
"Apa kamu yakin?"
"Saya sangat yakin, Tuan."
"Apa kamu tahu siapa orang-orang yang telah membunuh mereka?"
"Saya belum tahu tentang mereka, tapi sepertinya mereka sangat terlatih dan mereka juga sepertinya memihak pada Raja Zhao Li," jelasnya.
"Kamu harus mencari tahu tentang mereka, aku tidak ingin rencanaku gagal karena mereka."
"Baik, Tuan." Lelaki itu kemudian meninggalkan Jenderal Wang Li yang masih memikirkan rencana selanjutnya.
Sementara Mei Yin, masih terkurung di dalam kamarnya bersama Raja Zhao Li. Melihat kondisi suaminya yang semakin parah membuat Mei Yin semakin khawatir. "Suamiku, apa yang harus aku lakukan?" Mei Yin berusaha untuk tetap tegar. Walau ingin menangis, tapi dia mencoba untuk bertahan.
Raja Zhao Li meminta Mei Yin untuk menyandarkan tubuhnya. Matanya terlihat sendu saat menatap wajah istrinya itu. Hatinya hancur karena merasa dikhianati oleh kakaknya sendiri. Wanita yang selama ini sangat berharga di dalam kehidupannya, kini akan dia tinggalkan bersama luka yang sembuh entah kapan.
"Istriku, maafkan aku," ucap Raja Zhao Li dengan suara yang terdengar lemah dan dipaksakan. Mei Yin menatapnya dengan air mata yang perlahan jatuh. Rasanya, dia tidak sanggup melihat penderitaan suaminya yang terlihat kepayahan. Wajah tampannya memucat dengan bibir yang mulai membiru.
Mei Yin mengusap wajah tampan itu dengan tangannya. Tangannya gemetar saat menyentuh sudut bibir yang masih basah dengan darah hitam. "Tidak ada yang perlu dimaaafkan. Aku akan ada di sampingmu, jadi jangan takut karena aku akan selamanya menemanimu," ucap Mei Yin yang membuat Raja Zhao Li tersenyum dan mengangguk.
Walau rasa takut kehilangan mulai merayap di hatinya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Walau kenangan buruk saat melihat Lian meregang nyawa mulai menghantuinya, tapi dia berusaha untuk bisa menerima kenyataan karena dia tahu, cepat atau lambat suaminya tetap akan pergi meninggalkannya sama seperti Lian yang harus mati di depannya.
Mei Yin meraih tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat karena dia takut mungkin itu adalah pelukan terakhirnya. Dia takut kalau dia tidak akan lagi punya kesempatan untuk merasakan kehangatan tubuh itu lagi. Dalam diam, Mei Yin menangis hingga membuat Raja Zhao Li berusaha mengangkat tangannya agar bisa mendekap tubuh istrinya itu.
"Suamiku, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah marah padaku karena diriku, dia tega melakukan ini padamu. Kalau aku mampu, aku ingin ikut denganmu agar diriku tidak lagi dimiliki oleh siapapun selain dirimu, tapi aku tidak mampu melakukan itu karena putra kita. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian karena aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ibu. Aku akan menjaganya dan membesarkannya dan menyanjung namamu selalu padanya agar dia tahu kalau ayahnya adalah seorang lelaki yang sangat baik dan selalu mencintainya." Mei Yin menitikkan air mata saat mengucapkan itu semua. Begitupun dengan Raja Zhao Li yang juga menitikkan air mata.
"Aku berjanji akan membalas semua perbuatan mereka padamu. Aku tidak akan mati sebelum melihat mereka menderita. Aku berjanji padamu." Mei Yin mengeratkan pelukannya. Sejenak, dia mengangkat wajahnya dan menatap Raja Zhao Li yang hanya menatapnya tanpa daya. Mei Yin tersenyum dan mendaratkan kecupan mesra di bibir Raja Zhao Li. Walau penuh darah, dia tidak peduli. Bibirnya yang ranum mengusap lembut bibir yang telah membiru itu. Air matanya jatuh, matanya terpejam karena tidak sanggup membayangkan kalau dia tidak akan lagi merasakan kelembutan dan kehangatan yang biasa didapatkannya dari suaminya itu.
Raja Zhao Li berusaha mengangkat kedua tangannya. Walau lemah, tapi dia tetap berusaha hingga kedua tangannya mampu mendekap tubuh istrinya. Pelukan itu terasa begitu hangat. Sehangat air bening yang perlahan jatuh di sudut matanya.